Mengikuti Arus Kehidupan Di Desaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 23 April 2016

Aku hidup di sebuah desa, dimana rakyatnya bekerja keras demi hasil panen yang maksimal, namun aku hanya duduk manis di atas kursi berlapis perak berukir bunga mawar dan terletak di sebuah rumah megah dengan pilar berlapis emas. Aku tak mau tahu, setinggi apa kedudukan kedua orangtuaku di desa ini, mereka selalu memungut pajak secara tak wajar ke rakyat. Rakyat desa ini hanya bisa pasrah, mereka terkadang memberikan uang yang baru saja mereka dapat ke orangtuaku. Aku hanya bisa menyaksikan adegan itu, harta bukan segala-galanya, tetapi ikhlaslah yang membuatnya berguna. Terkadang aku hanya bisa merenungi nasibku, dimana aku diistimewakan penduduk desa, tetapi aku tak pernah menyerah, aku dan mereka tidak berbeda. Hidup bersama, di desa yang sama, tidak boleh ada perbedaan hanya karena tingkat perekonomian, martabat, dan harta.

“Ayahanda, bolehkah aku berjalan-jalan mengelilingi desa? Sudah lama aku tak menikmati indahnya desa ini.” Aku menghadap ayahanda dengan segala kerendahan hati.
“Silahkan, ananda. Pengawal akan menemanimu bepergian.” Ayahanda masih saja sibuk dengan sebuah buku yang dipegangnya.
“Tidak perlu, Ayahanda. Aku bisa sendiri, aku akan menjaga diri sendiri.”
“Baiklah, pulanglah sebelum senja.”

“Ada putri!” seru salah seorang pria setengah baya kala melihatku. Semua orang terdiam, kemudian menunduk padaku seolah-olah memberi hormat. Aku memandang mereka haru, inikah kesopanan mereka? Mereka tak pantas hidup di bawah naungan ayahanda dan ibundaku, mereka berhak hidup bebas.
“Terima kasih,” ucapku seraya membantu salah satu dari mereka untuk berdiri tegap kembali. Aku berpikir, bukan aku yang seharusnya mereka hormati, usiaku masih muda, dan tak pantas rasanya dihormati oleh yang lebih tua secara berlebihan.

Aku melanjutkan perjalananku, setiap kali aku melalui jalan berbeda, tetap saja penduduk desa menunduk padaku. Aku melepas pandanganku ke arah hamparan sawah luas nan hijau, di mana para petani bersenandung ria menyambut masa panen mereka. Kemudian aku berpikir, mereka susah payah menanam padi, menunggunya hingga kuning, dan barulah dipanen. Sedangkan aku hanya menerima hasil mereka, hanya tinggal makan hasil mereka, tanpa berpikir betapa sulitnya mereka menghasilkan beras. Aku melanjutkan perjalananku ke pinggiran desa. Penduduk di sana masih tinggal di rumah beratap daun, berdinding kayu dan beralas tanah. Mereka masih bisa tersenyum, dan menerima apa yang telah mereka miliki. Aku? Justru aku kelebihan harta, dimana dinding rumahku yang berlapis emas, beralaskan permadani, dimana toleransiku selama ini? Mereka mencari makan susah payah setiap hari, apakah aku sadar bahwa makananku sudah terlalu banyak, tidakkah ada inisiatif untuk membaginya pada mereka? Aku kembali ke rumahku dan segera menghadap ayahanda.

“Bibi Dage? Apakah Ayahanda sedang pergi?” tanyaku saat tak menemukan ayahanda.
“Iya, nona. Beliau pergi tetapi tak memberitahukan ke mana beliau pergi.”
“Terima kasih.” Aku mencari ibunda di kamar dan melihatnya sedang sibuk menulis sesuatu di atas selembar kertas.
“Ibunda,” panggilku merusak konsentrasinya.
“Ah, ya, ananda. Ada apa?” tanyanya dengan sabar.
“Ibunda tahu kehidupan di desa ini?” aku mengawali pembicaraan.
“Maksudmu pekerjaan penduduk desa?” tanya ibunda lagi.

“Apa Ibu tahu betapa sengsaranya mereka saat Ayahanda dan Ibunda menarik pajak semena-mena pada mereka? Apakah Ibunda dan Ayahanda pernah berpikir berasal dari mana makanan yang kita makan sehari-hari? Apakah Ibunda pernah berpikir betapa sulitnya kehidupan di pinggir desa?” tanyaku bertubi-tubi.
“Ananda, Ibunda tidak mengerti apa yang engkau katakan.”
“Apakah Ibunda dan Ayahanda pernah merasa bahwa pemerintah desa ini tidak adil?” tanyaku semakin menekan.
“Tentu saja tidak. Ibunda dan Ayahanda telah melaksanakan tugas dengan bijak dan adil. Dan sepertinya rakyat desa setuju saja,” ibunda ingin tahu maksudku lebih dalam.

“Ibunda dan Ayahanda memerintah desa dengan tidak adil dan tidak bijaksana. Jika adil, kenapa hanya kita yang diistimewakan? Kenapa mereka dicampakkan dan direndahkan? Jika bijaksana, kenapa pembagian kebutuhan pokok dan kebutuhan lain yang setiap minggu Ayahanda dan Ibunda bagikan tidak sampai ke pinggir desa? Dan kenapa hanya kita yang menikmati banyaknya harta? Apa itu adalah harta yang seharusnya kita berikan ke rakyat desa? Bukan kita yang menikmatinya?” aku menahan air mata. Sejujurnya, kehidupan desa ini akan jauh lebih tenteram jika ada yang mau mengakui bahwa pemerintah desa ini tidaklah adil.

“Ananda, dengarlah. Semua sudah ada yang mengatur, tetapi tidak hanya Ayahanda dan Ibunda, tetapi Tuhan. Ayahanda dan Ibunda sudah melakukan tugas dengan membagikan kebutuhan pokok bagi semua penduduk desa tanpa pandang bulu. Dan pengawal akan segera mengirim kebutuhan pokok ke pinggiran desa, itu pasti dilakukan, ananda. Ananda benar, memang kenapa hanya kita yang diistimewakan, karena mungkin kita bekerja keras untuk mencapai sebuah kesuksesan.”

“Pada mulanya, rakyat desa bermalas-malasan dalam bekerja, Ayahanda dan Ibunda mendorong mereka agar giat bekerja untuk mendapatkan hasil. Pajak yang diambil oleh Ayahanda memang seharusnya dibayar, karena banyak penduduk desa yang membayar pajak lewat tenggat waktu, Ayahanda harus membiasakan mereka agar disiplin. Makanan kita makan memang hasil dari desa, dan penduduk desa juga memakan hasil mereka. Hasil mereka tergantung dengan giat atau tidaknya mereka bekerja untuk mendapatkan hasil itu, jadi jika mereka tidak mendapat makanan, itu bukan kesalahan pemerintah desa, tetapi salah mereka sendiri yang tidak bersungguh-sungguh dalam bekerja. Semua tidak datang dengan sendirinya, ananda. Perlu kerja keras untuk mendapatkan semua itu.” Sambung ibunda mengakhiri ceritanya.

“Jadi begitu, ya, Bun. Aku salah, ya? Menuduh Ayahanda dan Ibunda tidak adil, padahal sebenarnya Ayahanda dan Ibunda seperti itu bermaksud baik.” Aku menyesal dan hampir menangis karena menuduh kedua orangtuaku. “Tidak salah, ananda tidak salah. Pemikiran ananda memang benar, tetapi perlu pembuktian atas pikiran itu.” Ibunda memelukku dengan kasih sayang. Dan benar saja, seiring berjalannya waktu, desaku menjadi makmur. Itu berkat pajak yang dibayar oleh penduduk desa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemerintah desa untuk membangun desa.

“Aku tidak mau salah sangka lagi.”

Cerpen Karangan: Ghina Syakila
Facebook: Ghina Syakila Pyromaniacs SonExo-l

Cerpen Mengikuti Arus Kehidupan Di Desaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kakek Zein Pelupa

Oleh:
Senja merupakan gadis kecil yang hanya tinggal dengan Kakeknya saja yaitu Kakek Zein. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di Desa Pelangi. Kakek Zein sudah sangat tua, oleh karena

Mawar Putih Untuk Thalita

Oleh:
Seperti biasa, setiap pagi keluarga ini berkumpul, sarapan bersama di meja makan. Mama tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada Thalita, “besok ada yang bertambah umur satu tahun nih.” Thalita hanya tersenyum.

Lilin 17 Tahun Ku (Part 1)

Oleh:
Dalam diamku aku selalu bertanya tentang suatu hal yang tak pernah terpecahkan dalam teka-teki hidupku. Terkadang aku merasa bahwa semua ini hanyalah sebuah kisah yang membuatku termenung dalam satu

Liburan di Yogyakarta

Oleh:
Sinar mentari telah cukup tinggi untuk dapat mengintip menembus jendela kamar Senna. Ia terbangun dari tidur dan bergegas bangkit dari ranjang. Raut muka bahagia terpancar menyapa liburan kali ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *