Menanti Sang Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 20 July 2014

Hari itu, langit terlihat cerah. Tak ada warna kelabu, hanya gumpalan awan putih berlatar langit biru. Semoga saja hujan tidak turun, harapku. Aku berlari, berlomba dengan sang waktu. Kulirik arloji di pergelangan kiriku. Berharap kali ini aku tak didahului oleh waktu. Kumohon, buat aku bertemu dengannya hari ini, bisikku pada Tuhan.

Aku memutar kenop pintu yang mengarah ke bagian atap gedung tua di tengah kota hujan. Baru saja aku bergerak satu langkah, sang kelabu datang. Menutupi seluruh langit yang tadi terang. Membuat suasana berubah menjadi sendu, tak menyenangkan. Dan perlahan satu-persatu butiran air hujan menjatuhkan dirinya. Ah, dia tak mungkin datang kalau hujan seperti ini. Mungkin esok hari.

Sudah berhari-hari kota ini diguyur hujan. Hari ini pun begitu. Pagi yang kupandang lurus ke luar jendela. Butiran-butiran air menetes di jendela. Hujan. Lagi.
“Sepertinya hujannya akan awet,” ujar salah satu pegawaiku yang tengah sibuk meracik minuman baru untuk menu di kedai kopiku. Aku menghela nafas panjang. Hujan kembali memupuskan harapanku untuk bertemu dengannya.

Yang kulakukan pertama kali pagi ini adalah menatap keluar jendela. Pagi hari rintik hujan telah menyambutku. Gerimis. Aku menyatukan kedua telapak tanganku, menundukkam kepalaku. Ya Tuhan, semoga aku bisa bertemu dengannya hari ini, doaku.

Kupercepat langkahku menaiki anak tangga. Belum terdengar suara rintik hujan. Senyumku mengembang. Aku bertemu dengannya hari ini. Akhirnya setelah menunggu sekian lama. Aku mengeluarkan sesuatu dari tas ranselku. Sebuah kamera instax lembayung. Kutatap jarum arlojiku. Tepat waktu. Kuarahkan lensa kamera lurus ke depan, ke arah langit yang perlahan berubah menjadi jingga. Kupotret lukisan sang senja lalu kutaruh lembaran fotonya di selipan jurnal. Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya.

“Akhirnya kita bisa bertemu, senja,”

Cerpen Karangan: Nada Azizah
Blog: tacite-aime.tumblr.com

Cerpen Menanti Sang Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meja Dan Kursi

Oleh:
Aku melihat tempat belajar anak-anak usia dini di Kampung Cileuksa Desa Bandung sangatlah prihatin. Anak-anak belajar di kantor balai desa secara lesehan. Tidak mempunyai meja dan kursi. Mereka melaksanakan

Beri Aku Serupiah Saja

Oleh:
Siang ini matahari terasa membakarku, bulir-bulir keringat terus saja meluncur di permukaan kulitku. Ah, aku mengeluhkan rahmat Tuhan lagi. Kupikir lebih baik mencari cara untuk mendinginkan tubuhku agar mulut

Mengejar bayangan

Oleh:
Apalah arti dari sebuah perasaan yang menyelimuti hati ini, semakin dicoba untuk di singkirkan semakin terasa sakit.. semakin di rasakan semakin menjadi-jadi… Wanita itu duduk terdiam dalam keheningan di

Cerita dibalik Hujan

Oleh:
Termenung meratapi tiitk hujan yang menederas di balik kaca tebal di hadapanku. Titik–titik air mulai menyelimuti separuh tubuh meresap ke permukaan. Dia tidak merasa dingin, kenapa? Padahal, kaca itu

Kisah ku

Oleh:
21 oktober 2012 ,hari ulang tahun ku yg ke’16 th,, hari dimana aku berada dalam hidup yang sederhana tp membingungkan, gerbang antara masa lalu dan masa depan ,semua terangkum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *