Media Sosial

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 December 2016

Saat itu aku sedang duduk di kelas, mereka semua menatap layar-layar itu dengan serius. Berteriak, dan selalu mengejek-ngejek. Entah mengapa mereka semua melakukan itu. Apa ini semua adalah perilaku akhir zaman? Mungkin iya, mungkin tidak. Mereka menganggap yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar.

“Oii… ngapain lo sendirian aja..? sinilah bareng…” kata Iwan.
Ya, Iwan adalah teman dekatku. Sejak SMP kami selalu bersama. Dia orang yang asik bagiku. Desain adalah kemampuannya, hampir sama seperti diriku. Dia suka menulis setiap kejadian yang dia lewati.
“Ngapain si lu di situ. Mending lo liat nih film…” kata Iwan.
“Emangnya film apaan…?” jawabku lalu melihat ke layar laptop.
“Oh, naruto…” lanjutku.
“Yeee… lo gak suka ye? Seru kali… dari film ini lo bisa ngambil pelajaran…” jawabnya.
“Pelajaran apaan? Sosiologi? Geografi? Apa Ekonomi…?” lanjutku.
“Lebih penting daripada pelajaran yang lo sebutin…” lanjutnya.
“Apaan emangnya…?”
“Dari film ini, lo bisa ngambil sifat baiknya si Naruto. Dia adalah orang yang gak gampang nyerah. Dan dia berkorban apapun demi sahabatnya. Dengan penderitaan yang selama ini dia alamin, gak pernah ngeluh. Selalu bersemangat dan berjuang, agar orang lain mengakui dirinya…” jawabnya sambil merangkul pundakku.
Setelah mendengar kata-kata itu, aku pun berfikir. Benar juga apa katanya, dia memang anak yang pintar. Selalu bisa mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya. Aku salut padanya. Kami akhirnya menonton film itu hingga bell masuk pun tiba. Kembali untuk belajar.
“Yah, bell lagi… Ram, nanti pulang sekolah lo ikut gue ye…?” kata Iwan.
“Ngapain?” tanyaku.
“Udah, nanti lo liat aja…” jawabnya.

Pelajaran berikutnya adalah Ekonomi, pelajaran yang paling tidak aku mengerti. Entah mengapa diriku ini tidak menyukai tentang hitung-menghitung. Aku lebih suka untuk mengkhayal, bercerita, dan menulis. Mungkin, ini adalah bakatku. Sering aku lari dari pelajaran tersebut, dengan tertidur pada saat pertengahan pelajaran. Begitulah diriku.

Bell Pulang
“Ram, ayo ikut gue…” kata Iwan mengajak.
“Iya-iya.. sabar, gue piket dulu…” jawabku.
“Lo piket cuma berdua? Cewek-cewek yang laen pada kemana…?” tanyanya heran.
“Yaaa.. beginilah keadaannya. Akhir zaman…” jawabku dengan nada mengeluh.
“Ya udah, gue tunggu di parkiran aja…”
“Sip…”

Piket hanya berdua? Tak masalah bagiku. Mungkin mereka semua sedang asyik dengan media sosialnya. Menatap layar-layar yang tak pasti. Bukannya menambah wawasan, melainkan menambah musuh juga dosa. Saling ejek mengejek dalam dunia maya, yang berujung kriminalitas. Indonesiaku, betapa pedihnya engkau. Yang dahulu sangat kuat persatuannya, sakarang mudah untuk dipatahkan. Yang dahulu sangatlah ramah, sakarang mudah marah. Yang dahulu tersenyum manis, lalu sekarang hanya bisa senyum sinis. Sungguh menyedihkan, andai saja diriku ini bisa merubah semuanya. Mungkin, indonesiaku akan menjadi lebih baik.

“Ni, gue duluan yaa…? semuanya udah gue sapu kok..” kataku pada Neni.
“Oh ya udah, ini tinggal bagian gue kok Ram. Lo duluan aja…” jawabnya.
“Oke, makasih…”

Aku langsung bergegas ke parkiran. Dan di sana ada Iwan juga temannya Revi. Sepertinya mereka sedang berbicara serius. Langkah demi langkah aku menuju mereka, setelah kupertegas ternyata Revi mengeluarkan senjata tajam yang disembunyikan dalam tasnya.
“Woy, lama amat…” kata Iwan.
“Iya, baru aja selesai…” jawabku.
“Ram, jadi kan lo ikut ?” tanya Iwan.
“Emangnya kita mau kemana sih? mau ngapain?” aku berbalik tanya.
“Hmmmm…” Iwan menghela napas.
“Jadi gini Ram, lo tau kan kalo kita angkatan 16?“ kata Iwan.
“Iya, kenapa emangnya?” jawabku.
“Lo emang gak tau Ram…?” kata Revi memutuskan pembicaraan.
“Enggak… emangnya ada apaan sih?” lanjutku.
“Gue langsung jujur aja deh… Jadi, angkatan 15 itu nantang kita semua. Mereka jelek-jelekin angkatan kita di BBM, Twitter, Facebook, bahkan sampe Instagram… dan kita semua difitnah Ram! Kata mereka, angkatan kita ada yang maling motor. Padahal, gue udah tanya sama angkatan kita, kalo itu semua gak bener. Gue gak seneng Ram!” jelas Iwan dengan nada marah.
“Apaan si? Kok jadi begini…”
“Gue gak seneng sama mereka…! beraninya udah fitnah kita semua di Media Sosial…!” lanjut Iwan.
“Ini emang gak bisa dibiarin Ram!” kata Revi.
“Ya udahlah, gak usah pake ribut-ribut… masa masih satu gedung, satu sekolah, berantem si… aneh lo pada… omongin baik-baik, gak usah dengan amarah. Ujung-ujungnya, lo pada nyesel deh…” kataku menenangkan mereka berdua.
“Kalo lo emang gak mau ikut, ya udah! Jangan sok-sok nyeramahin kita dah…!” bentak Revi.
“Ram, sorry… kali ini gue gak mau mihak ke lo. Gue cuma gak mau nama angkatan kita kotor di media sosial…” kata Iwan.
“Ya udahlah terserah lo pada… gue gak mau ikut-ikutan. Dan kalo terjadi apa-apa, jangan bawa nama orang yang gak bersangkutan. Cukup orang-orang yang gak punya pikiran aja…!” kataku lalu pergi.

Akhirnya mereka pun juga langsung pergi. Entah mereka pergi kemana, yang penting aku tidak terlibat di dalamnya. Memang benar, ini mungkin akhir dari zaman. Sulit untuk menasehati orang-orang seperti mereka. Benar dianggap salah, dan salah dianggap benar. Bahkan orang baik seperti Iwan, bisa terpengaruh. Perkembangan zaman ini adalah awal dari kehancuran segala-galanya.

Keesokan harinya
Awal pagi yang cerah untuk menuntut ilmu. Aku bergegas dengan semangat ke sekolah. Kejadian kemarin, aku menganggap telah hilang dari pikiranku. Aku tidak akan memikirkan mereka, cukup memikirkan diriku saja.

Sesampainya aku di sekolah, sungguh mengejutkan. Ternyata banyak dari teman-teman seangkatanku tertangkap oleh Polisi. Karena mereka semua telah membuat keributan di jalan. Mereka semua tawuran dengan kakak kelasnya sendiri. Dan ada satu orang yang meninggal, entah itu siapa. Aku pun bertanya kepada guru BK tentang kejadian tersebut.
“Assalamu’alaikum…” sapaku kepada guru BK yang sedang duduk di kursi dekat ruang TU.
“Wa’alaikum salam, eh Rama… ada apa…?” jawab Bu Mirna.
“Bu, saya boleh bertanya?” tanyaku.
“Ya… boleh-boleh… mau tanya apa Ram?”
“Begini Bu… hmmmm, kejadian yang kemarin itu…”
Belum sempat aku meneruskan kata-kataku, Bu Mirna sudah memotongnya.
“Ya, kejadian yang sangat memalukan bagi sekolah ini. Perkelahian yang tidak jelas hanya karena saling ejek di Media Sosial, membuat semuanya rugi…” jawabnya dengan nada sedih.
“Denger-denger, katanya ada korban ya Bu…? siapa yaa…?” tanyaku.
“Hmmm….” menarik dan menghela napas.
“…Sahabatmu Ram, si Iwan….” lanjut Bu Mirna.
Seketika itu aku terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Orang yang menurutku sangatlah baik, akhir hidupnya disia-siakan dengan kejadian seperti ini. Kawan, jika saja kau mendengar kata-kataku, mungkin kau masih disini untuk menemani. Selamat jalan kawanku, Iwan.

Selesai

Cerpen Karangan: Fahmy Ramadhan
Facebook: facebook.com/fahmy.ramadhan2
Nama Lengkap: Fahmy Ramadhan
Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 26 Januari 1998
Status: Mahasiswa
Alamat: Jl. Raya Pulo Gebang RT.012/006 No.124, Kel. Pulo Gebang, Kec. Cakung
Kota: Jakarta Timur
Provinsi: DKI Jakarta
Kode pos: 13950
No. Hp: 088212324503 | 085711005764
Email: radhan6901[-at-]gmail.com | fahmy.ramadhan76[-at-]gmail.com

Cerpen Media Sosial merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimana Tuhanku?

Oleh:
“Selamat pagi tuan putri”. Sapaku pada Anna dengan senyum mengembang. “Kak Zaki? Kakak kok di sini? Aduh, sepertinya aku lagi mimpi nih”. Kata Anna sembari mengucek matanya. Anna tampak

Kematian Tanpa Sesal

Oleh:
“Rara, bangun..!” “Hoamm.. iya ibu, Rara sudah bangun”. Kulirik jam dinding yang tergantung manja di tembok kamarku. Jarum-jarum mungilnya menunjukkan bahwa saat ini jam berjalan pukul 04.50 pagi. Saatnya

Sendal Emas

Oleh:
Roda roda terhenti, asap hitam semakin menjadi dan klakson pun saling bersautan. Mendadak mataku menjatuhkan air mata berisi kebahagiaan, teringat dulu aku yang selalu duduk di pinggir jalan itu

Indonesia Dalam Bus

Oleh:
Seorang penjual Koran naik dari pintu depan, dari pintu samping naik pula seorang pedagang asongan saling sikut dengan pengamen jalanan, tak ada yang peduli. Semua wajah terlihat awas, dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *