Meja Istriku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 1 August 2013

“Kami nikahkan anak kami Rida Hidayati binti Hidayat dengan Muhammad Erwin Burhannudin bin Muhammad Subekti dengan maskawin sebuah meja bundar ukiran Jepara tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Rida Hidayati binti Hidayat dengan maskawin yang telah disebutkan, tunai.”
“Syah…” kata penghulu kepada para saksi yang hadir.
“Syah…” hampir serempak mereka mengucapkannya.
“Alhamdulillahirabbil alamin…” lalu terdengarlah doa-doa dari mulut penghulu yang menikahkan kami berdua.

Meja hah, entah kenapa istriku dulu memilih meja itu sebagai maskawin, kalau orang lain pasti akan memilih seperangkat alat sholat atau perhiasan atau apalah tapi bukan perabotan berat yang kapan saja bisa dibeli kalau sudah masuk ke rumah sendiri.

Itulah istriku, ia mempunyai keunikan tersendiri dalam berpikir ditambah lagi aktif berorganisasi. Semua pengalaman dan kejadian yang dia temui dan dialami pasti dijadikan bahan perbincangan di rumah, dan yang lebih memusingkan lagi kalau dia sudah berbicara soal prinsip, rasanya membosankan.

Selama kami pacaran banyak ide-idenya yang dicetuskan dan selalu diimplementasikannya, terkadang aku tidak setuju dengan pendapatnya namun ia bisa berdalih dengan amat jelas dan akurat, kata-tanya mengandung hipnotis yang sangat kuat, masya Allah! Termasuk masalah meja ini dengan singkat ia menjelaskan alasanya: “supaya komunikasi tetap jalan, Mas!”
Aku pikir tanpa meja itupun kami dapat melakukan komunikasi kapan dan di mana saja. Apalagi sekarang zaman serba canggih, jarak jauh bisa terasa dekat dan duniapun serasa dalam genggaman berkat kemajuan di bidang telekomunikasi. Istriku … istriku tradisional banget sih kamu, dan kalau sudah begitu ia pasti tak mau kalah serunya “Eh Mas, kalau telfon doang, nggak bisa terjamin kepuasannya, kadang-kadang kita bisa merekayasanya. Udah deh nggak usah nipu diri sendiri itu namanya dhalim akui saja kalau kamu pernah juga melakukannya. Jangan bohong deh walaupun 1001 alasan nggak masuk di akal kamu utarain tetap aja aku nggak percaya tapi bisa dimaklumin kok, kenapa kamu tega bohongin aku di telfon pas mau jemput aku di kantor! Maklumlah cowok banyak mementingkan ego ketimbang perasaannya.” Jawabnya suatu ketika sebelum kami menikah dan memutuskan untuk membeli meja itu. Aku hanya bisa nyengir kuda bila mengingat kejadian itu memang itulah kejadian sebenarnya, hanya karena hujan aku dengan sukses menggagalkan rencana menjemputnya. Kalau dipikir-pikir, kenapa aku harus memilihnya sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakku nantinya ya? Namun dibalik semua itu banyak hal-hal baru dan unik yang bisa aku pelajari darinya. Tuhan Maha Adil ternyata.

“Mas, sepertinya kita perlu kursi tamu di ruang ini. Masa tamu-tamu kita harus duduk di bawah kalau ke sini. Apa nanti kata orang, rumahnya Erwin bisa dibuat main bola lho soalnya kayak lapangan nggak ada bangkunya. Ih rumah disamain sama stadion kan malu. Beli ya, mas!”
“Lho kan enak biar orang-orang kalau ke sini nggak perlu pake pakaian resmi kayak kondangan aja, cukup pake kaos dan celana pendek. Kalau perlu tetangga kita boleh numpang jemur kasur dan baju di ruangan ini tinggal buka atapnya udah deh jadi stadion mini pindah ke sini!” jawabku seenaknya.
“Mas, aku serius jangan main-main dong!” rajuk istriku.
“Lho aku serius, Da kapan sih aku main-main.” Jawabku tak mau kalah.
“Huh, sebel!” bentak istriku sambil menutup pintu kamar.
Kalau sudah ngambek, apapun yang ia minta tak dapat aku tolak. Padahal aku sendiri lagi defisit bulan ini terpaksa aku kredit dulu di kantor. Yah beginilah salah satu cara untuk menunjukkan kalau suami sayang sama istri tapi bukannya ISTI-loh alias ikatan suami takut istri.

Keesokan harinya sebuah mobil pick up datang ke rumah kami dengan membawa kursi yang telah dipilih dan dipesan sebelumnya.
Dengan gembira istriku menyambut orang-orang itu dan segeralah ia berlagak bak mandor bangunan yang selalu memerintah, entah berapakali mereka harus memindah dan mengangkat barang dari tempat yang satu ke tempat yang lain termasuk menata ulang barang-barang lama kami
“Mas, kayaknya kursi itu nggak cocok taruh di sudut soalnya saya mau letakkan meja sudut, di sana saja ya. Nah ya bagus di situ!”
“Baik, Bu!”
Sebenarnya aku kasihan melihat orang-orang itu tapi apa mau dikata mereka sudah berkomitmen untuk memuaskan para pelanggannya.
“Duh Rida, menyuruh mereka sama saja menambah uang tips mereka.”
“Lho emangnya kenapa, takut nggak bisa bayar kalau begitu Mas Erwin aja yang angkat meja bundar ini merapat ke dinding soalnya aku mau taruh telefon dan beberapa majalahku di sana. Biar kalau terima telfon atau sekadar baca-baca ya di meja itu!”
“Terus meja untuk makan kita mana? Katanya itu buat meja makan sekaligus meja diskusi, gimana sih Da?”
“Ya mas Erwin kamu kok nggak tanggap sih! Ini berarti kita kudu beli lagi meja makan lagian meja itu bagusnya dibuat pajangan kalau dibuat meja makan dan diskusi kayaknya terlalu sempit.”
“Lho … Da, gimana sih kamu ini jadi ngawur begini!”

Sebulan setelah pernikahan istriku mulai aktif kembali berorganisasi ke luar kota, jadilah aku penunggu rumah teladan, kesepian! Jangankan untuk komunikasi, sekadar ‘say hello’ saja aku kesulitan akhir-akhir ini. Baru terasa olehku kalau aku sendiri membutuhkan komunikasi secara langsung walaupun hanya sekadar candaanya saja, uhf… Namun tiba-tiba dering telfon mengejutkanku dari lamunan ah semoga ini dari istriku.
“Hallo Assalamuallaikum!”
“Wa allaikumsalam, Erwin ya. Ini Harto, Win!”
“O ya ada apa?”
“Main tenis yuk, daripada di rumah bengong.”
“Maaf, To aku sedang nunggu telfon dari istriku.”
“Eh emangnya istrimu belum pulang juga, udah berapa hari sih? Pusing ya.”
“Ah sudahlah aku lagi malas becanda, kapan-kapan aja ya. Udah dulu ya assalamuallaikum.”
“Lho.. Win…”
Kubiarkan temanku terbengong dengan jawabanku tapi kali ini aku benar-benar pusing menunggu. Sudah dua hari ini kok istriku belum juga menghubungiku ya, penasaran aku ada apa dengan dirimu, Da?

Kring … kring … kring …
“Hallo assalamuallaikum!”
“Wa alaikumsalam, mas ini aku!”
“Eh di mana kamu sekarang, kok lama nggak nelfon, kamu sehat-sehat aja kan, nggak ketemu sama orang jahatkan, aku khawatir nih!”
“Mas … mas satu-satu dong kayak maling aja diintrograsi. Begini aku udah dua hari berada di pelosok desa jauh dari keramaian kota belum ada telfon, mau pinjem HP-nya temanku malu, mau ke kota jauh banget. Dan ini sedang dalam perjalanan pulang pas ada wartel aku mampir deh. Mas beliin aku HP dong!”
“Mmm.. Da, nanti aja deh bicara gituannya di rumah. Aku tunggu lho, assalamuallaikum!”

Duh kasihan kamu meja ternyata kamu tidak bisa menyatukan kami berdua, kadang-kadang rasa malas dan deg-degan menyelimutiku untuk mendekatimu jika telfon berdering, kalau-kalau ada kabar tak enak mampir di kupingku.
Sekarang istriku ingin minta dibelikan handphone yang sewaktu-waktu dapat berkomunikasi kapan dan di mana saja.. Aku tidak habis pikir gimana sih komitmennya dulu, akan saling berkomunikas kapan saja asal di meja ini walaupun hanya sepatah kata. Uhf.. tambah pusing lagi deh tapi sepertinya tidak jelek juga menuruti permintaan istriku toh ini untuk kepentingan bersama dan kita benar-benar membutuhkannya. Aku harus bagaimana ya, hutang lagi ke kantor ah rasanya tidak mungkin yang kemarin saja aku belum melunasinya ini mau nambah lagi. Hah, bagaimana meja ini aku jual harganya cukup lumayan untuk membeli handphone dan sisanya aku belikan meja kecil sebagai pengganti meja bundar ini. Ya hitung-hitung ini juga untuk kepentingan kami berdua pasti dia akan setuju dengan ideku. Semoga!

“Astaghfirullah, apa aku nggak salah denger nih, meja itu mau dijual! Meja itu punya nilai sejarah bagi kita berdua mas, dari meja itu kita dipersatukan, dari meja itu nantinya komunikasi dalam keluarga kita tercipta dan meja itu juga sebagai sumber inspirasiku. Masa mau dijual yang benar aja!”
“Tapi Da, sekarang ini aku tidak punya uang untuk beli handphone, katanya supaya komunikasi kita tetap jalan walaupun kamu pergi nun jauh di sana. Harga handphone itu nggak murah lho belum lagi beli isi ulangnya dan kerusakan lainnya, gajiku tuh berapa sih nggak banyak cukup untuk makan berdua aja itu udah Alhamdulillah. Harga meja itu lumayan tinggi lho Da, ntar kalau ada sisa penjualannya kita belikan meja kecil untuk naruh telfon. Lagi pula kita sendiri jarang ngobrol di meja itu lebih banyak di dalam kamar sambil tiduran.”
“Mas aku tau maksudmu tapi …” katanya sedih seperti tak rela melepaskan meja itu.
“Da, mengertilah sedikit sekarang bukan saat yang tepat untuk berfoya-foya. Kredit kursi yang kemarin saja belum lunas ini mau nambah kredit lagi.” Sambil menoleh istriku yang diam membisu dan berharap akan pengertiannya. Lama kunanti jawabannya. Dengan malas aku menuju kamar tidur, kutinggalkan istriku sendirian di meja itu. Aku sudah kehabisan akal untuk meyakinkannya, ya Allah bukakan pintu hati istriku supaya ia bisa menerima keadaanku yang terjepit ini.

Tak lama kemudian pintu kamar dibuka istriku, perlahan ia mendekat seraya berkata,
“Mas… aku ngerti koq keadaanmu sekarang, mmm… lebih baik meja itu kita pindahkan lagi ke tengah biar kita dapat mengoptimalkan kembali fungsinya. Bagaimana setuju dengan ideku?”
“Trus bagaimana dengan handphone-nya nggak jadi beli?”
“Ah nanti-nanti sajalah, aku belum butuh banget yang terpenting aku bisa menjaga komunikasiku dengan kamu sehingga tidak ada lagi yang namanya MISSCOMUNICATION!” Seru istriku.
“Kalau aku pikir ternyata nilai sebuah komunikasi itu terlalu mahal ya, Mas! Kita yang sudah berumahtangga dan hidup di perkotaan misscomunication sedikit aja sudah panjang urusannya. Apalagi yang berbulan-bulan apa nggak jadi neraka di rumahnya sendiri.”

Alhamdulillah ternyata istriku lebih mengerti daripada yang kuduga. Padahal kredit kursi tamu kemarin hampir lunas. Ya bisa dong aku bela-beli barang kesayanganku sekarang. Sekali-kali manjain diri kan tidak ada salahnya. Rasanya sudah lama aku tidak beli t-shirt kesayamganku dan kayaknya jam tanganku perlu penambahan satu lagi nih koleksinya biar murah yang penting bisa ganti-ganti. Aaa .. asyiknya aku bisa sedikit nge-gaya nih, hi…hi.. kena kamu Da, cihuy!

“O ya mas kalau kreditnya sudah lunas aku punya permintaan satu lagi, belikan aku karpet yang lebar aja untuk alas meja ini. Biar kalau duduk-duduk di bawah nggak kedinginan, boleh kan mas?”
Aku tidak bisa menjawab apa-apa, rasanya lemas seluruh tubuhku hanya satu yang bisa aku ucapkan: Ya Allah kuatkan hati umat-Mu yang satu ini. Da, kapan kamu bisa sedikit mengalah?

(For my parent always be Qonnah)

Cerpen Karangan: Wilujeng
Facebook: wilujeng pravita Sari
Saya adalah penulis cerita majalah remaja sejak 2001

Cerpen Meja Istriku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sopir Angkot

Oleh:
Tiada hari tanpa naik angkot, itulah hidupku. Bukan karena tidak punya motor, tapi karena memang tidak bisa naik motor. Sebenarnya kadang-kadang terfikir juga untuk bisa naik motor sendiri, sehingga

Dendam yang Memudar

Oleh:
‘siapa dia? aku bahkan tak mau mengenalnya sedikitpun!’ ‘Aku membencimu.. bahkan aku tak ingin mengingatmu lagi!’ Ku tutup diary kecil yang baru saja aku coret dengan tinta hitam.. di

Sesuap Nasi Untuk istriku

Oleh:
Lelaki tua itu melempar bungkus rokoknya ke tanah. Tangannya kosong. Mungkin bungkus rokoknya juga kosong. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok. Pandangannya tertumpu pada satu objek. Matanya fokus pada

Nyesek Bikin Nyusruk

Oleh:
2 bulan jomblo itu rasanya parah-parah ya, kalau malem gak ada yang ngucapin “selamat malam sayang, mimpi indah ya, i love you..” terus kalau pagi juga gak ada yang

Marwah Negeri Tanah Melayu

Oleh:
Manusia tamsilkan panas dan hujan permainkan hari suka dan duka permaianan hidup akhirnya tiada daya menentang maut, rusa mati rumput subur namun patah tumbuh hilang berganti, kayu-kayu besar-kecil terhampar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *