Mereka Juga Manusia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

“Orang gila… Orang gila..”

Panggilan-panggilan sejenis itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Kak Omas, orang gila kampung kami. Bahkan, ia sudah tak marah lagi bila anak-anak kampung memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi tetap saja aku tidak suka anak-anak itu memanggilnya dengan sebutan orang gila. Oke, ia memang gila. Benar-benar gila. Tapi apa harus mereka menjadikannya bahan tertawaan begitu?

“Heh, kalian, pergi sana! Jangan ganggu Kak Omas!” Aku berteriak keras mengusir anak-anak tak berperasaan itu. Tapi, lihat apa yang dilakukan Kak Omas. Ia malah menertawakanku.
“Hahaha… Ih, marah..” Kak Omas menunjuk-nunjukku sambil berkata dengan ekspresi yang dibuat-buat. Kali ini ku biarkan ia asyik dengan dunianya.
“Kak, tadi aku ke pasar kebetulan lihat baju ini. Bagus nggak, Kak?”

Aku mengulurkan tanganku menyerahkan bungkusan plastik berisi baju. Ia menerimanya dan langsung membukanya dengan kasar. Begitu ia melihat bajunya, air mukanya berubah senang. Ia tersenyum dan tertawa bergantian. “Ya udah, aku masuk dulu ya. Nanti malam aku ke sana. Hari ini aku masak enak.”

Ku tinggalkan Kak Omas yang kemudian pergi sambil berlari-lari kecil. Ia memang selalu menungguiku pulang kerja setiap hari. Walaupun setiap kali menunggu, anak-anak kampung selalu mengusiknya. Anak-anak kampung itu memang benar-benar tak berperasaan. Mereka tidak akan segan-segan menyisihkan waktu mereka untuk datang ke rumahku hanya untuk mengganggu Kak Omas. Bahkan nama Omas pun didapatnya dari mereka. Gigi Kak Omas memang agak sedikit maju. Jadi mereka memanggilnya Omas untuk mengejeknya. Namun, berhubung Kak Omas menyukai nama itu, aku membiarkannya saja dan bahkan aku ikut-ikutan memanggilnya dengan nama itu.

“Hari ini aku akan masak sop ayam kesukaan Kak Omas. Ia harus senang hari ini.”

Nasi hangat, sop ayam, dan tempe goreng tepung yang ku buat sudah ku masukkan ke dalam rantang. Ditambah lagi lalapan dan sambal terasi. Kak Omas juga menyukai itu. Malam ini ia pasti makan banyak. Aku berjalan kaki ke rumah Kak Omas. Jarak rumahku dan rumahnya memang tidak terlalu jauh, hanya sepuluh menit jalan kaki. Yah, biar pun sebenarnya rumah Kak Omas tidak layak disebut rumah. Itu hanya sebuah gubuk kayu peninggalan Nenek Kasmi yang tidak mempunyai kerabat di kampung ini.

Jadi, warga memutuskan untuk memberikannya pada Kak Omas supaya ia punya tempat untuk tidur. Tapi biar bagaimana pun, aku lebih suka menyebutnya rumah. Jalanan malam ini terlalu sepi untuk dinikmati. Tak ada orang kampung yang ke luar malam ini. Anak-anak yang biasa bermain di alun-alun pun tidak menunjukkan batang hidungnya. Aku sampai di rumah Kak Omas lebih cepat. Mungkin karena tak ada orang yang mengharuskanku mampir untuk sekedar ngobrol atau bertegur sapa.

“Kak Omas… Kak Omas..” Begitu aku memanggilnya, terdengar sekelumit suara terburu-buru dari dalam. Aku langsung masuk karena seperti biasa, pintu rumah Kak Omas tidak pernah terkunci. Ku lihat Kak Omas berdiri ketakutan sambil menutupi sesuatu di belakang tubuhnya yang menimbulkan bau yang menyengat di hidungku.
“Apa itu, Kak?” Aku masih bertanya santai. Namun Kak Omas sudah menggeleng-geleng ketakutan. Pasti ada sesuatu yang berusaha disembunyikan Kak Omas.
“Kak Omas, apa itu?” Aku bertanya sekali lagi dengan nada yang lebih keras. Tapi Kak Omas malah menggeleng semakin kuat.

Ku raih tangan Kak Omas, kemudian ku putar badannya. Namun aku terlalu kuat menarik sehingga apa yang dipegang Kak Omas terjatuh.
“Nasi bungkus?” Aku membungkuk mengambil sedikit nasi yang semuanya sudah berada di lantai. Lengket dan bau. Aku tahu ini basi.
“Kak, kan aku sudah sering bilang, jangan terima makanan dari orang lain sembarangan! Kakak harus tunggu aku sebelum makan. Ini makanan basi, Kak. Kakak nggak boleh makan ini.”

Aku marah sekali melihatnya. Tapi aku bukan marah padanya, melainkan pada orang yang dengan tega memberikan ini pada Kak Omas. “Kak, bilang sama aku, siapa yang ngasih makanan ini?” Kak Omas masih diam sambil meremas-remas kedua jarinya. Aku yakin ia sangat takut dengan aku yang sekarang.
“Apa Bu Dibyo yang memberikannya?” Ia menggeleng. Ku rasa kali ini ia jujur.
“Bu Sira?” Kak Omas diam dan itu berarti jawaban iya. Cukup, ini semua harus dihentikan.

Ku ambil tangan Kak Omas kemudian ku giring dia ke meja makan. Ku bukakan rantang bawaanku untuknya. Ku pindahkan nasinya ke piring beserta lauk pauk yang ku bawa. Kak Omas hanya diam melihatku. Benar, ia sedang takut padaku. Maaf, Kak Omas, aku hanya terlalu marah menyaksikan perlakuan mereka padamu. “Kak, makan,” kataku sambil memasukkan sendok ke tangan Kak Omas. Aku juga ingin dia makan dengan sendok, bukan dengan tangan. Kak Omas menerima sendoknya tapi ia tidak juga memulai makannya.

“Makan, Kak..” Kali ini aku melembutkan suaraku. Kasihan juga bila dia harus menyaksikan kemarahanku yang seharusnya ku tumpahkan pada Bu Sira tetangga seberang rumahku yang tak pernah habisnya merusak kebahagiaanku dan Kak Omas. Ku lihat tangan Kak Omas bergetar ketika ia mencoba mulai makan. Aku semakin sedih melihat ketakutannya. Aku jadi bingung harus menyalahkan siapa kali ini.

“Kak, maaf. Aku nggak marah sama Kakak. Sekarang Kakak makan ya. Ini bukan makanan basi. Kakak harus makan makanan yang seperti ini, bukan yang tadi.” Kak Omas mengangkat kepalanya yang tertunduk. Ia berusaha menatapku, lebih tepatnya mataku. Barangkali ia berusaha menemukan seberkas kejujuran di dalam sana. Aku tersenyum demi meyakinkannya. Ia pun ikut tersenyum, bahkan lebih lebar dari senyumku.

“Ayo, Kak, sekarang kita makan bareng.” Aku ikut makan bersama Kak Omas. Sebenarnya sih nafsu makanku sudah lenyap setelah mengetahui perlakuan Bu Sira pada Kak Omas. Tapi untuk waktu setengah jam ini aku harus berpura-pura di depan Kak Omas. Aku tidak ingin dia takut lagi seperti tadi.

Makan malam hari ini terasa berbeda. Entah ini lebih baik atau lebih buruk dari biasanya. Aku dan Kak Omas tidak banyak bercerita dibandingkan dengan hari biasanya. Tapi aku seperti sedang berbincang-bincang bersama lewat hati. Iya, aku mengucapkan begitu banyak kata untuk Kak Omas di dalam hatiku dan aku merasa Kak Omas menjawabnya lewat hatinya juga. Makanan malam ini tersisa banyak. Ketika aku menyuruh Kak Omas nambah, ia hanya menggeleng lirih. Aku sedih melihat perubahan pada dirinya malam ini. Aku menyesal telah merusak harinya begini.

“Kak, sudah, nggak usah dipikirin lagi. Aku tetap sayang kok sama Kak Omas. Kakak akan tetap jadi teman aku. Sekarang Kak Omas istirahat dulu. Jangan sedih lagi. Aku nggak suka lihat Kakak yang lagi sedih.” Kak Omas mengangguk-angguk tanda setuju akan perkataanku. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang. Ku lihat ia naik ke kasurnya dan bersiap untuk tidur. “Kak Omas, aku pulang dulu ya. Selamat malam! Tidur nyenyak dan jangan lupa mimpi indah. Aku berterima kasih untuk hari ini.”

Aku berjalan cepat pulang ke rumah. Semua jenis cacian dan umpatan sudah ku siapkan dalam benakku untuk Bu Sira. Aku akan ke rumahnya malam ini juga. Aku tak peduli apa pandangannya dan para tetangga. Dia salah, kok. Ku gedor pintu rumahnya kencang-kencang. Pers*tan di rumah itu ada bel, cara ini lebih mudah dilakukan dalam keadaan marah.

“Siapa sih gedor pintu malam-malam. Nggak tahu apa kalau rumah kita ini ada belnya?” Aku mendengar teriakan Bu Sira dari dalam. Bagus, ia ada di rumah.
“Bu Sira, cepat, buka pintunya.”

Sekali lagi aku teriak dengan suara mengeras dibandingkan biasanya. Mungkin ini suara terkeras yang pernah ke luar dari mulutku dan malam ini, suaraku harus ku pertahankan seperti ini. Pintu dibuka dan aku melihat Bu Sira yang ke luar. Ia tersenyum sinis melihatku. Sepertinya ia telah mengetahui pasti penyebab kedatanganku ke rumahnya. Baik, Bu Sira, aku siap malam ini.

“Hei, kamu gedar-gedor rumah orang malam-malam. Nggak lihat apa ini ada bel? Kamu nggak pernah diajari sopan santun sama orangtuamu ya? Oh iya, saya lupa. Kamu kan nggak punya orangtua. Atau jangan-jangan anak haram lagi?” Aku semakin marah mendengar penyambutan Bu Sira. Ingin sekali aku menamparnya. Tapi, tujuanku ke sini adalah untuk membahas Kak Omas. Biarkan saja dia berkata yang aneh-aneh tentang diriku.

“Bu, apa maksud Ibu memberikan makanan basi pada Kak Omas?”
“Hah? Kamu ini gimana sih? Orang berbuat baik kok malah dihalangi. Saya kan hanya ingin berderma pada kembaranmu itu, Si Omas.”
“Tapi Ibu tidak harus memberikannya makanan basi, kan?”
“Kebetulan saya punya makanan sisa kemarin di rumah. Tadi waktu saya lihat sudah basi. Saya langsung ingat Omas dan memberikannya padanya.”
“Kenapa makanan basi, Bu? Ibu bisa memberikan dia makanan yang layak kan?” Suaraku melemah. Aku tidak tahan mendengar dengan santainya Bu Sira menjawab semua pertanyaanku tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Dia kan orang gila. Orang gila makan apa saja, termasuk makanan basi. Buktinya, ia senang menerima nasi basi saya dan memakannya dengan lahap.”
“Itu karena Kak Omas nggak tahu makanan Ibu makanan basi! Ibu tidak perlu repot-repot membawakan makanan basi Ibu kepada Kak Omas. Saya sudah menyiapkan makanan layak untuknya. Saya..” Aku menghentikan kalimatku karena ku pikir kata-kata yang ingin ku keluarkan adalah kata-kata yang tidak pantas. Begini-begini, aku juga diajari sopan santun oleh kedua orangtuaku yang sudah lama meninggal.

“Tuh, terbukti kan? Makanan basi adalah makanan orang gila seperti si Omas. Dia berbeda dengan kita yang menyukai makanan baik. Besok-besok kamu bawakan saja dia makanan basi. Dia kan orang gila, otomatis dia lebih suka diberi makanan basi.”

Plaaaaakkkkk! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Bu Sira. Ya, itu dariku.

“Bu, tamparan ini untuk semua penghinaan Ibu pada Kak Omas. Bila dibandingkan dengan rasa sakit hati ini, sakitnya tamparan ini belum seberapa. Saya masih bisa menampar Ibu dengan lebih keras lagi. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu Kak Omas lagi! Jangan pernah memberikan makanan apa pun pada Kak Omas. Kalau tidak, saya tidak segan-segan untuk menampar Ibu lebih keras lagi. Permisi!” Aku pergi meninggalkan Bu Sira yang berdiri mematung setelah ku tampar. Aku sendiri terkejut menyadari nyaliku yang begitu besar sehingga berani menamparnya.

Tanganku memerah karena menampar Bu Sira tadi. Aku baru merasakan sakitnya sekarang. Ku ambil sedikit es batu dan mengompresnya. Terbayang rasa sakit pipi Bu Sira yang akan terlihat merah merona setelah ku tampar tadi. Itu pasti sakit. Begitu emosiku mereda, perlahan aku menyadari bahwa aku sudah menampar seorang Ibu yang lebih tua dariku. Aku menyadari, itu sebuah kesalahan. Tidak seharusnya aku menampar Bu Sira tadi. Aku berdoa pada Tuhan memohon ampun. Aku benar-benar menyadari kesalahan yang ku buat tadi.

“Tuhan, maafkan aku. Maaf tadi aku menamparnya. Maaf aku tak bisa menahan amarahku. Maaf aku tak bisa mengingat Engkau di saat aku kehilangan kendali. Maafkan aku, Tuhan.”

Pagi ini aku bangun kesiangan karena semalam aku tidak bisa tidur. Jadi aku hanya sempat mendadar telur untuk Kak Omas. Saat aku akan berangkat ke rumah Kak Omas, ku lihat Bu Sira di depan rumahnya sedang menyiram bunga. Perban besar ku lihat menutupi wajahnya. Apa iya separah itu? Ku rasa ia hanya melebih-lebihkannya untuk memfitnahku di depan para tetangga. Ah, biarkan, nantinya kebenaranlah yang akan menang. Karena ketelatanku, aku pun harus berjalan terburu-buru ke rumah Kak Omas agar aku tidak telat ke kantor.

Kalau di pagi hari, aku hanya datang ke rumah Kak Omas untuk mengantarkan sarapan dan makan siang untuk Kak Omas. Biasanya ia belum bangun jadi aku hanya akan meninggalkannya di meja makan. Setelah menaruh rantangku, aku pergi ke kamar Kak Omas untuk melihat keadaannya. Aku tak pernah menyangka apa yang ku lihat sekarang. Kak Omas sedang duduk di pinggir kasurnya dan di sekitarnya ada banyak bekas muntahan. Apa yang terjadi? Ku lewati lautan bubur nasi muntahan Kak Omas dan mendekatinya.

“Kak, Kakak kenapa?” Aku bertanya lirih sambil memegangi tangan Kak Omas. Tangannya terasa dingin membeku. Ia mengangkat wajahnya dan ku lihat bibirnya pucat memutih. Matanya sayu dan napasnya tersengal-sengal.
“Huwweeeekkk..” Ia muntah lagi. Kuelus punggungnya supaya ia tidak muntah lagi. Tapi ia masih saja muntah-muntah. Ini pasti karena nasi Bu Sira.
“Ayo kita ke Puskesmas, Kak.” Aku memapah Kak Omas keluar.

Alangkah mudahnya bagiku bila ada kendaraan yang bisa ditumpangi lewat di depan kami. Tapi sayang tidak ada dan mobil-mobil yang ada hanya lewat begitu saja di depan kami. Baik, aku yang akan memapah Kak Omas ke Puskesmas bila kalian tidak mau membantu. Aku baru sampai di Puskesmas 15 menit kemudian. Sial, Puskesmas belum buka pada jam enam begini. Ku lihat muka Kak Omas semakin pucat dan ia juga berkeringat dingin. Aku mendudukkan Kak Omas di ruang tunggu Puskesmas. Kemudian aku berlari ke rumah dokter yang ada di belakang Puskesmas.

“Dok, permisi, Dok. Tolong buka pintunya.” Aku mengetuk pintu pelan. Dokter Andri, satu-satunya dokter di Puskesmas ini pun ke luar dari pintu rumahnya. Ia masih berpenampilan acak-acakan seperti baru bangun tidur.
“Ada apa?” Ia bertanya dengan nada ketus. Sepertinya ia marah karena aku telah mengganggunya pagi-pagi.
“Dok, tolong, Kak Omas sakit.”
“Omas? Orang gila itu?” Aku sedikit tersinggung dengan cara dokter ini bicara. Tapi berhubung aku butuh bantuannya, aku akan berusaha mengalahkan rasa tersinggungku.
“Dok, tolong, tadi Kak Omas muntah-muntah.”

“Kamu ini nggak bisa lihat orang istirahat apa ya? Puskesmas buka 2 jam lagi, datang saja ke Puskesmas nanti.”
“Tapi, Dok, ini darurat. Kak Omas benar-benar sakit.”
“Ah, sakit apa sih orang gila itu? Barangkali hanya masuk angin biasa. Sehari juga sembuh.”

Dokter Andri mencoba menutup pintunya setelah ia meluncurkan kata-kata yang bagiku tak pantas diucapkan oleh seorang dokter seperti dia. Tapi, aku tak mungkin tidak menahannya kali ini. “Dokter! Dokter nggak bisa bertindak seenaknya pada orang sakit. Mana yang selama ini Dokter sebut sebagai integritas? Saya benar-benar kecewa pada Dokter dan saya rasa Anda tidak pantas jadi Dokter! Permisi!”

Aku pergi meninggalkan Dokter Gadungan yang wajahnya memucat itu. Sepertinya ia takut pada kata-kataku. Ah, masa bodoh dengannya! Aku kembali mendatangi Kak Omas. Keadaan Kak Omas semakin memburuk. Ia semakin lemas saja karena terus-terusan muntah. Aku benar-benar prihatin melihat keadaannya sekarang.
“Kak, tahan sebentar ya, kita ke rumah sakit.”

“Dok, gimana keadaannya?”
“Buruk… Dia keracunan makanan dan penanganannya terlambat. Kita hanya bisa berharap.”
“Huh… Dok, tolong selamatkan dia. Lakukan semua yang terbaik untuknya. Tolong, Dok.” Aku sudah tidak dapat menahan tumpahan air mataku lagi. Semua terasa sudah menumpuk di ujung mataku dan siap untuk ke luar.

“Iya, kami akan selalu mengusahakan segala yang terbaik untuk setiap pasien kami. Anda, keluarganya?”
“Bukan, Dok, saya temannya. Dia sudah tidak punya keluarga lagi.”
“Oh, ya sudah. Masih ada pasien lain yang harus saya tangani. Mari..”
“Terima kasih, Dok.”

Rasanya aku benar-benar marah kali ini. Mengapa semua orang meremehkan Kak Omas? Apa hanya karena ia gila? Tapi, segila-gilanya ia, ia kan juga manusia! Dia juga harus diperlakukan sama seperti manusia lain. Dia butuh makanan layak yang tidak basi. Dia butuh tempat tinggal yang bisa disebut rumah. Dia butuh pengobatan ketika ia sakit. Dia butuh teman dan… Dia butuh semua yang dibutuhkan oleh manusia. Aku berjanji, aku tidak akan pernah memaafkan mereka semua orang yang selama ini telah mempermainkan Kak Omas.

“Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi dia tidak dapat diselamatkan.”
“Dokter bohong! Nggak! Nggak mungkin, Dok! Kak Omas masih hidup, kan?”
“Itu kenyataannya. Kamu harus tabah.”

Aku tak dapat lagi menahan kekecewaanku. Aku marah! Tapi aku tidak tahu harus marah pada siapa. Marah pada orang-orang yang memperlakukan Kak Omas sebagai orang gila? Atau, marah pada Kak Omas karena dia gila? Pokoknya, mereka harus membayar harga yang mahal untuk kematian Kak Omas. Bukan soal uang, tapi aku akan membuat harga diri mereka jatuh ke tempat yang paling bawah. Aku akan membuat mereka merasa sangat malu. Pasti.

Bendera kuning ku pasang di depan rumahku. Aku sengaja memilih rumahku agar Bu Sira, orang pertama yang menyebabkan kematian Kak Omas menjadi pendatang pertama. Aku berharap ia yang pertama menyadari kesalahannya. Orang-orang mulai berdatangan ke rumahku lantaran melihat bendera kuning yang ku pasang. Namun, awalnya mereka salah mengira. Mereka mengira bahwa yang meninggal adalah aku.

Sakit hati juga aku mendengarnya. Tapi yang lebih membuat aku sakit hati adalah kecemasan mereka berubah menjadi kewajaran setelah mengetahui bahwa yang meninggal adalah Kak Omas. Apa mereka masih ingin menghina orang yang meninggal. Akhirnya berita yang tersebar dibenarkan. Sejak itu, orang-orang yang datang terdiri dari dua kategori. Kategori pertama adalah orang-orang yang benar-benar peduli pada Kak Omas. Dan yang kedua adalah orang-orang yang pernah bersalah pada Kak Omas. Termasuk di dalamnya anak-anak yang selama ini suka mengganggu Kak Omas.

“Kak, maafin kami ya. Kami suka ganggu Kak Omas. Tapi sebenarnya kami sayang sama Kak Omas. Kami senang bermain sama Kakak. Kakak hebat, biar pun kami suka mengata-ngatai Kakak, Kakak nggak pernah marah. Maaf ya, Kak. Kami janji nggak akan nakal lagi kalau main.” Kurang lebih itu yang mereka katakan. Aku senang mendengar kata-kata mereka. Yah, mereka sudah minta maaf dan semua sudah terjadi. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu marah atau dimarahi.

Tak lama kemudian, Bu Sira datang dengan perasaan sangat bersalah. Aku bisa melihat itu di wajahnya. “Sa… Saya minta maaf. Omas meninggal karena saya. Saya benar-benar menyesal. Saya tidak menyangka akan seperti ini. Saya akui ini salah saya.” Bu Sira bicara padaku. Hatiku terenyuh juga mendengar penyesalannya.

“Saya juga minta maaf,” Dokter Andri juga ikut bicara padaku, “Kalau saja waktu itu saya langsung mengobati Omas. Pasti dia selamat. Saya jadi merasa nggak berguna sebagai Dokter.” Dokter Andri juga tampaknya menyesal. Baik, aku akan memaafkan mereka. Lagi pula, itu bukan hakku untuk marah pada mereka. Kak Omas juga akan sedih bila aku marah.

“Nggak seharusnya kalian minta maaf pada saya. Kalian nggak bersalah sama saya. Tapi saya menghargainya. Mewakili Kak Omas, saya memaafkan kalian. Saya juga minta maaf pada Bu Sira karena semalam saya sudah menampar Ibu. Saya menyesal. Dokter, saya juga minta maaf atas kata-kata saya yang tidak sopan tadi pagi.”
“Nggak apa-apa. Kalau kamu nggak bertindak begitu, mungkin kami nggak akan pernah menyadari kesalahan kami”.

Ya, benar, mungkin, ini tujuan Tuhan mengirimkan Kak Omas ke sini, yaitu untuk menyadarkan dunia bahwa orang-orang sepertinya juga manusia. Bila ia tidak datang dan tidak meninggal dengan cara begitu, mungkin tak akan ada perubahan di sini. Tapi, setelah hari ini, aku yakin bila suatu saat nanti orang-orang seperti Kak Omas datang, mereka akan memperlakukannya seperti manusia, karena mereka juga manusia.

Cerpen Karangan: Florince
Blog: www.semutlantai.blogspot.co.id

Cerpen Mereka Juga Manusia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Obat Alami Layila

Oleh:
Di pinggir jalan, seorang anak yang kira-kira berusia 12 tahun duduk sambil berjualan obat-obatan alami. Namanya Layila. Barang dagangannya masih lengkap, belum ada yang terjual. Daun sirih, lidah buaya,

The Tuesday

Oleh:
Pernah merasa seperti di atas awan? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak

Abdoellah

Oleh:
Namaku Abdoellah, pemuda yatim dari Mengkasar yang nekat merantau ke negeri orang dan meninggalkan amakya di kampung sendirian. Gejolak jiwa mudaku yang ingin merantau terus meronta yang akhirnya membuat

Andai Kau Tahu

Oleh:
“bukannya gue udah bilang, lo itu nggak usah berhubungan dengan gue lagi. Gue muak harus bersahabatan selama belasan tahun dengan orang munafik kaya elo. Sialnya lagi, elo pura-pura manis

Roo dan Na

Oleh:
Kring… kring… wekerku berbunyi dengan sangat kencang sehingga menganggu pendengaranku. Aku masih segan untuk bangkit karena mataku yang masih ingin terpejam. Aku keluar dari kamarku dengan rapih, siap untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mereka Juga Manusia”

  1. Chatrine Anastasya Viona says:

    yups,mereka patut di hargai layaknya manusia,karena mereka pun manusia. apapun kekurangan yang mereka miliki,tetaplah hargai. Jangan pernah menganggap mereka tidak layak hanya karena kekurangan atau fisiknya saja. Pandanglah mereka dari hati. kalian akan mengerti mereka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *