Munafik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

“Kau harus segera pulang.” Katanya padaku. Aku mengambil baju yang tergeletak tak berdaya. Tubuhku tak terbalut sebenang pun. Kututupi lekukan tubuhku satu persatu hingga berpakaian lengkap. Aku mengecupnya lembut dan meninggalkannya sendirian.

Benarkah itu Scout? Ku tahu kau masih kecil dan tidak paham bagaimana sifat lelaki. Lelaki itu pintar menyimpan kebohongan. Lihat bagaimana ia tersenyum manis padamu. Tapi kau tidak tahu sebenarnya dia tidak hanya tersenyum padamu. Dia tersenyum pada setiap wanita.

“Hei.. berhentilah membaca buku!” Seru Nina adik perempuanku.

Aku menutup buku To Kill A Mockingbird. Kami bergegas ke gereja. Di perjalanan aku melihat Nita berolahraga, mengenakan hot pants dan baju ala kadarnya. Dia tampak seksi menurutku. Dia melepas kerudungnya. Ya.. teman kampusku yang tampak taat ini hanya mengenakan kostum islaminya jika berada di lingkungan kampus. Aku tidak mengerti. Tapi mungkin ia kegerahan jika harus mengenakannya saat berolahraga.

Kami tiba di gereja. Aku melihat teman-temanku. Kami saling melambaikan tangan. Dari kejauhan kulihat tante Prita bercengkrama dengan tante Sukma. Padahal seminggu sebelumnya ia memaki dan membicarakan tante Sukma dengan ibu ketika berkunjung ke rumahku. Besok pasti ia sudah bergosip dengan ibu dengan sejuta cerita yang didapatnya pagi ini. Aku membayangkan tante Prita tengah mengenakan topeng. Topeng kemunafikan yang dimaksud Scout. Kami pun memulai ibadah. Seorang pria berdiri di belakang mimbar. Berbicara firman Tuhan tentang hukum taurat. “Jangan mengucap saksi dusta”. Katanya diikuti penjelasan panjang lebar.

Aku bosan. Kucek ponsel dan membaca status teman-teman yang kulambaikan tangan tadi, mereka menulis “Happy Sunday!” diikuti dengan ayat untuk hari ini. Kupikir dari kejauhan mereka tengah baca firman Tuhan yang terpatri di ponsel mereka. Tapi sepertinya tidak. Mereka sibuk mengetik. Mungkin masih mengetik ucapan “Happy Sunday” untuk dikirimkan kepada handai taulan, padahal ibadah belum usai.

2 jam berlalu. Prosesi ibadah sebentar lagi selesai. Setelahnya kami saling bersalaman dan mengucapkan “selamat hari minggu”.

Tiba-tiba aku teringat apa yang dikatakan Scout akan kekagumannya pada kaum lelaki.
“Tetapi, aku menyukai kaum lelaki. Ada sesuatu pada diri mereka, sebanyak apapun mereka menyumpah dan minum dan berj*di, dan mengunyah tembakau; seberapa pun tak menyenangkannya mereka, ada sesuatu tentang mereka yang kusukai secara naluriah… mereka tidak munafik.” – (Scout dalam buku To Kill A Mockingbird)

Aku menggangguk, tapi tidak setuju. Aku mengenal pria yang terlihat sempurna, kejayaan melingkupi, ketampanan bak pangeran, keimanan tampak tak diragukan. Tapi aku tahu itu hanya jubah yang menutup tubuh kemunafikannya. Pria itu adalah peselingkuh unggul yang semalam tidur denganku. Aku menghampirinya. Memberikan salam dan mengucapkan “Selamat Hari Minggu”.

Aku munafik. Pria itu munafik. Aku pikir semua manusia pernah menjadi munafik. Aku melangkahkan kaki menjauhinya setelah bersalaman.

Seorang di belakangku berkata pada pria itu, “Selamat hari minggu pak pendeta.”

Cerpen Karangan: Ransanikem
Wanita. Karyawan. Finance. Jakarta. Membaca. Berenang. Menulis. Cinta Sastra.

Cerpen Munafik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tidak Ada Lagi Senja Di Losari

Oleh:
Kami duduk bersama memandangi hutan beton di hadapanku, kawasan ini sudah tak indah seperti dulu lagi, masih segar di ingatanku ketika saya menyatakan perasaan cinta kepada ibu dari anak-anakku,

One By One

Oleh:
Yang bisa bertahan hidup dialah yang akan menjadi penguasa. Begitulah hukum rimba yang berlaku. Kita hanya bisa mensyukuri betapa nikmatnya hidup walau terkadang kita juga harus hati-hati dengan kematian.

Desiran Ombak di Senja Hari

Oleh:
Menggulung-gulungnya ombak melukiskan pasang surutnya kehidupan. Menepis menjauhi pantai ketika dia datang perlahan menuju imajinasi. Butiran pasir setiap saat dapat berubah menghantui pejalan kaki. Karamnya sampan tersebut ia perhatikan,

Lentera

Oleh:
Aku dan Pomo duduk di rel kereta api dengan santainya. Menikmati pemandangan senja kota metropolitan. Cahaya orennya menyejukkan hati. Ditambah siluet bangunan pencakar langit yang kokoh jauh di seberang

Titik Api

Oleh:
Dulu, Kalimantan ditajuk sebagai paru-paru dunia. Barangkali, “dulu” tinggallah menjadi mozaik-mozaik masa silam. Dan kini, lihatlah, para penguasa, konglomerat, pembisnis, atau setara dengan itu mengeksploitasi hutan besar-besaran. Maka kemarau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *