Mappadendang Di Tonrongnge

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

Namanya Sriwahyuni, nama yang pasaran bagi orang-orang di daerahnya, Sriwahyuni gadis cantik berhijab dengan kulit berwarna kuning langsat dan dua buah lesung pipit menghiasi senyumnya, perempuan itu mendatangi salah satu pematang sawah yang berada di Desa Tonrongnge. Dulunya desa ini sangat luas, kemudian desa ini terpecah menjadi dua bagian, Desa Tonrongnge dan Tonrong Rijang. Satu hari seluruh penghuni posko mendapatkan undangan kepala desa untuk menghadiri acara Mappadendang (pesta syukur atas panen).

Aku melangkahkan kakiku menemui Firdaus, Mahasiswa makassar College yang baru ku kenal beberapa hari ini, kami memanggilnya dengan sebutan Pak Kordes.
“Pak Kordes, ada undangan nih dari Pakde,” warga desa memanggil kepala desanya dengan panggilan Pakde yang kepanjangannya Kepala Desa.
“Undangan apa dari Pakde,” sahut Pak Kordes, walaupun muda tapi karena jabatannya sebagai Koordinator Desa makanya kami memanggilnya Pak Kordes.
“Di sini tertulis undangan menghadiri acara Mappadendang,” sahutku terbata-bata mengeja kata Mappadendnag kepad Pak Kordes.
“Acara apa?”
“Mappa-den-dang,” sahutku terbata-bata.

“Oh Mappadendang acara bagus itu kita semua harus datang,” sahut pak Kordes dengan girang.
“Memangnya ini acara apa sih?” tanyaku kepadanya, Firdaus mengacungkan jari telunjuknya, sebuah isyarat yang artinya ‘tunggu sebentar’. Firdaus memasuki dapur beberapa menit kemudian dia membawa dua gelas kopi yang dibuatnya sendiri, di kalangan posko Tonrongnge Firdaus bukan hanya seorang Kordes yang bijak, dia juga seorang Barista handal. “Mappadendang itu adalah ungkapan kesyukuran warga kepada sang pencipta atas limpahan rahmat berupa panen raya,” Aku menyimak penjelasan Firdaus, Pak Kordes Tonrongnge, berbicara sembari memberikan kepadaku secangkir kopi buatannya, segelas Americano.

“Acara ini diikuti ibu dan bapak-bapak petani, maupun warga pada umumnya bersama-sama menumbuk padi di lesung atau bahasa bugisnya Assung,”
“Dulu acara Mappadendang sering dilaksanakan pada malam hari ketika panen raya telah tiba atau masa tanam padi telah usai, ketika lesung ditumbuk dan mengeluarkan suara maka warga sekampung berbondong-bondong menuju sumber suara untuk ikut Ma’dendang atau berdendang melantunkan syair pujaan kepada sang pencipta sambil menumbuk padi, dan mereka semua tidak asal menumbuk padi, ada aturannya tersendiri dalam menumbuk padi itu harus ada iramanya,” Aku memerhatikan penjelasan Firdaus sembari menikmati Americano buatannya.

“Tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan, bahkan sebelum islam berkembang di Sulawesi Selatan pada paruh abad ke XVIII. Sebelum islam masuk, tradisi ini merupakan penghormatan kepada Dewi Sangia Serii atau biasa kita kenal sebagai Dewi Sri, Dewi Sri ini adalah anak dari We Saunriwu, ketika We Saunriwu hamil dan masa kehamilannya memasuki usia tujuh bulan lebih maka lahirlah We Oddanriwu, namun sayang We Oddanriwu ini tak berumur panjang dan wafat meninggalkan dunia,”
“Terus,” sahutku kepada Firdaus.
“Yaah singkat cerita We Saunriwu begitu rindu pada mendiang anaknya maka diputuskannya menemui pusara mendiang anaknya yang telah dikubur di sebuah lembah, betapa kagetnya ia ketika menemukan lembah yang tadinya gersang berubah menjadi subur, di sekitaran pusara makam banyak ditumbuhi tumbuhan, ada hijau, ada juga yang kuning keemasan,”

“Jadi tumbuhan yang berwarna kuning keemasan itulah yang kita sebut sekarang sebagai padi,” sahutku. Firdaus mengangguk pertanda setuju dengan pendapatku.
“Yah betul tumbuhan berwarna kekuningan emas itulah memberikan kehidupan dan pengharapan kepada seluruh masyarakat yang kita kenal sebagai padi yang nantinya akan menjadi beras, untuk menghormati mendiang We Oddanriwu maka dilaksanakanlah apa yang disebut sebagai Mappadendang,”
Pembicaraan antara sku dan Firdaus terhenti ketika sebuah suara memanggil kami, ku lihat Firdaus ke luar dan menuju beranda rumah.

“Oh iya Pak kami akan segera ke sana,” seru Firdaus kepada sosok yang dia lihat dari kejauhan.
“Siapa itu tadi?” tanyaku kepadanya.
“Pakde, Kepala Desa kita disuruh bergegas menuju pematang sawah untuk melaksanakan Mappadendang,” sahut Firdaus dan berlalu menyusuri anak tangga, aku hanya mengikutinya dari belakang walaupun di dalam benakku memiliki segudang pertanyaan tentang apa itu Mappadendang.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain
Nama Ilyas Ibrahim Husain, lahir di Sungguminasa 06 April 1993. Cerpen ini termasuk dalam karya kumpulan cerpenku Tabularasa Sidenreng-Rappang. Cerpen ini merupakan cerpen kesembilan.

Cerpen Mappadendang Di Tonrongnge merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Pukul Lima

Oleh:
Entah berapa lama perempuan muda itu mematung di depan tumpukkan barang-barang antik, di suatu toko kuno. Entah pemandangan estetik apa yang membuatnya sangat betah berlama-lama dalam ketidakpastian. Belum cukupkah

Impian dalam Karantina

Oleh:
“Mereka bilang impianku terlalu besar. Aku bilang mereka yang berfikir terlalu kecil” Dulu, aku membuka telingaku untuk mereka. Tapi sekarang.. Tidak! Aku tak ingin mendengarnya lagi. Aku yakin, proses

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Pada malam itu Novi bertengkar hebat dengan ibunya.karna sangkin marahnya mereka ibunya mengusir Novi.Dan ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun.. Setelah lama berjalan,Novi melewati sebuah kedai mie.Ia lapar

Realita dalam Sebuah Fatamorgana

Oleh:
Hai, namaku Salsabila Intan. Kalian bisa memanggilku Bila. Rambutku panjang terurai. Biji mataku kelam, sekelam hidupku saat ini. Kata kebanyakan orang wajahku cantik. Walau kecantikanku ini hanya disebut ‘kembang

Rumah Tua

Oleh:
Rumah tua di sudut kampung itu tampak jelas tak terawat lagi. Bahkan dari rupanya sudah tampak tidak ada lagi orang yang menghuni rumah tersebut. Beberapa bagian kayu yang menopang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *