(Masih) Tanpa Jawaban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Adakah yang lebih memilukan dari mimpi-mimpi di ambang nyata yang mendadak lumpuh dan menanti binasa? Adakah yang lebih mengerikan dari tiupan napas yang bahkan tak sanggup dikendalikan kita? Atau, debar jantung yang beringsut lirih lantaran disergap hampa? Kau melawat ketika aku masih air mata. Kau tawarkan selaksa riang dan tumpukan tawa. Kau juga gencar berkelakar, masih banyak wanita yang mampu menggantikannya, memberiku cinta. Maaf saja, untuk kini hatiku masih benar-benar kosong, semelompong sorot mataku ketika menengadah langit malam.

Kendati kau selalu penuh percaya berujar bahwa akan pasti ada figur yang menggantikannya, tetap saja kau senantiasa tak bisa menjawab manakala aku kembali bertanya, akankah mereka masih tetap mencinta selepas terkelupas longgokan kekuranganku. Kau hanya bisa menyumpal dua daging bibirku dengan sepotong jari lembut dan disambi goyangan pelan kanan-kiri kepala khasmu. Tanpa sepatah kata. Tanpa jawaban yang ku dambakan.

Kenapa kau tak tebas aku saja, Syahdu? Agar musnah seketika rasaku padanya, begitu pun nyawaku. Atau, menghilang dari hitam kisahku ini. Agar aku lebih nikmat menyongsong mati. Di titik ini, menurutmu, seberapa berharga nyawa untuk dipertahankan? Sekali lagi, kau selalu tak bisa memberiku jawaban. Sebatas sehelai senyum yang kadang semakin membuatku muak, bukan padamu melainkan pada kelam yang masih terus tega memandikan naskah-naskah hidupku.

Hati memang tak semudah mulut untuk dibekap. Tak segampang mata untuk dicadari. Tak seenteng tangan untuk diborgol. Hati memiliki ruang gerak yang luas, ia leluasa untuk bebas, hingga tak jarang ia menjadi liar. Tak ada kekang untuk menyarangnya bila sudah demikian. Hati akan terlalu licin untuk diredam, untuk dijinakkan. Bahkan, hati dengan setiap gumamannya tak pernah akan jeri melintasi sela dua runcing dan tajam. Tak sesaat pun gentar meladeni kelam. Sebatas berbekal keyakinan. Hati, bahkan seolah enggan berhati-hati, Syahdu. Untuk kesekian kalinya, aku hanya mampu tercekat demi mengagumi hati.

Lewat hati, ternyata pertanyaan-pertanyaan tak perlu disuarakan. Akan mengaburkan kejelasan yang terselip atas segala sesuatu. Kembali, cukup dengan keyakinan semata. Aku masih tak cukup paham apa di balik keanehannya. Hanya saja, yang terangkul oleh benakku, karena kita tak pernah mampu menerka seberapa rapuh jembatan yang menghubungkan dua hati, maka hanya benar-benar dengan kepercayaanlah akan terbangun kekuatan. Sama halnya dengan bintang yang tak pernah ragu membantu bulan untuk memijari malam, walau bintang tahu, bukan bulan yang meminjamkan cahaya, melainkan matahari.

Bintang mempercayai bulan, sepenuh ia menaruh percaya pada matahari. Dengan kepercayaan pulalah Ibrahim tak ragu menumbalkan sang putera yang amat didamba kehadirannya untuk memenuhi perintah Tuhan yang dulu pernah membuatnya tak takut meluluh lantakkan berhala-berhala. Membuat Zulaikha rela bersandiwara untuk memperoleh cinta Yusuf. Dan, Nuh yang merasa tak apa ketika jarum cemooh menghujamnya, hingga banjir besar tumpah, dipersembahkan bagi yang mencercanya sebelumnya. Semua tak butuh pertanyaan ketika benak dilingkupi keraguan. Semua percaya pada hati masing-masing.

Tetapi, bila kepercayaan yang tak dangkal dijawab dengan ketidaktertunaian, maka tinggal menanti detik masa untuk ditelan nestapa, berkepanjangan. Berlarut-larut. Yang ada karenanya, cuma kepingan hati yang tak lagi sanggup dirapikan. Porak-poranda. Berbanding lurus seperti kisah kami. Mula-mula, ia merasuki kehidupanku tanpa mendobrak, melainkan lebih dahulu mengetuk, juga melambaikan isyarat. Tak pula membobol, tetapi membuka perlahan, dengan sarat muatan kelembutan. Tak alpa, ia menyihirku beserta percikan jernih waktu. Ia tak mengajariku ketergesaan dalam bercinta. Ia berkata, cinta tak ubahnya impian, hingga ia tak pernah menghadiahkanku embun, melainkan sejuk tatapannya. Tak pernah memberiku lampu, tapi cahaya kemilaunya.

Bukan juga api, namun hangat senyum dan dekapannya. Ia hanya cukup memperbolehkan angin untuk menjadi kawanku, supaya aku terus punya kesempatan untuk mengembara bersama impian, lebih berani menghadapi segala. Meski, ia tahu, angin tak pernah bisa dikendalikan, namun hanya dengannyalah layar hidup kita bergerak menuju tujuan. Tak cemas dengan impian yang mungkin tak terwujud. Ia lebih senang membuatku meringis karena perjuangan ketimbang mendengkur karena tak hendak ke luar dari zona nyaman. Bersamanya, aku tak hanya menjadi pemimpi. Kaki menapak bumi, sementara mimpi dicantolkan pada nebula.

Lagi, aku teringat saat ia masih bersandar manja di bahuku, Syahdu, di bangku taman yang cukup jauh dari tempat bermukim kami. Matanya memindai sekeliling dan disambi hentakan lembut napasnya. Akan terus begitu sampai ada seekor kupu-kupu putih bersih dengan sedikit titik cokelat yang ditangkap retinanya. Ia bilang, kupu-kupu itu adalah temannya. Sayangnya, sampai saat ini aku belum pernah tahu nama yang ia sematkan untuk menyebutnya. Atau, ia memang ogah menamainya. Supaya ketika sedang merindukannya, ia lebih ingat pesona kupu-kupu itu ketimbang namanya.

Banyak cerita yang ia beri tahukan. Sedemikian banyak untuk kembali ku ceritakan padamu. Setidaknya, yang benar-benar tak terenggut dari ingatanku, ia pernah bercerita bahwa dulu kakek moyangnya adalah seorang panglima ketika kolonial Belanda masih menduduki bumi ini. Beliau, katanya, tak mengantongi bekal apa pun: pedang, parang, celurit, bambu runcing, apalagi pistol. Keberanian dan kepercayaan bahwa tanah kelahirannya tak boleh diperdaya adalah satu-satunya modal yang beliau bawa di medan laga. Selain, beberapa jurus silat yang dikuasai tentunya. Sehingga, ia tak pernah heran akan tumbuh menjadi perempuan yang sangat berbeda. Bahkan, aku pernah dengan mata kepala sendiri melihatnya mementaskan satu dua jurus yang diwariskan padanya. Detik itu, aku semakin kagum saja padanya.

Ia juga berterus terang, tak sejumput rasa pun menyukai boneka. Enggan mengenakan rok. Tiada lain, hanya suara lembut serupa simfoni burung dan desau jernih angin kala pagi yang menjadi tabiat perempuan yang melekat padanya. Kembali, hentakan lembut napasnya hadir ketika menyelesaikan cerita. Aku tak cukup paham apa maksudnya. Mungkin baginya, dengan begitu, ia akan merasakan hidup lebih bisa dimaknai lebih dalam. Sama halnya ketika kita kerap memejamkan mata saat bahagia menghinggapi. Atau, boleh jadi ia ingin melampuhijaukan bilangan napasnya untuk bercumbu dengan puputan angin.

Kira-kira dua bulan selepas kami dinyatakan lulus dari SMA, ia tergopoh-gopoh mengetuk pintu kayu belakang rumahku. Karena ia sudah paham, ketika hari masih baru sedikit disinari matahari, aku masih sibuk dengan beban cucian tetangga. Dapur sekaligus kamar mandiku berada di ekor rumah. Tak biasanya ia sebegitu terburu-buru. Punggung pintu rapuh itu digedor-gedornya. Amat bertolakbelakang dari yang ku kenal, Syahdu.

Matanya berlinangan sempurna ketika terbuka pintu yang diketuknya. Lagi, sungguh bukan perangainya untuk menangis. Lebih-lebih, kala itu sedu-sedannya tak lekas usai. Cukup lama aku menantinya untuk menguasai dirinya sendiri. Ku biarkan dadaku ditindih kepalanya. Tangisnya berangsur lirih, sekonyong-konyong dengan suara mungil yang mungkin karena masih belum cukup kuat meladeni sesenggukannya, ia berujar. “Rid, aku harus pergi,” serangkaian kata yang saat itu masih belum sepenuhnya ku mengerti.

Ragu-ragu, disodorkannya kertas lusuh padaku. Awalnya, aku ogah menerimanya, aku lebih ingin mendengar sendiri gerangan apa yang membuatnya sedemikian rapuh lewat suara gemulai yang selalu menjadikan malamku lebih terasa damai yang saat itu terdengar begitu getir. Tapi, ketika ia kembali berujar kecil, “Tidak ada waktu lagi,” kemudian melepaskan dekapanku dari punggungnya, dan ia tiba-tiba tunggang langgang menyibak kabut yang masih membalut. Aku sudah cukup paham bahwa hal yang sangat ku takutkan akan terwujud saat itu.

Patut kiranya kau tahu, Syahdu, hubungan lintas etnis saat itu bukan hanya disorot, tapi juga dikecam. Beruntung, pertautan hati kami belum pernah terendus. Pertemuan kami setiap kali lembayung menampilkan diri di taman belum pernah dipergoki. Andai kami tertangkap basah tengah berduaan, maka hanya menunggu kami berdua berkemas untuk kemudian didepak dari desa. Lebih dari itu, nama kami akan langsung dibasmi dari silsilah keluarga masing-masing. Mengerikan. Bahkan, itu dianggap lebih bejat dari persetubuhan sesuku sekali pun. Rupanya, akan ada fase di mana manusia jauh lebih rendah dari sampah. Yang biangnya adalah fanatisme golongan.

Kami seakan sama-sama tersesat di jalan yang benar. Hanya carikan kertas yang tertinggalkan. Bahkan, aku tak kuasa untuk sekadar mengantongi bau badannya. Untuk beberapa detik, ku biarkan kertas itu terkulai di tanah lembab, bukan karena tak sudi ku pungut. Hanya saja, kenyataan pahit yang mesti ku pikul di kemudian hari membuat denyut dan aliran nadiku mematung sejenak. Bergeming. Saat kertas itu mulai melayang disapu semilir, keterpakuanku tandas, ku kaisnya dengan menjinjit dan sedikit mengerahkan lompatan. Menjangkaunya dari udara.

Dua menit ku eja ulang satu per satu kata yang dianyamnya, Syahdu. Bukan karena terlalu banyak yang tertulis atau sulit untuk cepat dipahami. Tapi, akal sehatku masih belum sanggup menerima, begitu pun sanubari terdalamku. Keduanya ingin ada kalimat lain yang mengabarkan bahwa kejadian tadi dan kertas itu sekadar candanya. Ia hanya ingin tahu seperti apa reaksiku saat kami tak punya kesempatan bersama lagi: Berkunjung ke taman untuk bertukar cerita dan bersajak tentang keindahan kupu-kupu dan sinar perak senja di sana. Nyatanya, kalimat di surat itu tak berkenan berubah. Masih enam kalimat lugas.

“Jangan kejar aku. Kita tak bisa bersama lagi. Tapi, aku hanya meninggalkanmu. Bukan terlepas sepenuhnya darimu. Ku mohon, jangan kejar aku. Karena, aku milik selainmu.”

Dua lututku merata dengan lantai tanah rumah. Kelenjar mataku tak lagi sanggup meredam bulir-bulir bening. Air mataku ku biarkan menguap seperti kabut. Sedikit terik mulai menabrak tubuh lunglaiku yang hanya terbungkus sarung dan kaus kedodoran yang sudah usang. Rasanya, setengah kebahagiaanku terenggut. Waktu itu, aku ingin menjadi malaikat, yang tak mungkin pernah punya rasa. Termasuk pedih. Atau, menjadi burung, memiliki sayap. Terbang bila sedang bosan, ketika tengah berang pada kehidupannya, dan terbang dengan segala suasana hatinya. Betapa tidak, di detik itu, aku adalah sandera sisi lain dari cinta. Sisi pekat yang semua orang tak mau menghampirinya. Sanggupkah kau mengakhiri kisah yang akan berujung buruk ketika masih terasa indah?

“Ya, di sinilah kami dulu,”
“Kau terlalu mencintainya,”
“Ada gadis lain yang lebih layak untuk lebih ku cintai kini,”

Sebagai manusia, kita memang kerap kalah dalam urusan cinta. Hanya, kekalahan itu tak boleh terus diperkenankan membenamkan kita dalam haru-biru. Lebih-lebih, ketika kita tahu, dengan melepasnya, berarti ada barter dari Tuhan yang lebih baik.

Taman ini ternyata masih sama. Dinding air mancur yang sudah seperti jantungnya dibiarkan tetap bercat putih bersih. Di sisi-sisinya, beraneka burung asyik bermain dengan para pengunjung dari beragam usia. Bangku-bangku yang bertebaran tak banyak mengalami perubahan. Sekedar jumlahnya yang makin diperbanyak. Demi mengimbangi animo. Sekawanan kupu-kupu juga berterbangan, seolah menyuguhkan orkestra rutinan. Sebenarnya, taman ini tak ubahnya taman-taman lainnya. Yang membedakan, di sini, senja lebih akrab saat menyiram setiap anak manusia yang datang. Ia seakan ingin berlama-lama membagi sinar peraknya. Di samping, banyak kisah cinta tertoreh dengan taman ini menjadi latarnya. Dan, kupu-kupu sebagai penonton setia.

Syahdu, ku kira hanya kau yang bisa membebat lara masa laluku. Mengerti keterasingan sepotong hatiku karena ditinggal kawin olehnya. Karena selama bersamamu, tak ada sumbu pertanyaan yang tersulut di benakku. Melainkan, melahirkan kembali kepercayaan yang sempat pupus. Meski kuta hu, kau masih belum bisa menjawab pertanyaanku. Aku tetap merasakan setengah kebahagiaanku kembali. Dan, bersamamu, Syahdu, ku rasa sudah cukup bagiku mengarungi hidup sebagai manusia. Bukan malaikat. Tidak juga burung yang menjelajah angkasa. Cukup lambat bagi kita untuk sadar bahwa sepasang kupu-kupu terbang kompak seperti ingin membentuk pusaran tepat di atas kepala. Senang hati, mengadokan dansa selamat datang.

Situbondo , Jan 2016

Cerpen Karangan: R. Aminul Muslim
R. Aminul Muslim nama pena dari Rizal Aminul Muslim. Pria Kota Pisang yang teraliri darah Pulau Garam. Adapun kini, masih menempuh pendidikan di Kota Santri sebagai siswa SMK Ibrahimy 1 Sukorejo Situbondo jurusan Akuntansi. Konsultasi perihal literasi dapat menyambangi e-mail:rhiezaldmunted[-at-]yahoo.co.id atau Facebook: Rhiezald Aquariuzboy’s Thegunneers

Cerpen (Masih) Tanpa Jawaban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Crazy Love

Oleh:
“Hallo?!,” tanya Felly dengan suara seraknya. “Felllyyy!!!,” teriak seseorang dengan amarahnya. Seketika Felly mengeryitkan dahinya. Ia menjauhkan ponselnya sejenak, kemudian kembali berbicara dengan suara seraknya sebangun dari tidur. “Aduh

Dari Sebuah Kaca Mata

Oleh:
Mentari tak pernah berkhianat, seperti biasa ia kembali dari ufuk timur. Semburat kilaunya menyelinap ke dalam kopi pagiku. Dengan digdayanya, seakan ia mampu merubah hitam menjadi seterang cahanya. Tidak!

Klasik

Oleh:
“Sorry ya. Udah nunggu lama?” Cowok yang semula fokus pada jalanan di luar sana langsung menoleh ke arahku. “Enggak kok. Baru juga.” Senyumnya selalu bisa membuat jantungku berdegup dua

Duampanua Di Penghujung Oktober

Oleh:
“Belum turun hujan?” tanya Aulil kepada Alimuddin yang memandangi awan terang benderang, ia hanya menggeleng kepala pertanda tidak. “Yah kita mesti bersabar menunggu,” Aulil berpaling dan meninggalkan Alimuddin yang

My Girl And My Vespa

Oleh:
Kali ini untuk yang berpuluh-puluh kalinya, Karjo kembali ke kebiasaannya setiap pagi sebelum berangkat Sekolah. Kalau sudah pagi, pasti suara Emaknya Karjo kedengaran sampai ujung kampung bahkan menggema ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *