Mimipi Indah Stasiun Cikampek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 7 September 2015

Dinginnya stasiun Cikampek, terasa kurang sekali untuk mendinginkan hatiku yang sedang panas malam ini. Aku, seorang pria dengan detak jantung yang masih berdenyut cepat terduduk di tepian peron saat waktu sudah lewat pukul 11 malam. Tubuh berkeringat dan kumal, wajah berminyak, dan mataku melotot dengan nanar seolah tak percaya apa yang baru saja terjadi. Tahukah kawan, Beberapa belas menit yang lalu hampir saja aku mati, iya. HAMPIR-SAJA-AKU-MATI! Aku nekad meloncat dari atas kereta Argo Bromo kelas ekonomi jurusan Senen-Jogja yang hanya memelankan jalannya begitu melewati stasiun tersebut.

Di sebelah kiri, tampak temanku yang bernama Subhan juga mengalami rasa Shock yang sama akan kejadian itu. Tampangnya yang sama kumal, rambutnya yang panjang sebahu, wajah kami berdua pun mungkin bisa membuat anak kecil yang sedang dilanda ceria, langsung menangis. Jika kau bertanya ada apa dengan kami, kami akan menjawab, “bahwa kamilah orang-orang yang penuh impian!” Kamilah orang-orang yang tepat untuk digambarkan seperti apa yang dikatakan oleh John Lennon! Mengapa? Sebab dalam beberapa bulan terakhir kami berdua sudah berjalan dari gerbong ke gerbong, kereta ke kereta, stasiun ke stasiun untuk mencari sesuap nasi, ditambah segenggam berlian yang bisa diangkut.

“Joy uang kamu masih berapa?” Tanya Subhan lemas begitu kami sudah agak tenang.
Ku buka dompetku yang rombeng, dan terseliplah di dalam barisan uang kertas berwarna biru, lecek, dan lusuh. Ah masih tinggal 12 ribu rupiah. Impian yang luar biasa itu, ternyata mampu menguras isi dompet yang awalnya jauh lebih tebal daripada saat ini.
“12 ribu lusa kita sudah tak punya uang makan, Han! Kapan Pedang Samuraimu bisa dibeli!?”

Subhan meringis. Ketahuilah, sesungguhnya impian kami adalah impian akan keberhasilan dari sebuah transaksi barang yang tidak lazim. Subhan orang yang berkenalan denganku di stasiun Cikini dulu, mempunyai beberapa buah Samurai Jepang–barang antik yang luar biasa mahal, dan ia simpan barang tersebut di Purwakarta. Konon katanya lagi, begitu barang ini berhasil dijual harga paling rendah yang bisa kami terima adalah berkisar di antara angka 1 Milyar. Wow! Ini adalah sebuah langkah untuk menjadi milyarder, dengan proses yang aku pikir sederhana sekali.

Barang dijual dan orang membeli. Aku yakin, seyakin-yakinnya kalau barang itu original dan benar-benar incaran dari para kolektor barang antik. Persyaratan untuk mencukupi spesifikasi dari benda itu pun cukup. Panjang, lentur, mampu dibuat sabuk dengan ukiran-ukiran huruf kanji, matahari dan ada garis tengah yang disebut “urat darah” jadi apa lagi?! Bagiku, seharusnya tidak susah untuk mencari kolektor ataupun buyer yang sanggup meminang senjata yang satu ini. Tapi kenyataan yang ku terima sangatlah berbeda, kawan. Aku, Subhan, terpaksa harus menjadi gembel dengan masa depan yang tidak jelas akibat ambisi yang terlalu ambisius itu.
“Sekarang, kita harus ke mana lagi, Han?”

Subhan memejamkan mata begitu aku mengeluarkan pertanyaan itu. Dia memang tipe yang eksentrik, tipe orang yang percaya bahwa alam gaib mampu menjadikan manusia kaya di dunia yang menyedihkan ini.
“Pulsaku habis Joy. Ini, aku masih ada satu lagi pembeli yang kemaren menawar pedang kita dengan harga 3 Milyar!”
“Pakai saja handphone-ku, pulsaku masih bisa menelpon kalau itu memang operator yang sama. Tapi, orang yang mau bayar 3 Milyar itu di mana dia tinggal? Kau sudah pernah melihat wajahnya belum?”

Akhirnya angka yang ia sebutkan ternyata mampu menghidupkan semangatku kembali. Semangat yang semula padam karena loncatan maut dari kereta beberapa belas menit yang lalu, semangat yang hampir saja pudar lantaran aku nyaris mati. Pada kenyataannya memang, sudah tidak ada lagi bahasa untuk mundur. Bayangkan saja, dalam beberapa bulan kami berdua berjibaku dengan puluhan calo, dan bahkan puluhan penipu. Sudah lebih dari beberapa juta rupiah uang yang ku keluarkan dari tabungan untuk membiayai semua proses perjalanan dan akomodasi. Aku menantikan hari di mana 1 dari seribu kemungkinan itu berhasil, dan langsung pulang kampung ke Belitung Negeri Laskar Pelangi untuk mengganti status sosial yang memang tidak bisa diandalkan saat ini.

“Tidak diangkat Joy! Mungkin beliau sudah tidur”

Subhan lemas. Jelas orang sudah tidur. Sekarang sudah hampir jam setengah dua belas malam hanya kami saja yang masih gila dan asyik mengobrol di stasiun Cikampek. Sudahlah aku mengatakan kepada Subhan kalau besok pagi orang tersebut harus ditelpon kembali. Jadi, sekarang aku bisa pulang ke rumahnya dan meninggalkan tempat sial tersebut.
“Aku nggak mau pulang dulu, Joy. Aku nggak enak dengan Abah dan Umi… kalau lagi-lagi membawa kabar buruk.”

Ya memang sih, orangtua mana yang akan bahagia kalau mendengar anaknya lagi-lagi gagal, gagal dan gagal lagi? Apalagi dia tidak mau bekerja dengan normal seperti apa yang mereka inginkan. Belum lagi jika ditambah denganku. Seorang teman yang datang dari seberang, kemudian ke luar dari perkuliahan, dan sekarang mempunyai masa depan yang absurd.
“Jadi, sekarang harus gimana?” Tanyaku lagi.
“Kita nginap di sini aja Joy. Kita tunggu kereta Odong-Odong yang datang dari Senen menuju Purwakarta. Kita harus ke sana, di sanalah perwakilan buyer itu tinggal. Untuk uang makan, tenang aja kita ngamen!”

Bah! Lagi-lagi penderitaan! Ah wahai uang 3 Milyar, datanglah dengan cepat, sesegera mungkin! Mau kaya tapi malah berakhir dengan tidur di stasiun!? Apa aku masih tahan hidup dengan impian yang terlalu tinggi dan agak kurang realistis?!

Oke Subhan, ku terima lagi tantanganmu. Lets go and work it!!! Tapi ketahuilah, aku tidak akan mau melakukan perjalanan sejauh Cikini–Cikampek–Purwakarta ini hanya untuk menginap seumur hidup di stasiun yang dingin dan telah membuatku hampir mati tersebut! Di manakah sebenarnya rezeki itu? Di tangan Allah, di tangan Buyer, apa di tangan Subhan? Ah, sudahlah aku terlalu penat dan pusing.

Selanjutnya, ku rebahkan tubuh kumalku di sisi dinding pemesanan karcis tepat pada awal peron stasiun. Di sanalah mimpi indah ini ingin ku benamkan, sebelum esoknya kembali dengan kenyataan yang mudah-mudahan tidak pahit.

Cerpen Karangan: Julian Aditya
Blog: http://aditlingkar.blogspot.com/
Saya adalah seorang pria dari Pulau Belitung yang hobi membaca, menulis, dan menuangkan beberapa inspirasi yang kadang tidak sempat tertampung. Ada beberapa kisah yang saya buatkan dalam bentuk cerpen, berdasarkan dari kisah sebenarnya yang telah terjadi. Bagaimanapun juga, kehidupan sangatlah luas. Nothing is Impossible!

Cerpen Mimipi Indah Stasiun Cikampek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Pengemis

Oleh:
“Ya, saya kira itu saja untuk hari ini. Untuk makalah silakan dikumpul menjadi satu ke ketua kelas dan langsung dipresentasikan minggu depan,” kata Pak Bambang yang kemudian mengucap salam

Sepasang Teratai Muda

Oleh:
Indonesia adalah negara sedang berkembang, dimana masih banyak terdapat kekayaan alam yang belum dapat diungkap keberadaannya. Juga kota-kota besar yang katanya di sana berkumpul semua orang-orang berjas dan berdasi,

Jalan Samping Rumah

Oleh:
Rusman tampak mondar-mandir di sebuah klinik bersalin. Ia dan Mirna, istrinya, sedang menanti kelahiran anak pertamanya. Wajah Rusman tampak kuyu dan lelah. Tepat saat kentongan di pos ronda bertalu

Demi Ayahku

Oleh:
Dinginnya pagi bersama terpaan embun yang menuntun langkahku untuk menuntut ilmu, sesuatu yang wajib kulakukan sebagai pelajar. Tidak seperti biasanya, pagi ini dinginnya udara sampai menembus pori pori kulitku

Kara Bagian 1 Sore itu di Tepi Hutan

Oleh:
Seekor jalak terbang dan hinggap di antara kerumunan kawanannya. Ia mengangkat kepalanya awas, mencari-cari tanda bahaya yang mungkin mengintai di sekelilingnya. Jalak itu mengawasi padang rumput, kubangan dan dataran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *