Menyapa Heningmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 August 2013

Hujan yang mengguyur kota kecil ini yang membuat perasaan gembira pada anak-anak yang menjadikan setiap hujan merupakan balasan dari Tuhan atas doa mereka, dan membasahi jiwa-jiwa yang tandus dengan air penghidupan dan tetesan kasih dari sang pencipta.

Setiap harinya akan dirasakan sangat sulit dan menyakitkan bagi sesosok lelaki yang tidak memiliki cinta dan keinginan untuk mencari cinta itu sendiri, hanya ada satu harapan yang membuatnya merasa bahwa bidup ini berharga dan bukan sekedar permainan anak-anak yang kapan saja bisa di akhiri.

Seperti biasa di saat pagi hari, dengan menjalani rutinitas ku sebagai seorang yang terbiasa tanpa kasih sayang dari orang tua, membuat aku harus mandiri dan menyelesaikan semuanya sendirian. Orang tuaku yang tidak jelas keberadaanya, membuat aku menganggap mereka telah tiada. Sejak kecil aku berada di panti asuhan dan saat aku berusia 7 tahun, aku di adopsi oleh pasangan suami istri sederhana yang sekarang telah tiada karena tangan tuhan telah merangkul mereka.

Aku Dimas, Dimas Rangga prasetyo. Seorang mahasiswa jurusan arsitektur di universitas negri Jojakarta, UI tepatnya. Aku berusia 20 tahun, dan aku tinggal bersama nenek yang merupakan orang tua dari pasangan suami istri yang mengadopsiku.

Nenek Nuri namanya, dialah yang merawatku sejak umurku 8 tahun, saat orang tua yang mengadopsiku meninggal karena kecelakaan. Nenek Nuri amat sangat sayang padaku. Orang tua angkatku meninggal di umurku yang baru berusia 8 tahun, karena kecelakaan yang dialami mereka.

Cinta merupakan hal yang masih ku anggap tabu dan masih banyak pertentangan di hatiku tentang definisi dari cinta itu sendiri, tidak mudah bagiku untuk jatuh cinta seperti layaknya banyak muda mudi yang merasa bahwa cinta adalah segalanya dan butuh pengorbanan untuk cinta itu sendiri.
Kenapa hingga saat ini cinta masih mengganjal di hatiku? Aku pun masih belum mengetahui penyebab sulitnya mendapatkan dan mengartikan apa sesungguhnya cinta.

Pada suatu ketika saat perjalanan ke kampus mataku tertuju pada satu sosok wanita anggun di persimpangan jalan dengan menggunakan jilbab merah muda, yang membuat pertama kalinya jantungku berdegup sangat kencang dan tidak seperti biasanya.

Keesokan harinya aku bertemu kembali dengan gadis tersebut di perpustakaan kampus, dengan berbekalkan keteguhan hati dan mental yang cucup kucoba mendekatinya dan berkenalan dengan gadis itu. Annisa namanya, mahasiswa psikologi di kampus yang sama pula. Entah apakah ini yang disebut dengan cinta yang bisa membuat orang merasa bahagia tidak karuan.
Setelah perkenalan itu hubunganku dengannya terus membaik sehingga bisa dikatakan kami bersahabat, banyak waktu yang kami lalui bersama sehingga pada suatu ketika kucoba memberanikan diri untuk mendekatinya dan mengungkapkan perasaan ku padanya, dengan wajah kaku dan suara yang sedikit gagap aku memberanikan diri mengungkapkan isi hatiku “An, nnisa, aa aaaku ss ssayang dan suka sama kamu, mm maau nggak kkk kamu jadi pp ppaacar aku?” menghela nafas dalam sambil menunggu jawaban dari Annisa. Meskipun sangat gugup dan tidak karuan rasanya, karena ini maerupakan pertama kalinya buatku mengatakan cinta pada seorang gadis, tapi lega rasanya karena Annisa memberikan respon positif terhadapku, ya, Annisa menerimaku, kulihat senyumnya yang menanndakan kalau di menyukaiku pula.

Setelah saat itu kami pun menjalani hubungan kami dan bertujuan untuk keseriusan hubungan ini, sehingga pada suatu ketika Annisa mengajak ku ke rumahnya untuk diperkenalkan pada orang tuanya, setelah beberapa pertanyaan tentang pendidikan dan latar belakang keluargaku akhirnya orang tua Annisa memberikan respon positif terhadapku, “Annisa itu anak yang baik, kalau sampai kamu buat dia nangis, siap-siap berhadapan dengan saya” ujar ayah Annisa sambil tertawa dan menepuk pelan pundaku.

Seiring berjalanya waktu, hingga pada suatu ketika aku mendapatkan tawaran beasiswa ke salah satu universitas ternama di Jerman dan akupun menerimanya. Meskipun sangat berat rasanya untuk meninggalkan Annisa, karena hubungan kami yang baru berjalan dua bulan, meskipun demikian Annisa mengerti akan apa yang harus ia lakukan dengan merelakan ku pergi untuk waktu yang lumayan lama.

Saat keberangkatanku, aku ditemani Annisa dan nenek, mereka menemaniku sampai di bandara, sebelum keberangkatan aku memeluk erat nenek “pokoknya kamu harus sukses dan bikin nenek menagis karena keberhasilanmu” kata nenek sambil mengelus pundaku dan mencium keningku. Akupun memeluk Annisa dengan erat seolah tak rela membiarkan air matanya jatuh di hadapanku “perpisahan bukan akhir dari segalanya Mas, datang dan kembalilah padaku untuk memenuhu janji-janjimu” pesan bunga.

Meskipun ini merupakan pertama kalinya aku ke luar negri, namun kebiasaan ku untuk hidup mandiri, yang membuat ku tidak takut berada di Negara orang. Saat tiba di Jerman aku langsung menghubungi Bunga dan nenek untuk memberitahukan pada mereka bahwa aku telah sampai dengan selamat.

Hari pertamaku berada di kampus baru membuatku sedikit canggung untuk berinteraksi dengan teman-teman baruku, namun seiring berjalanya waktu aku mulai terbiasa dengan semua ini.

Karena kesibukan ku yang amat sangat dan jarak di antara kita, sehingga membangun dinding pemisah antara aku dan Annisa, yang membuat kami jarang bahkan sudah tidak pernah berkomunikasi, sehingga pada suatu ketika aku mendapat sepucuk surat dari Annisa yang isinya mengatakan kondisi dan kerinduanya saat ini, akupun membalas surat dari Annisa.
Seiring berjalanya waktu tak terasa tiga tahun sudah study ku di Jerman, dan waktunya untuk kembali ke Indonesia, tanah kelahiranku dan kampung halamanku.

Sesampainya di Indonesia aku langsung mengurus segala sesuatunya di kampus, yang ternyata aku sudah di persiapkan untuk menangani sebuah perusahaan elektronik yang akan dibangun, dan aku diminta untuk mendesain perusahaan tersebut, dengan senang hati aku menerima tawaran tersebut. Sepulangnya dari kampus aku terfikirkan oleh Annisa dan berniat untuk berkunjung ke rumahnya. Setibanya aku di rumah Annisa, aku melihat seorang pemuda yang sedang duduk bersama Annisa dan ayahnya. Annisa melihat kedatanganku dan dia langsung menghampiri ku dengan senyum manis yang selama ini sangat kurindukan.

Kita berjalan menyusuri taman kota berdua dan kita duduk di sebuah bangku kecil di bawah pohon “mas semuanya sudah terlambat, sekarang dan dulu sudah berbeda dan kita tidak bisa bersama seperti saat dulu lagi” ujar Annisa, “kamu bicara apa Nis? Bukanya dulu kamu pernah berkata kalau aku harus kembali?” jawabku.
“ayah menjodohkanku dengan seorang laki-laki kaya anak pengusaha yang juga seorang dokter” jelas Annisa, “tapi kenapa? Apakah kamu tidak mengatakan bahwa aku akan kembali untuk melamarmu?” ujarku dengan suara sedikit keras. “besok adalah harinya, aku tidak bisa menentang kehendak orang tuaku, memanng benar bahwa cinta tidak harus memiliki dan kita harus bisa menerima semua itu” jelas Annisa, (akupun hanya terdiam dan mulai beranjak pergi).

Tiba saat hari dimana Annisa telah menjadi milik orang lain, dan disitu aku mulai sadar bagaimana indahanya saat janji-janji manis cinta itu mengahampiriku dan bagaimana pahitnya saat tangan cinta itu melepaskanku. Sekarang apa yang bisa diperbuat oleh seorang sepertiku yang hanya bisa menunggu kapan tangan-tangan cinta itu datang menghampiriku, dengan semua janji manis yang ditawarkanya, dan menerima rasa sakit yang dijanjikanya.

Setelah saat itu aku hanya terfokus dengan pekerjaan ku, hingga tidak memberikan ku waktu untuk mencari cinta yang baru, cinta memang amat sangat sakit kurasakan dan bahkan aku tidak ingin cinta itu menghampiriku untuk yang selanjutnya, cukup aku merasakan bagaimana rasa sakit yang ditinggalkanya dari Annisa dan itu sudah membuatku jera akan cinta.

Kini aku akan kembali seperti sedia kala hidup bersama satu-satunya orang yang memiliki cinta abadi terhadapku, ya, itu adalah nenekku.
Pada saat selesai makan malam, nenek memanggilku dan akupun duduk di sampingnya “kamu itu sudah dewasa, sudah waktunya mencari pendamping dan memberikan nenek cicit, sudah lama nenek tidak menggendong bayi kecil yang lucu” kata nenek menasihatiku.
“nanti kalau sudah ada yang cocok pasti Dimas nikah kok nek” jawabku.
“nenek sudah punya calon buat mu, kali ini nenek berharap kamu tidak menolaknya, nenek sudah tidak sanggup lagi melihatmu seperti ini tanpa seorang yang mendampingi hidupmu, nenek juga sudah tua, nenek takut jika suatu saat nanti nenek tidak sempat melihatmu duduk di pelaminan dan menggendong cucu nenek, anggaplah ini permintaan terakhir nenek” jelas nenek.
Meskipun aku masih belum bisa menghapus bayangan Annisa dari benaku, namun aku tidak bisa membuat nenek merasa kecewa untuk yang kesekian kalinya. Akupun menerima perjodohan ini.

Gadis itu bernama Bunga usianya empat tahun lebih muda dari ku, ia merupakan seorang bidan lulusan universitas Airlangga di Surabaya, meskipun nenek sangat menyukainya, namun butuh taaruf (perkenalan) untuk kita mengenal satu sama lain sebelum beranjak ke gerbang pernikahan. Kami bertemu di taman dimana tempat aku dan Annisa biasa bertemu.
Sejauh yang kukenal Bunga seorang gadis baik dan taat terhadap agama, meskipun tidak memakai hijab layaknya Annisa, namun aku selalu melihat bayangan Annisa pada sosok Bunga.

Awalnya, memang tidak mudah untuk melupakan dan menghilangkan sosok Annisa dari hidupku. Namun, seiring berjalanya waktu aku bisa menggantikan posisi Annisa dengan sosok Bunga yang jauh lebih baik dari Annisa.

Sabtu, tepatnya tanggal 7 January 1995, dimana hari yang paling berharga dalam hidup setiap orang dimana berharap itu merupakan anugrah yang paling indah dalam hidupnya dan hanya terjadi sekali seumur hidupnya. Aku melihat Annisa datang bersama suaminya dan memberikan ucapan selamat pada kami berdua, awalnya aku merasa canggung dan takut goyah akan hadirnya Annisa di hadapanku namun semua itu mampu ditepis dengan keberadaan Bunga sampingku.

Setelah setahun kami menjalani hubungan ini akhirnya kami akan di anugrahi seorang buah hati dan darah daging kami, pada tanggal 04 Mei 1996 Bunga positif mengandung, dan kami menikmati masa-masa penantian dimana akan hadirnya seseorang lagi untuk melengkapi rumah sederhana ini, dan pada saat ini pula aku merasakan menjadi sosok suami yang sesungguhnya.

Pada tanggal 11 February 1997 lahirlah seorang laki-laki yang sangat tampan dan itu merupakan anugrah terindah dari Tuhan dimana aku untuk yang pertama kalinya menjadi seorang ayah, kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan oleh apapun di dunia ini, dan satu lagi kebahagiaanku yang sangat besar yaitu melihat nenek menggendong cucu yang sangat dinantikanya selama ini, goresan senyum dan tetesan air mata yang jatuh di pipinya melambangkan kebahagiaaan yang sangat besar dan merupakan akhir dari penantian panjangnya.

Anak kami bernama Alvaro Gafriel yang memiliki arti anak pertama yang menjadi pelindung bagi keluarganya, namanya merupakan doa dari kami.

Saat Alvaro berumur 3 tahun, nenek meninggal dunia karena radang paru-paru yang dideritanya, ini merupakan pukulan yang amat sangat berat untuku namun disamping itu aku merasa lega karena semua keinginan nenek sudah terpenuhi, dan aku bisa melihat senyum di wajah keriputnya sebelum ia menutup mata.

Hidup ini memang tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Mungkin aku memang kehilangan seorang yang sangat berarti dalam hidupku, namun aku juga harus sadar bahwa nikmat Tuhan selalu mengalir bagi hambanya yang mampu dan pandai bersyukur. Hidup kami memang sangat bahagia, dengan keluarga yang lengkap dan kesederhanaan kami yang membuat hidup kami lebih berarti.

Namun seiring berjalanya waktu Bunga mengidap penyakit kanker paru-paru yang sudah berada di stadium empat, dan baru diketahui ketika sudah parah, pada malam dimana Bunga jatuh pingsan saat usai makan malam, dan itu sangat membuatku takut akan kehilangan seseorang yang menjadi tempat pangkuan dalam hidupku. Dan hal yang paling membuat ku terkejut saat ia jatuh tepat di hadapanku dan Alvaro, “mama, ma bangun ma” tanpa berfikir panjang langsung kubawa ke rumah sakit. Saat pemeriksaan dilakukan membuatku sangat takut akan hal-hal yang bisa membuatku hidup dalam kesendirian, kucoba untuk menglihkan perasaan takutku dengan menghibur diri bersama Alvaro. Saat pemeriksaan selesai dan hasil menunjukan bahwa sakit yang diderita oleh Bunga sangat parah dan tidak ada jalan apapun untuk penyembuhanya meskipun dengan donor sekalipun. Mimpi buruk yang selama ini kutakutkan akan menghampiriku.

Dengan cara apapun aku mencarikan obat untuk Bunga namun hanya hasilnya nihil, tak ada cara lain selain menunggu keajaiban dari Tuhan dan menunggu ijabah dari doa-doa kami. Satu bulan sudah Bunga berada di Rumah Sakit dan hanya terbaring lemah, hingga pada suatu pagi Bunga menggenggam erat tanganku dan berkata “jika semua ini adalah takdir, maka jalanilah semua ini sesuai dengan goresan tangan Tuhan, percayalah pa’ kalau rencana Tuhan lebih indah dari apa yang di perkirakan oleh hambanya, jika aku mati besok aku ingin pergi dengan tenang bersama orang-orang yang kucintai, tidak di tempat ini. Bawalah aku pergi pa’ aku ingin melihat taman dimana pertama kali kita bertemu dan melihat tawa Alvaro saat bermain bersama kita”.

Akupun membawa Bunga ke tempat yang ia inginkan, di taman yang merupakan tempat pertama kali kita bertemu. Alvaro bermain dengan senyuman bahagia yang terlukis di wajah polosnya, Bunga bersandar di bahuku dan berkata pa’ janganlah berhenti mencintaku karena meskipun kau tak bersamaku lagi namun percayalah bahwa Tuhan akan mempertemukan kita kelak, jadilah ayah yang baik untuk Alvaro, didiklah dia hingga menjadi sosok seperti ayahnya, saat kamu duduk di sini di bawah pohon ini dan saat matahari bersinar menembus rerindangan daun-daun pohon ini yang disertai hembusan angin, maka percayalah aku sedang memelukmu, jangan pernah merasa sendiri sayangku”. Air mata menetes di pipiku dan begitu pula dengan Bunga, ku usap air mata di pipi Bunga, dan saat itu adalah kepergian Bunga.

Bunga meninggalkan kami saat Alvaro berusia 5 tahun. Kini aku hidup bersama Alvaro, malaikat kecilku yang butuh kasih sayang dan cinta dariku. Aku harus segera bangkit dari keterpurukan ini untuk Alvaro, dan aku percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Hidup memang tak seperti apa yang kita inginkan, namun aku percaya bahwa ada rencana hebat dari Tuhan yang membuat kita jauh lebih bahagia dari hari ini. Cinta tak akan pernah datang jika pemiliknya tidak mencarinya, namun cinta akan hadir di hati pemiliknya sampai pemilik itu pergi untuk mencarinya.

THE END

Cerpen Karangan: Mufidatul Husna
Facebook: fhy loveyou

Cerpen Menyapa Heningmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Harapan

Oleh:
“Bersyukur. Satu kata berjuta makna. Satu kata bermakna indah. Dan satu kata penyejuk hati.” — Siang ini terasa sendu. Awan terdiam sesaat. Ia memandang gadis kecil dengan kaus lusuh

Ayah kami bukan kriminal

Oleh:
Kami sedang berduka. Ayah kami ditangkap polisi karena dituduh merencanakan pembunuhan. Ayah tak mungkin ada niat membunuh walau dendam sekalipun. Ayah bilang ia dijebak oleh karsiman, sang direktur perusahaan

Membunuh Rindu

Oleh:
Ia datang dari desa. Pergi dan berlayar menuju sebuah negeri yang disebut Selatan. Bibir yang dilumuri gincu hitam pekat dengan alis yang sedikit disulam, mengubahnya menjadi seorang pel*cur. Sesal?

Tabularasa Sidenreng-Rappang

Oleh:
Muhammad Syukkuri begitulah lengkap namanya, Pegawai Negeri Sipil golongan IV B atau bisa disejajarkan dalam dunia militer sebagai Jenderal Bintang Dua. Dengan sigaret yang dihisapnya dan asap menyembul di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *