Mukena Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

Sinta! Seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak dan juga seorang janda yang ditinggal mati oleh sang suami yang bekerja sebagai nelayan. Sebenarnya Sinta belum mengetahui akan keadaan suaminya itu. Selama beberapa tahun setelah kejadian itu jasad sang suami masih belum ditemukan. Ia berkomitmen jika Ia masih belum melihat jasad suaminya itu dengan mata kepalanya sendiri Ia masih menganggap jika suaminya masih hidup.
“Jika saya masih belum melihat jasad suami saya dengan mata kepala saya sendiri. Maka saya masih percaya jika suami saya masih hidup. Saya akan tetap menunggu dia berapa tahun pun lamanya. Atau bahkan sampai ajal menjemput saya.” Ungkapnya berharap jika mukjizat itu datang dan membawa sang suami pulang ke rumah dengan keadaan selamat.

Hari itu perasaan Sinta tak tenang. Ia mengantarkan sang suami menuju kapal nelayannya untuk mencari ikan pagi itu. Pagi itu sempat Sinta berpesan pada sang suami. “Yah perasaan Ibu gak tenang. Ibu khawatir! Ibu mohon Ayah jangan pergi melaut hari ini yah?” Ucapnya dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.
“Tidak Ibu! Jika Ayah tidak melaut bagaimana kita mau makan! Kita sudah cukup menderita kekurangan uang untuk makan. Ibu tidak memikirkan kedua anak kita.” Ucap Heri pada istrinya itu. Ia melihat Sandi anak pertamanya yang baru berusia sepuluh tahun itu serta anak bungsunya bernama Heni yang berada dalam gendongan sang istri karena memang dia baru berusia satu tahun.
“Tapi perasaan Ibu tidak enak. Feeling Ibu akan terjadi sesuatu pada Ayah nantinya.”
Heri tersenyum ke arah sang istri. “Ibu tenang! Semuanya sudah Allah yang mengatur. Jika memang nanti terjadi sesuatu pada Ayah sebelum Ayah sempat pulang Ibu harus berjanji akan selalu tabah dan berlindung pada Allah. Jaga anak-anak kita Bu. Mereka anugerah terbesar yang kita punya.”
Sinta tersenyum mengiyakan ucapan sang suami. Ia mencium punggung tangan suaminya tak lupa kedua anaknya pun Ia suruh untuk melakukan hal yang sama karena pendidikan saling menghormati harus ditanamkan sejak kecil bukan!

Heri berlayar menuju tengah laut yang pagi itu terlihat begitu cerah. Sinta menatap kepergian suaminya itu. Perasaan tak tenang itu tetap saja bergejolak di hatinya. Walaupun hari telah menjelang siang perasaannya itu tak semata-mata hilang. Tadi dia mendengar dari salah satu nelayan yang telah pulang jika terjadi badai di tengah laut dan seluruh nelayan telah pulang dengan selamat tapi tidak dengan suaminya. Ia melihat ke seluruh nelayan di kampungnya tapi Ia sama sekali tak melihat keberadaan sang suami.

“Suami saya mana?” Tanya Sinta pada salah satu nelayan yang telah berhasil pulang.
“Maaf Bu Sinta saya tidak bisa menyelamatkan Pak Heri.” Ucap Pak Joko salah satu nelayan yang pulang dengan selamat.

Pagi itu Pak Joko dan Pak Heri berlayar untuk mencari ikan ke tengah laut. Tapi tak disangka cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung. Pak Joko yang mempunyai firasat tak enak hanya menjala ikan tak jauh dari pantai. Sedangkan Pak Heri terus berlayar jauh ke tengah laut. Ia sempat berteriak pada Pak Heri saat itu. “Pak Heri jangan melaut terlalu jauh sepertinya hari ini akan mendung.” Teriak Pak Joko mencegah.
“Tidak Pak! Jika menjala ikan lebih ke tengah laut pasti terdapat banyak ikan.” Teriak Pak Heri yang masih saja tetap dengan pendiriannya menjala ikan jauh ke tengah laut.

Beberapa saat setelah itu cuaca memang sontak berubah drastis menjadi mendung bahkan lebih dari mendung. Angin sangat kencang berhembus! Pak Joko melihat ada pusaran angin yang begitu besar di tengah laut. Ia meneriaki Pak Heri untuk segera kembali ke tepi. “Pak Heri cepat kembali akan ada badai.” Teriak Pak Joko tapi Pak Heri tak mendengarkannya.
Tak ingin mengambil resiko Pak Joko akhirnya memutar balik perahunya ke tepi saat itu Ia melihat perahu yang ditumpangi Pak Heri terhantam pusaran angin yang terlihat begitu dahsyat itu. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Pak Heri setelahnya yang Ia pikirkan hanyalah kembali ke tepi untuk menyelamatkan dirinya.

Setelah mendengar penjelasan dari Pak Joko Sinta seakan tersambar petir yang dahsyat bahkan beribu-ribu kali lebih dahsyat dari petir sekeras apapun yang pernah Ia lihat dan dengar. Kakinya tak dapat lagi menopang bobot tubuhnya. Ia terduduk di tempatnya berdiri dengan tatapan kosong serta air mata yang terlihat sudah deras mengucur dari pelupuk matanya.
Seluruh warga yang berada di sana mencoba untuk menenangkan Sinta yang pada akhirnya jatuh pingsan yang saat itu langsung dibawa pulang ke rumahnya.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Hidup Sinta seakan lebih sulit dari sebelumnya. Jika sebelumnya saat suaminya masih ada mereka susah untuk mencari sesuap nasi tapi bahkan saat suaminya telah tiada hidupnya dan juga kedua anaknya begitu memprihatinkan. Sinta rela bekerja sebagai buruh serabutan untuk menghidupi kedua anaknya yang saat itu masih kecil. Hingga sekarang anak pertamanya berumur lima belas tahun dan anak bungsunya menginjak enam tahun.
Ia sungguh bersyukur ditengah kemiskinan yang selalu mendera keluarga kecilnya ini. Ia masih tetap diberi kesehatan untuk bekerja menghidupi keluarganya. Tak lupa Ia selalu bersyukur atas nikmat hidup yang Allah berikan padanya.

Sinta menengadahkan kedua tangannya mendongakan kepala menatap langit-langit kamar rumahnya. Dengan mukena yang sudah sangat lusuh dan robek sana-sini serta tambalan dan jahitan yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya Ia tetap khusyuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
“Yaa Allah terima kasih banyak atas nikmat hidup yang selama ini telah Engkau berikan kepada hamba. Terima kasih karena Engkau masih memberikan hamba kesehatan untuk mencari nafkah bagi anak-anak hamba. Diatas sulitnya hidup yang sedang hamba alami, hamba tetap bersyukur atas segalanya karena nikmat ini adalah rasa kasih sayangmu kepada keluarga kecil hamba. Teruslah beri hamba dan kedua anak hamba kesehatan Yaa Allah berilah kami semua kebahagiaan yang tak terkira di mata kami. Amiin. Amiin Yarabbal Alamiin.” Do’anya lantas mengusap seluruh wajahnya dari dahi sampai dagu. Setelahnya Ia langsung membereskan mukena lusuhnya itu dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk kedua anaknya.

Tanpa sepengetahuan Sinta. Sandi anak pertamanya mendengar seluruh do’a sang Ibu yang menusuk batinnya. Ia bangga mempunyai Ibu seperti Sinta. Yang rela mengerjakan apapun demi mencari nafkah yang halal bagi keluarganya. Dalam usianya yang masih terbilang sangat muda Sandi sudah bekerja membantu sang Ibu mencari nafkah. Ia bekerja sebagai seorang kuli panggul di pasar dekat rumahnya. Cita-citanya hanya ingin membelikan mukena yang layak untuk Ibundanya itu. Karena Ia tahu dari dulu sang Ibu sangat ingin mempunyai mukena baru untuk dipakainya Shalat. Sebenarnya diusianya sekarang Ia masih harus melanjutkan sekolahnya tapi tuntutan biayalah yang menjadi alasannya berhenti sekolah dan membantu Ibunya bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dulu sempat Sinta menabung untuk membeli mukena baru tapi ketika uangnya telah terkumpul ada saja cobaan yang menerpanya untuk membeli mukena baru. Heni putri bungsunya itu mendadak sakit panas tinggi dan harus dibawa ke dokter. Sinta yang saat itu memang tak mempunyai uang merelakan uang yang telah Ia kumpulkan hasil jerih payahnya selama beberapa bulan untuk membeli mukena baru itu dipakainya untuk berobat anak bungsunya Heni. Karena menurutnya kesehatan anak-anaknya jauh lebih penting dari pada Ia harus membeli mukena baru. Toh mukena lamanya masih bisa Ia pakai.

Sinta terduduk di samping tempat tidurnya sambil menggenggam uang seratus ribuan sebanyak dua lembar. Senyumnya mengembang niatnya ingin membeli mukena baru akan segera terlaksana. Bagaimana tidak! Dia ingin membeli mukena baru dari berbulan-bulan yang lalu. Tapi uang yang Ia kumpulkan baru saja terkumpul hari ini. Setelah Shalat Dzuhur Sinta berniat akan kepasar untuk membeli mukena baru. Tapi baru saja selesai Ia menunaikan kewajibannya itu Sandi putra sulungnya berteriak memanggil namanya.
“Ibu… Ibu… Cepat ke kamar adik.” Teriak Sandi yang Ia yakin berasal dari kamar putri bungsunya Heni.

Sinta sesegera mungkin membereskan mukena nya dan berlari menuju kamar Heni. Ia melihat Sandi yang sedang menangis sementara Heni terlihat kejang-kejang. Sinta panik Ia tak tahu harus berbuat apa. Tanpa berpikir Ia langsung menggendong putrinya itu berniat untuk pergi ke dokter. Karena Ia tahu bahwa Heni sudah dua hari sakit panas dan Sinta hanya memberinya obat warung saja.
Dengan mengikuti langkah kaki sang Ibu yang terlihat sangat panik Sandi pun tak kalah panik dan khawatir akan keadaan adiknya itu. Ia berusaha menyetop angkot untuk dijadikan kendaraan mereka menuju ke dokter. Tepatnya ke puskesmas kampungnya.

Sinta terlihat mondar-mandir di depan ruangan puskesmas di kampungnya karena jika ke rumah sakit Ia sama sekali tak mempunyai uang lagipula jarak rumah sakit dari rumahnya terbilang sangat jauh. Hampir sepuluh kilo meter jauhnya. Dokter yang menangani Heni keluar dari ruang puskesmas khusus untuk anak-anak.
“Ibu tidak perlu khawatir anak Ibu tidak apa-apa. Dia mengalami kejang-kejang karena suhu badannya yang sangat tinggi. Dia hanya perlu meminum obat dan beristirahat.” Jelas Dokter itu yang hanya dihadiahi rasa lega dalam diri Sinta ataupun putra sulungnya Sandi.

“Sandi tolong jaga adik kamu yah Ibu mau menebus obatnya dulu.” Ucap Sinta lembut pada Sandi. Sandi mengangguk lantas berjalan memasuki ruangan adiknya sementara Sinta berjalan menuju bagian administrasi untuk menebus obat serta membayar biaya pengobatan anaknya.

“Totalnya dua ratus dua puluh ribu Ibu.” Ucap seorang wanita didalam loket pengambilan obat.
Sinta terperangah. “Apa tidak salah? Banyak sekali?” Tanya Sinta memastikan.
“Tidak Ibu. Totalnya memang segitu.”
Sinta merogoh uangnya di dompet lusuh miliknya. Ia hanya mempunyai uang dua ratus ribu itu pun uang yang susah payah Ia kumpulkan untuk membeli mukena baru. Sinta memberikan uangnya kepada wanita di depannya. “Saya hanya mempunyai dua ratus ribu Nona! Apakah kekurangannya bisa dicicil nanti.” Ucap Sinta.
“Baiklah tapi jumlah obatnya saya kurangi yah Ibu.”
“Baik.”
“Tidak perlu.” Ujar Sandi yang sejak tadi berdiri di belakang tubuh Ibundanya. Sinta membalikan badannya ke arah Sandi. “Kamu kenapa ada di sini Nak? Bukankah ibu sudah bilang agar kamu menjaga adik kamu saja di sana?” Ujar Sinta menatap wajah anaknya itu.
Sandi menggeleng cepat. “Bagaimana Sandi bisa tenang jaga adik jika Ibu di sini sedang kesulitan membiayai biaya pengobatan adik.” Sandi merogoh sesuatu di dalam kantong celananya. Ia mengambil uang berjumlah dua puluh ribu di sana. “Ini Sandi punya uang dua puluh ribu. Ini tabungan Sandi Bu. Ibu ambil saja untuk menutupi kekurangan biaya pengobatan adik.”
Sinta menolak dengan lembut uang pemberian Sandi. “Tidak Nak! Itu uang kamu! Hasil kerja keras kamu! Tidak apa-apa nanti Ibu yang bekerja menutupi kekurangan biaya pengobatan adikmu.”
“Ibu! Sandi ini anak kandung Ibu kan?” Sinta mengangguk mantap pertanyaan anak sulungnya itu. “Jika Sandi anak kandung Ibu tolong biarkan Sandi membantu Ibu. Walaupun Sandi tahu itu gak sebanding dengan seluruh pengorbanan yang telah ibu beri untuk Sandi dan juga adik.”
Sinta menghela nafas panjang. Tak lama Ia pun mengangguk mengiyakan permintaan Sandi. Sandi tahu apapun yang Ia lakukan tak ada harganya jika dibanding dengan pengorbanan dan jerih payah sang Ibu untuk menghidupinya dan juga adiknya sejak kepergian Ayahnya di laut bertahun-tahun lalu.

Sandi menatap Ibundanya yang terlihat sedang menunaikan Ibadah Shalat Shubuh dengan Khusyuknya. Matanya berkaca melihat betapa sang Ibu tetap bersyukur dan tawakal atas segala sesuatu yang menerpa dirinya ataupun keluarga kecilnya ini. Ia pun juga tak tega melihat mukena yang dipakai oleh Ibunya. Mukenanya sungguh sudah sangat jelek. Warnanya yang sudah sangat lusuh dan juga tak sedikit bagian mukenanya yang robek dan dijahit oleh ibunya untuk menutupi kerobekannya itu.

Sandi berjalan ke arah depan rumahnya. Pagi itu suasana masih sangat gelap. Ia bertekad untuk bekerja keras dan membelikan mukena yang layak untuk Ibunya. Ia menghela napas panjang dan menyemangati dirinya sendiri. Ia berjalan kaki ke pasar untuk menjadi kuli panggul. Tak sedikit orang di sana yang menyewa jasa kuli panggul untuk membawakan barang belanjaan mereka yang tak sedikit. Maklum Kebanyakan warga di kampungnya itu membuka warung atau hanya sekedar belanja untuk kebutuhan selama satu bulan.

Sandi melihat salah satu mukena yang indah terpajang di salah satu toko dipasar. Ia menanyakan harga mukena itu pada si penjual.
“Harga mukena itu seratus lima puluh ribu.” Ucap sang pedagang. Sandi merogoh uang yang Ia punya setelah Ia hitung ternyata uangnya baru lima puluh ribu. Masih kurang seratus ribu untuk membeli mukena yang Ia inginkan untuk hadiah pada Ibunya. “Pak saya mau beli mukena itu tapi uang saya masih belum cukup. Tolong Bapak simpan mukenanya yah. Nanti jika saya sudah punya uang yang cukup saya akan beli mukena itu.” Papar Sandi.
“Baiklah.”

Selama berminggu-minggu Sandi bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi kekurangan uang yang Ia punya untuk membeli mukena buat Ibunya. Malam ini uangnya sudah cukup untuk membeli mukena yang Ia inginkan. Sandi berjalan menuju toko yang dulu pernah Ia singgahi untuk membeli mukena.
Setelah membelinya Ia kemudian beranjak untuk pulang ke rumah. Membawa mukena yang Ia hadiahkan untuk sang Ibu. Segurat senyum terpancar dari wajahnya. Akhirnya setelah lama Ia berjuang untuk membeli mukena hari ini Ia telah berhasil membelinya. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira yang Ia rasakan setelah membeli mukena itu.

“Tolong.. Tolong..”
Saat di perjalanan pulang Sandi disuguhi suara teriakan minta tolong dari seorang Bapak paruh baya yang berdiri di pinggir trotoar jalan. Ia menghampiri Bapak itu dan menanyakan apakah yang terjadi dengannya. Ternyata Ia dijambret oleh seorang pria. Sandi langsung mengejar penjambret itu dengan petunjuk dari Bapak tadi jika penjambretnya berlari ke arah utara.

Tak lama Sandi menemukan penjambret itu yang bersembunyi di antara tong minyak besar di jalan buntu. Karena Ia tahu tidak ada jalan lain di daerah sana. Akhirnya perkelahian tak terhindarkan. Sandi memukul penjambret itu dengan mukena sang Ibu yang baru saja Ia beli. Tapi sayangnya mukena itu robek karena sabetan benda tajam yang penjambret itu bawa. Disaat Sandi lengah karena melihat keadaan mukena untuk Ibunya sang penjambret langsung menusuk pungguh Sandi dengan pisau tajam yang sejak tadi dipegangnya. Sandi jatuh tersungkur bersimbah darah akibat tusukan benda tajam yang Ia terima. Sedangkan sang penjambret yang baru saja ingin kabur kepergok warga yang terlebih dulu datang. Penjambret itu langsung diamankan ke pihak yang berwajib. Sedangkan Sandi langsung dibawa ke rumah sakit untuk menindak lanjuti lukanya.

Sinta yang mendengar kejadian yang menimpa anaknya panik. Sebelumnya Ia bingung harus berbuat apa karena jarak rumah sakit yang jauh dan juga anggaran ongkos yang tak sama sekali Ia miliki. Tapi Alhamdulillah ada tetangga yang baik hati yang dengan suka rela mengantarnya menuju rumah sakit dengan mobil pickup yang Ia punya.

Sinta menelusuri setiap lorong-lorong rumah sakit menuju ruang UGD dengan menuntun Heni putri bungsunya. Ia melihat ada seorang Bapak-Bapak yang berdiri di depan ruang UGD. Ia menanyakan akan keadaan anaknya dan kenapa sampai bisa terjadi hal seperti itu pada Sandi putra sulungnya. Sang pria menjelaskan tentang inti masalah yang terjadi sampai Sandi bisa seperti itu. Sinta tak dapat menahan air matanya. Ia takut jika hal yang tak Ia inginkan terjadi lagi pada putranya. Sudah cukup Ia kehilangan suaminya tanpa kabar sekarang Ia juga tak ingin kehilangan Sandi. Anak yang teramat Ia sayangi.

Tak lama dokter keluar dari ruang UGD. Ia menjelaskan akan keadaan Sandi. “Pasien tidak apa-apa. Untungnya luka tusukannya tidak terlalu dalam. Sekarang dia sudah sadar dan ingin bertemu dengan Ibunya.” Jelas Dokter yang bername-tag Fahri itu.
Sinta langsung masuk ke dalam ruang UGD setelah sebelumnya meminta izin kepada sang dokter untuk melihat keadaan putranya.

“Ibu maafkan Sandi.” Lirih Sandi kepada sang Ibu yang baru saja datang.
“Tidak perlu meminta maaf sayang. Kamu kenapa meminta maaf pada Ibu. Kamu sama sekali tidak salah kepada Ibu sayang.”
“Sandi membelikan mukena baru untuk Ibu tapi mukenanya rusak Bu. Maafin Sandi Bu, Sandi tidak bisa menjaga mukenanya untuk Ibu.”
“Tidak sayang. Tidak apa-apa itu mungkin bukan rezeki Ibu. Ibu harus lebih banyak bersabar dan ikhtiar untuk bisa membeli mukena baru. Tidak apa-apa! Kamu jangan menyalahkan dirimu sayang. Sekarang yang harus kamu pikirkan itu adalah kesehatan kamu. Yah!!” Jelas Sinta dengan deraian air matanya.

“Maaf Bu.” Ucap Bapak paruh baya yang tadi ditolong oleh Sandi. “Maafkan saya! Saya Pak Rendi. Anak Ibu seperti ini itu karena menolong saya menangkap jambret yang mengambil tas saya. Saya sangat berterima kasih kepada anak Ibu karena telah menolong saya. Jika tidak ada dia saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya nantinya. Karena di dalam tas itu ada kehidupan saya. Di sana ada dokumen-dokumen penting perusahaan saya. Jika dokumen itu hilang saya tidak tahu nantinya akan seperti apa. Yang jelas saya ingin berterima kasih pada anak Ibu karena telah menolong saya. Dan saya berjanji akan mengganti mukena yang kamu beli untuk Ibu kamu nanti yah Sandi.” Jelas Pak Rendi berterima kasih.
“Tidak usah Pak. Saya ikhlas menolong Bapak. Saya tidak menginginkan apapun untuk itu. Hanya melihat Bapak selamat dan dokumen Bapak kembali pada Bapak saja sudah mampu membuat saya bahagia. Karena Ibu selalu mengajarkan saya untuk tidak pamrih menolong seseorang. Selalu mengajarkan saya untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.” Jelas Sandi menatap pria paruh baya dihadapannya.
“Kamu memang anak yang luar biasa Sandi. Ibu kamu sangat beruntung mempunyai anak berhati malaikat seperti kamu. Tapi kali ini jangan tolak saya untuk membantu kamu yah Sandi. Sejak dulu saya ingin mempunyai anak laki-laki tapi tidak dikaruniai anak laki-laki oleh Allah. Dan saya harap kamu ingin menjadi anak angkat saya.”

Sandi menatap lekat sang Ibunda yang hanya mengangguk menyetujui keinginan Pak Rendi. Sejak kejadian itu kehidupan Santi dan keluarga kecilnya berangsur-angsur membaik. Pak Rendi bersedia memberinya pinjaman untuk membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Pak Rendi bagai malaikat yang diutus oleh Allah untuk menolong kehidupan keluarga kecil Santi.
Sandi dan Heni pun tak luput dari pandangannya. Ia menyekolahkan Sandi sampai perguruan tinggi dan hingga kini Sandi telah sukses sebagai pengepul ikan di kampungnya. Ia membuka lapangan pekerjaan bagi warga kampung yang kehidupannya sama seperti dia saat dulu. Ia pun tak akan lupa dengan jasa Pak Rendi yang telah menolong kehidupannya hingga Ia bisa seperti sekarang.

Dengan belajar dari kehidupan keluarga kecil Santi bisa kita simpulkan jika hidup itu banyak cobaan yang selalu menerpa. Tapi seberat apapun cobaan itu kita harus tetap tawakal dan tabah akan kehidupan kita. Tetap ikhtiar dalam segala hal niscaya Allah akan mengubah kehidupan orang yang selalu bertawakal atas segala nikmat yang telah diberinya.

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Facebook: Ineu Desiana

Cerpen Mukena Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bagian Dari Kejutan

Oleh:
Aku sheryl, gadis yang masih mengenakan seragam SMA. Hari ini adalah salah satu hari terbaik bagiku. 23 tahun yang lalu seorang gadis terlahir di dunia. Aku baru sadar hari

Hari Yang Bersamaan (Part 1)

Oleh:
Mataku sudah pedas sekali rasanya sejak habis solat magrib sampai sekarang pukul 23.30 pandanganku selalu tertuju oleh leptop, entah apa yang aku lakukan itu tidak penting asalkan penat dan

Dibalik Duka ku ada Duka yang lain

Oleh:
Saat itu rencana keluargaku berlibur ke Pulau Bali. Aku sangat bahagia, karena selama ini aku hanya bisa mendengar cerita teman–temanku yang pernah ke sana, atau melihat di internet situs–situs

Rindu Terakhir

Oleh:
Jam Rolex yang dikenakan di tangan kanan Durma menunjukkan pukul 13.00. Durma telah tiba di Stasiun Gambir. Dengan sepucuk tiket kereta api Argo Jati di tangan kanannya. Ia pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mukena Untuk Ibu”

  1. dinbel says:

    Kerennnnnn, jadi terharu bacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *