Mental Kuli

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 17 May 2017

Lampu merah tanda berhenti, aku menyeberang saat semua kendaraan mulai berhenti, berjalan di trotoar menuju ibu-ibu yang membawa seabrek koran, “beli satu bu, berapa?” tanyaku sambil milih-milih koran yang akan kubeli, “tiga ribu aja mbak”, satu bandel koran di tanganku kumasukkan dalam tas, aku kembali menyeberangi jalan, kembali pulang ke kos dan mulai membuka lembar demi lembar koran yang kubeli tadi, tujuan utamaku pada lembar loker, dengan teliti aku membaca satu persatu lowongan pekerjaan yang tercantum aku lingkari yang sekiranya menerima lamaranku, beberapa nomor yang tercantum sudah aku hubungi, karena aku termasuk orang yang malas aku tidak tertarik dengan persyaratan lamaran yang terlalu ribet lagipula jadwal kuliahku masih padat aku hanya mencari pekerjaan paruh waktu yang tidak memerlukan lamaran resmi atau pekerjaan yang mengikat. Satu perusahaan yang meresponku dengan cepat, sesegera mungkin aku mencari tahu profil tentang perusahaan ini.

“Ahhh… berapa jauh lagi aku harus berjalan, alamat yang berada di tanganku tak kunjung kutemui, ku bertanya pada tukang bangunan yang sedang istirahat, di mana letak perusahaan yang kucari, “lurus terus saja mengikuti jalan ini, nanti akan ketemu”. Baiklah mendengar kata “nanti akan ketemu” aku terus saja berjalan, akhirnya sampai, papan nama perusahaan terpampang, aku melihat perusahaan yang kutuju lebih tepatnya seperti kios yang dijadikan seperti kantor,

“selamat siang ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang bapak yang berpakaian rapi menyambutku, aku duduk di hadapannya seolah sedang wawancara, “nama saya Riri dewisa, status mahasiswa, berniat melamar kerja di perusahaan ini, saya mendapat informasi dari koran, dan langsung menghubungi nomor yang tercantum, lalu saya disuruh datang langsung ke alamat ini”, si bapak kemudian menjelaskan profil perusahaannya, dengan sesekali menanyakan pertanyaan padaku. Kemudian aku disuruh membayar sepuluh ribu rupiah untuk administrasi, perasaan sudah aneh belum apa-apa suruh bayar, si bapak mengarahkanku untuk masuk ke dalam ruangan menghadap seseorang, terlihat bapak-bapak berpakaian rapi duduk menantiku, tanpa basa-basi ia menjelaskan sistem kerjanya, aku mendengarkan dengan seksama, si bapak terus saja mengoceh sampai menceritakan kisah karyawan-karyawan yang sudah ikut bergabung dengannya, aku tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala seolah mengerti. Di akhir cerita si bapak menawarkanku beberapa pilihan untuk bergabung dengannya dengan sejumlah uang yang harus aku bayarkan, tanpa pikir panjang aku menolak untuk membayar saat itu juga aku beralasan belum pegang uang dan masih pikir-pikir dulu apakah aku yakin akan bergabung atau tidak, dengan senyuman ramah tamah aku permisi dengan sopan, sesampainya di luar aku mengoceh tiada henti, berbagai hujatan aku lontarkan untuk perusahaan itu, bagaimana bisa ada pekerjaan seperti itu, aku harus membayarkan sejumlah uang untuk bergabung kemudian pekerjaanku hanya mencari orang untuk aku mintai uangnya, dan menyuruhnya mencari orang lagi untuk membayarnya, pekerjaan macam apa itu, pembohong, mana ada pekerjaan yang penghasilannya tidak jelas seperti itu, apapun itu meski orang-orang di sana sukses dan berjaya, aku tidak tertarik mengenal pekerjaan semacam itu, sudah cukup sekali itu bagiku.

Sesampai di kos kurebahkan tubuhku, merenggangkan otot-otot, “oohhh capek sekali” wajahku lesu melihat kakiku lecet akibat sepatu yang aku pakai untuk berjalan jarak jauh. “aku harus mencari pekerjaan yang pasti-pasti saja, tidak perlu di perusahaan besar atau apalah yang tidak jelas” kata-kata dalam hati membuatku semangat mencari pekerjaan lagi, kakiku sudah kuplester aku sudah sanggup berjalan lagi, pekerjaan sekeras apapun akan kuterima asal jelas dan pasti, dari kejauhan sudah terlihat tulisan butuh karyawan, aku melihat dengan seksama, yah sudah jelas itu tempat laundry, kakiku melangkah mendekati tempat itu, nampak seorang wanita sedang sibuk menjemur beberapa pakaian.

“permisi.. mau tanya disini sedang membutuhkan karyawan betul?”, “oh iya dek, mbak lagi butuh karyawan untuk bantu pekerjaan mbak di sini, adek minat?” suaranya ceria menyambutku dengan semangat, “iya mbak kira-kira syaratnya apa ya agar saya bisa kerja di sini?”. Tidak perlu syarat yang muluk-muluk, aku sudah diterima bekerja, jadwal kerjaku mulai jam empat sore sampai jam sembilan malam, pekerjaanku menyetrika baju dan merapikannya ke dalam plastik. Jangan dibayangkan bagaimana pekerjaan yang kulakukan untuk ukuranku sebagai mahasiswa baru yang kemarin masih si setrikakan seragamnya oleh ibuku, aku tidak terlalu berpengalaman soal menyetrika baju, banyaknya model baju membuatku harus berfikir keras bagaimana menyetrikanya agar menjadi lipatan baju yang rapi, model baju wanita zaman sekarang memang super canggih, panjang yang tidak sama, kain yang susah disetrika, model berumbai-rumbai dan lain sebagainya.

Hari demi hari kulalui di tempat kerja, tenaga ekstra yang harus kusiapkan untuk menghadapi baju-baju itu membuat seluruh badanku penuh keringat, aahh itung-itung mengurangi lemak pikirku, sebelumnya tak pernah terpikir olehku sampai begininya aku mencari uang demi sesuatu, sederhana saja alasan mengapa aku bekerja paruh waktu disela-sela jadwal kuliahku, bukan berarti uang bulananku kurang, tetapi aku butuh uang lebih untuk aku kumpulkan, untuk aku tabung, di usiaku sekarang tentu banyak keinginan yang ingin kucapai, tetapi dalam hatiku aku tidak mau terus-terusan meminta pada orangtua, aku ingin menghasilkan sesuatu dari kerja kerasku sendiri, dari keringatku sendiri, dari usahaku sendiri, dengan begitu aku mempunyai kepuasan tersendiri atas pencapaianku, aku tidak merasa gengsi apalagi malu, toh yang aku kerjakan bukanlah kriminalitas, halal dan jelas, aku mendapat gaji, aku mendapat pengalaman, dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan dengan gaji yang kuterima, sengaja aku menggunakan mental kuli ini untuk mengawali karirku, karena aku masih dini dalam pengalaman kerja kantoran, aku masih malas bekerja menggunakan keahlianku, selepas pengalaman ini, aku akan menggunakan mental leader untuk menjalankan pekerjaanku selanjutnya, seterusnya sampai aku akan mencapai tingkat kesuksessanku, dan meninggalkan mental kuli yang tertancap dalam benakku.

Cerpen Karangan: Dwy Riskhi
Blog: riskhici.blogspot.co.id

Cerpen Mental Kuli merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Silatku

Oleh:
Burung berkicau matahari memamerkan keindahannya, aku bergegas menuju ke sekolah. Istirahat pun tiba kakak kelas osis sosialisasi di kelas kelas tentang memilih ekstrakulikuler apa yang diminati tidak ketinggalan kelasku

Hujan Dalam Satu Harapan

Oleh:
Rintikan hujan masih membasahi bumi Jemonistan, bau tanah makin menusuk indra penciuman manusia. Sambil merebah asa di iringi temaram langit kelam di ujung angkasa, seorang diri berjalan menepaki arah

Lembaran Baru Dalam Rahasia Hati

Oleh:
Malam bertabur bintang. Beralaskan atap, berselimutkan langit, dan dengan bantal tangan menyilang aku menikmati suasana malam ini. Aku tidak sendiri karena Tramp selalu ada di sampingku. Ya, Tramp adalah

Harsh World

Oleh:
Pagi ini aku terbangun seperti biasa, aku membuka tirai jendela dan melihat keluar “Huufh!! Sepertinya cuaca hari ini bagus” “Kakak cepat bangun, makanan sudah siap” terdengar suara gadis memanggilku

Harapan Baru

Oleh:
“satu.. dua… tiga..” aku menghitung detik jam dinding kamarku sambil terbaring lemah di tempat tidurku. Semenjak aku mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu, aku mengalami penderitaan yang amat berat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *