Membersihkan Dosa dengan Deterjen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 July 2014

Sore hari dibalut dengan cahaya kuning. Kata orang desaku senja kala. Dimana langit berwarna jingga. Masih terasa dingin karena hujan menyisakkan rintik. Aku turun dari bis. Air mata yang dari tadi kutahan sejak mendengar kematian kakak sontak keluar ketika aku melihat bendera hijau yang melambai-lambai di depan rumah. Bendera yang sudah menjadi piala bergilir bagi orang-orang yang habis masa aktifnya di dunia ini. Bendera kematian.

Aku berlari menuju rumah dengan iringan gerimis yang sedari tadi menepuk-nepuk lembut tubuhku. Tapi sayang aku tak hirau. Suasana haru mulai kurasakan dengan wangi yang aku benci. Wangi dupa yang bagiku mengerikan. Dupa sering digunakan orang-orang di kampungku bila ada acara kematian, haulan atau selamatan dan hal-hal yang berbau mistik lainnya.

Ternyata ini bukan mimpi. Mayat di depanku adalah kakakku. Kepulanganku dari Perantauan ternyata disambut dengan kejutan yang mengerikan. Tiba-tiba kakiku rasanya berpijak di hamparan es, tubuhku dingin tak berdaya. Lututku gemetar seirama dengan isak tangisku. Mengapa semua ini bisa terjadi. Kalimat itu selalu berdendang riuh di pikiranku. Aku hilang kendali. “Ahhh kakak kenapa kau bodoh sekali! Mengapa kau seperti ini?” Teriakku kencang namun masih terengah.

Orang-orang yang melayat langsung memandangku bingung, ibu langsung berdiri mendekapku yang sedari tadi membacakan surah yasin di samping kakakku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memandang ke arah bapakku. “Apa saja yang kau lakukan pak, apa saja? Mengapa kau hanya mengurus mesjid. Apakah kau hanya ingin mendapat pandangan baik dari orang-orang kampung, serta merta melupakan anakmu! Seandainya kau sering memperhatikan dan mengajaknya bicara kakak tidak akan mati! Kau boleh beribadah, mengikuti kegiatan-kegiatan agama tapi kau juga harus ingat kau punya anak yang butuh perhatian darimu. Jangan hanya karena ia sudah tidak waras kau sering mengacuhannya. Cukup aku yang tak kau pedulikan.” Lagi-lagi aku tak bisa mengendalikan diriku. Emosiku meluap-luap dengan tangisan yang tak bisa kutahan.

Ibu menangis dan mencoba menenangkanku. Bapak hanya terdiam menahan malu, karena sudah banyak sekali orang berdatangan untuk berta’ziah. Atau sekedar melihat-lihat kakakku yang mati mengenaskan. Aku lihat di wajah bapak juga terdapat gurat-gurat penyesalan yang teramat dalam. Ibu mengajakku duduk. Tepat di samping mayat kakak. Ia kembali membaca surah yasin. Aku tak bisa membacakan surah yasin untuk kakakku. Karena sekarang aku sudah tidak begitu lancar membaca tulisan arab terang saja memori otakku sudah tidak bisa mengingat apa yang diajarkan bapak dulu. Daya serap otakku berkurang karena efek dari obat-obatan yang dulu pernah aku konsumsi.

Aku menarik nafas lalu membuangnya. Bermaksud untuk menenangkan emosiku. Aku melihat tetesan kesedihan pada butir-butir air mata ibu. Aku melihat kepedihannya ia balut dengan sisa-sisa kesabarannya. Aku teringat ketika kakakku tiba-tiba menghilang dari rumah, ia langsung mencarinya tak peduli malam sudah larut, sedangkan bapak dengan nyenyaknya tidur di rumah. Aku memandang mayat kakakku dalam. Kaku hanya diam. Wajah yang dulunya cerah kini tampak pucat pasi. Ia terlihat tak begitu senang menyambut kedatanganku. Tersenyum pun tidak. Haha, mungkin aku sudah gila. Jelas saja orang yang sudah mati takkan bisa tersenyum apalagi bicara. “Kakak”, rintihku. “Aku sekarang sudah punya banyak uang, aku tidak akan meminta uang pada bapak dan ibu lagi. Aku juga banyak sekali membelikan pakaian baru untukmu, agar kau tidak memakai baju dan sarung yang itu-itu saja. Apapun yang kau minta akan aku kasih, apapun. Ku mohon bicaralah. Aku berjanji akan selalu menemanimu, akan mengajakmu bicara agar kau tak merasa sendirian dan melamun karena tidak punya teman. Kaulah yang selalu membelaku ketika ayah memarahiku meski terkadang aku acuh padamu.” Tetap saja kakakku diam membisu.

Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Sampai detik ini rasanya aku masih tidak percaya kakak sudah meninggal. Airmataku pun mengalir tanpa henti. Ku dengar isak tangis ibu pun meninggi. Aku menutup kembali wajah kakakku yang dari tadi kubuka. Aku terus memandang mayat yang tertutup sehelai kain batik yang penuh mistik. Kain bercorak burung dengan garis-garis melengkung berwarna coklat yang tak kumengerti maknanya. Inilah Kakakku yang penurut dan sangat alim. Inilah kakakku yang ingin selalu memperdalam ilmu ketauhidan. Inilah kakakku yang dulu selalu dibanggakan dan sangat disayangi bapak. Ia yang selalu menjadi bandingan pada diriku. Bandingan antara anak laki-laki penurut dan anak laki-laki yang suka membangkang. Takdir memang kejam. Tapi mungkin inilah yang terbaik. Tuhan tidak ingin menyakiti hambanya terlalu lama. Kakakku meninggal dalam keadaan tidak waras. Ia kehilangan jiwanya sebagai manusia normal. Entah ilmu apa yang sedang dipelajarinya. Ilmu yang ia maksudkan untuk lebih mendekatkannya pada sang khalik ternyata membawa petaka bagi dirinya. Ia memperdalam ilmu yang tak pernah aku mengerti. Ia mempelajarinya sendiri tanpa bimbingan guru. Ia seperti seorang pertapa. Siang dan malam hanya membaca kitab yang entah dari mana ia dapatkan. Tidak ada yang tahu apa alasannya sehingga ia begitu ingin mempelajari ilmu tersebut. Orang- orang sering menyebutnya ilmu tasawuf. Bukankah ilmu tasawuf adalah ilmu yang ingin mengenal siapa Tuhannya lebih dalam. Mungkin ia begitu cinta dengan Tuhan. Mungkin ia ingin mengenal lebih dalam. Tapi, malang yang didapat. Ia menjadi tidak waras. Kata orang pintar di kampungku mungkin saja daya tangkap otaknya tidak mampu menerima ilmu yang terlalu tinggi. Ia juga mempelajarinya tanpa guru. Dan ia juga terbilang masih muda. Tapi, jika dikaitkan dengan ilmu medis, kakakku mengalami gangguan jiwa. Entahlah aku juga tidak begitu mengerti.

Sebelum aku pergi merantau ke luar kalimantan. Aku melihat kelakuan-kelakuan aneh dari kakakku. Ia sering bercerita bisa melihat orang yang sudah mati. Walau aku tidak mempercayainya tapi bulu kudukku langsung berdiri ketika mendengarnya. Ia juga sering berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Mungkin dia sedang berinteraksi dengan orang-orang gaib. Tapi, sekali lagi entahlah. Aku tidak mengerti. Ada juga yang mengatakan jika kakakku melakukan hal-hal aneh itu berarti ia dimasuki jin. Sulit dipercaya memang. Ia juga sering menghilang dan berada di tempat- tempat sunyi seperti di halaman belakang dan kadang pergi ke hutan. Setelah dicari dan ditemukan ia sedang duduk di bawah pohon sendirian. Jika aku dalam keadaan baik atau moodku sedang bagus. Aku sering mengajaknya bicara. Ketika ku ajak bicara. Responnya sangat lambat ia lebih banyak diam. Tetapi jika terus kupancing untuk bicara ia akan bicara seperti orang normal.

Kondisi kakak memuncak ketika ia sering menyakiti dirinya sendiri dengan menyayat tangan menggunakan silet atau pisau. Sempat kakakku dibawa ke rumah sakit jiwa. Dengan harapan ia bisa sembuh. Tapi hasilnya nihil. Kakak tak kunjung sembuh. Malah semakin parah. Orangtuaku kehabisan akal untuk menyembuhkan kakakku. Sehingga dibiarkan begitu saja. Bapak mulai tidak peduli dengan kakakku. Mungkin ia sudah merasa lelah mengurus kakakku. Ia sering memarahi kakakku ketika kakakku melakukan hal-hal aneh. Bagaimana orang seperti itu dimarahi. Orang seperti itu seharusnya lebih banyak didekati. Aku marah pada bapak yang tega mengurungnya di rumah dan membiarkan kondisi kakakku bertambah parah. Seharusnya ia lebih sering mengajaknya bicara agar pikirannya tidak kosong. Semua keluarga bingung dengan penyakit yang di alami kakakku. Jika dikatakan gila kenapa ia masih mengerjakan kewajibannya sebagai umat muslim seperti shalat dan ibadah lainnya. Jika dikatakan masih waras kenapa ia sering menyakiti dirinya sendiri. Jika bicara mistik atau gaib hanya Allahlah yang maha tahu atas apa yang terjadi pada hambanya. Inilah rahasiaNya.

Apapun yang terjadi. Aku juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bukankah ini di luar kuasa manusia. Inilah goresan takdir dari-Nya. Mayat di hadapanku sekarang adalah kakakku. Mayat yang hanya malam ini saja bisa bermalam di rumah. Karena besok ia akan menempati rumah abadinya. Aku pasti sangat merindukannya. Kini ia sudah tiada. Mati dengan mengenaskan. Dan penyebab kematiannya adalah menelan deterjen. Entah makhluk apa yang sedang membisikinya atau mungkin telah merasukinya. Yang sering kulihat dulu ia sering melakukan itu tapi hanya berkumur-kumur dengan busa deterjen. Ia mengaduk-ngaduk deterjen pada ember dan berkumur-kumur dengan busa tersebut. Ketika aku tanya “Kenapa kau berkumur-kumur dengan busa deterjen”. Ia menjawab “Aku ingin membersihkan mulutku atas dosa dari perkataan-perkataanku”. Aku sontak terkejut hingga keluar perkataanku yang sangat kusesali. “Heh, Kenapa tidak sekalian deterjen kau masukkan ke mulut, pasti langsung bersih semua dosa-dosamu.” Aku tertawa sinis. Dan benar. Kata-kataku benar-benar ia lakukan. Busa memenuhi mulutnya. Sempat diduga karena keracunan makanan. Orang yang alim seperti kakak saja masih ingat untuk membersihkan diri dari dosa. Lalu bagaimana dengan diriku yang berlumur dosa. Apakah aku harus menyeburkan diri pada lautan deterjen?

Cerpen Karangan: Siti Mahillah
Facebook: Siti Mahillah

Cerpen Membersihkan Dosa dengan Deterjen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Vienna

Oleh:
Vienna atau yang akrab disapa Vi adalah siswi kelas 5 sd yang hidupnya serba kekurangan. Ayah Vi bekerja sebagai tukang bangunan yang penghasilannya sebulannya hanya Rp. 100.000,- Ibu Vi

Ujian Untuk Andin

Oleh:
Malam semakin mencekam,,angin bertiup menampar alam, hingga menusuk tulang rusuk yang semakin hari semakin rapuh dengan tangan yang lebam. Ku lihat taburan bintang yang indah di atas langit sana,

Just A Dream For Me And My Life

Oleh:
Hari itu fajar telah menyising, mama membangunkanku dari mimpiku. Aku terbangun menyadari sesosok wanita disampingku, “Airyn… ayo bangun! Kamu gak mau kan dokter Sally menunggumu!” kata lembut itu meluncur

Pengagum Rahasia

Oleh:
Aku datang dengan segala harapan agar aku bisa menampung ilmu yang diberikan guru. Niat, persiapan, dan lain-lain sudah kusiapkan. Tinggal menimba ilmu untuk kubawa pulang nanti. teman-teman hanya mendukungku

Terpisahkan

Oleh:
Namaku Keyla. Duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Meyla. Dia adalah kembaranku. Dari di perut ibuku aku sudah berteman dengannya. Dialah satu-satunya sahabatku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *