Merenung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 August 2022

Waktu menunjukan pukul 7 malam, kurang 15 menit lagi sebelum MRT ku datang. Aku menutup mata dan menghembuskan nafas dalam. Ini tahun kelimaku terperangkap dalam ritme hidup ini. Berangkat pagi dan pulang petang. Tidak usah bertanya betapa jenuhnya aku, tapi keadaan memaksaku untuk mengiyakan rutinitas ini. Coba saja aku punya pilihan. Coba saja. Aku mungkin tidak terjebak di kehidupan payah ini. Mungkin.

Aku rindu diriku yang dulu. Diriku yang optimis. Lelah aku menjadi seseorang yang optimis. Optimis itu perlahan-lahan membunuhmu. Ketika usaha mengkhianati hasil. Ketika apresiasi menjadi mahal harganya. Ketika asa tak kunjung tercapai. Apa yang kau harapkan dariku? Tetap optimis?.

Waktu menunjukan pukul 7 lebih 5 menit, kurang 10 menit lagi sebelum MRT ku datang. Mungkin ini semua salahku. Salahku, terlalu melihat kehidupan orang lain yang lebih baik dari diriku. Terlalu melihat keatas sampai leher ini lelah. Hasilnya? Selalu merasa tidak puas, tetapi bukannya sifat manusia pada dasarnya memang merasa tidak puas?.

Laman media sosial menjadi wadahku untuk merasa ciut. Apalagi setiap aku bertemu teman-temanku semasa sekolah, tak ada bahan yang bisa kubanggakan atas hidupku. Aku memilih mendengar dan merasa ciut. Hebat!

Waktu menunjukan pukul 7 lebih 10 menit, kurang 5 menit lagi sebelum MRT ku datang. Mungkin ini bukan sepenuhnya salahku. Mungkin ini juga salah Yang Maha Kuasa karena tidak mendengar rintihku. Semakin hari, semakin jauh dengan Yang Maha Kuasa karena tenggalam dalam nelangsa. Jangan salah, aku masih memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Aku masih percaya Yang Maha Kuasa akan menolongku keluar dari sini, tapi entah kapan. Yang jelas aku masih percaya.

Waktu menunjukan pukul 7 lebih 14 menit, kurang 1 menit lagi sebelum MRT ku datang. Aku menutup mata dan menghembuskan nafas dalam sambil memandang gemerlap Jakarta. Mungkin seharusnya aku bersyukur. Aku kurang melihat sekelilingku. Aku kurang melihat kebawah. Bodoh memang diriku. Maafkan aku Tuhan, hambamu memang kufur akan nikmat. 15 menit yang Kau berikan kepadaku terbuang dengan mencemooh nikmatMu. Oh Tuhan, Maafkan aku.

Kereta MRT ku datang. Aku menghembuskan nafas sekali lagi dan tersenyum.

Cerpen Karangan: Yudhitya Fairuz
Blog / Facebook: Yudhitya Fairuz

Cerpen Merenung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semasa Kecil Kelam

Oleh:
Semasa kecil yang telah lama mereka tinggalkan. Semasa kecil adalah masa-masa indah yang tidak akan terlupakan, semasa dimana mereka bagaikan malaikat kecil yang belum ternoda, semasa dimana mereka merasakan

Dinda

Oleh:
Aku rindu hal yang bodoh itu, saat aku tak ingin pulang padahal sudah tengah malam. Hanya untuk mendapat kata “iya” dari maaf karena kesalahanku. Aku ingin sekali mengulanginya, sungguh.

Munafik

Oleh:
“Kau harus segera pulang.” Katanya padaku. Aku mengambil baju yang tergeletak tak berdaya. Tubuhku tak terbalut sebenang pun. Kututupi lekukan tubuhku satu persatu hingga berpakaian lengkap. Aku mengecupnya lembut

Kehidupan Adalah Misteri

Oleh:
Aku hidup di desa yang terpencil di suatu perkampungan. Aku lahir dari keluarga cukup memprihatinkan, rumah yang kami tempati sangat kecil bahkan jika ada angin yang kencang membuat kami

Bagian Yang Hilang

Oleh:
Kini aku memahami satu hal, ketika sesuatu yang merupakan bagian dari dalam diri itu hilang, rasanya ini hanya lelucon.. rasanya ada orang asing yang mengenalmu di suatu tempat kemudian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *