Mukena Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 3 September 2012

“selamat beraktifitas dan tetap semangat” aku mengakhiri siaranku di salah satu stasiun radio swasta di kota Bogor.
Ku tancapkan sisa-sisa semangatku sore itu, sutera jingga di langit barat terpintal angin yang berbisik-bisik, membawaku memenuhi seruan yang menggema dari masjid agung kota Bogor.

“Alhamdulillah, Yaa Allah, sapaan hangat-Mu menentramkan hatiku yang tengah kacau, aku tak ingin lagi bintang kecilku meredup lantaran menunda-nunda sholat” gumamku dalam hati.

Menjadi penyiar bukanlah mimpiku, bukan pula perkara yang mudah, harus pandai menjaga lisan yang sia-sia juga dituntut menampilkan ‘mood’ terbaik meski hatiku tak selalu demikian. Tapi apa boleh buat aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, ijazah SMA tidaklah cukup untuk modal mendapat pekerjaan yang lebih baik, kurasa pekerjaan ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri meski awal ramadhan lalu ibu pulang dan mengirimku uang tapi aku tak ingin terus tergantung padanya, aku ingin mandiri, sekuat tenaga mencari rizki yang halal selain dunianya dapat akhiratnya pun dapat, sebagai ibadah tambahan di bulan ramadhan apalagi besok sudah memasuki bulan syawal.
Hari ini aku tak langsung pulang, aku ingin membelikan sesuatu untuk ibu, yah sebuah mukena untuk sholat idul fitri besok, ibu berjanji akan pulang hari ini lewat SMS yang kudapat siang tadi, meski tak seberapa aku ingin ibu turut menikmati hasil kerja kerasku, walau aku tau sebesar apapun cinta yang kuberikan tak akan dapat melunasi perjuangan dan pengorbanan ibu. Ahh… setidaknya aku lega telah memberikan cinta tulus ini pada wanita itu, kasihan ibu sejak ayah meninggal 4 tahun lalu, ibulah yang berjuang untuk hidup bersamaku.

Jalan berumput yang kering mengantarku pulang, cericit kutilang berkolaborasi dengan napas alam yang menerbangkan debu-debu, sutera jingga semakin pekat, ku percepat langkahku agar segera sampai di rumah, rumah sederhana berpolet cokelat tua dan muda dengan gerbang tak lebih dari satu meter, peninggalan ayah buah dari suka duka menjadi PNS rendahan. Ayah berwajah keras tapi hatinya tak kurang lembut seperti wanita, penyayang dan peduli, beliaulah yang pertama mengajarku membaca A Ba Ta, beliau yang mengajarkanku berani, membiarkanku bangun sendiri saat pertama kaki kecilku tak mampu menekan pedal sepeda, barangkali tujuannya agar saat dewasa aku mampu bangkit dari berbagai masalah.

Lelah tubuh ini luntur bersama sisa air wudhu yang meluncur dari wajah ini, matahari tenggelam bersama gema Adzan yang merobek langit, Ahh… ramadhan akankah tahun depan kita berjumpa lagi, aku begitu merindukan suasana ramadhan bersama ibu, sudah 2 tahun ibu bekerja di luar kota hanya untuk aku.

“mutia belum tidur? udah malem lho” tegur ibu tanpa menoleh, saat suatu malam aku membanting pintu kamarku
“ga bisa tidur” jawabku singkat “ibu sedang apa sih?” tanyaku
“kain-kain perca ini akan ibu jahit menjadi tas tangan, kalau dijual lumayan buat menambah-nambah penghasilan!”
“boleh muti bantu, bu?” tawarku ibu menjawab dengan senyuman.
Masa-masa itu kembali mampir di memoriku, aku bahagia bisa bersama ibu, terkadang hati ini merasa sepi juga melihat teman-temanku bercanda, bercengkrama, ingin rasanya aku hadir di antara mereka, tapi bagaimana aku akan bersenang-senang sementara ibu bersusah payang agar aku tetap bisa pergi kesekolah, dalam hati ini timbul penyesalan dan rasa bersalah yang tak mampu kuungkapkan. Dan saat ini, ketika aku mulai bisa berdiri sendiri, ibu tetap ingin berkorban untuk aku, aku ingin ibu di rumah saja biar sekarang aku yang mencari rizki tapi ibu menolak.

“mutia, apa kamu ga ingin ibu bahagia?” selidiknya
Aku tertunduk ada air mata tertahan di kelopak mataku “tentu tidak bu, bahagia ibu adalah bahagiaku juga” jawabku
“kalau begitu, izinkan ibu menerima tawaran kerja itu ya, membahagiakanmu adalah suatu kepuasan bagi ibu” katanya
“tapi muti ga ingin melihat ibu susah”
“percayalah nak, ibu sudah berpengalaman menjadi sales” ibu mengusap air mataku dan mendekapku.

Jalan hidup tak selalu senada dengan harapan, derai air kilaukan warna pelangi terkadang merah tak membias merah. Sepeninggal ibu, hari-hari aku hanya sendiri di rumah karena memang aku tak punya kakak ataupun adik, semua pekerjaan rumah kuselesaikan tanpa hambatan, sepulang mengajar anak-anak di TPA dekat rumahku, dahulu sebelum aku menjadi penyiar radio. Setiap satu bulan ibu pulang mengirimku uang. Aku bahagia melihatnya tersenyum tampak tak ada beban. Alhamdulillah….

Tapi rupanya kebahagiaan itu tak bertahan lama, suatu pagi ketika sedang mengajar anak-anak, tiba-tiba ibu pemilik TPA itu menyuruhku pulang dan ia berkata aku tak perlu mengajar lagi, aku tak mengerti kenapa? ibu-ibu di luar memintaku untuk segera meninggalkan tempat itu, teriakan-teriakan itu membuat telingaku sakit, kenapa mereka tega menabur berita bohong bahwa ibu bekerja sebagai wanita penghibur, pel*cur.

Astagfirullah… dari mana asalnya isu itu, aku tau betul ibu bekerja sebagai sales di perusahaan pengimpor kosmetik, serat-serat kapas sudah terlanjur tertiup angin, aku tak bisa mengumpulkannya kembali, aku dijauhi teman-temanku termasuk sahabatku Puri.

“Puri, percayakah kau padaku?” tanyaku siang itu, namun Puri hanya diam.
“maukah membantuku?” tanyaku lagi.
“maaf, mutia kali ini aku tidak bisa, aku capek” gerutunya
“lho, kenapa capek” tanyaku heran
“perlu kamu tau mutia, namaku ikut tercemar karena kelakuan ibumu, dari SMP kita bersama bahkan kau sudah seperti saudaraku, tapi apa balasanmu? maaf mutia, mulai sekarang kumohon jauhi aku!”
“tidak apa-apa Puri, terima kasih sudah menemaniku selama ini dan maaf aku telah mengusik ketenangan hidupmu!”
Dengan berat hati aku merasa kehilangan dan tak ada lagi yang mempercayaiku.

Aku tak mampu menahan hantaman fitnah itu. Yaa Allah, semoga Kau bahagiakan ibu di sana dan Kau damaikan hatinya.
Sebulan setelah berita itu meluas, ibu pulang menentramkanku, mengusap air mataku, rupanya ibu mengetahui yang terjadi. Pelukan hangatnya mengobati hatiku yang luka oleh Puri, petuah bijaknya bagai mata air, tapi kalimat terakhir itu…

“Muti, sudahlah jangan dengerkan mereka, kita hidup susahpun mereka tak akan membantu, hanya kamu satu-satunya harta ibu yang paling berharga, jadilah kamu anak yang baik agar bisa mendoakan ibu supaya Allah mengampuni ibu yang kotor ini”
“maksud, ibu?” tanyaku heran.
“nak, tak ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan selain itu!” tegas ibu
deg.. jantungku seperti berhenti seketika mendengar ucapan ibu. “jadi berita itu tidak bohong?” tanyaku pelan dengan tangis tertahan.
“maafkan ibu muti, ibu hanya ingin membahagiakanmu dan ibu pulang hari ini bermaksud menjemputmu pindah dari sini, ibu sudah sediakan rumah untuk kamu dan ibu jamin keselamatan kesucianmu disana!” terangnya
“tidak bu, aku tidak akan ikut bersama ibu!” tangisku meledak.
“ya sudah sayang, ibu tak ingin membuatmu semakin terluka, baik-baik disini besok pagi ibu pergi lagi”

Takbir yang memenuhi seluruh alam, membuyarkan lamunanku yang baru saja melayang ke masa lalu, mengingat kembali ujian yang bertubi-tubi mulai dari menjauhnya Puri sampai kejujuran ibu yang seketika merobohkan ketegaranku, aku tak mengerti mengapa ibu sampai hati melakukan itu, kalau saja ayah masih bersama kami semua ini tak mungkin terjadi, aku kehilangan panutan, aku memang ingin ibu bahagia tapi tidak begini caranya ibu menemukan kebahagiaan tapi di jalan yang dimurkai Allah. Tak terasa air mata sudah meluap sedari tadi. Ooh ibu… tidakkah kau takut Allah marah, tidakkah kau bersyukur dengan rizqi yang Allah berikan aku tak pernah menuntut apapun darimu ibu, janganlah berbuat seperti itu, Allah tidak suka…

Derit rem mobil melengking, kubuka sedikit tirai kamarku, diseberang sana sosok wanita cantik dan seorang lelaki asing berjalan menuju rumahku, wajah itu aku begitu mengenalnya, ibu.
“Mutia..?” panggil ibu
“Ibu..” gumamku bahagia, aku mencium punggung tangannya dan ibu membalasnya dengan pelukan hangat.
“mari masuk, bu!” ajakku
“apa kabarmu, sayang?”tanya ibu.
“Alhamdulillah, baik bu. Ibu sehat ?” aku balik bertanya
“berkat doamu, nak. Putri ibu yang paling cantik dan baik”
“syukurlah!” ujarku dingin
“Mutia, ibu belikan sesuatu buat kamu!” ibu membongkar tas yang dibawanya dan mengeluarkan kotak kaca kecil berwarna biru muda, seberkas cahaya putih membias ke dinding tertimpa nyala lampu.
“kalung mutiara putih ini ibu belikan spesial buat kamu, Muti!” terangnya
Aku tersenyum tipis “Muti juga punya sesuatu buat ibu!”
“apa itu, sayang?” tanya ibu bahagia

Aku beranjak ke kamarku, mengambil mukena yang kubeli sore tadi, kuharap ibu mau menerimanya.
“Ibu, mukena ini untuk ibu, muti ingin sekali melihat ibu sholat lagi seperti dulu, muti ingin ibu menghentikan pekerjaan ini, takutlah pada Allah bu, besok idul fitri mari kita ikhtiar memperoleh pengampunan-Nya!” aku memelas
“tapi mutia sayang, dengan begini ibu merasa bahagia, lagi pula ibu terlalu kotor untuk mengerjakan sholat!”
“Astagfirullah…ibu.. mutia lebih rela ibu menikah lagi dengan lelaki baik-baik!”
“tapi ibu masih mencintai ayahmu!”
“Masya Allah, ibu keterlaluan!” bentak ku tangisku pun meledak
“maafkan ibu nak, ibu hanya ingin meluluskan cita-citamu, kamu ingin menjadi fisikawan yang hebat, bukan? Marilah ikut ibu, tahun ini kamu harus kuliah!” ibu memelas
Bagai terguyur magma batinku hancur seketika “Demi Allah bu, aku tidak akan ikut ibu sampai ibu kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah!” bentakku “menjauhlah dariku kau bukan ibuku” lisanku semakin tak terkendali.

“Mutia, apa yang kamu katakan? durhaka kamu” sumpah serapah ibu tak kuhiraukan, ibu telah pergi bersama lelaki asing itu entah kemana.
Aku terpaku, tersungkur di balik dinding ruang tamu, aku tertunduk “Ampuni aku, Yaa Allah, aku telah menyakiti hati ibu, Yaa Allah, jagalah ibu di manapun berada, dalam tidur dan jaganya, keselamatan jiwa dan raganya, kesehatan jasmani dan ruhaninya serta kembalikan ia ke jalan yang terang, Ampuni ibu Ya Allah, Ampuni ibu”

“Mutia…!” suara lembut menyapaku “bangun yuk!” katanya lagi
Aku menengadah, seorang wanita berkerudung merah maroon memberikan tangannya membantuku bangkit.
“Puri..?!” sapaku heran. Puri tersenyum manis
“mutia jangan nangis yaa.. kan ada aku, aku yakin kamu anak baik, Allah akan mengabulkan doa anak yang sholeh!” katanya
“Puri..” panggilku pelan
“sudahlah, malam semakin dingin, kamu nginap di rumahku yuk” Puri memohon
“terima kasih sahabat..” aku menerima tawarannya, kami berjalan membelah malam yang pekat, sepekat hatiku mengenang ibu, aku berharap suatu saat ibu kembali membuka hatinya yang tertutup sehingga cahaya kebenaran tak mampu menembusnya.

Nama Penulis: Ananda AnNuur (Siti Nur)
Facebook: facebook.com/nsitinurjannah

Cerpen Mukena Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkat Kue Si Mbah

Oleh:
Suara adzan sudah terdengar sayup-sayup menandakan sudah memasuki waktu salat subuh, meskipun jam masih menunjukkan pukul 05.00 namun mbah Sarinah sudah bangun dan membuat kue yang akan dijual oleh

Pencopet Ulung

Oleh:
“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan pagi. Suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari bergantian hingga tak terhitung jumlahnya. Suasana

Nasihat Ayah

Oleh:
Matahari mulai tenggelam tanda hari sudah malam dan adzan berkumandang. Aku segera menuju ke Masjid, Tapi sebelum ke Masjid aku harus bersiap-siap dahulu sembari menunggu kedua temanku Fara dan

Titik Noda

Oleh:
Seperti gadis belia pada umumnya, aku memiliki banyak teman dengan segala kegembiraan yang ada. Senyuman seolah tak pernah sirnah menghiasi wajah yang memang tak seberapa dibanding sekian teman dekatku.

Angan Muda

Oleh:
Aku menatap lamat-lamat kerumunan pemuda yang semakin riuh itu dari ujung jembatan. Aku yakin, saat ini besit keraguan dicampur dengan ketakutan di wajahku amat nampak. Sudah lama setelah bel

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *