Mengantarmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 May 2018

Siang itu, di koridor yang sama setiap minggunya. Aku terhanyut lagi dalam masa lalu. Memandang ubin yang selalu bersih ditemani aroma alkohol yang berseliwir. Tempat ini, cukup menyeretku ke masa itu.

“Nasha, telepon Mang Iyus! Tanyain sudah di mana, sekarang sudah jam 8.” Teriakan ibu membuatku lari terbirit-birit ke warung sebelah.
“Mbak, pulsanya 5.000. Bayarnya setelah nganter ayah ya hehe.” Dan pulsa pun masuk.
“Neng, Mang Iyus masih jauh dari rumah Neng Nasha. Mang suruh temen aja ya buat jemput si ayah.” Dan aku hanya bisa menghela nafas. Kembali ke rumah aku beritahu ibu, dan menunggu angkot teman Mang Iyus. Aku melihat mobil ayah dan menghela nafas lebih panjang. Tak lama, suara klakson angkot mengagetkanku.

Setiap hari Selasa dan Sabtu, dengan menahan rasa bosan kami harus ke tempat ini. Tempat dimana darah ayahku masuk ke sebuah mesin yang katanya dapat membersihkan darahnya. Setiap hari itu pula, aku diantar oleh angkot, kadang Mang Iyus tetangga belakang rumah, atau teman-temannya yang bersedia dibayar seadanya. Seharian aku dan ibu menemani ayah yang sedang cuci darah. Baru 3 bulan, iya baru 3 bulan dan aku sudah hapal setiap pojok rumah sakit ini. Hingga terkadang aku sebagai penunjuk jalan untuk pasien lain yang tersesat.

Hari itu, kami pulang diantar Mang Iyus. Senyuman dan ucapan terima kasih adalah bayarannya, karena dia tidak mau apapun selain itu. Ibu dan Ayah masuk, sedangkan aku masih memandang mobil tua ayah. Kuraba, dingin rasanya. Sudah lama tidak terpakai.

“Neng, kenapa dilihatin aja? Tiap pulang pasti dilihatin, dielus-elus sampai tangan berdebu.” Sekilas aku melihat Mang Iyus dan angkotnya dari kaca spion mobil ayah. Aku berbalik dan tersenyum. Lalu aku hampiri dengan langkah ragu.
“Mang, kalo Nasha minta Mang Iyus ajarin nyupir mobil, Mang Iyus mau nggak?” Mang Iyus hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria paruh baya itu nampak mengerti alasanku meminta hal tersebut.
“Hayu! Siap Mang Iyus mah!”

Senyumku melebar, mengiringiku ke warung sebelah untuk membayar pulsa tadi pagi. Di kamar aku berbaring dan senyum-senyum sendiri seperti memenangkan jackpot. Sekilas aku melihat foto ayah mengenakan baju kerjanya 5 tahun yang lalu. Baju itu masih dipakainya kalau sedang di rumah. PHK yang berlaku padanya 3 tahun lalu, tidak membuatnya membuang baju itu.

Kring! Kring! Nomor tak dikenal. Aku diamkan dan nomor itu menelepon lagi.

“Assalamualaikum?”
“Waalaikumsalam. Dek Nasha ‘kan? Ini Bu Ratna. Ini nomor baru ibu, HP ibu hilang jadi ganti nomor. Ibu mau nyewa mobil lagi boleh? Mau jemput Mas Kus di bandara besok lusa. Baru bisa pulang bulan ini katanya, dia juga dadakan begini. Biasanya pas lebaran atau tahun baru pulang dari Lampung. Kira-kira bisa ndak ya, Dek?” Aku menolak secara halus karena ayah tidak bisa.
“Oooh iya, maaf, Dek. Ibu baru ingat. Soalnya sudah kebiasaan sama ayahmu. Salam ya buat ayah dan ibu.”

Bu Ratna, tetangga depan rumah ini adalah pelanggan setia rentalan mobil ayahku dari segelintir orang yang mau menyewanya. Mobil tuanya menjadi sumber nafkah setelah ia mendapat PHK. Meskipun yang berminat sedikit, tapi ayahku selalu punya cara untuk membuat mobilnya dicari orang. Dan sejak 3 bulan yang lalu, ayahku tidak bisa lagi mengendarai mobil tuanya.

“Neng! Jangan terlalu kanan, Neng!”
“Awas! Awas! Ada kucing itu lewaaaaat!” suara Mang Iyus selalu menjadi soundtrack saat aku belajar mobil. Sudah seminggu dan masih belum lancar juga. Meskipun hanya sejam dalam sehari setelah aku pulang kerja, tapi dalam bayanganku, seminggu cukup untuk aku bisa menyetir mobil. Tapi ternyata mengendalikan mobil tidak semudah mengendalikan mesin jahit di rumah Bu Sinta.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, hingga sebulan aku berkutat dengan angkot Mang Iyus. Sudah mahir rupanya, bahkan disangka supir angkot Mang Iyus.

“Nah, Neng. Sekarang coba pakai mobil si ayah. Tapi jangan kenceng-kenceng dulu. Kan beda bentuknya juga.”
“Tapi Mang Iyus nemenin juga di mobil ayah, bareng Sari di belakang. Ya, ya, ya?” dengan memberanikan diri aku meminta izin ayah untuk meminjam mobil. Ayah tahu aku selama ini belajar mobil sama Mang Iyus.
“Hati-hati ya bawa mobilnya, Nasha.”

Mobil akhirnya menyala, setelah 3 bulan tertidur di garasi sempit. Setelah berhasil dikeluarkan dengan hati-hati, aku, Mang Iyus dan Sari melenggang dengan percaya diri menggunakan sedan tua itu. Sejam, dua jam, aku mulai lelah. Kurang fokus, aku tidak melihat ada lelaki di depan. Aku banting setir dan Bruk!

“Aku lupa, tadi aku terlalu sombong, Ya Allah. Aku lupa, saking senangnya aku tidak membaca basmallah seperti biasanya. Ampuni aku.” Ujarku dalam hati.

Mobil ayah bonyok tidak karuan. Menghantam pohon pinggir jalan. Aku, Mang Iyus dan Sari tidak apa-apa, hanya pusing sesaat. Tapi aku, menangis sejadi-jadinya. Mobil kesayangan ayah, penyesalan atas kesombonganku, menyalahkan lelaki yang menyeberang sembarangan itu, keinginan kuatku untuk bisa naik mobil, kalut aku dibuatnya. Di pinggir mobil aku hanya menangis dan tidak ingin pulang. Mang Iyus sibuk menelepon teman-temannya untuk membantunya membawa mobil ayah. Sari berusaha menenangkanku yang tidak bisa tenang.

Lalu lelaki tadi mendekatiku.
“Mbak, maaf tadi saya nyeberang nggak lihat-lihat. Mbak nggak apa-apa? Sekali lagi saya minta maaf.” Aku mengenali suara itu.
“Mas Kus?” panggilku sambil terisak. Matanya terbelalak, wajahnya menunjukkan rasa penyesalan teramat.

Di rumah, aku menceritakan semuanya. Ditemani Mang Iyus, Sari, dan Mas Kusuma. Mas Kus berkali-kali bilang kalau itu salahnya. Mang Iyus pun berkali-kali bilang kalau itu kelalaiannya. Ayah, dengan wajah teduhnya, hanya diam.
“Kenapa kamu ingin sekali nyetir mobil, Nas? Mau menyewakan mobil lagi dengan kamu sebagai supirnya? Ibu sudah buka warung kecil-kecilan, kamu sudah bekerja di tempatnya Bu Sinta. Ayah bersyukur dengan pendapatan kita yang cukup, meskipun harus membayar uang cuci darah.” Nada lirihnya menyayatku.
“Iya, Neng. Jangan memaksakan.”
“Nasha cuma mau nganterin ayah ke rumah sakit. Nasha mau nganterin ayah ke mana-mana. Biar Mang Iyus kerjaannya nggak keganggu lagi. Biar ayah bisa tenang di rumah sakitnya nggak nanyain angkot. Biar Nasha ngerasa lega karena bisa nganterin ayah.” Semua terdiam. Aku hanya bisa menunduk.
“Biar saya yang nganter bapak. Pekerjaan saya sudah dipindahkan dari Lampung ke sini.”
“Nasha nggak mau ngerepotin orang lagi. Nasha mau nganterin ayah kayak ayah nganterin Nasha ke mana-mana dulu.”

“Apalagi Mas Kus. Dari mana asalnya pelanggan setia jadi supir yang menyewakan mobil.” gerutuku dalam hati.

“Kalau aku jadi suamimu, masih termasuk merepotkan orang lain?”

Ternyata perkataan Sari benar! Diam-diam saat aku pulang kerja atau menyetir angkot, Mas Kus memperhatikan. Aku tidak ambil pusing saat itu karena aku fokus menyetir untuk ayah.

Sontak semua mata tertuju pada Mas Kus. Penuh tanya dan kekaguman. Seharusnya momen ini menjadi momen rasa bersalahku, tapi dia membalikkan semuanya dalam sedetik.

“Tidak, itu tidak termasuk merepotkan orang lain.” Ayahku menjawabnya dengan tersenyum. Aku melihat ke ayah dan melihat Mas Kus. Wajah murungku menjadi wajah bingung tak karuan. Ibu dari kejauhan hanya mengedipkan mata.

“Dek! Kok melamun? Ayah sudah beres. Yuk pulang!” Suara itu, kini semakin tidak asing. Membuyarkan lamunanku dan bergegas menyambutnya.
“Sudah, Mas? Yuk! Tapi nanti mampir dulu beli makanan buat ayah, nggak apa-apa?” Dia hanya tersenyum. Membuatku lega karena masa lalu itu membuatnya ada di depanku hari ini. Betul rupanya, rencana-Nya sungguh rahasia.

Cerpen Karangan: Hilda Hindasah
Facebook: Hilda Hindasah

Cerpen Mengantarmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanita Yang Terjebak Dalam Galeri

Oleh:
Delisa tak menyangka! Hanya karena ia telah mengunggah beberapa fotonya dalam setiap akun media sosialnya, maka malam malamnya berubah dan menjelma menjadi malam yang garang baginya. Di senja itu,

Only Time Will Tell

Oleh:
Kring kring kring suara sepeda baru yang ku alunkan berulang-ulang pagi itu. Haha entah apa yang telah terjadi sebelumnya, hingga semangat sekolahku meningkat 50%. karena sepeda baru? Atau kuciran

Kebodohan Ku

Oleh:
“kau masih menyukainya, benar kan?” Suara itu membuyarkan lamunanku. “mungkin. Tapi rasa kecewa ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan rasa suka itu.” jawabku dengan wajah datar. Gadis berambut

My Sweet Dreams

Oleh:
“Siapa dia? Siapa jodohku? Dengan siapa aku akan dinikahkan?” Tak seorangpun di tempat yang ramai ini menjawabnya. “Hai!! Lelaki tua! Aku ingin bertanya, dengan siapa aku akan menikah? Tolong

Pelukan terakhir

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-12. Aku tidak tahu apakah Kak Rey, Mama, ataupun Papa akan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Kriing… Kriiing… kriiing Jam yang terletak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mengantarmu”

  1. husain says:

    sukaaa, luv luvv~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *