Miss Eum nya Tak Mau Neneng Foto

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 26 July 2013

“Jangan takut… karena rasa takut itu hanya bayangannya saja yang besar, seperti David menang melawan raksasa besar bernama Goliath itu tak akan terjadi tanpa keberanian yang besar!”

Jumat 14 oktober 2011 pukul 04 sore
Satu Tahun Tujuh belas Hari Sepuluh jam lewat Tiga puluh menit sudah aku bekerja di PT keenlee Indonesia dengan jabatan sebagai disign komputer “MARKER”, hmmm waktu begitu cepat… ini detik-detik terakhirku…

Dulu aku selalu berpendapat “waktu terus berjalan” dan ternyata pendapatku salah, waktu tak pernah berjalan, tetapi waktu terus berlari “time is running! time is running!” begitu cepat berlari.
Kalaupun sebagian orang Indonesia mempunyai istilah “slow but sure” lambat asal selamat, istilah itu sama sekali tidak mendasar bagiku.
Coba, berapa orang yang “Mati” dalam sebuah kecelakaan akibat “LAMBAT” ditangani oleh Dokter, atau seorang lelaki yang “patah hati dan menyesal” akibat “LAMBAT” melamar kekasihnya yang keburu dilamar oleh orang lain, dan aku tak kan pernah lupa, pertama kali aku menangis di tempat kerja gara-gara apa? “LAMBAT” masuk kerja, so… Kalau sudah begitu apa kata “LAMBAT” masih pantas disandingkan dengan kata “SELAMAT”? terserah Anda!.

Sedikit demi sedikit aku menjejaki anak tangga, beberapa saat aku sudah di sambut oleh poster besar dengan model-model cantik di dalamnya yang di bawahnya terdapat tulisan “MADELINE GARDNER” (seoarang perancang busana asal New York, kalau ga salah), aku menarik nafas dan mencoba menikmati irama detak jantukku yang sebenarnya tidak enak itu, kalian tahu?! Aku merasa kesal dengan wanita-wanita di dalam poster dengan gaun-gaun indahnya, tersenyum penuh kebahagiaan seolah menertawakanku dan aku yakin mereka sama sekali tidak memahami perasaanku ini. Sial! Hiks… ~_~
Jadi ingat kata-kata seniorku tadi:
“loe mau pamitan sama orang korea itu?”
“gak takut loe!? dia kan, benci banget sama loe!” katanya yang mungkin sama sekali tidak ada niat menakut-nakuti, tapi sesungguhnya sukses membuatku parno berlipat ganda.
“Neneng’a mau pamitan sama saya?! Neneng’a tidak penting! pergi saja!” temanku yang satu malah meniru-niru gaya Miss Eum atasanku yang berasal dari Korea itu dengan logat yang khas kalau Miss Eum ngomong (seorang Korea ngomong Bahasa Indonesia tercinta, jadi kedengeran aneh!) belum tentu kali Miss Eum bilang gitu…! (batinku menghibur diri sendiri hehehe)

Aku Eneng Ade Qisti yang biasa dipanggil Neneng sama wanita korea bernama lengkap Eum syok hye kyo itu, hanya diam di detik-detik penghabisan anak tangga yang aku pijaki ini, aku sudah melihat pintu ruangan yang orang bilang ruangan “Mister Park” itu, hasil informasi terpercaya mengatakan Miss Eum atasan killer ada di dalam sana! “fuih!” (nyusut keringat ~_~) coba deh bayangin lagi kalau anda lagi deg-degan dan galau? (sudah bayanginnya?!) ah! Masih kurang! Sekarang aku lebih deg-degan dari itu! Dan aku terdiam di tangga paling akhir, kalau ini tangga eskalator mungkin aku sudah terjepit dari tadi.
Ingin rasanya mundur, tapi hanya diam sementara pintu ruangan “Mister Park” berwarna cokelat muda itu seolah berkata “sana pulang! Gak usah pamitan!” pintu itu ngedadak “Misterius”.
Tapi sekali lagi “time is running…!” waktu terus berlari dan aku tak boleh berjalan apalagi diam seperti ini.
“ARRRGGGT!” ingin rasanya teriak!
Ok! Tak perlu BABIBUBEBO…pintu yang dulu bernama pintu “Mister Park” dan sekarang jadi pintu “Mister iyus” itu aku ketuk “tok…tok…tok…”.

Aku melangkah ke dalam tak melihat sesosok pun di kursi kerja itu, dan… kejutan! Miss Eum yang terhormat ada di sudut sana lagi lesehan maenin laptopnya di atas lantai dan ku fikir terlihat lebih “Misterius” ketimbang pintu tadi..(wkwkwkwk :D)
“permisi Miss…” Kataku sedikit menundukan kepala, pehatiannya langsung tertuju padaku, aku langsung duduk di hadapannya dan mengimbaginya yang lagi duduk lesehan di depan laptopnya itu.
“saya mau pamit” kataku dengan suara bergetar, mengalahkan getaran gitar Bung H.Rhoma Irama.
“kuliah saja, tidak kerja?” katanya yang tidak mengijinkanku untuk kuliah sambil bekerja di Perusahaan yang ia pimpin, PT KEENLEE!
“mau cari kerja lagi miss!, buat biaya kuliahnya… yang Sabtu Minggu libur..” jawabku
“ada? Yang Sabtu libur?” dia balik nanya, pertanyaannya seolah meragukan pilihanku untuk kuliah dan hengkang dari perusahaanya… dan kali ini dia malah mainin hapenya dan kemudian menaruhnya lagi tanpa melihatku… (aku tak di anggap! Hiks)
Aku tak menjawab pertanyaan yang sungguh tak memerlukan jawaban itu!
“eu… gini miss, saya mau terimakasih udah di ajarin disini, eu… saya juga minta maaf eu… selama kerja banyak salah… eu…eue…” aku benar-benar bicara dengan nada gak karuan dan dipenuhi dengan “euu…eu…eu…” ~_~

Aku kembali menatapnya, terbayang sudah kenangan-kenangan indah yang begitu menyedihkan (lho?), saat aku di marahin habis-habisan sama wanita kelahiran Negeri gingseng itu, saat aku mendengar teriakannya yang cetar membahana kalau lagi marahin leader kami gara-gara salah pakai warna bahan yang seharusnya rasberry malah berrypink itu, hmm sampai sekarang pun aku masih bingung ngebedain warna-warna bahan yang ada di perusahaan disign ini, ada warna berry, ras berry yang dulunya aku kira warna pink itu, atau warna aqua yang hampir mirip dengan warna biru, ada purple, deep purple! Ah! Aku jadi ingat paling seumur hidup selama aku belum kerja disini yang aku tahu Cuma warna primer dan sekunder ditambah warna merah terasi atu hijau tai kebo, (haahahaha), Miss Eum memang suka marah-marah, benar-benar kami dijajah, aku kira Indonesia sudah merdeka, nyatanya… masih seperti tamu di rumah sendiri, lebih parah dari itu! Seperti PEMBANTU di rumah sendiri! Dan kini aku akan berlari menuju jalanku untuk pergi dan meraih mimpi, tentunya bukan disini. Aku ingin merdeka!

Kali ini dia menatapku dan… Miss Eum senyum! Sungguh tak bisa dipercaya, DIA… SENYUM PADAKU! Coba setiap hari dia seperti ini, mungkin orang-orang tidak kesal dan mengutuknya!
Terus terang senyumnya membuat aku lebih pede untuk bicara
“oya, Miss boleh minta foto?!” Kataku (serius!) aku mengatakan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“hahaha… jangan foto saya, sayanya lagi tidak bagus… hahaha” dia tertawa sambil menutupi wajah dengan selendang yang ia pakai.
“ya sudah terimakasih” kataku… aku menyodorkan kedua tanganku, Miss Eum pun menyodorkan tangannya kami bersalaman dengan gaya cirri khas “sunda”.
Aku bernafas lega, keluar ruangan, menutup pintu yang sudah gak “Mister iyus” lagi itu, tak lupa pada si pintu aku bilang “dadah! ^_^” membelakanginya dan KABURRR!

Jangan takut! Karena rasa takut itu hanya bayangannya saja yang besar! Kini buktikan kalau kita bisa menang melawan raksasa apapun itu!

“Miss_Eumnya tidak mau Neneng foto?” ( wkwkwkwk^^)!

Cisarua, Wednesday, Oktober 19 2011
By: Sang Pemenang

Cerpen Karangan: Ade Qisti
Facebook: Ade Qisti Meraih Mimpi

Cerpen Miss Eum nya Tak Mau Neneng Foto merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di jalan Itu

Oleh:
Di jalan itu aku melihatnya sedang duduk. Di sekitar pelatarannya berserakan sampah-sampah. Meskipun bertelanjang dada, tapi tawa bahagia tak pernah terusik dari bibirnya. Memang demikian, terbukti kalau manusia miskin

Kuatkan Aku Tuhan

Oleh:
Haruskah aku sembunyi dari kenyataan. Haruskah aku menghapus semua mimpi-mimpi yang telah lama aku ukir di hatiku. Aku begitu lemah sekarang, ingin rasanya aku teriaak tapi itu tak mungkin

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Aku dan kamu adalah sahabat sejak kita kecil. Kita sangat dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama. Hingga kita beranjak remaja, kita mulai menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar

Ombak Di Masa Lalu (Part 1)

Oleh:
– Pertama Kali Desiran angin menghantam raga sekaligus jiwa ini, tepat di senja sore sekitar jam 5 di hari sabtu, aku yang mengantar Soffi pulang ke rumahnya sehabis berjalan-jalan

Mimpi Lastri

Oleh:
Gadis yang masih cukup belia itu mendesah, bingung dan bimbang bagai dilema menguntit nuraninya. Pertanyaannya, apa yang harus dia lakukan sekarang dan selanjutnya. Haruskah dia menyesali semua ini. Wajahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *