Matahari Di Balik Awan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 April 2016

Aku kembali terpuruk, dengan sejuta kegundahan hati dan kelemahan untuk menerima keadaan. Aku lemah, dengan setiap perkataan yang membuatku tak ingin berada di dunia ini lebih lama, aku lelah selalu tersenyum dalam kepalsuan yang seolah membuatku menjadi seorang wanita yang selalu bahagia.

“Maa, itu hp-nya bunyi, kok didiemin?”
Ah suara jagoanku membuyarkan semua lamunanku tentang keluh kesahku pada sang pencipta.
“Oh iya,” singkat ku jawab.
“Yet, ekeu lagi bete, bisa kesindang? Kita jelong-jelong sambil cari udara segar,”
Ah ternyata pesan Anita, sahabat baikku. “Siap ekeu capcus kesitu sekarang.”

“Lambretong banget sih cin, haha,” candanya.
“Iya nih, abis jalanan macet haha,”
“Ah lo bisa ajah Ren, orang kita diem di kampung toh, mana bisa macet haha,”
“Hahaha…”

Aku dan Anita sebenarnya baru saja saling kenal, dia adalah partner kerjaku hingga saat ini. Haha partner kerja, yaa partner kerja. Aku bekerja dengan menjual suaraku. Kau mengerti? Bukaan, aku bukan seorang pengamen. Aku adalah seorang biduan dangdut dari panggung ke panggung. Berbicara bahasa planet mars sudah menjadi kebiasaanku semenjak aku bergabung dengan rekan-rekan sepekerjaanku. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menghibur diri sendiri.

Hari ini terasa sangat melelahkan, panasnya cahaya sang raja siang secepat kilat menembus kulitku yang berbalut gaun hitam selutut. Aku masih bernyanyi, lagu demi lagu ku lantunkan untuk setiap orang yang hadir di sini. Jarum jam di tanganku sudah menuju angka 4, dan sialnya aku belum berada di rumah, kasihan jagoanku pasti belum makan, karena seingatku tadi aku meninggalkannya tanpa memasak lauk terlebih dahulu. Aku harus cepat. Gumamku. Aku berjalan pelan di gang sempit ini, aku sudah biasa pulang sendiri, juga terbiasa dengan tatapan sinis para tetangga yang menggunjingku. Biasa.. Yaa sudah sangat biasa.

“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam Mah,” jawab jagoanku sambil membuka pintu.
“Kamu udah makan De? Mamah lupa tadi gak masak dulu.. Maaf ya,”
“Udah kok Mah, tadi Om Andre ke sini bawain makanan buat aku,”
“Oh ya?” Aku terheran, kenapa dia lagi. Sebenarnya apa yang dia mau dariku. Dia selalu saja menjadi pahlawan ketika aku kebingungan. Ah sudahlah.
“Iya Mah, Mamah udah makan belum?”
“Udah kok.”

“Citraaa!!” teriak seseorang di belakangku.
“Ada apa Dre?” Aku menoleh dan masih bersikap dingin kepadanya.
“Tidak, aku hanya ingin meminta sesuatu kepadamu.”
“Apa? Cepat katakan! Aku harus bekerja,”
“Aku mohon, jangan menjadi penyanyi dangdut lagi, aku tak ingin kau terus-menerus mendapat sindiran dari tetanggamu.”

“Apa maumu? Kenapa kau berani melarangku? Memangnya kau siapa? Aku sudah tidak peduli dengan ocehan tetangga yang seperti kokok ayam tiap pagi! Mereka memang tetanggaku, tapi mereka tak pernah tahu bagaimana kehidupanku, mereka hanya menyimpulkan seenak jidatnya, mereka hanya tahu aku dari luar! Aku seorang janda! Dan aku penyanyi dangdut! Hinakah itu? Ku pikir tak ada yang salah dengan semua ini!” aku menjelaskan panjang lebar, hingga tanpa terasa air mataku mengucur deras membasahi pipi ini.

“Ma.. Maafkan aku.. Bukan itu Mak.. Maksudkuu,”
“Pergilah, aku tak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Ini semua demi anakku!!” Bentakku pada Andre.
“Ba..baiklah,” jawabnya terbata-bata. Sepertinya ia merasa bersalah kepadaku.

Ku akui, sebenarnya dia orang yang baik, tapi caranya berbicara tadi seolah menghancurkan hatiku. Memangnya salah menjadi seorang penyanyi dangdut? Aku mencari uang dengan halal. Bukan menjadi pengemis yang hanya bisa meminta-minta. Tapi kenapa orang-orang di sekitarku menganggapku lebih buruk dari pengemis. Sebenarnya aku terpaksa menjadi seorang biduan, selepas kepergian Mas Rian, suamiku dulu. Aku ingat betul ketika ia menamparku hingga aku terjatuh, padahal saat itu aku sedang hamil tua. Tapi ia tetap bersikap kasar kepadaku.

Dulu sikapnya sangat lembut dan tak pernah membentakku. Ia berubah semenjak dipecat dari kantornya. Mungkin itulah yang menjadi salah satu alasannya ia berubah drastis. Ah sudahlah, aku malas membahas Mas Rian, dia hanya masa laluku yang tak pernah ku harap kembali hadir ke dalam kehidupan ini. Aku sudah lelah dengan sikapnya hingga sekarang. Sampai-sampai aku harus bekerja keras menjadi seorang penyanyi dangdut untuk menghidupi anakku. Di mana tanggung jawab lelaki itu? Di mana janjinya dulu ketika pertama menikah? Muak rasanya ketika aku tiba-tiba teringat semua kenangan pahitku bersamanya.

Cerpen Karangan: Yusrini Nur Kulsum
Facebook: https://m.facebook.com/yusrini.kulsum
Nama: Yusrini Nur Kulsum
Tempat, tanggal lahir: Garut, 29 November 1998
Aku bukan seorang penyair yang amat luar biasa menumpahkan semua yang ia rasa di dalam untaian kata. Ataupun seorang penulis hebat yang menumpahkan keluh kesah dan kebahagiaannya di dalam sebuah cerita. Aku hanya seorang wanita yang berusaha mengerti tentang apa itu “cerita cinta”.

Cerpen Matahari Di Balik Awan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Koruptor

Oleh:
Tetesan air hujan bagai sebuah piano yang mengeluarkan melodi indah. Suara yang hampir setiap harinya menemani gadis yang tengah menunggu bus di halte-bila musim hujan tiba. Gadis itu dilihat

Empat Kata Terindah (Part 1)

Oleh:
“Hari ini, kamu akan ikut casting di Plaza Mall” Ucap Bu Natasya pada sang anak “Dan ingat! Kali ini kamu harus dapat peran itu!” Lanjutnya. “Ya, Mah” “Pagi, Mah.

Meja Istriku

Oleh:
“Kami nikahkan anak kami Rida Hidayati binti Hidayat dengan Muhammad Erwin Burhannudin bin Muhammad Subekti dengan maskawin sebuah meja bundar ukiran Jepara tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Rida

Terbangnya Dandelion

Oleh:
Suasana sekolah menjadi atmosfer terindah yang dirindukan oleh para pelajar, terlebih mereka yang baru saja duduk di bangku sekolah. Mulanya, terpikir libur dalam waktu lama adalah hal yang baik–bahkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *