Musafir Sebutir Kerikil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 April 2018

“Apa yang terjadi jika kulempar kerikil ini ke seberang jalan?”
“Apa yang bisa diharapkan dari sebutir kerikil?”
“Begitu ya.” Lengan diayunkan. Mata jauh dipandang. Melesat.
“Tunggu!”. Tangan mencoba menggapai.
Terlambat, kerikil itu telah melayang. Seseorang melaju dengan sepeda motor dari tikungan. Takk! Kerikil menghantam helm. Motor seketika berhenti, berdecit tajam. Lelaki itu menoleh, tetap di motor, menggerutu. “kurang ajar!” Lalu, kembali melaju.
“Belum terjadi, hampir.”

Seorang lelaki melangkah oleng malam-malam. Mulutnya menceracau. Ia menyanyi.
Mabuk lagi judi lagi
Ku tak mau terus begini?
“Asyik. Asyik. Goyang yuk goyaang.”
Ia bergoyang sambil terus berjalan. Semakin oleng. Terjerembab.
“Setan! Mana! Mana!” Ia meraba-raba. Lampu merkuri di ujung jalan tak cukup terang. Rupanya ia tersandung batu. “Ini dia!” Ia memungut kerikil yang dilempar sore tadi dan tergeletak di samping sebongkah batu sekepalan yang justru tersandung olehnya. Diamatinya kerikil itu. Besarnya hanya seujung telunjuk.
“Hebat. Hebat. Kecil-kecil kuat juga.” Digigitnya kerikil itu. “Adaw! Setan kecil!” Lengan ia ayunkan, terhenti tiba-tiba. “Dilempar ke mana ya? Ke sana, ke sana, ke sana, atau ke sana? Begini saja.” Ia berputar, lalu melempar sekuat tenaga. Prang! Kaca rumah pecah. Pintu dibuka dengan kasar. Seorang lelaki berkacak pinggang.
“Siapa!?”
Lelaki mabuk berdiri tenang-tenang.
“Kau yang pecahkan kacaku!?”
“Aku? Bukan.”
“Lalu, siapa yang melempar kerikil ini?”
“Oh, itu. Kalau itu aku.”
“Bangsat!” Kerikil kembali dilempar. Takk!
“Aw! Setan! Kau melempar kepalaku!”
“Kau pecahkan kacaku!”
“Mau mati!”
“Berani kau kata begitu!”
Mereka bergelut, tanpa saksi sebab malam memang sepi. Langit bertabur bintang. Bulan hanya ada satu. Tokek. Tokek. Tokek… Lelaki mabuk itu lari tersuruk.

Malam kembali tenang, untuk sesaat. Lalu, lidah api menjilat-jilat. Peluh yang menetes ke dalam ember dengan air yang beriak menguap cepat dimakan api. Kayu-kayu penyangga rumah berkeratak. Orang-orang berteriak. Sial! Kenapa pemadam kebakaran belum datang!? Di kejauhan, di tikungan, lelaki mabuk itu melangkah oleng. Ia kembali menyanyi.
Mabuk lagi Judi lagi
Ia menoleh. Lidah api semakin menggila. Ia melambaikan tangan. Bibirnya dimencongkan. Lalu, hilang di tikungan.

Dari tikungan yang sama, dua mobil pemadam kebakaran meraung-raung. Lampu di atas kepalanya berputar kelap-kelip. Malam gelap, lampu merkuri remang, lampu mobil kelap-kelip, di ujung sana langit membara. Indah sekali. Sekarang baru datang! umpat orang-orang. Para pemadam kebakaran berlompatan. Bekerja cepat, namun api lebih cepat. Atap runtuh. Bunga api berpercikan. Abu berhamburan. Pemalas! umpat-mengumpat menjalar cepat. Belum lagi mata-mata yang sinis. Harus ada yang disalahkan. Berakhirlah sudah.

Seorang pemadam duduk bertekuk menatap lidah api yang tak tertakluk. Seorang temannya geram menyepak tanah. Sial! Pasir berhamburan. Sebutir kerikil melayang dan masuk ke kantong baju pemadam yang duduk bertekuk. Pemadam ini beranjak dan pergi.
Seorang istri yang manis, dengan tahi lalat di ujung bawah mata kiri, menyambut di depan pintu. Di atas meja telah terseduh secangkir kopi kental yang masih mengepul. Di dalam kamar anaknya merengek. Istri manis itu masuk ke dalam kamar. Suami yang pemadam itu membuka baju dinas dan menyampirkan sekenanya di sandaran kursi. Kerikil kecil itu menggelinding jatuh. Anak yang merengek itu sedikit merajuk, keluar kamar dalam gendongan ibunya. Ada pembicaraan tentang kebakaran baru lewat. Kopi diseruput. Anak itu merangkak di lantai. Nyala lampu tak begitu terang.

“Di sini tak lagi aman,” kata Suami.
Anak itu, yang baru saja fasih merangkak, menjangkau kerikil.
“Belum tentu rumah itu dibakar orang,” ujar Istri.
Anak itu menyentuh kerikil dengan ujung jari.
“Hari ini rumah terbakar. Dua minggu lalu ada yang terbunuh.”
Anak itu bermain kerikil. Tertawa-tawa.
“Itu hanya kebetulan.”
Kerikil itu diciumi.
“Takda gunanya menenangkan diri sendiri.”
Kerikil itu dimasukkan ke mulut. Masih terasa hangatnya.
“Kita mesti pindah ke mana?”
Kerikil itu masih bermain di sela gusi.
“Yang penting kita pindah dari sini.”
Kerikil itu ditelan.
“Terserahlah.”
Kerikil itu nyangkut di tenggorokan.

Kopi kembali diseruput. Istri menoleh dan mendapatkan anaknya tergolek megap-megap. Istri terpekik dan meloncat. Meja bergoyang keras. Tangan Suami tersentak. Kopi menumpahi kumis dan bajunya. Mereka panik. Anak itu dibawa berlari ke rumah di seberang jalan. Pintu digedor keras-keras. Seorang lelaki membuka pintu tergesa. Ia masih berpiyama.
“Tolong anak saya, Dok!”
Wajah anak itu agak membiru.

Dokter bekerja cepat. Takda perawat. Peralatan seadanya. Wajah Suami-Istri semakin pucat. Wajah anak itu semakin membiru. Dokter setengah berteriak, “Ayolah!”. Bau asam meruap dari mulutnya. Anak itu terbatuk. Kerikil itu meloncat dari mulutnya. Suami-Istri menangis kegirangan. Anak itu dipeluk erat sampai sesak. Tangan Dokter disalamciumi. “Terima kasih, Dok. Terima kasih. Terima kasih.” Dokter menepuk-nepuk punggung mereka. Lain kali hati-hati, katanya. Malam itu kerikil kecil tergeletak di atas meja.

Besoknya, Dokter ada pertemuan sangat penting. Sebelum pergi matanya nyangkut pada kerikil di atas meja. Ia tersenyum mengingat kejadian semalam. Luar biasa, pikirnya. Kerikil itu lalu ia kantongi. Bersiul-siul ia dalam mobil. Istana negara tegak jauh di ujung sana.
Ia, dan kolega, diundang ke istana negara. Membeberkan fakta merebaknya penyakit menular yang tiba-tiba. Ah, ia hanya pelengkap saja. Tak bicara. Hampir-hampir serupa pajangan murahan di dalam ruangan yang penuh barang berharga. Namun, bertemu presiden menegangkan juga. Gerah. Di luar ruangan ia menarik sapu tangan dari kantong baju. Kerikil itu terjatuh. Seorang dokter lain, yang berjalan di belakangnya, menendang kerikil itu.

Seekor kucing gemuk tertarik melihat kerikil yang menggelinding. Gempal-gempol ia mendekati. Kucing itu mendepak kerikil dengan kaki kanan depan. Kerikil menggelinding ke samping. Disambut dengan kaki kiri depan. Menggelinding lagi agak ke depan. Didepak lagi. Berulang-ulang. Lalu, diendus. Digigit. Keras sekali!
“Karin! Karin!” Seorang anak lelaki memanggil. “Kena kau.” Anak itu menangkap kucingnya. “Apa yang kau makan? Kucing bodoh. Ini tak bisa dimakan.”
Anak itu mengambil kerikil dan melemparkannya ke kotak sampah di pojokan. Meleset. Kerikil itu kembali menggelinding. Kucing itu meloncat.
“Hei!”
Kucing itu kembali mengigit-gigit kerikil.
“Nakal!” Geram kucing itu diraih dan digosok-gosokkan ke pipi. “Kita cari makan untukmu.”

Anak itu, dengan kucing dalam dekapan dan kerikil dalam genggaman, melangkah ke dapur. Kucing gemuk itu gerah dalam dekapan dan meloncat. Anak itu pun tersandung badan kucing dan terjatuh. Kerikil melayang dan jatuh dalam panci berisi sup yang hampir matang. Juru masak tak melihatnya. Ia terkejut dan menoleh ketika terdengar ada yang jatuh.
“Ke mana kerikil itu?” anak itu bergumam.
Juru masak tergopoh menolong anak majikan. Anak itu lupa akan kerikil. Ia minta makan untuk kucingnya.
Presiden gemar sup. Ia menjamu beberapa tamu makan siang. Bercerita ia tentang sup juru masaknya.
“Selalu ada yang baru dalam supnya. Rasanya aneh dan menggetarkan lidah. Anda tahu, sejak juru masak itu di sini, saya merasa sangat rugi jika terpaksa harus makan di luar.”
“Luar biasa. Boleh saya minta resepnya.”
“Itu rahasia.”

Presiden melihat sesuatu yang aneh dalam sendokan supnya. Seperti kerikil. Ini pasti yang baru lagi, pikirnya. Takk! Adaw! Sendok berdentangan lepas dari genggaman. Presiden mendekap mulutnya. Ia bangkit dari kursi dengan beringas. Setengah berlari menuju dapur. Darah menetes dari sela-sela jari. Seorang pengawal bereaksi tangkas.
“Cepat panggil dokter!” teriaknya.
“Dokter apa, Pak?”
“Jangan banyak tanya. Panggil saja!”

Presiden sampai di dapur. Ketemu juru masak, langsung ditamparnya. “Tukang masak sial!” Darah semakin menetes. Beberapa percik tersembur bersama ludah. Pengawal memberinya sapu tangan. Darah dilap dengan kasar. Aw! Sapu tangan itu nyenggol luka. Presiden hendak mengumpat lagi. Namun, dokter keburu datang.
“Siapa yang panggil dokter!?” Bentak kepala negara.
“Saya, Pak.”
“Dokter gigi, Goblok!” Kepala pengawal disentil dengan geram. Dari dekat, pengawal itu melihat gigi presiden tanggal satu.
Pengawal itu keluar dapur dengan jengkel.
“Hei, kau! Kenapa salah panggil dokter!?”
“Lho?”
“Dokter gigi, Goblok!” Pegawai itu pun disentilnya dengan keras.

Sejak hari itu dan hari-hari berikutnya, seluruh acara presiden dibatalkan, sampai giginya mendapat ganti. Juru masak itu? Pecat!
Juru masak melangkah murung di trotoar. Kerikil itu ia genggam di tangan kanan. Niatnya kerikil itu untuk pelajaran. Namun, kerikil itu terasa panas. Semakin panas. Dadanya sesak. Giginya keriut gemeretak. Kerikil itu ia lempar sekuatnya. Takk! Menghantam helm seseorang yang melaju dengan sepeda motor. Motor itu seketika berhenti. Orang itu menoleh sekeliling. “Setan!” Lalu, kembali melaju.

“Bagaimana ya kabar kerikil itu?”
“Apalah yang bisa dilakukan oleh sebutir kerikil.”
“Mungkin karena terlalu kecil. Bagaimana dengan yang ini? Kurasa akan berbeda.”
“Sudahlah, jangan macam-macam.”
Lengan diayunkan.
“Tunggu!”
Terlambat. Kerikil itu telah melayang…

Cerpen Karangan: Sadikin Khairsah
Facebook: Raki Aymi Antritusa

Cerpen Musafir Sebutir Kerikil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Di Bulan November

Oleh:
Hujan amat deras mengguyur kota bandung, tak menyisakan berkas berkas pengasihan kepada penduduk yang hendak beraktivitas. Rere yang menatap butiran-butiran hujan dari jendela kamarnya menjadi pilu, sembari mendengar berita

The Way

Oleh:
Mentari berwarna oranye mulai menghiasi wajah langit di atas sana. Lagit biru dengan goresan lembut berwarna putih itu menambah penampilan yang kian cantik. Suara nyanyian merdu si makhluk bersayap

Sebelum Senja

Oleh:
Aku berjalan dengan sepatu tanpa tali dan terbang menyusuri ladang jagung, teh dan padi yang mulai tunduk menguning. bersama hembusan angin teduh pagi itu. kemudian hinggap di ranting pohon

Malin Tambang

Oleh:
“Nak, ingek pasan Bundo, satinggi-tinggi tupai malompek pasti jatuah juo. Kok hujan batu di nagari awak, hujan ameh di nagari urang, nagari awak tetap nan utamo. Dek ulah tangan

Penyair dan Musisi

Oleh:
Ga banyak yang bisa gua lakuin di sini….. Semua terasa ga berguna bagi gua, hmm apalagi gua, terasa sangat ga berguna buat semua. Hidup gua terasa sangat hampa, “monoton”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *