Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 5 April 2016

Suasana pagi nan indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan pantai yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Tak tertinggal, burung-burung berterbangan di sekitaran semenanjung pantai sembari bersiul mesra menyambut indahnya pagi. Dan dari ufuk timur, surya kembali terbit, dengan senyumannya yang sumbringah dan memberikan semangat baru kepada anak-anak di Pulau Rangsang dan juga masyarakat yang ada di Pulau tersebut.

Sementara itu, ada sebuah Sekolah Menengah Pertama yang berdiri dengan bangunannya yang sederhana di sekitaran rumah penduduk. Walau tampak sederhana, dan sangat tidak layak pakai, namun hal ini tidak pernah mengurungkan niat para anak-anak di Pulau Rangsang untuk dapat bersekolah. Mereka tetap semangat, untuk mencapai masa depan. Hal ini dikarenakan, adanya Ibu Aisyah, yang mana merupakan guru mereka satu-satunya di Sekolah ini.

“Assalamualaikum Anak-anak,” dengan wajahnya yang ramah, Ibu Aisyah menyapa mereka dengan ramah dan santun.
“Waalaikumsalam Bu,” jawab mereka semua dengan lantang dan semangatnya.
“Alhamdulillah, kita bisa bertemu lagi seperti biasanya pada pagi hari ini, bagaimana, apakah kalian semua telah paham dengan pelajaran matematika yang Ibu berikan semalam?” ibu Aisyah mencoba bertanya.

Tampak semuanya diam tanpa kata. Ibu Aisyah mengerti, keterbatasan teknologi, dan ilmu pengetahuanlah yang terkadang membuat anak-anak di Pulau Rangsang ketertinggalan dengan kemajuan zaman yang telah mengarah ke arah modern seperti sekarang ini. Namun apa daya, bagaimanapun juga, tugasnya sebagai seorang guru, haruslah berupaya untuk menjadikan anak didiknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, dan pada intinya, suatu hari nanti, dapat bersaing dengan anak-anak yang berada di Kota.

“Hem, baiklah Ibu tahu, mungkin Ibu akan mengajarkan kalian sekali lagi, agar tetap paham,”
“Bu?” tiba-tiba saja, salah satu seorang muridnya berdiri dan menghampiri Ibu Aisyah.
“Iya, Harri, ada apa?” Ibu Aisyah mencoba menghampirinya.
“Apakah benar, jika Ibu akan meninggalkan kami? dan kembali ke kota?”

Sungguh tidak pernah dibayangkan, Harri salah satu muridnya yang juga merupakan murid terpintar di kelas, telah mengetahui surat edaran dari Dinas Pendidikan yang telah menyuruhnya untuk meninggalkan Pulau Rangsang, dan berpindah ke Kota. “Ah, tidak Harri. Bagaimanapun, Ibu akan berusaha, agar kalian semua menjadi pintar. Ibu telah berniat, Ibu akan tetap di sini, sampai kalian sukses semua. Ibu percaya, kalian semua bisa bersaing dengan anak-anak yang di kota. Apalagi, bapak Kepala Desa, sudah meyakinkan kepada Ibu, untuk mendidik kalian di sini,” Ibu Aisyah mencoba meyakinkan murid-muridnya.

“Ibu Aisyah, jujur, kami semua sangat senang sekali, ketika kami tahu, Ibu mau mengajar dan memberikan ilmu bagi kami anak-anak Pulau Rangsang. Karena, Ibu kan tahu, jika kami ingin melanjutkan ke SMP, kami harus menyeberang dulu ke Pulau Merbau, dan itu sangatlah jauh, orangtua kami tidak akan pernah mengizinkan, dikarenakan biayanya yang cukup mahal. Tapi, semenjak ada Ibu di sini, kami jadi bisa merasakan melanjutkan sekolah kembali, ya walaupun di dalam ruang kelas yang sederhana ini, kami sudah senang kok,” Kemudian, Ibu Aisyah tersenyum kepada Harri, dan juga kepada murid-muridnya, “Anak-anak, Ibu janji, Ibu akan mencoba menghubungi teman-teman Ibu yang berada di kota, insya Allah mereka pasti akan mau membantu kita untuk merenovasi sekolah kita, dan kita harus buktikan, jika sekolah kita juga bisa bersaing dengan Sekolah Menengah Pertama lainnya yang ada di kota, kalian mengerti?” kata Ibu Aisyah sembari memberikan semangat kepada murid-muridnya.

Di siang harinya, tepatnya jam 13.00 WIB, Berjalanlah ibu Aisyah, menyusuri jalanan setapak yang tersusun dari tumpukan-tumpukan papan kecil untuk menuju ke rumahnya. “Memang, sungguh miris keadaan Pulau ini. Pulau yang indah, namun tidak semuanya mengetahuinya. Pulau yang sangat jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota. Andaikan semua orang tahu, jika masyarakat dan anak-anak yang berada di Pulau Rangsang ini, juga memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak yang ada di kota. Anak-anak Pulau Rangsang juga pintar, aku yakin, suatu hari, Pulau Rangsang dan anak-anak yang ada di sini, pasti akan berubah menjadi lebih maju,” kata Ibu Aisyah di dalam hatinya. Sesampai di rumah, tiba-tiba saja handphone-nya berdering, dan ternyata setelah dilihat, adalah telepon dari sahabatnya Jaka.

“Hai, Jaka, Assalamualaikum?” Ibu Aisyah mencoba menyapanya dengan ramah.
“Waalaikumsalam, Syah, kamu di mana? aku di Pulau Rangsang sekarang, aku sudah berada di depan SMP tempat kamu mengajar,”
“Kamu serius? baiklah, aku akan menemui kamu sekarang,”
Setibanya di depan SMP Rangsang, “Jaka, kamu apa kabar?”
“Aku baik Syah. Syah, kamu serius ngajar di tempat ini? Syah, kamu kan tahu, semua orang juga tahu, kamu itu lulusan terbaik ketika kuliah, kenapa sih kamu mau mengajar di tempat seperti ini? kenapa kamu tidak mengajar di kota saja denganku?”

“Jaka, bagiku, di manapun aku mengajar, itu adalah yang terbaik bagiku. Aku sudah nyaman di sini. Masyarakatnya yang sangat ramah dan terbuka menerimaku. Belum lagi, semangat belajar anak-anak di Pulau Rangsang ini sangat kuat Jak, kemudian juga aku sudah berjanji pada diriku, aku tidak akan pergi dari Pulau ini, sampai pada saatnya, anak-anak di Pulau Rangsang ini bisa sukses mengejar cita-cita mereka,”
“Aku bangga mempunyai sahabat seperti kamu Syah. Aku tahu, cita-cita kamu sangatlah mulia, kamu memang guru yang sejati. Oh, ya jika kamu memperbolehkan, aku punya jalan untuk mempermudah cita-cita kamu,”
“Oh ya? apakah itu Jak?”

Kemudian, Jaka memberikan sebuah undangan berupa Olimpiade Sains yang akan digelar di Kabupaten Meranti, tapatnya berada di Ibu Kota Selat Panjang, “Jak, makasih ya, kamu sudah mau jauh-jauh datang ke mari hanya untuk memberikan undangan Olimpiade ini, semoga aja, kami dapat memenangkannya, dan kemudian murid–muridku dapat lebih mengenal dunia luar dan tidak ketertinggalan lagi seperti sekarang ini,” tampak ibu Aisyah sangat senang dan lebih bersemangat. “Assalamualaikum Ibu Aisyah,” terlihat keempat sekawan yang juga merupakan murid kebanggaan ibu Aisyah di sekolah menghampiri ibu Aisyah dan Jaka. Mereka adalah Latif, Harri, Sofwan, dan Nur.

“Waalaikum salam. Kebetulan kalian semua di sini, ke mari Nak, ini ada undangan Olimpiade Sains buat kita, kalian mau membacanya?” kemudian ibu Aisyah memberikan undangan tersebut kepada keempat muridnya.
“Kalian semua sepertinya tampak pintar, saya harap kalian ikut ya di Olimpiade Sains ini?” Jaka menyapa mereka dengan ramah pula.
“Terima kasih ya Pak, untuk undangannya buat kami. Semoga, kami menang di dalam Olimpiade Sains ini, dengan begitu, kami bisa membanggakan untuk Ibu Aisyah, dan nantinya, semua orang bisa tahu keberadaan sekolah kami ini, khususnya keberadaan Pulau Rangsang,” jawab Nur dengan semangat pula.

Satu minggu kemudian, tepatnya hari Selasa, 13 Maret 2016,
“Bu Aisyah, gak menyangka ya, besok adalah keberangkatan kami untuk mengikuti Olimpiade Sains di Kabupaten,” kata Sofwan sembari tersenyum lebar.
“Iya. Dengan demikian, hari ini, kita harus tingkatkan pengetahuan kalian berempat ya, agar kalian nantinya bisa lanjut ke Olimpiade Sains tingkat Provinsi, hingga sampai Mancanegara, kalian mau kan?”

“Wah, Bu Aisyah, jangankan sampai mancanegara, kami di sini bisa pergi ke kota saja, sudah kebanggaan luar biasa untuk kami Bu,” kata Nur dengan senyumnya yang manis.
“Dan, insya Allah impian kalian akan terwujud, percayalah,” ibu Aisyah kembali memberi semangat.
“Tapi Bu, bagaimana dengan biaya kami untuk pergi ke kota? dan pasti anak-anak yang di kota lebih pintar daripada kami,”

Ibu Aisyah begitu terkejut, ketika mendengar pernyataan yang begitu menyayat hatinya, ya, mengenai biaya untuk pergi ke kota. Sungguh pernyataan Harri, begitu membingungkan untuknya, “Kalian tenang saja, yang terpenting tugas kalian saat ini adalah belajar dan kembali belajar untuk lomba Olimpiade Sains besok pagi. Kalian pasti bisa. Urusan biaya, biar itu adalah tugas Ibu sebagai guru kalian, mengerti?” kemudian ibu Aisyah memeluk keempat muridnya.

Di bawah pohon rindang, Harri, Sofwan, Nur dan Latif mencoba berdiskusi mengenai keberangkatan mereka besok pagi.
“Kita tidak boleh diam saja, kita harus membantu Ibu Aisyah mencari biaya untuk kita pergi besok ke kota?” Latif memulai pembicaraan. “Iya kamu benar, bagaimana, jika kita sekarang pergi ke pantai untuk menjaring ikan, kemudian kita jual ke pengepul ikan?” Nur memberikan usul.
“Kami akan membantu kalian,” tiba-tiba saja tampak terlihat teman-teman mereka yang juga merupakan murid dari ibu Aisyah ikut serta membantu mereka berempat mengumpulkan uang.

“Kami ingin, keempat teman kami, pergi dan meraih juara di Kota. Dengan begitu, suatu hari Pulau Rangsang, akan mencapai kemajuan dan banyak dikenal oleh orang-orang yang berada di luar sana. Pokoknya kita harus buktikan jika kita ini mampu, maka dari itu, kami ingin membantu kalian,”
“Terima kasih semuanya, pokoknya kami janji, aku, Nur, Latif, dan Sofwan akan berjuang memenangkan lomba Olimpiade ini,” Harri begitu menyambut dengan gembira bantuan dari temannya Haikal. Kemudian beramai-ramailah mereka semua menuju ke pantai untuk mencari ikan dan menjualnya ke pengepul.

Sementara di Kantor Kepala Desa, tampak ibu Aisyah mencoba berdiskusi kepada Pak Yunus, untuk membicarakan biaya transportasi ke Kota. “Maaf Bu Aisyah, untuk sekarang ini, khas Desa Rangsang, sangatlah defisit, jadi tidak bisa diberikan untuk keberangkatan mereka berempat ke Kota,” Ibu Asiyah kembali membujuk.
“Tapi Pak, saya janji, mereka berempat pasti akan mendapatkan juara dan akan membanggakan Desa Rangsang tentunya, percayalah Pak, anak-anak di Pulau Rangsang inilah, yang suatu hari akan memajukan Pulau Rangsang ke arah yang lebih maju,”
“Maaf Bu, tetap saja tidak bisa. Dan, saya mohon janganlah membawa anak-anak di Pulau Rangsang terlalu berangan-angan tinggi. Sungguh mustahil, jika mereka dapat bersaing dengan anak-anak yang di Kota,” Entah mengapa, pernyataan dari Pak Yunus, sangat begitu menyayat hati Bu Aisyah, tanpa berpikir panjang, ibu Aisyah pamit dan pergi dari Kantor Kepala Desa.

Keesokan paginya, menjelang keberangkatan ke Kota, “Bu, Aisyah, Ibu tidak usah khawatir mengenai pembiayaan ke kota, kami berempat telah berhasil mengumpulkan uang dari hasil kerja keras kami kemarin Bu, Ibu senang kan?” Nur mencoba memberikan penjelasan kepada ibu Aisyah.

“Ibu bangga dengan kalian semua. Semoga saja, dari kota nanti kita membawa kemenangan ya. Dan Ibu minta maaf, karena Ibu tidak mempunyai biaya untuk keberangkatan kalian ke kota, ditambah lagi, sudah 5 bulan ini, Ibu belum menerima gaji dari dinas pendidikan. Kalian tahu kan, Ibu hanya seorang guru honorer, selain berperan sebagai guru, Ibu juga sekaligus Kepala Sekolahnya, jadi Ibu minta maaf dengan kalian semua,” kata ibu Aisyah.
“Ibu, justru kami yang sangat berterima kasih dengan Ibu, Ibu sudah mengizinkan kami bersekolah di sini dengan gratis, Ibu juga telah membimbing kami hingga kami menjadi pintar, dan pastinya, kami jadi semakin tahu dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin meluas,”

Kemudian, Sofwan, Harri, Latif, dan Nur pun memeluk ibu Aisyah. Dan sampailah mereka di kota, dengan semangat, mereka berempat dengan giatnya mengerjakan soal-soal Olimpiade Sains. Hingga, dengan berjalannya waktu, akhirnya mereka berempat, dengan bimbingan ibu Aisyah berhasil memenangkan Olimpiade Sains tingkat Kabupaten, dan sampailah pula tingkat Provinsi Riau, dan kemudian, salah satu di antara mereka berempat, yaitu Nur, berhasil mengukir prestasi Olimpiade Sains hingga ke tingkat Internasional, dan berhasil mendapatkan medali perak ke Indonesia, khususnya ke Pulau Rangsang, Kabupaten Meranti, Riau.

3 Tahun kemudian. Sungguh, prestasi yang didapatkan oleh Nur, Latif, Harri, dan Sofwan, lambat laun, dapat membawa suatu perubahan yang besar bagi perkembangan Pulau Rangsang, hingga berubah menjadi sebuah Desa yang maju, dan banyak dikenal oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain itu, saat ini, berkat prestasi mereka pula, Pulau Rangsang telah berubah menjadi suatu tempat destinasi wisata dan budaya melayu. Dan yang paling utama adalah, SMP Rangsang, telah mengalami perkembangan dan perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Banyak, para orangtua, yang menyekolahkan anak-anaknya untuk bersekolah di SMP Rangsang, ditambah lagi, banyaknya para donatur yang memberikan sumbangan untuk kemajuan pembangungan SMP Rangsang. “Saya sendiri, begitu bangga menjadi anak Pulau Rangsang. Terima kasih kepada Ibu Aisyah yang telah memberikan motivasi terbaik untuk saya, dan juga teman-teman semua, sehingga dapat meraih kesuksesan seperti sekarang ini, dan dapat memajukan Pulau Rangsang yang kami cintai. Ibu Aisyah, sungguh, Ibu adalah pahlawan terbaik bagi kami selamanya,” kata Nur, di saat memberikan sambutan dalam acara peresmian gedung SMP Rangsang, yang sekarang berubah menjadi SMP Terpadu Rangsang.

SELESAI

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Facebook: Aisyah Nur Hanifah (Nur)
Assalamuallaikum
Nama Saya: Aisyah Nur Hanifah
Alamat: Pekanbaru, Riau
Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Riau

Cerpen Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tegar, Ikhlas dan Bersyukur

Oleh:
Aku adalah seorang pria yang boleh di bilang lugu, cupu dan kurang pergaulan, Semasa aku smk aku di kenal sebagai anak yang biasa saja tapi aku mempunyai mimpi dan

Wanita Di Ujung Senja

Oleh:
Ia masih ingat betul aroma asin yang saban hari ia lewati selepas berkerja. Dengan tergopoh-gopoh ia membawa sekarung beras yang ada di punggunnya melewati pantai yang selalu penuh dengan

Anak Penjaja Kue

Oleh:
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju warung jalanan dan ia pun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada

Abdoellah

Oleh:
Namaku Abdoellah, pemuda yatim dari Mengkasar yang nekat merantau ke negeri orang dan meninggalkan amakya di kampung sendirian. Gejolak jiwa mudaku yang ingin merantau terus meronta yang akhirnya membuat

Lestari

Oleh:
Masa kecil adalah masa yang menyenangkan, berbeda dengan diriku yang hidup di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah yang luas. Saat aku terlahir di dunia, sanak keluargaku sangat bahagia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *