Melihat Dari Sisi Yang Lain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 July 2017

Memandangmu hampa, tiada kutemukan ujung.
Melihatmu bagaikan merana nasib yang tiada bertukar.
Engkau mencerminkan pada keasaan langit. Menambah sari patinya memantul meriuhkan batin.
Memandangmu terasa sunyi, menghidupkan keberadaan yang bersepi.
Suara suara ombakmu menerka rinai waktu yang akan datang.
Menjerit pelan mengutarakan keterasingan. _Laut Pekat dan Sepi_

Kadang aku suka mengutarakan batin lewat puisi. Orang sekarang bilangnya lebay, tapi mereka sendiri berpuisi lewat caption di facebook ataupun instagram. Aku menyukai kesendirian, hingga orang-orang pikir aku orangnya introvert banget. Artinya tidak suka keramaian. Padahal? Aku bisa bersosialiasi dengan baik, bisa berkomunikasi tanpa ada salah persepsi. Bahkan orang yang baru kenal, langsung bisa akrab. Aku mengira, orang mengatai aku seperti itu karena hanya melihat dari luarannya saja. Sedang mereka sendiri mungkin yang mengakrapi kesendirian, dan menjauhkan diri dari riuhnya khalayak hingga susah memahami karakter manusia.

Aku baru saja pergi ke laut, ini laut Karadeniz. Yang artinya laut hitam. Aku selalu mengira laut ini meyimpan kesedihan dan kemurungan. Makanya kalau aku sedih, selalu aku buang ke laut ini. Dan mengutarakannya lewat puisi. Ini tahun ke duaku di Trabzon, kota yang terkenal dengan hamsi nya “sejenis ikan kecil yang banyak ketika musim dingin”. Menghayati alam trabzon seperti menghayati rinainya kenangan. Ia tak pernah habis, dan malah membuat kisah baru yang tiada terganti.

Pernah suatu kali, ada teman Turki menghampiri kemudian berbicara pelan “Aku kadang menyesali untuk tinggal di sini Lina. Aku lebih suka tinggal di tempat yang sedikit modern seperti Istanbul”. Ia adalah teman sekelasku, namanya Busra. Dan dia orang Istanbul, lalu lulus di Karadeniz Teknik Univ ini untuk jurusan Sastra Turki. “Mungkin kamu perlu melihat hidup dari sisi yang lain Busracim”. Kata-kataku hanya sampai di situ. Dan dia selalu paham, untuk anak sastra bicara sedikit bermakna ribuan. Lalu ia pun tetap di Trabzon, dan perlahan menikmati masa-masa berjuanganya untuk menjadi sastrawan dari kota Laut hitam ini.

Sedang aku, hanya bisa menulis puisi-puisi lagi tapi tak pernah aku kirimkan ke manapun. Menumpuk di buku warna hijau bertuliskan diary itu. Sastrawan, yang orang bilang adalah orang yang suka menyendiri. Sekali lagi, aku tak membenci keramaian. Bahkan teman di pergaulanku cukup banyak. Hingga terkadang kita membuat agenda memasak bersama, atau menulis bersama. Cukup saja bagi orang-orang yang streotype itu untuk mencoba melihat sastrawan dari sisi sastrawan sendiri. Tapi ujungnya pun tetap sama, bahwa kita lah yang hanya bisa memahami perasaan yang kita alami. Entah itu yang kita utarakan pada orang lain, atau hanya bersemayam dalam jiwa dan tidak mau keluar.

Cerpen Karangan: Al Farid
Blog / Facebook: catatanalfarid.blogspot.com / Al Farid

Cerpen Melihat Dari Sisi Yang Lain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lentera

Oleh:
Aku dan Pomo duduk di rel kereta api dengan santainya. Menikmati pemandangan senja kota metropolitan. Cahaya orennya menyejukkan hati. Ditambah siluet bangunan pencakar langit yang kokoh jauh di seberang

Ice Cream Love

Oleh:
Kopi ini hanya terlihat kabut tipisnya dan menebarkan aroma khas. Belum berhenti mencari inspirasi untuk apa yang sekarang harus ku tulis setelah aku kehilangannya. Waktu seakan berhenti ketika aku

Selagi Hujan

Oleh:
Pagi ini aku bersiap untuk kembali ke perkuliahanku yang padat. Tak lupa kubawa laptop yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Kulihat sekelilingku, semua orang sibuk kembali mengendarai mobil dan

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

Renungan

Oleh:
Di sudut ruangan ini aku duduk sendiri. Merasakan keterasingan, merasakan kesepian, merasakan kehampaan. Entah dimulai kapan aku tak tahu pasti. Yang ku tahu bila rasa itu datang, sakitnya menusuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *