Marwa, Aku Tidak Ingin Melihat Karma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 January 2017

Mengapa sekarang kau berubah Marwa? Apa kau sudah tidak ingin melanjutkan semua yang telah kita rancang bersama? Kita telah sepakat untuk tetap berjalan beriringan. Tetap berada dalam batasan-batasan, tetap berada di ruangan ini, tetap berjalan di jalan ini. Mengapa sekarang kau memilih untuk menyeberang? Meninggalkan aku sendiri di sini. Kau malah sekarang membuat jarak. Kau bahkan sekarang seperti tidak mengenaliku lagi. Apa yang salah pada diriku Marwa? Aku salah apa? Tolong jelaskan. Berikan aku alasan agar aku dapat merubah semuanya. Aku tidak ingin semuanya terjadi. Aku tidak ingin kau pergi tanpa kata seperti ini! Berhentilah bungkam Marwa! Katakan padaku sekarang! Beri aku penjelasan! Bicaralah Marwa! Bicara… Beri aku alasan…

Apa kau tidak kasihan denganku? Lihat ini, bajuku sudah kumal. Bau. Aku tidak mandi seminggu. Rambutku lepek. Daki di badanku semakin tebal. Kau tidak kasihan padaku? Apakah kau tahu? Aku makan sampah selama ini? Aku makan sampah di sini. Di lorong yang hampa dan sepi. Hanya untuk engkau Marwa. Hanya karena aku di sini ingin kau kembali bersamaku. Aku menunggumu untuk bicara. Sampai berapa lama lagi aku harus mengerang seperti orang gila di sini? Sampai kapan aku harus menjilati bungkus-bungkus nasi di tong sampah ini untuk menahan lapar? Sadarkah kau Marwa? Aku telah memperjuangkan ini untukmu. Bicara padaku Marwa. Mari kita kembali. Ke istana kita. Ke tempat dimana kau dan aku dulu pernah berdansa, melukis, menyiram bunga, bahkan… bahkan bercinta. Kau ingat Marwa? Saat itu indah sekali. Aku betul-betul merasa duniaku warna-warni. Setiap pagi aku melihatmu, setiap siang aku memelukmu, setiap malam aku menciummu. Aku ingin kita seperti dulu. Bersama-sama lagi.

Kau hendak kemana Marwa? Tolong. Di sini sajalah bersamaku. Tolong, dengarkan aku. Kau ini punya telinga, kan? Marwa. Lihat aku. Sini dulu, lihat mataku. Ah, jangan kau palingkan dulu. Sini sebentar saja. Lihat mataku yang merah sembab ini. Lama sudah aku menangisimu. Di sudut kota ini bersama gitar kesayanganku ini. Tiap malam aku bernyanyi. Menghibur hatiku. Menyanyikan lagu kesukaanmu. Memainkan nada untuk membawamu kembali bersamaku.

Kau ingat, kan? Dulu kau pernah buatkan aku sapu tangan. Kain itu kau rajut sambil menyanyikan lagu kesukaanmu kala sore. Menungguku pulang. Di meja telah kau buatkan dua cangkir teh hangat. Satu untukku dan satu lagi untukmu. Kita berbagi cerita. Kau lampiaskan segala yang mengusik hatimu seharian tadi, tentang kucing kita yang nakal, tentang tanaman kita yang diserang hama, tentang sepimu tanpa kehadiranku. Begitupula aku menceritakan kegundahanku di tempat kerja. Orang-orang yang membuatku jengkel, dan pimpinanku yang lucu, dia sering marah-marah kehilangan pena keramatnya karena sering lupa menaruh dimana. Kemudian di kala siang, bekal makanan yang kau siapkan untukku, aku santap dengan nikmat. Rasanya benar-benar ada cinta di sana. Aku merasakan kehadiranmu membuatku hidup. Sehidup-hidupnya.

Keberadaanmu membuatku lupa akan masa laluku. Tentang sadisnya pengkhianatan. Tentang pahitnya ditinggal pergi. Dan tentang betapa sakitnya dibuang dan tak pernah dianggap ada. Kau tahu semua kisahku. Kau tahu semua masa laluku, Marwa. Kau terima semua kenistaan yang pernah menimpaku. Kau hidupkan lagi semua yang pernah redup. Perlahan kau masuk dan menyentuh sanubariku yang sempat mati. Kau bawa aku ke taman bunga yang indah. Kau ajak aku bermain di dalamnya. Kau beri aku perasaan yang sedikitpun tak ingin aku untuk merasakannya. Hanya kau, Marwa. Cuma kamu. Kau buat aku benar-benar ada di dunia ini.

Sudah kubilang, Marwa. Jangan sekali-kali kau membuatku sakit. Ya, sakit seperti ini. Larut dalam penantian yang tak berkesudahan. Kamu, sih, tidak mendengarkan aku. Dulu aku pernah ceritakan padamu. Tentang bejatnya kelakuan bapakku terhadap ibuku, ya kan? Pernah, kan? Dulu aku cerita, bapak aku itu kurang ajar. Dia pake ibuku jika malam hari, tiap malam, kapanpun ia ingin. Setelah itu dia pergi. Berbulan-bulan tidak pernah muncul, kemudian muncul, tapi ya, begitu, hanya untuk memuaskan nafsu birahinya saja. Lalu pergi lagi. Sampai detik ini aku tidak tahu keberadaanya dimana. Apakah sudah mampus atau masih punya nafas.

Marwa, dulu sempat kukatakan padamu juga, kan? Soal ibuku. Dia yang tidak pernah mengurusiku. Tidak pernah menganggap keberadaanku. Dia tidak pernah pedulikan aku. Tidak pernah memberiku makan. Dia selalu memaki-makiku. Dia sangat membenciku. Semua itu karena bapakku, Marwa. Dia benci aku, karena kelakuan bapakku. Lalu aku bisa apa, Marwa? Bocah macam aku ini, tahu apa? Sampai aku diusir entah apa juntrungannya, aku ditendang dan dimaki-maki. Ibuku menyuruhku pergi. Luntang-lantung hidupku di jalan. Minta makan sana-sini. Sampai aku bertemu seorang perempuan paruh baya yang baik hati. Mempersilahkanku tinggal di rumahnya. Rupanya ia perempuan yang kesepian. Suaminya dan anaknya mati karena kecelakaan. Tinggal ia sendiri di rumah itu. Dibesarkannya aku dengan kasih sayang. Diberikannya aku pendidikan. Kemudian, saat aku baru merasakan dunia mendekapku, perempuan itu mati. Meninggalkanku sendiri. Ternyata dia menua bersama penyakitnya. Apa dayaku, aku kembali hidup sendiri, Marwa.

Sampai suatu hari, aku bertemu seorang gadis. Dimana ketika tersenyum, damai hatiku melihatnya. Ketika menatap, tenang hatiku dibuatnya. Perlahan kau masuk dalam kehidupanku, Marwa. Kau bersedia menjadi tempat berkeluh kesahku. Hingga detik ini, kau menjadi pasanganku yang sah. Kupersunting dirimu. Kau kini hidup bersamaku dalam susah maupun senang. Bersama mahar yang melingkar di jari manismu, dan juga ikrar yang telah kau ucap kepadaku. Lantas mengapa kau bayar dengan ini semua, Marwa?

Mengapa kau balas semua perasaanku yang tulus ini dengan pengkhianatan? Ternyata kau bermain dengan lelaki itu. Bertelanjang di atas ranjang. Di istana kita! Sudah berapa lama kau menjadi l*nte, Marwa? Selama ini aku mengenalmu sebagai perempuan baik-baik. Kau rusak mimpi-mimpiku! Kau hancurkan semua istana indah yang kita bangun. Aku tidak percaya kau sejahat ini. Tidak ada lagi gairah dalam hidupku, Marwa. Puas kau sekarang?

Tetangga sibuk kasak-kusuk. Mereka bilang seperti mencium aroma anyir di rumah kita. Mereka mencurigaiku menyimpan bangkai. Aku lelah bersembunyi di sini, Marwa. Makanya, sekarang aku membawamu ke sini. Ke tempat yang agaknya lebih aman. Sebuah lorong yang jarang dilalui orang. Paling sesekali petugas kebersihan datang ke sini hanya untuk menumpukkan sampah. Hanya ada kita dan beberapa onggokan sampah di sini.

Laki-laki itu aku bunuh, jasadnya aku potong-potong menjadi beberapa bagian. Dan aku buang di beberapa tempat. Aku yakin pasti akan ketemu, tapi ya biar agak sedikit repot saja untuk menemukannya. Lalu, jasadmu? Tidak akan aku biarkan kau ditanam. Aku ingin kau tetap di sini. Memandang wajahmu, meskipun kau tidak mau memandang wajahku lagi. Membelai rambutmu, memelukmu, bahkan menciummu aku masih bersedia, Marwa. Walau aku tahu, kau telah pergi dari sini bersama dengan janin di dalam perutmu yang aku tidak tahu itu punya siapa. Bisa saja itu punya lelaki bangs*t itu, kan? Lebih baik aku habiskan saja semua, daripada aku harus mengurus anak yang entah dari darah daging siapa. Dan adakah yang tahu kisah hidup anak itu kelak seperti apa? Apakah dia akan mengikuti jejakmu atau jejakku, atau malah mengikuti jejak lelaki bangs*t yang telah menghancurkan mimpiku?

Di sela-sela malam, aku sering mencuri pandangan ke arahmu Marwa, mana tahu kau mau memandangku lagi. Memberikan aku senyuman, kemudian memelukku seraya berkata, “mari kita pulang, sayang…”

Cerpen Karangan: Dinda Shabrina
Facebook: www.facebook.com/dindashabrinaLPU

Cerpen Marwa, Aku Tidak Ingin Melihat Karma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Terindah

Oleh:
Taman bintang. Begitulah kami menyebutnya. Taman indah yang menjadi saksi setiap detik kebersamaanku bersama dia. Seperti melihat bintang di langit malam. Satu hal yang tak pernah bisa kami lupakan.

Karma

Oleh:
“Tett… tett…” “Siapa Rai? Kok nggak di angkat?” Tanya Ray padaku mengomentari handphoneku yang berdering. “Oh, ini Mama Ray, tunggu ya aku angkat dulu.” Aku sedikit berbohong padanya dan

Liontin Air Mata

Oleh:
Sinar mentari dengan lembutnya menyapa pagi ini dengan hangatnya. Hamparan rumput nan hijau dihiasi bunga-bunga yang merekah warna-warni, membuat kesan pagi ini sangat indah. Namaku Chika, usiaku kini 22

Dimensi Lain

Oleh:
Kini ku langkahkan kaki menelusuri sebuah lorong panjang yang mana banyak akar pohon bergelantungan, tapi anehnya dari mana asal akar pohon tersebut? Karena sedari tadi tak ku dapati pohon

Pelabuhan Lain

Oleh:
Pernah ku sangat yakin dengan kata-katamu, “Kita memang ditakdirkan untuk menaiki kapal yang berbeda tapi menuju pelabuhan yang sama, hanya keyakinan yang akan melawan terjangan ombak laut yang menghadang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *