Memandang Lebih Dalam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 November 2015

Rintikan hujan terus berjatuhan menerpa atap serta aspal jalanan. Ditambah dengan kencangnya angin yang bertiup, membuatku hanya bisa diam dan duduk manis dalam lindungan halte kecil depan sekolah. Dengan musik yang terus mengalir, memenuhi setiap rongga telinga. Mengisi kekosongan pikiran yang sedari tadi hanya merenung. Sebuah renungan mengingat betapa buruk dan sialnya aku pada hari ini. Rasanya, sudah sangat suntuk suasana hatiku. Karena ku rasa ini adalah hari terberat bagiku.

Mulai dari hukuman karena datang terlambat, sampai hukuman gara-gara belum rampungnya pekerjaan rumah. Semuanya telah terjadi hari ini. Semua masalah datang dan pergi silih berganti tepat di hari yang seharusnya menjadi hari terindah bagi hidupku. Ya, hari ini tanggal 5 oktober. Tepat dimana 17 tahun lalu aku dilahirkan. Rasanya, lengkap sudah penderitaanku. Bahkan sampai detik ini, kesialan masih datang kepadaku, aku terkurung oleh derasnya hujan. Ditambah lagi kedua orangtuaku yang tak bisa ikut merayakan ulang tahunku karena adanya rapat penting perusahaan. Membuatku serasa menangis dalam hati. Belum juga hujan menunjukkan akan reda, kesialanku sudah bertambah lagi.

Kali ini datanglah seorang anak jalanan menuju halte tempatku berada. Dengan penampilannya yang menyeramkan, membuat jantungku berdetak kencang.
“Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku?” tanyaku dalam hati.
Anak jalanan yang melekat dengan kesan berandal, nakal, serta kriminal, sempat membuatku terbayang akan hal buruk yang akan menimpaku kali ini. Seketika merinding bulu kudukku, ketika sosok seram bertubuh jangkung tersebut duduk di sebelahku. Bajunya yang memiliki robekan pada beberapa sisi khas anak jalanan, mendapat bercak-bercak basah oleh derasnya air hujan yang mengguyur.

Bagaikan melihat hantu di siang bolong, keringat dingin langsung mengucur menyusuri setiap lekuk wajahku. Leher terasa sangat kaku, ditambah oleh rasa takut yang menjadi-jadi. Membuatku hanya mematung tanpa berani melihat wajahnya sedikitpun. Yang ku tahu, kulitnya yang hitam legam dipadu dengan pakaian serba hitam menambah kesan seram pada sosoknya. Setengah jam telah berlalu, suasana masih saja hening. Aku masih tetap terdiam seribu bahasa, mencoba menutupi semua ketakutan yang ku rasakan. Hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Awan hitam masih belum bosan menyelimuti kota kecil ini. Remaja seumuran yang sedari tadi duduk di sampingku juga belum beranjak dari tempatnya.

Perlahan, ku beranikan untuk menoleh ke arahnya. Tubuhnya masih terduduk dengan gaya khas orang dewasa. Dengan sebatang rok*k yang setia menemani di tengah dinginnya udara. Memunculkan perasaan ngeri dan penasaran yang bercampur aduk bagiku. Masih terheran-heran dengan penampilannya, aku tak menyadari bahwa keringat dinginku kembali tercucur. Dan tak ku sangka pula, tiba-tiba ia menatap tajam ke arahku. Tatapannya membuat merinding bulu kudukku. Keringat mengucur semakin deras, kemudian ia berkata.

“Lo sakit bro? Dingin-dingin begini kok keringetan?” tanyanya.
“Fiuuhh,” aku bernapas lega.
Ku kira ia akan marah padaku, karena terus mengamati tubuhnya yang tambun itu. Namun ternyata tidak. Ia justru orang yang ramah. Meskipun hatiku masih tak menyangka hal itu.
“Eh, eng..enggak bang,” suaraku masih terbata-bata karena rasa takut yang coba ku tutupi.
“Mungkin karena aku terlalu lama duduk di sini, jadi agak flu,” lanjutku.
“Iya, nih hujan kenapa gak berhenti-berhenti ya?” jawabnya.

“Oh iya, nama abang siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.
“Jeffry!” jawabnya tegas. Dijabatnya pula tanganku yang masih mengulur padanya.
“Lo sendiri?” lanjutnya.
“Saya Fandy bang,” jawabku seraya melepaskan tanganku dari genggamannya.
“Ngomong-ngomong abang orang mana?” lanjutku mulai berani.
“gue? Kalau rumah gue sih di deket sini. Cuman ini tadi mau ke tempat nongkrong anak-anak. Eh, malah hujan. Ya mampir ke sini deh gue,” Jawabnya.
“Oh, begitu,”

“Kalau lo anak mana? Kalau dilihat dari logatnya, sopan amat lo. Penampilannya juga mewah, pasti lo anak orang kaya. Iya kan?” tanyanya.
Aku masih terdiam, takut jika di balik pertanyaannya ada maksud lain.
“Tenang, gue gak mau todong lo kok. Jujur aja,” katanya coba menghilangkan pikiran negatifku.
“Iya bang, walau agak bandel begini saya anak orang kaya,”

“Lah, kalau orang kaya kenapa gak telepon orangtua atau supir? terus minta dijemput?” tanyanya heran.
“Enggak bang, saya gak suka kalau dijemput. Kayak anak kecil. Lagi pula, aku masih belum pengen pulang,” jelasku.
“Loh, emang kenapa? Kan enak tuh kalau orang kaya. Semua ada. Kurang apa coba?”
“Sudah bosen bang. Orangtua juga jarang pulang. Di rumah gak ada siapa-siapa,”
“Kalau gitu ikut gue aja, kumpul ama anak-anak. Mau gak?”

Aku berpikir sejenak. Kebimbangan menghampiriku. Di satu sisi, aku tertarik dengan ajakannya. Namun di sisi lain, masih ada rasa curiga terhadap orang yang baru ku kenal ini. Belum selesai ku temukan jawaban, ia telah melanjutkan pembicaraannya.
“Tenang, gue gak bakal jahat sama lo kok,” lanjutnya coba meyakinkan.
“Oke deh,” jawabku tanpa pikir panjang lagi.

Segala keraguan dan ketakutan, kini perlahan memudar. Semua pikiran negatif tentangnya, kini berubah menjadi rasa kagum dan penasaran oleh kebaikannya. Tak selang beberapa lama, hujan berhenti. Tak sedikitpun air menetes dari langit. Meski begitu, awan hitam masih saja belum enyah dari singgasananya. Percikan air dari atap pertokoan masih menemani langkah kami di pinggiran jalan. Menyusuri langkah demi langkah menuju perkampungan. Namun belum jauh kami berjalan beriringan, bang Jefry menghentikan langkahku.
“Bro, kita mampir ke swalayan dulu. Oke?”
“Emang mau ngapain bang? Abang bukan berniat merampok kan?” tanyaku heran.
“Ya enggaklah bego! Kita beli makanan buat anak-anak entar,” jelasnya.
“Oh, begitu? bolehlah bang. Saya juga mau beli beberapa camilan,” lega hatiku setelah mengetahui bahwa dugaanku salah.

Tak lama, kami berdua telah ke luar dari toko swalayan. Bang Jeffry terlihat hanya membawa beberapa minuman kaleng serta sebungkus keripik. Sementara aku, terlihat lebih disibukkan dengan bawaan 1 botol besar minuman bersoda serta satu kresek besar berisi makanan. Bang Jeffry memandangku heran.
“Gila lo, beli makanan banyak banget kayak mau pindahan. Emang bakal siapa ntar?” celoteh Bang Jeffry.
“Ya buat teman baru saya bang. Anggap saja rasa terima kasih karena abang sama teman-teman mau jadi teman saya,” Jelasku.
“Wah, baik banget lo. Kayaknya sih hadiah lo kebanyakan deh. Tapi gak apa-apa deh, makasih ya,” jawabnya dengan senyum lebar pertanda kebahagiaan yang tak terkira.

Sebuah senyuman yang menghilangkan semua kesan buruk tentang Bang Jeffry dan anak-anak jalanan yang lainnya. Baru ku sadar, bahwa selama ini tidak semua anak jalanan itu buruk. Ternyata masih ada anak jalanan yang ramah seperti Bang Jeffry. Aku kagum padanya, pahitnya hidup masih mampu mereka lewati dengan senyuman. Perjalanan masih berlanjut, cukup jauh memang. Apalagi bagi anak sepertiku, yang mulai kecil terbiasa dengan kemewahan dan kenyamanan tanpa pernah merasakan perjuangan. Dari dulu aku selalu dimanjakan oleh orangtuaku. Aku juga tak pernah melihat arti hidup yang sebenarnya. Arti hidup dari orang–orang yang tak seberuntung diriku. Dan akhirnya diriku bersyukur, karena dapat mengetahui rasanya menjadi mereka dan merasa beruntung karena tak harus hidup seperti mereka.

Setelah beberapa kali kami masuk ke luar gang, persawahan yang membentang lebar menyambut kedatangan kami. Rupanya perjalanan kami sudah tak lama lagi. Dari kejauhan, nampak sebuah rumah kosong yang masih berdiri kokoh. Kesan kumuh pertama kali muncul pada pikiranku ketika melihatnya. Dinding yang masih terlihat batu batanya, serta tiang-tiang penyangga kokoh yang hanya ala kadarnya. Membuatku semakin miris melihatnya. Dalam hati aku masih menyimpan berjuta tanya.
“Apakah benar, ini yang mereka sebut rumah?”
Rasa kasihan serta ketidakpercayaan, bercampur aduk menjadi satu. Aku mencoba menerka-nerka.
“Ah tidak mungkin mereka tinggal di dalam bangunan itu. Nampaknya seperti tidak pernah ditempati sama sekali,” kataku dalam hati.
“Tapi, tidak ada bangunan lain di sekitar sini. Dan jika benar mereka tinggal di sana, betapa sulitnya hidup yang harus mereka jalani,” Lanjutku dalam hati.

Konflik masih terjadi dengan gencarnya di dalam otakku. Aku bingung, apa yang harus ku lakukan saat ini. Antara membohongi perasaan dengan pura-pura bahagia, atau menerima kenyataan dan menangis dalam hati. Dan rupanya perasaanku sudah terlambat untuk dibohongi. Tak dapat lagi ku tepis semua kenyataan yang pahit ini. Bahwa selama ini, pikiranku salah. Ku pikir semua kesialan yang menimpaku hari ini, karena Tuhan telah membenciku. Namun nyatanya semua salah. Nasibku masih jauh lebih baik daripada mereka, namun aku tetap saja mengeluh.

Aku malu pada diriku sendiri, yang tak bisa bersyukur atas nikmat-Nya. Padahal di sini, di dalam rumah kosong yang sudah tak berbentuk ini. Nasib dan masa depan mereka digantungkan. Tanpa kehadiran orangtua, mereka berjuang melawan takdir. Menjalani kerasnya hidup dengan mandiri. Jujur, aku salut pada mereka. Salut pada semangat juang mereka, yang tak pernah kenal lelah.
“Selamat datang, di tempat kami,” kata Bang Jeffry ketika kami berada tepat di depan rumah kosong yang terlihat dari kejauhan tadi.
“Jadi ini bang? Tempatnya?” kataku memasang wajah bingung.
Rumah yang dari kejauhan nampak kosong, ternyata nampak seperti berpenghuni ketika ku lihat dari dekat. Beberapa bekas langkah kaki yang terlihat keluar masuk pintu adalah buktinya.

“Iya, emang kenapa? Pasti gak cocok ya buat lo? Atau lo jijik ya?” jawabnya ketika melihat wajahku menampakkan sedikit kecewa.
“Ah, eng..enggak kok bang. Enggak jijik kok. Cuman heran aja. Beneran ini rumah anak buah abang?” tanyaku sekali lagi.
“Iya. Ya udah, masuk deh,” katanya mengajakku melangkah masuk.
Suasana di dalam rumahnya, tak jauh berbeda dengan keadaan luarnya. Lantai yang masih beralaskan tanah, barang-barang yang berantakan, serta debu yang berterbangan kemana-mana. Tentunya membuat rumah ini sangat tak layak untuk tempat tinggal. Cukup aneh rasanya ketika kami masuk ke dalam rumah, namun belum juga menemukan satu pun anak buah bang Jeffry.

“Lah, mana bang anak buahnya?” tanyaku heran.
“Oh bentar,” jawabnya seraya membuka kedua telapak tangan kearahku.
“Hey bocah-bocah! Keluar lo semua!” teriak bang Jeffry dengan keras.
“Boris!! Boncel!! Bimo!!” terdengar bang Jeffry kembali memanggil anak buahnya.
Tak perlu menunggu lama, munculah 3 sosok dari tangga menuju lantai 2 yang baru setengah jadi. Dilihat dari wajahnya, mungkin umur mereka 1 atau 2 tahun lebih muda dariku. Mereka terlihat heran ketika melihat abang kesayangannya tak lagi datang seorang diri seperti biasanya.

“Eh lo bertiga! Cepetan sini!” bentak bang Jeffry pada ketiga anak buahnya yang masih bersembunyi di balik tangga.
“Eh, malah diem aja. Cepetan sini!” lanjut bang Jeffry.
Bagaikan anak ayam yang melihat pemangsa, mereka bertiga segera berlari ke arah Induknya yaitu bang Jeffry.
“Kenapa mereka malah ketakutan? Memangnya penampilanku menakutkan?” tanyaku dalam hati.
Mereka masih terus saja bersembunyi di balik badan besar milik bang Jeffry. Terus diintipnya aku oleh mereka dari balik punggung sang abang. Pandangan curiga terus menatapku, sementara aku hanya bisa membalas senyum. Mencoba untuk terus menghangatkan suasana.

“Bang, mereka kok kayak ketakutan gitu sih? Emang wajahku seperti orang jahat ya?” tanyaku heran.
“Hahahaha,” bang Jeffry hanya tertawa kecil.
“Heh! Sini lo bertiga!” ditariknya badan Boris, Boncel dan Bimo.
“gak usah takut, dia ini temen abang. Namanya Fandy. Cepet sono kenalan!” lanjutnya.
“Fan, kalau ini namanya Boris. Dia asalnya dari batak. Dia ini sebenarnya baik, cuman mulutnya aja agak ceplas-ceplos,” Jelas bang Jeffry bebarengan dengan uluran tangan Boris padaku.

“Aku Fandy,” jawabku menyambut uluran tangan dari Boris.
“Boris!” jawabnya tegas dengan nada khas batak yang menggelegar.
“Nah, kalau aslinya batak, kenapa bisa sampai di sini bang?” tanyaku lagi.
“Waktu kecil, dia sama orangtuanya pindahan ke Malang. Tapi waktu di terminal, dia kehilangan orangtuanya. Karena gue kasihan, jadi ya gue tampung aja di sini. Eh, sampai sekarang orangtua aslinya belum ketemu juga,” Jelasnya.

“Kalau yang ini siapa bang?” tanyaku menunjuk ke arah salah satu dari mereka.
“Wah, kalau yang jago makan ini Bimo. Dari Bali,” Jelasnya singkat.
“Bagaimana ceritanya bisa sampai di sini?” tanyaku pada Bimo.
“Gini bang ceritanya, waktu itu gue sama temen-temen lagi main nih di Sanur. Kebetulan juga pantai lagi sepi. Belum lama main voli, ada orang bule yang nyamperin. Ka..katanya… mau ikut main,” Jelas Bimo dengan air mata yang mulai berkaca-kaca.
“Tapi, ternyata… ” Bimo sudah tak dapat lagi menahan tangisnya.

“Jadi intinya gini, dia itu diculik buat disuruh ngamen di Jakarta. Tapi waktu dalam perjalanan, dia bisa lolos. Tapi juga gak ada biaya buat pulang lagi ke Bali. Jadi deh akhirnya sama kita-kita di sini sampai sekarang,” Kata Bang Jeffry melanjutkan.
“Oh gitu, sabar ya,” Jawabku seraya mengelus rambut Bimo.
“Nah, kalau yang ini pasti Boncel kan?” lanjutku ketika menunjuk satu orang tersisa yang belum menyalamiku.
“Iya Bang,” jawabnya penuh bahagia.
“Eh, memang kenapa kok kamu dipanggil Boncel?” tanyaku padanya.

“Yah, tahu sendirilah bang. Sejak kecil saya belum pernah ketemu orangtua. Aku ini anak yang dibuang bang. Jadi orangtuaku belum sempat ngasih nama. Lalu setelah ketemu Bang Jeffry, aku diasuh kayak adik sendiri. Dan berhubung aku yang paling pendek di sini, jadi aku dipanggil Boncel. Gitu bang ceritanya,” Jawab Boncel panjang lebar.
“Wah, kalian semua hebat ya? Sejak kecil sudah hidup tanpa orangtua. Tidak sepertiku, yang dari dulu masih tergantung sama orangtua,” Kataku malu-malu.
“Eh, udah-udah. Ini nih, kalian dibawain makanan sama bang Fandy. Lo makan deh sono!” sambung bang Jeffry.
“Horeee!!! Makasih ya Bang!” kata mereka serentak.
“Iya, sama-sama,” jawabku seraya tersenyum lebar.

Wajah mereka terlihat sangat bahagia. Terutama Bimo, terlihat sangat menikmati camilan yang ku bawakan tadi. Tak nampak lagi masa lalu mereka yang gelap. Kini wajahnya kembali ceria, seperti seharusnya masa depan mereka. Dan entah kenapa, aku juga menjadi ikut merasakan kebahagiaan. Tapi ini terasa sesuatu yang berbeda. Seperti seribu kali lebih bahagia daripada ketika aku mendapatkan motor sebagai hadiah ulang tahunku yang lalu. Apa ini hadiah yang Tuhan berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku hari ini? Entahlah. Tapi jika memang benar, aku sangat bersyukur karena telah diberikan kebahagiaan yang lebih daripada cukup jika dibandingkan dengan apa yang diberikan orangtuaku selama ini.

Di tengah-tengah asyiknya obrolan, tiba-tiba terdengar suara adzan Ashar. Matahari yang mulai lengser, pertanda hari sudah mulai sore. Seperti halnya burung-burung yang berterbangan menuju sarangnya, aku juga harus segera menuju sarangku. Atau lebih tepatnya istanaku.
“Bang, udah mulai sore nih. Abang tidak pulang?” aku mulai mengalihkan pembicaraan.
“Oh, tenang aja. Gue ntar aja, agak sorean. Kasihan nih anak-anak, gak ada yang jagain,” Jawabnya santai dengan sedikit tawa.
“Emangnya lo mau pulang?” lanjut Bang Jeffry.
“Eh, Emm. Iya bang. Sudah sore ini. Jadi saya mau pamit pulang. Tidak apa-apa kan bang?” tanyaku meminta izin.

Bang Jeffry masih terdiam sejenak, memandangku penuh makna. Hingga akhirnya.
“Hahahaha!! santai aja lagi. Kayak urusan sama guru BP aja lo. Iya dah, pulang sono. Ntar dicariin emak lo lagi,”
“Iya bang, terima kasih ya. Hari ini abang sudah memperkenalkan saya sama teman-teman semua,”
“Iya, sama-sama. Harusnya gue yang terima kasih sama lo. Udah mau bantu gue rawat anak-anak. Gue harap sih, lo masih sudi datang ke sini lagi lain waktu,”
“Siap bang, pasti kok. Saya bakal kesini lagi lain waktu. Kalau perlu setiap hari,” Jawabku nyengir.
“Saya pamit ya bang,” lanjutku.
“Iya,” Jawab Bang Jeffry singkat.
“hati-hati ya bang,” Ucap Boncel.
“Iya, kalian juga jaga diri ya. Abang pasti bakal sering ke sini kok,”

“Brakkkkk!!!!” suara meja digebrak oleh Bang Jeffry. “Halah, lama amat lo mau pulang aja. Udah sono cepet pulang! Atau mau gue palak lo?” kata Bang Jeffry dengan nada marah.
Mendengar perkataan Bang Jeffry, aku bergegas mengambil tasku dan segera berlari ke luar rumah.
“Hahaha. Dasar penakut!” celoteh Bang Jeffry ketika melihatku lari terbirit-birit.
Kesal merasa dikerjai, aku berbalik menuju depan pintu dan berkata.

“Wah sialan nih Bang Jeffry, dikerjain rupanya,” Dengan nada agak kesal.
“Heh! berani lo sama gue?” tantang Bang Jeffry dengan nada tak kalah kesal.
“Enggak bang, ampun!” jawabku seraya kembali berlari ketakutan.
“Hahaha! Penakut tetap saja penakut!” suara tawa Bang Jeffry terdengar kembali.

Namun rupanya kini diiringi oleh tawa Bimo, Boncel dan Boris. Meskipun cukup kesal, namun aku senang. Karena dapat mendengar tawa mereka, meskipun hanya dari kejauhan. Aku juga bersyukur, karena hari ini Tuhan telah mengajarkanku hal baru. Bahwa sebenarnya tidak semua anak jalanan itu buruk. Masih ada di antara mereka yang hidup seperti itu bukan karena kemauan mereka sendiri, namun kurangnya keberuntungan yang memaksa mereka menjadi seperti saat ini. Bukan karena mereka tak mau hidup layaknya orang normal lainnya, tapi karena hidup mereka kini bukan lagi pilihan, namun tuntutan.

The End

Cerpen Karangan: Sugeng Dwi

Cerpen Memandang Lebih Dalam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebenaran

Oleh:
Semua orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Itulah yang membuat manusia harus bisa saling mengerti satu dengan yang lain. kalau tidak. Bisa-bisa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. “Tapi, bagaimana

Demi Hari yang Menanti di Ujung Harapan

Oleh:
Pagi itu, ketika udara terasa basah oleh embun pagi, aku memulai rutinitas mingguanku menjelajahi kota. Dengan berbekal sepatu sport, aku pun melesat menyusuri jalan setapak sekitar rumahku. Belum 100

Reina, Pasien Pertamaku

Oleh:
Aku berusaha mendekat, mengintip wajah dibalik rambut hitam panjang yang menutupi hampir sebagian wajah si pemiliknya. Dengan hati-hati kupanggil namanya “Reina?”. Wanita muda yang kini menjadi calon pasien pertamaku

Taman Hatimu

Oleh:
Menangis. Aku tidak mengerti mengapa air mata ini tiba-tiba saja mengalir mulanya perlahan kemudian menganak sungai, membawa semua gelondongan kayu kayu besar dan bebatuan yang tak terhitung memenuhi semua

Marwa, Aku Tidak Ingin Melihat Karma

Oleh:
Mengapa sekarang kau berubah Marwa? Apa kau sudah tidak ingin melanjutkan semua yang telah kita rancang bersama? Kita telah sepakat untuk tetap berjalan beriringan. Tetap berada dalam batasan-batasan, tetap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *