Mentari Pun Masih Tetap Tersenyum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Pagi ini langit bergelayut cuaca yang sangat cerah, dengan cahaya matahari menatap tajam ke arah bumi. Sinarnya yang tajam menyengat lembut menyapa tubuh tubuh manusia yang berkerumun di pinggir-pinggir jalan. Kerumunan tersebut membentuk suatu alur semerawut yang memenuhi sisi-sisi jalan. Mereka memenuhi sisi-sisi jalan dengan mengendarai sepeda motor dengan beraneka ragam atribut yang dikenakan oleh mereka.

Entah apa arti atribut tersebut bagi mereka, namun yang pasti atribut tersebutlah yang membentuk mereka berkumpul menjadi satu memenuhi sisi-sisi jalan tempat ini. Atribut tersebutlah yang menyatukan mereka menjadi satu komando, satu tujuan, walaupun banyak di antara mereka sebelumnya tidak merasa bergabung dalam organisasi tersebut. Namun karena hal yang mereka tuntut sekarang menyangkut kesejahteraan mereka di perusahaan tempat mereka bekerja, mau tidak mau mereka pun ikut berkumpul di tempat ini.

“Buruh bersatu tak mungkin dikalahkan, rakyat bersatu menuntut kesejahteraan,” hal tersebut yang didengung-dengungkan Wagimin kali ini dalam demonya yang pertama kali. Wagimin kali ini ikut rombongan demo buruh menuju wakil rakyat provinsi. Dengan peluh yang mengucur dan tangan yang basah oleh keringat membasahi tangan yang memegang gas motor, Wagimin pun dengan penuh semangat mengendarai sepeda motornya mengikuti arah motor teman-teman yang berada di depannya.

“Sudah Pak, gaji Bapak kan udah cukup untuk kita sekeluarga. Jangan ikut-ikutan demolah. Bapak tidak berpikir kalau setiap karyawan menuntut gaji dua kali lipat, apakah perusahaan Bapak sanggup menggaji dengan jumlah begitu. Jangan-jangan nanti ada pengurangan karyawan dan perusahaan lebih baik menggunakan tenaga mesin dibandingkan tenaga manusia, mikir dong Pak,” terngiang perkataan istrinya pagi itu ketika ia akan berangkat untuk berdemo.
“Kamu perempuan diam saja!” bentak Pak Wagiman. “Tahu apa kamu tentang perusahaan, gaji naik kamu juga yang senang dan menikmati. Diam saja.. urus itu anak kamu,” sambung pak Wagiman sambil menatap melotot ke arah istrinya.

“Bapak harus sadar diri, punya keahlian apa? Sudah diterima bekerja di pabrik sudah syukur Alhamdulillah, tapi kalau begini terus. Pengusaha bisa berpikir dua kali untuk menaikkan gaji karyawan yang tidak ada keahlian..”
“Kamu bisa diam tidak,” bentak pak Wagiman memotong kalimat yang ke luar dari mulut istrinya. Merasa sudah menampakkan gelagat yang tidak baik, istri Wagiman pun tidak meneruskan perang mulut mereka. Ia pun berlalu ke kamar Anto, untuk membangunkannya.

Tidak lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Di sana sudah berkumpul ratusan orang memakai atribut yang sama. Tujuan mereka satu adalah untuk menggugat anggota dewan rakyat mengumumkan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) maksimal dua kali lipat dari UMK yang sekarang mereka peroleh. Dengan alasan bahwa kenaikan harga bahan pokok, harga upah yang masih kecil dibandingkan Negara lain, serta dengan alasan kesejahteraan buruh masih jauh dari harapan. Mereka pun meneriakkan yel-yel, bernyanyi serta berorasi dengan penuh semangat.

“Man, kamu yakin permintaan gaji ini akan disetujui oleh pemerintah,” teriak teman Wagiman yang sedari tadi dibonceng bermotor.
“Sangat yakin Mo,” seru Wagiman mantap.
“Kalau gajiku naik dua kali lipat, aku akan mengasuransikan kesehatan dan pendidikan anakku Mo,” sambung Wagiman sambil menatap lurus ke arah orator yang menyerukan bahwa, “selama ini Negara Indonesia belum merdeka sama sekali, kita dijajah oleh orang-orang yang mengaku pengusaha, dijajah tenaga serta pikiran, untuk supaya mereka mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat namun memberikan gaji kepada buruhnya yang sangat minim sekali. Sedangkan pemerintah kita sama sekali menutup mata akan keadaan ini dikarenakan pemerintah kita sibuk untuk memperkaya diri mereka sendiri.”

“Para pengusaha yang notabene kebanyakan orang-orang asing yang mempunyai modal besar menyuap para pejabat dan pemerintah kita dengan peraturan-peraturan yang menguntungkan para pengusaha. Apa yang didapat para buruh? Jaminan Sosial Tenaga Kerja? Jaminan Kesehatan? Apakah itu cukup? Tidak cukup saudara-saudara.. jaminan tersebut pada kenyataannya selalu dipersulit dengan birokrasi yang berbelit-belit, tidak pernah bisa mengcover para buruh dan keluarga, pantaskah kalau kita meminta lebih dari para pengusaha yang sudah mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat?”

Para buruh pun berteriak histeris dengan penuh semangat, menjawab orasi yang penuh berapi-api tersebut. Banyak juga yang menghujat para pejabat-pejabat. Orasi tersebut ditutup dengan lagu-lagu perjuangan yang menggugah semangat para pendemo. Tidak terasa sang mentari yang merekam setiap kegiatan yang ada di depan matanya pun menampilkan sorot sinarnya yang lebih terang dan panas. Namun sang angin mendinginkan suasana panas tersebut dengan membawa angin bulan November yang penuh dengan nuansa sejuk.

Hal tersebut menambah suasana yang lebih tenteram di hati para buruh. Lebih tenteram seperti gunung es yang meleleh di tengah lautan biru nan luas. Terlebih lebih keinginan pihak buruh mendapatkan tanggapan positif dari pihak pemerintah dengan menjanjikan negoisasi dengan para pengusaha dan akan mengumumkan segera perubahan UMK secepatnya. Para buruh pun bubar membawa secercah harapan yang tumbuh di hati masing-masing kembali ke perususahaannya masing-masing. Tidak beberapa lama pun pemerintah daerah memutuskan untuk menaikkan UMK dua kali lipat sesuai dengan permintaan para buruh. Para buruh pun bernyanyi riang dan menanti aplikasi keuputusan tersebut di perusahaan masing-masing.

Wagiman pun bernyanyi riang, impian untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak pun menghias di depan mata. Dengan gaji begitu besar, Wagiman dapat memenuhi harapannya untuk memperbaiki rumah, mengalokasikan gajinya untuk tabungan serta mengasuransikan kesehatan untuk keluarganya serta asuransi pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi pada anaknya. Semangat kerjanya pun meluap tinggi sekali, harapannya untuk berjuang pada perusahaan pun tinggi sekali. Seperti pagi ini, Wagiman pun berangkat pagi-pagi sekali, banyak yang ia sudah pikirkan apa yang harus ia lakukan di tempat kerjanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja sekuat tenaga.

Belum sampai di pintu gerbang perusahaan tempat ia berkerja, ia melihat beberapa truk polisi dan tentara diparkir di pinggir jalan menutupi pagar tempat perusahaannya bekerja. Beberapa perkerja yang ia kenal bergerombol di pintu masuk berteriak marah dan memaki. Sementara itu di dalam pagar perusahaannya pun tampak bergerombol polisi dan tentara bertameng siap siaga. Salah satu teman akrabnya pun tampak terlihat sangat marah. Ia pun mendekati, tampak dari raut wajahnya menampilkan kekesalan yang sangat namun berbaur jadi satu dengan kesedihan yang mendalam tampak dari sorot mata temannya. Sorot mata yang tidak lagi tajam memandang namun sayu penuh kesedihan dengan menahan air mata yang sulit untuk dikeluarkan.

“Kenapa Mo?” Tanya Wagiman dengan penuh selidik dan penasaran menatap temannya yang tidak seperti biasanya.

Malmo pun terdiam dan hanya menatap temannya dengan kesedihan yang mendalam dan tidak pernah bisa ke luar. Ia hanya menyodorkan dua carik kertas kepada Wagiman. Ia pun membaca kertas tersebut, tampak yang menarik perhatian pertamanya kop surat yang bertanda logo perusahaannya serta tulisan “DAFTAR KARYAWAN YANG DIRUMAHKAN” kata-kata tersebut membuat Wagiman berdebar kencang. Tidak sadar tangannya mengeram keras memegang ujung-ujung kertas, matanya pun didekatkan ke list karyawan yang ada di depannya dengan mempelototi satu per satu nama yang ada.

Tertera nama Wagiman, dengan Nomor Induk Karyawan yang persis sama dengan apa yang telah dihapalnya selama 7 tahun. Ia pun kembali memastikan berulang-ulang dan nama tersebut tidak pernah pindah ataupun berubah, begitu nomor induk karyawan masih tetap sama seperti yang ia baca pertama kali. Ia pun terlemas dan melepas tatapan matanya beralih ke muka temannya Malmo. Tangannya masih tetap meremas kertas yang tadi dibacanya, ia pun menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, “Tidak mungkin, tidak mungkin dan ini tidak adil, tidak adil dan sangat tidak adil,” berkali-kali gumaman tersebut diulang-ulang sambil matanya menatap nanar setiap orang yang ada di sana serta beralih pandangannya menatap aparat serta gedung pabrik yang sudah ia tempati selama 7 tahun bekerja di tempat tersebut.

Tidak ada yang dapat ia lakukan, tidak ada yang harus ia teriakkan, tidak ada yang ia perjuangkan, lambat laun telinganya mendengar dengungan beberapa karyawan yang membaca keras isi surat tersebut “Perusahaan secara keuangan tidak mampu untuk membayar gaji karyawan, oleh karena itu ada beberapa karyawan yang dengan hormat dirumahkan. Atas pengabdiannya selama ini perusahaan dengan sangat hormat berterima kasih atas hal tersebut. Untuk masalah ganti rugi akan kembali dibicarakan dan diatur oleh perusahaan dengan segera. Demikian dan terima kasih.”

Tidak beberapa lama perusahaan tempat Wagiman berkerja pun ditutup secara resmi. Perusahaan tersebut dinyatakan pindah dan memutuskan untuk membuka perusahaan produksinya di Bangladesh. Mungkin rakyat Bangladesh masih banyak yang bisa dibodohi dan diperas keringat serta pikirannya, bukannya hal yang terpenting bagi manusia adalah bisa makan dan hidup berkecukupan walaupun jauh dari mewah, “Mudah-mudahan bukan karena alasan tersebut, tapi siapa yang tahu.”

Namun yang pasti mentari tetap menyorotkan sinarnya ke bumi ini dan selalu menanti sujud syukur bagi para manusia yang masih menikmati sinarnya yang indah setiap hari. Mentari masih tetap tersenyum di saat sang angin meniupkan wanginya harum bunga yang ia bawa dari lembah serta pegunungan. Mentari masih tetap tersenyum di saat sang angin meniupkan anginnya yang paling keras sekali pun menumbangkan pepohonan yang ada di tepi-tepi laut, pinggir jurang serta lembah terdalam pun. Paling pasti pun bersyukur merupakan salah satu sujud dan perwujudan bagi manusia untuk tidak melupakan nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Mentari Pun Masih Tetap Tersenyum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan, Kenyataan Dan Waktu

Oleh:
“Teruslah berjuang meskipun harus mengorbankan tangan dan kakimu, berjuanglah, hadapilah, sampai kau mendapatkannya.” Itu adalah kata-kata yang didapat Risceal dari film yang baru saja ditontonnya. Setelah mendengarnya Risceal langsung

Setangkai Bunga Lusuh

Oleh:
Ingatkah kamu, saat-saat itu? Saat di mana rinai-rinai hujan turun membasuh bumi di pertengahan bulan Januari. Saat di mana kamu dihampiri oleh seorang lelaki yang membawa setangkai bunga untukmu.

Ardi Dan Mikail

Oleh:
Matahari mulai beralih ke barat. Sinarnya terlihat memudar namun tetap indah memancarkan sinar pancarona. Seorang lelaki paruh baya terlihat lunglai tanpa daya, berjalan menyisiri trotoar jalan yang nampak kotor

Gubuk Tua

Oleh:
Pagi ini, aku dan Soni ada janji mau ke hutan. Aku dan dia mendapatkan tugas kelompok dari dosen di kampus, mengobservasi hewan-hewan yang ada di hutan. Pepohonan yang rindang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *