Membeli Mimpi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 2 May 2021

Hari masih begitu pagi, bahkan masih terlalu sunyi dari kokokan ayam. Namun, sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al Qur’an yang terdengar dari pengeras suara masjid yang menandakan akan memasuki waktu subuh.

Semilir angin subuh meniup kain tirai dari spanduk bekas yang menutupi jendela tak berkaca dari rumah seorang bocah yang terbangun dari tidurnya sembari mengusap kedua matanya yang masih terasa perih dan berair.
Bocah itu termenung duduk di pinggiran ranjang berkarat yang hanya dilapisi oleh matras tipis yang sudah mulai mencuat kapas-kapas di dalamnya.

Sambil menoleh kearah ibunya ia berkata
“Bu, ayo bangun! Kita sholat subuh dulu” ujarnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya yang agak kurus dan hanya berselimut kain jarik usang di tubuhnya.

Tak lama kemudian, ibunya terbangun sambil menoleh kearah anaknya seraya berkata
“Kamu saja Fi yang sholat, ibu sedang ngga sholat”.

Usia Rafi belum memahami mengapa ibunya tidak melaksanakan sholat wajib. Lalu iapun berujar
“Huh! Ibu ini, setiap bulan ada saja rasa malasnya untuk sholat. Awas ya, aku gak mau pokoknya kalo ibu nitip Do’a sama aku!” Ujarnya polos.
Ibunya pun hanya tersenyum tipis mendengar kepolosan anaknya itu, sambil terbangun dari ranjangnya dan mengantarkan anaknya menuju sumur di belakang rumahnya untuk berwudhu.

Sambil menimba air untuk anaknya, Ibu Eti pun bertanya pada anaknya yang sedang duduk di sampingnya sambil memegangi ember untuk menadah air yang ditimba ibunya.
“Tumben Fi kamu bangun duluan tadi? biasanya kamu itu agak susah kalau dibangunin” ucap Ibu Eti penasaran.
“Emm anu Bu, aku tadi mimpi” kata Rafi.
“Oh ya? Mimpi apa?” Timpal ibunya makin penasaran.
“Aku bermimpi kalo suatu saat usaha semir sepatuku jadi besar dan punya kantor Bu!” Ucap Rafi dengan wajah serius dan penuh semangat.
“Wah, oke juga mimpimu nak, nanti kalau mimpimu terwujud, ibu ada di bagian apa nih di kantormu nanti?” Ujar ibunya sedikit meledek Rafi.
“Bagian nyuruh-nyuruh aku lah kaya biasanya, Bu!” Candanya sambil tertawa yang juga diikuti oleh ibunya.

“Udah, sekarang siap-siap sana sholat!” kata ibu sambil mengusap kedua tangannya yang basah setelah menimba.
“Baik Bu!” Kata Rafi bersemangat.

Cerpen Membeli Mimpi

Usai sholat subuh, Rafi merapikan alat-alat untuk menyemir sepatu dan menyelipkan buku-buku pelajarannya dibawah kotak peralatan semirnya, lalu menuju meja kecil dekat lemari usang yang terletak di pojokkan rumahnya yang sempit itu.

“Makananmu dihabiskan ya nak. Oiya, PR-mu sudah dikerjakan?” Tanya ibunya.
“Iya Bu, ini udah abis kok” jawab Rafi sambil mengunyah tempe goreng yang digoreng ibunya saat Rafi menunaikan sholat subuh tadi.
“PR? Udah doong” sambungnya sambil meraih tangan ibunya untuk berpamitan.
“Aku berangkat ya Bu, assalamu’alaikum!” Teriak Rafi sambil berlari keluar rumah.
“Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, hati-hati nak!” jawab ibunya sambil merapikan piring sarapan anaknya.

Sepanjang perjalanan Rafi ke sekolah, ia terus memikirkan tentang mimpinya yang ingin memiliki kantor semir sepatu yang besar. Timbul sedikit rasa ragu dalam dirinya apakah mimpi itu benar-benar dapat menjadi kenyataan atau hanya sekedar khayalannya saja.

Sesampainya di sekolah, Rafi yang masih duduk dikelas 4 di sekolah dasar negeri yang terletak agak jauh dari tempat ia dan ibunya tinggal, bercerita tentang mimpinya kepada teman-teman di kelasnya.
Seketika setelah mendengar cerita mimpi Rafi, teman-temannya tertawa terbahak-bahak, bahkan tak jarang teman-temannya mengolok-oloknya, seraya berkata
“Fii.. Fii.. mimpi kok kaya gitu? Ngga ada mimpi lain apa?” Ujar seorang teman sebangku Rafi yang diikuti oleh tawa teman-temannya.

Dentang bel pulang sekolah terdengar nyaring berbunyi ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12 tepat. Matahari nampak tidak menunjukkan gelagat bersahabat dengan orang-orang dibawahnya, cahayanya benar-benar terasa sangat menyengat kulit siapapun yang terkena cahaya matahari hari itu.

Rafi yang terlihat sedikit murung, berjalan sendiri keluar dari kelasnya sambil memegangi tali kotak peralatan semirnya, ia nampak masih berfikir didalam hati apakah mimpinya itu terlalu mustahil untuk diwujudkan? Atau mungkin terlalu lucu sampai-sampai teman-teman di kelasnya menertawakannya.
Namun ia coba menepis keraguannya, hatinya tetap tidak goyah, ia masih yakin bahwa mimpinya itu suatu saat akan terwujud. Meskipun ia sendiri masih belum tahu bagaimana caranya dan seperti apa memulainya.
Tapi ia coba tetap meyakinkan dirinya sendiri bahwa mimpi yang ia alami malam itu mungkin adalah petunjuk untuk dirinya dimasa depan.

Ditengah-tengah lamunannya yang semakin berkecamuk, Rafi tiba-tiba tersadar sambil berkata
“Waduh, udah jam berapa nih?! Keburu waktu istirahat kantor selesai!” Ujarnya sedikit panik.

Rafi pun bergegas sambil membuka kemeja seragam sekolahnya dan meletakkannya kedalam plastik kresek yang sudah disiapkannya dari rumah menuju taman yang tak jauh dari sekolahnya tempat ia biasa menjual jasa semir sepatunya.
Maklum saja, taman itu sering ramai dijadikan tempat orang-orang yang bekerja di kantoran untuk beristirahat makan siang atau hanya sekedar duduk-duduk sambil bermain gawai. Sesampainya di taman, Rafi pun mulai berteriak menjajakan jasanya “Semir! Semir! Semir sepatunya Pak! Semir Sepatunya Om!”.

Waktu kian berlalu, matahari mulai sedikit bergeser kearah barat, orang-orang pun berlalulalang mengabaikan Rafi yang duduk di sudut bangku taman sambil sesekali menelan ludahnya setelah berteriak. Namun sikap orang-orang itu tetap acuh, seakan tidak ada yang mendengar teriakan Rafi yang cukup keras itu.

Sampai pada suatu ketika, ada seseorang pria paruh baya, memakai setelan yang rapi lengkap dengan dasinya dan tas koper hitam ala pebisnis handal bertanya pada Rafi yang mulai terduduk lesu di bangku taman.

“Bisa semirkan sepatu bapak, nak?” Ucap pria itu sedikit menunduk sambil memegang pundak Rafi yang sedikit berkeringat.
“Hah? Iya Pak, bisa!” ucap Rafi sedikit terkejut dan langsung bergegas menyiapkan peralatan yang ia butuhkan untuk menyemir sepatu.

Sambil tersenyum kecil, bapak itu pun duduk di bangku yang awalnya diduduki Rafi dan Rafi pun mengikuti untuk duduk dibawahnya dengan memangku sebelah kaki bapak itu sambil sesekali mengoleskan semir ke sepatunya.

“Usiamu berapa nak?” Tanya bapak itu berbasa-basi.
“10 tahun, Pak” jawab Rafi sambil mulai menyikat sepatu.
“Wah, hebat! Masih muda begini sudah mau cari uang. Apa bapakmu ngga kasih kamu uang jajan?” Kata si bapak sambil melihat kearah Rafi.
“Bapak saya udah meninggal pak, waktu saya umur 7 tahun” jawab Rafi agak sedikit pelan.
“Oh! Maaf, bapak ngga tau kalau bapakmu ternyata sudah tiada” ucap si bapak merasa bersalah.
“Iya pak, gapapa” jawab Rafi singkat.

Bapak itu pun tidak melanjutkan basa-basinya karena takut salah memulai obrolan lagi. si Bapak memilih untuk diam dan membuka koran yang ia bawa dalam kopernya. Sementara Rafi tetap sibuk menyikat sepatu si bapak.

“Sudah, Pak” ujar Rafi sambil merapikan peralatannya.
“Berapa ongkosnya, nak? Tanya si bapak sambil merogoh dompetnya.
“10 ribu, Pak” jawab Rafi. Lalu bapak itupun memberikan selembar uang 10 ribu kepada Rafi.
“Terimakasih ya. Bapak mau lanjut ke kantor dulu” ucap si bapak berjalan melangkah kearah halte bus yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk tadi yang hanya dijawab oleh Rafi dengan anggukan kepala saja.

Langit mulai sedikit redup, matahari sudah tak sejahat sebelumnya. Kali ini cahayanya mulai sedikit bersahabat karena tertutup oleh awan yang melintas didepannya.
Taman pun berangsur sepi dari orang-orang kantoran yang beristirahat tadi dan hanya menyisakan pedagang-pedagang yang sibuk merapikan dagangannya. Perut Rafi mulai menggerutu, karena memang belum diberi pekerjaan oleh Rafi yang sedari tadi belum memakan apapun sejak ia meninggalkan sekolahnya.
Rafi pun berniat untuk tidak melanjutkan teriakannya. Ia pun bersiap untuk kembali ke rumahnya walaupun ia hanya menyemir sepatu satu kali hari ini.

Sesampainya di rumah, Rafi segera mencuci tangan kecilnya yang penuh dengan noda-noda hitam bekas semir di ember yang terletak di depan rumahnya.

“Assalamu’alaikum” ucap Rafi seraya mendorong pintu rumahnya.
“Wa’alaikumsalam” jawab suara ibu yang terdengar dari dapur rumah.
“Loh ibu sudah pulang?” Tanya Rafi.
“Sudah, tadi majikan ibu sedang tidak banyak cucian hari ini, jadi ibu bisa pulang cepat deh” jawab ibunya sambil mengangkat jemuran yang sudah mulai kering di dapur rumahnya.
“Itu kalo mau makan ibu sudah gorengin telur ceplok kesukaan kamu. Ada di meja dekat lemari” sambung ibu.
“Iya Bu, aku mau ganti baju dulu” jawab Rafi.

Setelah mengganti bajunya, Rafi pun segera menyendok sepiring nasi di bakul rotan yang ada di meja dan mengambil telur ceplok buatan ibunya sambil sesekali menyingkirkan semut-semut kecil yang mulai menggerogoti telur yang mungkin sudah agak lama didiamkan di meja itu.

Sambil mengunyah makanannya, Rafi bercerita pada ibunya bahwa hari ini dia ditertawakan oleh teman-temannya karena menceritakan tentang mimpinya. Namun ibunya menanggapi dengan santai dan mengganggap teman-temannya hanya bercanda saja kepada anaknya.

Selain itu Rafi juga bercerita tentang seorang yang dia temuinya hari ini.
“Bu, tadi ada bapak-bapak minta disemirkan sepatunya sama aku” kata Rafi memulai obrolan
“terus?” Tanya ibunya.
“Terus dia tanya, kenapa aku masih kecil gini udah cari uang? Apa bapakmu ngga kasih kamu uang jajan?” Ucap Rafi menirukan perkataan bapak tadi dengan mulut yang penuh dengan nasi dan telur ceplok itu.
“Terus kamu jawab apa?” Kata ibunya.
“Aku jawab, bapak aku udah meninggal waktu aku umur 7 tahun” jawab Rafi. Ibunya pun hanya bisa tersenyum-senyum sendiri mendengarkan cerita anaknya yang masih sangat polos itu.
“Lain kali, kalau makanan masih penuh di mulutmu, jangan ngomong dulu. Ngga baik!” ujar ibunya menasihati, yang hanya dibalas dengan senyum lebar dari Rafi.

Hari berganti, Rafi yang terbangun dari tidurnya, tiba-tiba melompat dari ranjangnya dan mencari ibunya yang telah lebih dulu terbangun.

“Bu, aku punya ide!” Ucap Rafi bersemangat.
“Ide apa?” Tanya ibunya yang sedang menimba air di sumur.
“Aku akan membeli mimpiku!” Kata Rafi.
“Beli apa? Ngiggau ya kamu? Cuci muka dulu sana, terus sholat!” Ucap ibunya setengah acuh.
“Ih, ngga kok Bu, aku ngga ngiggau!” Bantah Rafi.
“Yaudah iya silakan kamu beli mimpimu, lagian emang kamu punya uang? Ibu lagi gaada uang loh ya kalo kamu minta untuk beli mimpi!” Ledek ibunya.
“Tenang aja Bu, aku akan nabung dari sekarang!” Jawab Rafi penuh semangat.

Ibunya lagi-lagi hanya bisa menggeleng heran melihat tingkah anaknya yang dirasa sangat polos itu. Namun, ibunya tetap tak mau untuk mematahkan asa anaknya itu dan lebih memilih diam sambil sesekali mengikuti ocehan dari anaknya.

Rupanya ide Rafi untuk membeli mimpinya ini dia dapatkan dari perjalanan hidupnya selama ini. Rafi beranggapan bahwa uang yang banyak dapat membeli segalanya, termasuk mimpi.

Cerpen Karangan: Sandy N. Lazuardi
Blog / Facebook: Sandy Nuramadhana Lazuardi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Membeli Mimpi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Orang Gila

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

Indahnya Cinta Ratih (Part 2)

Oleh:
Rumah sakit yang besar ini ternyata sudah penuh sesak dengan petugas maupun sanak keluarga dari korban bus rombongan yang terjatuh di jurang itu. Tak ada tawa yang terlihat di

Selalu Bandingkan Dengan Dunia Mereka

Oleh:
SIANG itu, jam 11.22 tepatnya Zuruf mendapat pesan singkat dari Zunir ceweknya, pesannya; “kamu + aku = kita Yee! Sayang mau sampai kapan kita seperti ini trus, aku tinggal

Soeparman Koar-Koar

Oleh:
Tiba tiba pandangan Soeparman kosong, seperti tanpa daya. Namun siapapun yakin, jika melihatnya, dia seolah memikirkan sesuatu. Entah, pikiran apa yang sedang bercongkol di kepalanya, atau yang berseliweran di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *