Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 7 March 2015

Bunga indah seribu warna, sungai-sungai yang airnya mengalir dari surga dan sosok manusia pun terlihat indah. Siapa yang menyampaikan pesan keindahan itu ke otak? Mata.
Bahkan cinta pun berawal dari mata turun ke hati. Setiap hari orang bekerja hanya untuk mencari mata. Mata Uang.
“sudah kubilang Amir, kau harus bisa menjaga matamu untuk mata yang satu ini. Dan sekarang kau rasakan sendiri akibat dari matamu itu.”
Amir diam mematung. Seolah seonggok daging tak bernyawa. Amir memang tipe orang yang selalu tergesa-gesa, dia punya mata tapi tak ia gunakan untuk melihat kemungkinan buruk yang terjadi pada dirinya. Dia bekerja sebagai guru honoran di salah satu SMP tak jauh dari tempat tinggalnya. Dalam mengajar pun dia bukan tipe guru yang suka memperhatikan murid-muridnya. Orangnya cuek. Terserah murid-muridnya mau bertingkah seperti apa di belakangnya. Matanya hanya disibukan dengan handphone nya yang terbilang mahal.
Gajinya sebagai pegawai honoran sering kali tak bisa mencukupi istri dan ketiga anaknya. Hutangnya di warung-warung tak sedikit belum lagi hutang-hutang kredit pakaian istrinya. Jika tukang kredit datang, rumahnya sudah disetting menjadi sepi seolah tak berpenghuni lagi.
“Semua ini salahmu Marni, gayamu sok kota padahal ndeso. Pakaianmu setiap minggu selalu baru apa kau pikir aku punya ladang uang untuk membayarnya?” Amir mulai meradang. Betapa tidak, hampir setiap hari dia harus bermain petak umpet dengan tukang kredit yang mendatangi rumahnya.
Marni tak mau kalah.
“Sudah tugasmu mas untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”
“Iya, tapi ini bukan lagi kebutuhan tapi pemborosan sekaligus pemerasan.”
Tak puas hanya dengan beradu mulut Marni mengambil inisiatif perang. Gelas-gelas mulai berterbangan dan pecah seperti ledakan bom atom. Dari ruang tamu sebuah asbak dihantamkan Amir ke dinding sebagai tanda serangan balasan. Tak ada yang heran dengan keributan yang kerap kali melanda keluarga ini, para tetangga pun cuek saja. Entah kapan semuanya akan usai.

Keadaan keluarga Amir semakin miris. Hutang istrinya sudah semakin melilit pinggang. Amir tak punya pekerjaan tambahan, begitupun Marni kerjanya hanya berdandan dan gosip kesana kemari. Sedangkan tukang kredit tak pernah absen mendatangi rumahnya.
Amir tak tahu lagi kepada siapa dia mengadukan segala permasalahannya. Marni rasanya bukan lagi jadi tempat yang nyaman untuk menuangkan segala beban pikirannya, namun justru sebaliknya. Sikap Amir yang sedikit tertutup membuatnya sulit mencari kawan yang bisa untuk saling bertukar pikiran.
Hanya Haris kawan dekatnya selama enam tahun tinggal di kota ini. Dan Haris pun hanya bisa menjadi pendengar yang baik jika Amir bercerita tentang kehidupannya. Tanpa memberi saran atau nasihat. Jikapun ada pasti sarannya sulit untuk diterima Amir.
Pernah suatu ketika Amir menceritakan apa yang dialaminya di rumah. Haris enteng saja menjawab. Ceraikan saja, terus rumahmu kau jual baru kau kawin lagi.
Benar-benar gila, dia kira cerai bisa menyelesaikan segala masalah, salah-salah bisa menambah masalah. Bagaimana kalau Marni minta uang pesangon dan ketiga anak-anak aku yang harus mengurusi. Saran Haris benar-benar tidak rasional. Sejak itulah Amir tidak pernah meminta saran lagi kepada Haris. Amir berjuang sendirian menghadapi segala permasalahan rumah tangganya yang masih kusut.

“Maaf bapak sedang tidak ada di rumah mungkin lusa baru pulang. Apa ada pesan untuk bapak?” Marni menutup telepon.
Nasib sama halnya dengan politik yang dapat berubah dalam hitungan detik. Begitupun Amir. Setelah lima tahun hidup pas-pasan kini ia punya usaha toko sepatu di luar kota walaupun masih dalam skala menengah. Tak ingin lagi selalu ribut dengan istrinya hanya gara-gara uang dan hutang. Amir benar-benar membuktikan kalau dia bisa menafkahi anak dan istrinya dengan layak. Tidak lagi disebut pak guru banyak hutang.
“Dalam seminggu suami saya Cuma dua hari ada di rumah Sabtu sama minggu. Dan suami saya kan sekarang sudah berhenti jadi guru honor, gajinya kecil. Kalau berwirausaha seperti ini kan lumayan.” Marni mulai membangga-banggakan Amir kepada rekan-rekan arisannya. Mereka hanya manggut-manggut membenarkan walaupun ada yang menyimpan curiga jangan-jangan Amir melihara tuyul.

Dua kali sudah Haris datang ke rumah Amir tetapi orangnya selalu tidak ada.
Datang pertama.
“Aduh mas Haris, mas kan tahu sekarang ini hari rabu, mas Amir masih di luar kota. Mas datang aja hari sabtu atau minggu!”
Amir menurut saja apa kata Marni.
Minggu pagi Haris datang lagi.
“Maaf banget mas Haris, mas Amir nya baru saja pergi. Dia ditelpon rekan bisnisnya katanya ada hal penting. Nanti saya suruh dia nemui mas saja kalau mas Amirnya ada waktu.”
Haris mengiyakan dan pulang.
Ternyata susah bertemu dengan orang yang baru kaya. Gumam Haris dalam hati. Kita pasti bertemu Amir, aku tak mungkin bisa melupakanmu walaupun mungkin kau lupa dengan teman lamamu ini karena sudah jadi orang kaya. Haris segera menghubungi Amir melalui SMS.

Pukul empat pagi.
Penggeledahan dimulai. Berkali-kali tembakan dilepaskan ke udara sebagai tanda peringatan dan perintah untuk menyerah. Serangan balasan datang dari lantai dua tempat penggeledahan. Orang-orang bersarung berhamburan keluar rumah menyaksikan kegaduhan.
Letusan peluru semakin ramai beradu. Hampir satu jam sudah aksi penggeledahan berlangsung. Lima orang dedengkot penyalur barang-barang haram itu sudah diringkus.
“Tinggal satu orang lagi, dan ini biarkan aku yang menanganinya.” Seru Haris kepada rekan-rekannya.

Haris segera bertindak.
Seluruh lampu tempat persembunyian mati. Untung saja Haris sudah sangat handal dengan keadaan gelap seperti ini. Sesekali di hidupkannya korek api untuk melihat tempat persembunyian manusia terakhir ini.
Sebua pintu didobrak. Terbuka.
Mukanya pucat, seluruh badannya terlihat gemetar. Ruangan sunyi senyap hanya suara derap lagkah rekan-rekan Haris yang siap siaga di luar.
Haris menyelakan rok*knya.
“Amir ayo nikmati dulu cerutu paling nikmat ini untuk terakhir.” Kata Haris seraya menyodorkan cerutunya di atas meja dekat Amir meringkuk. Tubuhnya yang gemetar ketakutan diam tak memberi jawaban.
“Sudah kubilang Amir, kau harus bisa menjaga matamu untuk mata yang satu ini. Dan sekarang kau rasakan sendiri akibat dari matamu itu. Kau terlalu nekad demi memenuhi keinginan istrimu itu.”
Tak ada jawaban Amir. Hanya pandangannya yang kosong tanda penyesalan.
“Amankan semua barang-barang haram yang ada” seru Haris.
Semua bergerak sesuai perintah.
“Intruksi komandan, apa wanita ini juga diamankan?” kata salah seorang rekannya seraya menunjuk ke arah bawah ranjang.
Haris setengah tertawa dan menghisap dalam-dalam cerutunya.
“Ternyata matamu tak hanya mata duitan Amir, tapi kau juga mata keranjang.”

Cerpen Karangan: Dedi Martin Junior
Facebook: Dedi Martin Junior
kuliah di fakultas peternakan tidak menyurutkan minatnya untuk tetap menjadi penulis…

Cerpen Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seutas Tali

Oleh:
Seorang pemabuk itu berwajah reot, rambutnya ikal tidak rapi dan bibirnya hitam legam akibat ribuan rok*k kretek yang dihisapnya selama ia hidup. Dua kawannya berambut gondrong dan acak-acakan pula.

Sebuah Cerita Tentang Wawan

Oleh:
Siang yang terik. Panas matahari membakar kulitku yang coklat. Debu-debu jalanan menghiasi kaca helmku. Kantuk menjalar di otakku, memaksaku untuk cepat-cepat pulang ke rumah dan dapat beristrahat sepuas mungkin.

Imbalan Termewah

Oleh:
Malam mengapa kau tidak kunjung berlalu, apa kau tidak merasa kasihan melihatku sendirian dan kesepian menyelimuti diriku ini. Rumahku hanyanya beralas bumi dan beratap langit, ya dari ujung ke

Sirup Sequosdelik

Oleh:
Pernahkah kalian melihat melihat atau merasakan sirup? (maaf tidak bisa saya sebutkan merek-nya) Di luar kemasannya terbaca sirup squash delight? Jika kalian belum pernah merasakan atau melihat sirup dengan

Pelangi Untuk Kita

Oleh:
Hujan masih menyelimuti bumi yang gersang. Air menggenang di jalan yang berlubang. Entah ke mana sang matahari sehingga tiada hadir menyapa. Sepeda tua itu tetap melaju menembus tirai-tirai air

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *