Mr. Introvert

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 April 2016

Aku lihat keringat dingin ke luar bercucuran, matanya yang tajam dan alisnya yang tebal tak beraturan ternyata belum bisa membantunya ke luar dari tekanan ini, kabur sejauh-jauhnya dari tempat ini, menghindari dari keramaian orang-orang di pasar malam yang sudah menjadi tradisi di Demak, Besaran.

“Kenapa, Mas?” tanyaku panik.
“Tidak apa-apa, Mbak.” Jawabnya lirih. Mungkin juga hatinya sedang mengumpatiku. “Kamu sudah puas ngerjain aku? Kamu sudah tahu kalau aku tak suka keramaian, namun kamu masih saja memaksaku!” Kemarahannya tak akan tersampaikan padaku, ia lampiaskan pada adik semata wayangnya, Lisa.

Tempat yang paling aku sukai dari semua bagian rumah ini adalah sebuah jalan kecil di belakang rumah yang di depannya terhampar langsung sawah luas dengan berbagai macam pepohonan. Selain pemandangannya yang memang menyita perhatianku, aku bisa mendapatkan sinyal HP yang bagus di tempat ini. Desa ini merupakan bagian paling timur kecamatan Guntur Demak. Berbatasan langsung dengan Grobogan. Aku tidak mengatakan masyarakatnya sangat tertinggal, namun apa alasan lain yang lebih tepat sehingga aku mendapatkan tempat KKN di desa ini selama 45 hari. Mungkin karena takdir.

45 hari aku akan menghabiskan hariku di desa ini, anggap saja desa pengabdian. Desa yang kala musim kemarau masyarakatnya dikenal dengan panen buah blewah yang banyak dan murah, ya sangat murah. Di desa ini aku bisa mendapatkan harga Rp. 500 rupiah per kilo. Tak sebanding dengan keringat kepanasan dari petaninya. Debu akan berhamburan tinggi saat ada motor atau mobil melintas di jalan desa ini (kala itu), musim kemarau panjang yang akan menemaniku selama 45 hari kedepan, tak apa.

“Mbak, lagi apa?” aku lihat si kecil Lisa sudah duduk di sampingku.
“Hai, Dek. Sejak kapan di sini?” aku tutup novel yang sedang aku baca.
“Baru saja kok, Mbak, ” jawabnya dengan senyum tipis.
Si kecil Lisa, anak paling bontot dari keluarganya, kakak pertamanya sudah lama lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang dan kini sudah bekerja di luar daerah, dan kakak keduanya yang terkenal sangat pendiam dan susah bergaul dengan orang-orang baru, Namanya Rifqi Azmi.

“Ada yang bisa ku bantu, dek?”
“Mbak lagi sibuk ya?”
“Nggak kok?” Jawabku sambil membenarkan kerudung hijau yang dikenakannya, ku pikir itu kedurung favoritnya karena seringkali ia kenakan.
“Jalan-jalan yuk, Mbak. Naik sepeda, keliling desa.”
“Besok pagi ya, Dik. Ini sudah hampir maghrib.”
“Iya deh.” Jawabnya polos.

Satu minggu aku hidup dengan keluarga kecil ini, cukup membuat aku dan si kecil Lisa menjadi dekat. Sering kali kami menghabiskan waktu bersama dengan sekedar sepedaan keliling desa, ngobrol sambil makan roti oreo rasa stroberi kesukaannya, dan belajar pelajaran kegemarannya. Ia lebih suka berkutat dengan bahasa dari pada ilmu perhitungan, begitu kata ibunya. Kedekatan semakit terlihat hingga suatu hari ia bercerita, tentang masa kecilnya yang kuanggap tadinya biasa-biasa saja. Ternyata ia punya trauma masa kecil dengan kakaknya yang biasa aku panggil Mas Rifqi.

“Apa?” pasti pertanyaan itu muncul kalau berada pada posisiku kala itu.
“Aku benci sama Mas Rifqi, dia Jahat.”
Maka pertanyaan selanjutnya yang akan muncul adalah, “Kenapa?”
“Aku dicekik sama Mas Rifqi,” jawab si kecil Lisa dengan nada menggebu (kala itu).
“Lalu?” pertanyaanku cukup mengikuti saja.
“Dia memang seperti itu, Mbak. Dia juga sering banting barang kalau sedang marah.”

Aku tidak lagi mengajukan pertanyaan yang mengikuti ceritanya, pikirku cukup sampai di sini. Ini cukup menjadi alasan kenapa kedua saudara itu tak terlihat dekat selayaknya kakak dan adik. Aku lihat terdapat trauma dalam dirinya, trauma yang belum tersembuhkan. Seperti malam-malam biasanya, setelah selesai tugas bimbel bersama anak-anak kecil di desa seringkali kami menghabiskan waktu di rumah bagian belakang, sebuah meja pimpong menjadi salah satu hiburan yang sudah ada sejak kami datang ke rumah ini. Karena tidak terlalu menyukai anak kecil aku seringkali lebih dulu kabur dan membuat teh di dapur sambil membacai novel favoritku. Aku dapati Mas Rifqi yang sibuk dengan laptopnya di atas meja pimpong yang terletak satu ruangan dengan dapur. Seperti biasa, dia bukan tipe yang ramah dengan orang yang baru dikenalnya, bahkan untuk sekedar menyapa duluan. Aku mengalahi.

“Sibuk, Mas?” sambil menyalakan kompor untuk merebus air.
“Lumayan, Mbak,” seperti biasa jawabnya seadanya dengan senyum simetris.
“Mau teh?” aku berusaha mencairkan suasana, “Tidak, terima kasih,” jawabnya masih saja kaku. Aku hanya meng-huh- dan berusaha sabar menghadapi.
“Boleh aku bertanya?” seketika ia mengalihkan matanya dari laptop dan melihat aku yang sudah duduk tak jauh darinya, ku anggap aku tak memerlukan izin untuk sekedar duduk.

“Silahkan.”
“Tapi tidak boleh marah ya, janji?” setidaknya aku mencari aman, hehehe.
“Iya,” ia mengangguk memerima.
“Pernah Mas Rifqi menampar orang?” jawabnya, “Tidak.”
Aku melanjutkan, “kalau mencekik orang?” seketika ia melihatku dengan tatapan berbagai makna, mungkin curiga.
“Pernah, Mbak.”
“Siapa?”
Di luar dugaanku ia menjawab, “Lisa.”

Aku tersenyum membenarkan kejujurannya, sejak hari itu komunikasi kita tak sekaku sebelumnya. Ya, biarpun hanya lewat hp. Dari situlah ia juga mengakui bahwa dirinya adalah seorang introvert, istilah yang sebelumnya belum pernah aku dengar. Google membantuku untuk menemukan makna introvert, adalah seorang yang memiliki kepribadian pemalu, jarang bergaul, susah berinteraksi dengan orang-orang baru dan memiliki kepribadian yang tertutup, hanya akan terbuka dan bisa berbicara banyak kepada keluarganya atau orang-orang terdekat saja. Hmm batinku berkata, “Pantesan, jadi ini yang sebenarnya.”

KKN-ku hampir selesai dan harus meninggalkan Lisa juga keluarga kecilnya, juga harus meninggalkan sebuah desa kecil yang berbatasan dengan Grobogan itu. Suasananya yang sepi karena belum begitu banyak terjamah oleh teknologi. Apa kamu ingin desa ini berubah menjadi kota? “Cukup jadi sebuah desa saja dengan kearifan lokal yang kami punya.” Begitu jawab Rifqi. Ya, Si Manja itu juga punya impian suatu saat ingin membangun desanya. Biarpun dia seorang Introvert namun dia yakin mampu membangun desanya. Biarpun keintrovertannya menjadi salah satu masalah besar yang harus terlebih dahulu dipecahkannya, aku menaruh keyakinan penuh padanya. Dia pasti bisa, pasti mampu. Malam sebelum aku meninggalkan tempat itu, ku sempatkan untuk sedikit berbincang dengannya. Masih di meja pimpong itu pula, dan dengan suasana yang tak berbeda pula. Aku masih yang harus mengalah untuk memulai berbicara.

“Bisa Mas Rifqi berjanji padaku?”
“Apa, Mbak?”
“Sebelum aku kembali ke Semarang, berjanjilah sebagai temanku. Berjanjilah tidak menyakiti Lisa, Bisa?”
“Iya, Mbak.” Jawabannya membuat hatiku lega. Kami menutup malam itu dengan sebuah janji, dia berjanji untuk tidak mudah marah dan sebisa mungkin meredam tempramentalnya. Sedang aku juga berjanji untuk menjaga janjinya dan menjitak kepalanya jikalau suatu saat dia lupa akan janjinya. Ya, menjitak kepala Si Manja itu. Si Mr. Introvert.

Cerpen Karangan: Akhil Bashiroh
Blog: dzatu himmah.blogspot.com
Facebook: Bintu Aql

Cerpen Mr. Introvert merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebatang Lilin Kehidupan

Oleh:
Mereka percaya tuhan. Mereka juga percaya keajaiban, meskipun tuhan jarang memberi mereka keajaiban, dan dunia malah berbalik menyerang mereka, tapi mereka menerima semuanya dengan lapang dada. Mereka menganggap bahwa

Peri Kecil Tanpa Sayap

Oleh:
Aku tak tau sampai saat ini, alasan mengapa ayah meninggalkanku, dan ibu tentunya. Bukan ayah sebenarnya, tapi ibu, tapi bukan ibu pula, tapi takdirlah yang memutuskan. Aku hanyalah anak

Khayalan Masa Tua

Oleh:
Di kesunyiaan malam yang pekat tanpa bintang, tiba tiba secercah cahaya lewat di pandangan mata yang kini mulai menua. “ini masa laluku, ketika aku masih menjadi pemuda yang tangguh

Pedagang Kecil

Oleh:
“Naik lagi?” tanyanya dengan nada tinggi penuh penasaran, juga kekesalan. “Yah, hampir segala bahan baku dimonopoli para cukong (tengkulak besar, pen). Permainan harga pada akhirnya dianggap wajar. Hukum rimba

Past, Present, Future

Oleh:
“Siapa kamu?” Hanya seorang manusia dari masa depan yang datang ke masa lalu untuk melihat kejadian kejadian yang merubah dunia ini. Yang membuat dunia ini seperti yang sekarang dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *