Mungkin Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 29 October 2013

Sore itu angin semilir membelai daun-daun yang masih bertengger di pepohonan, sejuk dan begitu mendamaikan hati. Dari ruang tamu, si Nyonya sedang meneriaki Onah untuk yang ke-3 kalinya tapi belum juga ada sahutan dari kamar Onah. Bukannya Onah belum bangun hanya sedang menatap plafon kamarnya dengan serius, melongo. Mungkin dia memandangi cicak atau mengagumi putihnya plafon di kamarnya itu. Setelah tersadar dari melongonya karena teriakan Nyonya-nya barulah dia beranjak dari kasur setelah tubuhnya berkeluget-keluget dulu di atas kasur.

“Onah.. cepat bangun! Piringnya sudah menunggu itu di dapur”, ucap Nyonya.
“Iya Nya..”, jawab Onah sambil ngeloyor kedapur.

Nyonya di ruang tamu celingukan menunggu Onah yang sudah hampir 1 jam klutak-klutek mencuci piring di dapur tapi belum juga selesai. Beranjaklah Nyonya dari tempat duduknya menuju dapur, sontak dia geleng-geleng kepala melihat kelakuan Onah. Piring yang Onah cuci saja tidak lebih dari 20 biji tapi kenapa belum rampung juga pekerjaan itu. Bagaimana tidak? Setiap selesai menggosok 1 piring menggunakan sabun, setiap itu pula Onah memandang ke arah jendela dengan tatapan kosong, melongo lagi ngelamun lagi.

Tidak biasa-biasanya si Onah ling-lung dan kebanyakan bengong sedari pagi. Entah apa yang dipikirkan si Onah ini, batin Nyonya. Si Nyonya yang takut pembantu setianya yang polos itu kenapa-kenapa terlebih kalau kesambet, mendekati Onah dan bertanya tentang keadaannya.

“Onah, kamu ini kenapa? Saya lihat dari pagi kebanyakan ngelamun, bengong, melongo”, tanya Nyonya.

Onah tentu saja masih melongo dengan tatapan kosong lalu dia bengong lagi. Menarik nafas dalam-dalam membuka sedikit mulutnya dan memulai perkataannya.

“Nyonya.. kenapa Bang Pepen itu selalu pilih kasih?”, kata Onah.
“Bang Pepen yang penjaga gerbang kendaraan keluar-masuk di Bank itu? Yang diam-diam kamu taksir itu?”, jawab Nyonya malah menambahi pertanyaan.

Onah mengangguk pelan dan memulai curhatannya lagi pada Nyonya-nya.

“Iya Nya, Onah heran kenapa Bang Pepen begitu pilih kasih. Dia selalu buru-buru bukain gerbang, tersenyum, hormat dan bahkan menundukkan kepala kalau yang lewat gerbang itu orang-orang dengan mengenakan jas, dasi dan mobil mewah. Tapi kalau yang lewat gerbang itu seorang pengantar kue dan tukang bersih-bersih kayak Onah kagak pernah dia buru-buru bukain gerbang, senyum apalagi Nya, malah pura-pura kagak tahu, kagak kenal”, jelas Onah panjang lebar.
“Itu bukan pilih kasih Onah, itu memang tugas Pepen untuk buru-buru membukakan gerbang, tersenyum dan hormat jika ada atasannya”, jawab Nyonya
“Benarkah Nya? Jadi senyum Bang Pepen cuma buat orang-orang yang memakai jas, dasi dan mobil mewah itu?”, jawab Onah dengan tatapan melongo. Nyonya hanya terdiam lalu tersenyum mendengar pertanyaan Onah itu.

Senyum bukanlah topeng atau bedak.

Cerpen Karangan: Dina Az Zakie
Blog: www.rumahdongeng.tumblr.com

Mandiri
Punya cita-cita
Dan bisa diandalkan

Cerpen Mungkin Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secarik Kertas Putih

Oleh:
Bagaikan ingin menggapai gemerlapan bintang jauh dari dalam dasar lubang cacing, begitu pula rasanya diriku berusaha mencari lembar-lembar ilmu. Yang begitu sangat mustahil bagi orang berpenampilan kumuh seperti ini,

Menara Kartu

Oleh:
Dureng (1) yang terjadi dua minggu terakhir membuat keadaan kampung menjadi tak karuan. Dedaunan, ranting, dahan, bahkan batang pohon berserakan di mana-mana. Meski hujan angin telah berakhir dua hari

Woody dan Rara

Oleh:
Aku kembali melewati pabrik es krim Woody di jalan raya Bogor Jakarta pada sore hari. Sebuah merk es krim klasik, dari masa tempo dulu. Bergambar Woody Woodpecker, si burung

Hidup

Oleh:
Aku menatap langit. Semburat merah membara menghiasi obyek yang aku pandangi. Aku bisa melihat hasil dari pertempuran medan magnet bumi dan badai matahari. Seseorang membelai rambutku. Mataku berpindah kepada

Gengsi itu Sama Dengan Miskin

Oleh:
Tiga hari telah kulewati dengan beban yang sangat berat jika aku ibaratkan bebanku ini seperti “menggendong sapi sekaligus dengan gerobak nya ” he he he he sedikit lebay, tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *