Melayat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 April 2021

Matahari belumlah terbit benar, masih malu-malu, gelap masih lekat dan kental, dingin amat terasa, Randa dan Oksi berangkat ke salah satu desa di Kabupaten Semarang, tempat dulu mereka pernah menghabiskan waktu magang di salah satu kelompok tani Taranggulasi. Kelompok tani kecil yang sejak tahun dua ribuan menerapkan bertani secara organik.

“Besok subuh kita berangkat,” Randa lewat WhatsApp.
“Tidak kepagian itu,” Oksi seperti memperlihatkan semacam ingin sedikit siang berangkat.
“Sudah dihubungi Buya.”
“Ia… belum.”
“Subuh, pukul lima ia. Awas kalau belum bangun kau”, ujar Randa mengakhiri.
Randa sudah terbaring saat percakapan itu terjadi, sedang Oksi masih sibuk menggarap proposal skripsinya yang sudah dikejar-kejar dosen.

Melihat jarum jam menunjukkan angka 12:00, sudah tengah malam, harus bangun awal, sholat subuh dan melakukan perjalanan. Tapi untuk segera tidur tak semudah dibayangkan, segala hal yang terpikirkan tiba-tiba kembali hadir, tau sendiri untuk mudah terlelap pikiran harus kosong kecuali habis bekerja capek. Dinding-dinding gelap setelah Randa mematikan lampu, matanya kemana-mana melihat.

Selimut ia tarik menutupi tubuh kecuali kepala, sempit napas jika menutupi kepala. Ia sering melihat teman-temannya yang seperti itu, menutup sampai kepala, “apa tidak sumpek”, ujarnya dalam hati. Setelah beberapa lama tanpa sadar mata telah terpejam, mungkin pukul satu atau lewat, tak tau betul kapan pastinya saat Randa ingat-ingat setelah alarm memaksa matanya terbuka. Pukul 04:00 pagi.

Dua hari lalu Buya, ibu tempat magang seorang istri ketua kelompok tani Tranggulasi megabari seorang teman, dan ia teruskan ke Randa dan Oksi. “Ran, tadi sore Buya ngabrin aku, katanya Mbah sudah pergi.” Randa tidak ingin berpura tidak tahu maksud kata itu dengan mengatakan pergi kemana, tersesat karena pikun dan lupa jalan pulang atau hal semacamnya.
“Innalilahi wainnailaihi roojiun,” balas Randa, “Matur suwun Era kabarnya.”
Era orang Jawa, aku memang sedikit lebih tau sepatah dua patah bahasa Jawa.

“Ayo kita kesana bareng-bareng besok,” ajak Era seorang mahasiswa salah satu universitas di Semarang itu.
“Belum bisa besok, ada foto studio sama teman-teman angkatan,” jawab Randa.
Tak hanya melayat, ini adalah momen silaturahmi sesama teman magang waktu itu, satu tahun lalu. “Inshaallah besoknya lagi aku sama Oksi kesana.”

Waktu begitu cepat berlalu, setahun yang lalu, lebih dari satu bulan bercengkerama dan tinggal serumah dengan Embah. Setidaknya tiga bulan lalu juga masih bersuah, saat aku dengan Oksi kesana. Embah sehat, bugar dan beraktivitas layaknya seorang Embah-embah. Ke ladang memetik sayur, dan membersihkan rumput masih ia lakukan, tapi tak bisa tidak sakit kelenjar di lehernya telah menyekik dan mengambil nafsu makan. Menyempit tenggorokan, hanya minum saja, dikepulangannya badannya menyusut hampir separuh, bahkan tinggal tulang: cerita Buya.

“Nginep aja kalian Ra, kami besok kesana pagi-pagi.”
“Nggak bisa Ran, sekarang sedang sibuk, jadi waktu gak tentu-tentu.”
“Ia sudah kalau begitu,” tutup Randa.
Mau bagimana lagi mahasiswa semester akhir, sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi atau mungkin menyiapakan segala bekal terakhir setelah kelulusan, lebih-lebih perempuan selalu kepikiran jodoh diusia-usia 20 lewat itu.

Randa mengangkat tubuh ditengah mata belum terbuka benar. Selimut ia lipat dan ditempatkan seperti semula. Mandi dan azan telah berkumandang saat Randa sedang masih asik menyiram badan, dia buru-buru menggosokkan sabun dan mengangkat gayung, air membaluri bersih tubuhnya. Tak sempat mengejar Randa pun sholat di rumah tanpa berjamaah. Matanya masih ngantuk, tapi tujuan mereka membuat mata bugar sebugar-bugarnya. Dia segera menghubungi Oksi, tapi centang satu, menandakan WhatsApp-nya tak aktif. “Jangan-jangan belum bangun anak ini,” ucapnya dalam hati kesal segera bergegas ketempat Oksi setelah memanaskan motor. Kaos kaki bahkan tak terpasang sempurna.

Kurang lebih empat puluh hari serumah saat magang membuat Randa tahu betul sifat lelaki gondrong ini, selain keterbatasan bahasanya yang kerap kali ia membetulkan, ia juga sering bangun saat matahari telah tinggi. Sebagai seorang katolik memang ia tak punya kewajiban seperti seorang muslim, tapi itu ia sengaja tampaknya, bukan karena alasan katolik atau Islam. Sering ia betanya tentang bahasa pada Randa, “berbaur itu gimana,” katanya. “Berbaur itu…,” Belum selesai Randa menjelaskan dia lancang memotong ditengah pertanyaan yang ia ajukan sendiri. “Sudah kalau begitu, terserah mu,” Randa merengut jengkel, “dikasih tahu malah sok tahu,” ucapnya dalam hati sembari melanjutkan membaca. Ia menunggu jawaban, tapi Randa sudah terlampau jengkel dengan sekehendak ia memotong tadi, “ia udah kalau begitu,” jawabnya langsung memainkan hp kembali dengan muka senyum.

Oksi bertanya masalah bahasa berulang-ulang padaku, “apakah ia tidak mendapatkan pendidikan yang wajar di pedalaman Kalimantan itu, atau hanya karena ia bolos sekolah,” Randa betanya-tanya dalam hati. “Aku di Sumatera tak seperti itu, pemahaman bahasa Indonesiaku cukup kiranya buat sehari-hari. Apalagi ibu bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, bahasa Sumatra dan Kalimantan. Bukan pendidikan tampaknya, mungkin perkara ia suka bolos sekolah saja.” Randa tak terlalu mempedulikan masalah itu.

Pintu masih tertutup, tak ada gembok tergantung diluar pintu menandakan pintu terkunci dari dalam. Apa aku bilang masih tidur anak ini. Jendela dua bukaan itu memang tak ia kunci sebagian, tapi gordennya ia tutup pul. Randa menyingkap gorden, ia terbaring nyenyak macam tak ada niatan bangun sedikitpun. “Keterlaluan benar anak ini, sudah janji pukul 05:00, sengaja kulewatkan sedikit supaya pasti sudah bangun, nyatanya belum bangun juga.” “Ok…Oksi…,” panggil Randa dari balik gorden. Satu kali, dua kali belum juga bangun. Ketiga, mau ia tambah volume, Oksi menggerakkan badan dan mulai membuka mata. “Bangun, sudah pukul berapa ini, semalamkan sudahku bilang pukul lima berangkat,” Randa penuh kesal. Ia duduk di teras semen, dengan kesal harus menunggu agak lama.
Oksi menuju kamar mandi, menggosok gigi tampaknya, tapi tidak mandi mungkin ia tahu lewat raut muka kesal Randa dan tidak mau membuatnya semakin menggerutu.

Pagi-pagi sekali, perjalanan kurang lebih dua jam itu. Udara dingin masih amat mencekam. Randa menyetir motor, angin masuk melalui lubang tangan jaket masuk kedalam dingin terasa sekali. Sesekali ia lipat agar lubang tangan jaket tertutup, tapi sebentar sudah terbuka lagi, sampai di rumah Buya Randa tak pedulikan lagi hal itu.

Matahari baru mau muncul, cahaya kekuningan disela dua gunung, Merbabu dan Merapi, indah. Randa teringat dua gunung ini seakan pernah ia gambar dua belas tahun lalu saat kelas tiga SD, dua gunung berdempetan dan ditengahnya diselipkan matahari bulat lengkap dengan mata, hidung dan mulut, belum terlihat semua kecuali sebagian dibalik terselip diantara kedua gunung. Kadang juga agak sedikit tinggi, kali ini jelas terlihat dan sudah terik. Imajinasi kami waktu itu memang bukan hal yang mengada-ngada, ini buktinya ada, ia lihat saat sekurang-kurang telah lewat remaja.

“Kopi panas enak ia Ok, pagi-pagi begini,” ucap Randa sambil menyetir motor.
“Ia… cari angkringan kalau gitu,” jawab Oksi khas gaya ngomongnya yang lamban itu.
Randa tahu betul setelah beberapa kali lewat sini, tidak ada ngkringan atau warung kopi pagi-pagi begini, ke meruputan (kepagian) kata orang Jawa. Sepanjang jalan memang belum menemukan angkringan atau warung yang bisa memesan kopi.
“Di ketep pass aja Ok.”
Memesan kopi, karena perut Randa kosong begitupun Oksi, mendoan dipesan lima biji. Dingin mencekam sedikit hangat oleh kopi dan tempe mendoan. Dilantai dua warung tepi jalan, pemandangan gunung dan ladang-ladang petani jelas memanjakan dilihat. Jika diperkenankan rasanya ingin tinggal disekitar sini atau tempat-tempat seperti ini. Segala gusar dan pikiran sengkarut hilang, dimakan rasa sejuk dan nyaman, tidak ada beban seperti orang-orang kota yang disibukkan dengan pekerjaan. Tak jarang tempat seperti ini mejadi tempat berlibur keluarga.

“Patungan uang bensin ia Ok,” ujar Randa. “Entar motor aku yang pinjam sama teman.”
“Ia Ran.”
Mereka berdua sama-sama anak rantau, sama-sama tak punya motor, setiap pergi meminjam adalah jalan ninja mereka. Beruntung seorang sahabat selalu baik soal ini. Mulia pukoknya.

Randa meminta Oksi buat memfoto, supaya dinding-dinding story medsos tak sepi seperti hati yang melompong bahasa anak-anak muda zaman sekarang. “Foto-in Ok, sekali saja.” Sembari menyeruput kopi, dinding-dinding media sosial telah terisi, dengan ucapan “selamat pagi, semoga bahagia.” Pesan-pesan semacam itu menjamur dari satu story dan banyak story lainnya, antar mengingatkan dan pamer bahwa sedang bahagia. Tapi sering kali itu hanya pamer saja? “Zamannya emang begitu,” kata seorang sahabat waktu itu.

“Assalamualaikum,” ucap Randa.
“Walaikumusalam warahmatullahi wabarahkatuh,” saut cepat Buya.
Ia sambar tangannya dan menundukan kepala.
“Cah Bagus, masuk-masuk,” ajak Buya, “Buatin minum,” suruhnya pada seorang anak magang.

Segala rindu mereka telah hilang dengan pertemuan. Entah kenapa mereka telah menganggap seperti ibu sendiri, sembari Buya memang sering menganggap mereka didepan tamu-tamunya, “anak-anak pada kangen.” Setiap orang adalah keluarga, “ikatlah dengan silaturahmi, siapa pun walau tidak satu keyakinan setidaknya sesama dalam kemanusiaan.”
Pak Sasni menampakkan muka dari kamar, Randa dan Oksi langsung menyalaminya. “Gimana kabar pak,” kata Oksi sambil senyum dengan gaya khasnya, logat kaku yang kental padanya. Sembari senyum-senyum, memang begitu orangnya pak Sasni. “Baik,” jawabnya. “Alhamdulillah.” Ia duduk berhadapan dengan mereka berdua. Teh diantar, dua saja, untuk Randa dan Oksi.
“Buat bapak mana?”
“Tadi bapak nggak minta dibuatkan,” jawab Suci.
“Ah… Suci, macam nggak tau bapak aja,” Buya menyahut.
“Ia pak, ia pak. Suci buatin,” cengir dimukanya selalu hadir.

Toples-toples berisi bermacam kue tersaji, banyak betul. “Dimakan, Ran, Ok.” “Ia pak jawab mereka serempak.” Rejeki bagi anak kos yang jarang melihat kue sebanyak ini tersaji, serasa ingin segera ia lahap dengan rakus tanpa sisa, tapi rasa tau diri masihlah melekat lengket di hati dan pikiran meraka, seorang mahasiswa yang belajar tau diri. Dibalik hidangan ini ada sedih begitu dalam. Kepergian. Kehilangan. Sosok ibu dari seorang pak Sasni.

Pak Sasni ditengah umurnya yang menginjak lima puluhan ditinggal ibu. Tapi ia telah memperlihatkan jerih payahnya pada ibu. Sakit embah, ia bawa ke rumah sakit kelas VIP dengan dokter-dokter terjamin mutunya. Tapi ibunya hanya meminta dirawat dirumah saja. Dana telah ia siapkan, tapi ibu tidak meminta lebih, toh, tahu bahwa usia memang telah rentah, kebaikan anak sangat dihargai, tapi lagi-lagi ibu tak mau anaknya menanggung derita, sekecil apapun itu, walau hanya serupiah dua rupiah.

Semacam airmata tak tahan dibendung, menetes dengan deras dan membanjiri lengan baju Randa, tapi mampu ia tahan. Masih mahasiswa, masih menyusahkan, pak Sasni telah berjuang membahagiakan bahkan telah terwujud, tapi kami masih pada tarap menyusahkan. Meminta uang tiba-tiba saat tak sama sekali menggenggam uang. Dalam hati kecil Randa, panjangkanlah usia ibuku, beri kesempatan menghadirkan senyum kemukanya, bapak juga. Berilah ia kesempatan membopong cucunya dariku, dan saat waktunya telah tiba, setidaknya ia tidak menyimpan duka.

Dalam sakitnya embah yang dirawat lewat setengah bulan itu, dirumah, hanya terbaring. Tangannya diinfus, makan disuap dengan bubur. Aktivitas harian yang biasa embah lakukan kini hanya tinggal menunggu hari. “Mau wudhu,” ujar embah dengan suara teresok-seok, “ambilkan mukena.” Buya menutupkan mukena ketubuh embah dengan berkaca-kaca. Dalam keadaan seperti itu, shalat masih menjadi prioritas.

Tiga hari. Tiga hari lalu Embah, ibu pak Sasni meninggal, meraka baru hari ini hadir melayat. Ikut tahlilan mengirim doa-doa kepada almarhum dan keluarga. Sebagai seorang muslim itu kewajiban.
Kultur NU kental disana, identik dengan tahlilan dengan tersendu-sendu doa-doa yang menyentuh. Sholawat yang menggetarkan hati. Semoga doa-doa menyeruak sampai diterima, meringankan segala siksa. Kita semua akan sampai pada titik ini, saat harta tak ada lagi nilai, hanya… hanya amalan yang bisa kau pertaruhkan.

Mulut Oksi bergetar berusaha mengikuti doa-doa yang dilantunkan, walau benar-benar tak tahu tapi ia terlihat berusaha walau kesusahan mengikuti. Aku melirik, bibirnya yang beradu mengikuti, dalam hati, “saya salut melihat sorang yang beragama katolik ini, ditengah-tengah muslim dan mengucapkan doa-doa layak muslim. Alfatihah dan seterusnya….” mesti ia tak tahu tapi berusaha mengikuti.

Selesai tahlilan. Tuan rumah, menyuruh makan para tamu undangan. Tradisi yang juga sama dengan tempatku di Sumatera. Bapak-bapak dan ibu-ibu berbondong silih berganti mengambil makan, dan duduk melingkar. Lahap. Randa teringat dengan sholawat ibu-ibu tadi, merdu, membekas di ingatannya. Oksi langsung kebelakang begitu selesai. Entah apa sebab, mungkin kebelet ke WC.

Saat suasana makan hampir usai, ada yang langsung pulang, sebagian bapak-bapak melanjutkan obrolan. Oksi kembali muncul dari belakang, duduk kembali. Randa dengan seorang kawan yang baru ia kenal duduk terdiam ditengah bapak-bapak. Randa merasa obrolan tak bisa ia mulai disini, canggung dan memang kaku, hanya mendengarkan sembari belajar. Menjadi masyarakat desa yang seutuhnya. Tawa, canda hadir, alamiah cair.

“Gawat betul kebijakan vaksin ia,” ujar seorang bapak.
“Yang tidak mau disuntik didenda lima juta,” saut bapak disampingnya.
“Nggak bener pemerintah ini, kalau begitu. Masak rakyat didenda,” bapak disudut sebelah pojok menyahut.
“Iyo, sudah, kita rakyat bisa apa.”

Semakin lama obrolan semakin cair, keterbatasan mereka menafsirkan bahasa Jawa membuat hanya sesingkat itu. Tapi kerap tawa mewarninya. Teh hangat dibawakan seorang pemuda, muda-mudi desa. “Cepat betul dingin teh ini,” ucap Randa. Sudah tiga gelas dari sore minum teh manis.
“Kamu ikut baca doa tadi Ok,” tanya Randa.
Membenarkan rambuat gondrongnya yang kemuka ia menjawab, “Ia… ngikut dikit-dikit, sembari aku berdoa.” Tentu dalam keyakinan katoliknya.
“Walah. Gimana perasaanmu.”
“Ia… ikut berdoa dan simpati.”

Baru kali ini. Entah hanya mengikut sebab aku disana, tapi mungkin ajakan pak Sasni tak mau ia kecewakan. Baginya pak Sasni dan Buya adalah orangtua kedua, orangtua pertama di perantauan. Merantau di Jogja, tak ada keluarga satupun, begitupun Randa.

Malam mencekam. Obrolan bapak-bapak seperti tak mau berhenti, mata Randa terkantuk sebab tadi malam hanya tidur beberapa jam saja. Tapi tak enakan, tidur saat-saat tamu belum pulang. Pukul 12 malam lewat, Randa terpaksa mencari tempat tidur dan jatuh diatas kasur terbangun pagi hari. Sorenya Randa dan Oksi pulang ke Jogja. “Pamit pulang, Bu, Pak.” “Pulang sekarang toh,” jawab Buya. “Ia Bu, mungkin 40 puluh hari nanti kesini lagi,” jawab Randa pada Buya. “Entar Buya kabarin, 40 hari, 100 hari.”
“Kamu yang bawa motor Ok.” Randa menyodorkan kunci langsung ia sambar walau raut muka terlihat malas benar.

Cerpen Karangan: Janika Irawan
Blog: janikairawanblogspot.com
janika irawan, seorang mahasiswa asal sumatra yang sedang bermukim di jogja. suka menulis sastra (cerpen, puisi).

Cerpen Melayat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesialan di Malam Jumat

Oleh:
Kau menghela napas panjang. Bola matamu bergerak ke kanan dan kiri, menyapu setiap jengkal taman ini. Kau menggerakkan tangan kanan, mengetuk-ngetuk kursi besi berwarna merah, yang diduduki sedari tadi.

Cahaya yang Hilang (Part 1)

Oleh:
Gerbong adalah rumahku. Penumpang adalah langgananku. Tukang asongan, pengamen dan penjaga adalah teman karibku. Suara peraduan antara roda besi kereta dan rel mengawali harapan hidupku hari ini. Entah sampai

Tunggu Aku

Oleh:
Siang ini sinar matahari terasa amat terik, sinar terasa menembus celah celah kecil baju kemeja SMK ku. Ah “ingin rasanya aku menikmati segelas es jeruk buatan risma” khayalku terlalu

Derita Di Penghujung Usia

Oleh:
Ia hanya terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya tak bertenaga lagi. Tak sejaya dulu saat berusia 30an. Kini wajah cantiknya yang selalu terpoles sepabrik bedak kosmetik itu mulai keriput. Rambutnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *