Menjala Asa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 13 December 2016

Kom melihat dengan pandangan kosong sawah-sawah yang kini mulai keriput. Bongkahan-bongkahan bekas bajakan yang terinjak-injak kaki masih kentara. Memang disaat ini dapat dikatakan musim paceklik. Untuk mencari air saja harus antri di sumur Pak Petrus, KUPT. Yang jauhnya hampir setengah kilometer. Dicukilnya bongkahan tanah liat kecil, dilemparkan ke sungai Maro. “Plung…” membentuk pusaran berlingkar. Seperti hidup kita yang berlingkar-lingkar.
Kali ini mata Kom agak nanar ketika belang dari kota hendak ke pelabuhan dimana kini ia berada. Keinginan dan harapannya kosong. Ibunya yang disayangi, Mak Parti toh tak ada di belang.

Entahlah sampai kapan Kom menunggu di pelabuhan itu. Bila azan Magrib berkumandang barulah ia beranjak. Sudah berapa banyak orang yang telah menasehati dan membujuk si Kom meninggalkan kebiasaan menunggu Maknya. Padahal yang pasti, Emaknya sudah dipanggil Tuhan lima bulan yang lalu di rumah sakit. Dan ditempatkan di ruangan khusus terisolasi dengan orang lain. Kata kebanyakan orang, Mak Parti terjangkit penyakit kutukan Tuhan.

Lima tahun yang lalu, dia bersama Emaknya, Pak Sregep, mencoba menggapai masa depan di negeri paling timur. Dengan satu tekad memperbaiki taraf hidup. Rumah, tanah telah mereka miliki.
Kontras di desanya dulu, Pak Sregep hanya menjadi buruh tani; rumah pun masih numpang di mertuanya. Pak Sregep dengan membanting tulang mengolah tanah barunya. Cangkul tak henti-hentiya mencungkil bongkahan tanah. Pelan tapi pasti. Dan terbentuklah sawah yang siap disemai padi.
Bila mentari mulai garang, disandarkan tubuhnya yang legam di bawah pohon mangga nan rindang. Dari kejauhan dengan senyumnya yang khas, Mak Parti dan Si gendhuk Kom membawa makanan, nasi, ikan asin, sambal terasi, sayur lodeh, terong serta kacang panjang. Canda ria begitu kental, ah damainya mereka.

Tetapi Tuhan mempunyai rencana lain, Pak Sregep, disuatu senja tiba-tiba dari mulutnya keluar darah. Seketika itu tubuhnya kaku. Mata pun terbelalak.
Dan akhirnya terkatup selamanya. Ular berbisa telah mematuk kakinya, tatkala Pak Sregep menyiangi rumput di sela-sela jagung yang baru berumur tiga minggu. Mak Parti, Si Kom hanya bisa memandangi tubuh Pak Sregep dengan mata sayu dan sembab. Seakan terkuras air matanya.
“Duh Gusti Allah… kuatkan iman hamba… Gusti…” ratap Mak Parti. Lalu tak sadarkan diri. Berulang-ulang.
Praktis sekarang Mak Parti menjadi tulang punggung keluarga. Kini mencangkul pun dilakoni. Bagaimanapun secara kodrati dia tetap wanita, sehingga kerja kerasnya tidaklah sebanding dengan hasilnya.

“Gampang, pokoknya Mbak Parti oke, besok lusa kita berangkat sama-sama. Bosku baik kok,” pinta si Dul disuatu hari sambil menghisap gudang garam surya yang tinggal separoh. “Dari pada disini apa yang mbak Parti harapkan. Kesengsaraan, kelaparan, kemelaratan. Apa nggak kasihan si Kom yang imut-imut itu, “dalihnya, dengan nanar matanya menatap liar si Kom yang duduk di kursi bambu.
“Kerja apa itu Dik Dul?,” tanyanya sambil membetulkan sanggulnya hampir terlepas. “Pokoknya Mbak Parti ke kota dulu. Pasti Mbak tahu sendiri. Yang jelas kerjanya ringan, tetapi gajinya gede,” jawabnya. Kerling nakal si Dul menatap Kom.
“Kalau nanti Mbak tidak betah, gampang nanti aku yang antar pulang ke kampung. Beres-beres,” si Dul mengeluarkan sepuluh lembar seratus ribu. Digenggamkan di tangan Parti.
“Tidak usah Dik Dul,” tolaknya halus. “Sudahlah mbak, saya ikhlas kok. Oya mbak jangan sampai lupa besok lusa Mbak Parti saya jemput” pintanya. Dan lagi matanya menatap liar si Kom yang umurnya belum akil balik itu.

Satu minggu, satu bulan, satu tahun tak ada kabar berita tentang emaknya. si Kom sabar menunggu dan menunggu. Hanya ada selentingan kabar burung dari Pak Giman, sang tukang kelontong yang acap kali hilir mudik ke kota, kalau mak Parti sudah berbeda seperti yang dahulu.
Mak Parti sudah menanggalkan atribut pedesaannya. Dari pakaian ataupun gayanya. Dahulu waktu keluar rumah Mak Parti selalu memakai kebaya yang membuat pria mengagumi dan meliriknya. Maklum Mak Parti dulunya bungan desa.
Dan beruntunglah Pak Sregep dapat menyuntingnya. Wajarlah diumurnya yang dua puluh limahan Mak Parti masih tetap ayu. Waktu berubah, pakaian Mak Parti sekarang ala Madona yang serba terbuka yang membuat lelaki terbelalak matanya. Dan ingin mendekati dan merayunya. Orang bilang Mak Parti sekarang menjadi Mbak-Mbak.

“Sudahlah Kom kamu disini aja. Sabar, sabar! Paling lama satu minggu mamakmu akan datang,” ucap si Dul, ketika Kom berhasil dibujuk ke kota. Satu minggu berlalu mamaknya belum juga nongol.
Kom di rumah konglomerat itu, segala keperluannya dicukupi. Kerjanya hanya menunggu, makan dan nonton televisi. Sekarang sudah memasuki bulan keenam si Kom menunggu di rumah Pak Gendut.

Di malam yang sepi pintu kamar Kom diketuk. Alangkah terkesiapnya Kom menatap wajah yang mengetuk pintu itu adalah Pak Gendut dengan tatapan liar dan buas, siap memangsa.
“Jangan Tuan!” rengek Si Kom yang tak berdaya. Akhirnya Kom menjadi tumbal pemerk*saan Pak Gendut. Perbuatan yang tak bermoral itu dilakukan berulang kali. Entahlah sudah berapa si Kom-si Kom lain yang sudah menjadi korban Pak Gendut yang senangnya mencari mangsa, daun muda.

Hari, minggu, bulan, tahun terlewati. Kom hanya bisa menangis dan meratap. Kom ingin keluar dari rumah laknat itu. Kom ingin lepas dari belaian buaya darat yang saban hari berganti. Tapi… rumah yang berpagar tinggi, centeng yang angkuh dan galak selalu mengintai.

Tak henti-hentinya dimalam buta, Kom selalu menjala doa, agar bisa lepas, menghirup udara bebas. Malam Jum’at Kom merayap, dari lorong ke lorong. Kom kaget ditemukan banyak orang tergeletak, muntah-muntah, mulutnya berbusa. Ada yang sekarat, ada yang diam. Di sekelilingnya, ada vodka, spiritus, minuman suplemen.
Dan pintu rumah itu terbuka, “Al hamdulillah…” ucapnya lirih. Dengan langkah gontai Kom menyusuri jalan. Lapar, haus telah menyergap. Ditelusuri jalan untuk mencari sesuap nasi dari dermawan.

“Brakk!” Kom terpental agak jauh. Mobil metalik yang melaju kencang menyerempet Kom. Konon sang pengemudi anak bos, semakin kencang mengemudikan mobilnya. Sama sekali tak menghiraukan korbannya. Orang yang berlalu lalang hanya melihat saja.
“Ih… kasihan!” itu saja meluncur dari bibir mereka. Hanya sebatas kata. Mereka tahu siapa korbannya, orang hina, orang gembel, orang gelandangan. Mereka tidak ambil pusing. Walaupun demikian, ada saja orang-orang yang berhati emas. Mas-mas tukang sayur yang dipelopori oleh Senin menolong Kom.
“Kom! Kom!,” panggil Senin dengan suara parau. Mata Kom perlahan-lahan terbuka. “Kang… Se..nin,” getar suaranya terputus-putus. “Maafkan Kom… Kang,” lanjutnya. Lalu matanya terkatup.
“Kom! Kom!,” isak Senin sambil mendekap tubuh Kom. Tubuh kekasihnya yang sudah beberapa tahun dicarinya. Untunglah ambulan segera datang. Kom dilarikan ke rumah sakit. Hampir dua minggu Kom terbaring di UGD. Barulah si Kom bisa siuman.

“Segala puji bagi-Mu ya Allah,” syukur Senin. Dia bersyukur dalam rentang satu setengah bulan si Kom sembilan puluh persen dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.
“Maaf Kang Senin… Kom sudah tidak suci lagi. Kom banyak berbuat salah. Amatlah tidak pantas jika Kom mendampingi Kang Senin nanti,” ucapnya ketika si Kom dan Senin sedang berkemas dari rumah sakit.
“Sudahlah Kom! Kemarin ya kemarin, besok adalah besok. Kang Senin sendiri bukalah malaikat. Akang juga banyak dosa. Tetapi Kang Senin yakin Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun. Yakinlah Dik!,” ditatap rona mata Kom yang teduh.
“Mau kan Dik Kom mendampingi Akang? Dan mari kita kembali ke desa. Kasihan sawah-sawah yang disana sedang merana, ingin dibasahi oleh keringat kita,” ajak Senin dengan bijak.
Kom hanya tertunduk malu, lalu mengangguk. Dan tersenyum yang teramat manis. Semanis harapan mereka berdua.

“Tuk: Bu Dewi, Staf Guru, Staf TU, Serta Anak-Anak SMANSA”

Merauke, 1 Mei 2010

Catatan:
Belang: Perahu motor

Cerpen Karangan: Khomsin
Guru SMAN 1 Merauke Papua
Jln Biak Merauke Papua

Cerpen Menjala Asa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dokter Yang Datang Terlambat

Oleh:
Ruang tunggu kecil yang terletak di bagian dalam sebuah apotik itu dipenuhi pasien. Mereka duduk di kursi-kursi dan memegang selembar kecil kertas yang bertuliskan nomor antrian dengan wajah gusar.

Wanita Berkerudung Nasionalis (Part 2)

Oleh:
Angin malam membelah keheningan di bawah siraman cahaya rembulan, semilir menikmati keanggunan yang tersuguhkan, benda-benda yang diam membisu seakan tersihir oleh keagungan Tuhan yang menciptakan purnama mengambang, seakan berisyarat

Bintang

Oleh:
Sepuluh tahun sudah aku tidak ditemani bintang sahabatku, dia adalah sosok yang baik, serta peduli dengan keadaan di sekelilingnya, seperti namanya bintang memang selalu menyinari hati yang dirundung kelam.

Sahabat Slamanya

Oleh:
Senja yang dulu indah sekarang seakan tak berarti lagi pada seorang gadis yang sedang merenung karena telah kehilangan sahabat-sahabatnya yang slalu menemani suka maupun duka. Dulu sewaktu aku duduk

Pangkuan Annisa

Oleh:
Mobil angkutan umum yang berjurusan Taman mini – kampung rambutan berjalan lamban, agaknya hari ini belum dapat banyak uang setoran. Sopirnya begitu teliti melihat tiap sisi jalan, tiap gang,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *