Musim Kemarau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 19 July 2015

Lelaki kurus itu sudah hampir seminggu sering menyendiri, nampaknya sudah menjadi sebuah pekerjaannya menghabiskan waktu dengan menyendiri. Setiap pagi menjelang matahari menjalankan tugasnya, dia sudah terpekur menata sarungnya di antara ujung kaki hingga menutupi setengah badannya, kemudian dia pun menatap langit dan bermainlah dia dengan pikirannya.

Lama sekali dia menatap langit itu, kala itu langit masih berselimutkan gelap dan kabut asap, dinginnya suhu udara kota Bandung, sedikit pun tidak mengganggunya, malahan gerentes hatinya dingin adalah jiwa yang mengakar dalam kehidupannya selama dia ditinggalkan oleh pujaan hatinya selepas menyelesaikan studi sarjana setahun yang lalu, tanpa sebab yang jelas.

Dia sering menyalahkan diri sendiri, kenapa dia tidak bisa menangkal kepergian perempuan itu, yang sudah hampir dua tahun mematri ranah-ranah hidup, bermimpi fastastik, dan seringkali bergurau bercengkrama bermain hasrat jika kelak kita telah sah menjadi pasangan agama dan Negara.

Ah, pasti bahagia jika kau sekarang di sampingku: setiap pagi kau bangunkan ku dengan kecupan dan wangi aroma melati di tubuhmu menggodaku, jika aku pulang ke rumah selepas mengejar nafkah untukmu dan anak kita.

Astagfirullah, dia bangkit dalam lamunannya. Perempuanku hingga empat bulan kau meninggalkan ku, aku masih terlarut padamu: “Tuhan jika memang ini pendampingku di dunia ini, tolong mudahkanlah dia datang kembali padaku, aku tak mau berspekulasi mendahului kehendak Mu. Tapi, jika dia memang bukan untuk ku, jagalah dia selalu tuhan: berikan dia kebahagiaan”. Amin

Cahaya matahari yang menyentuh pipinya membuyarkan lamunan lelaki kurus itu, dengan berurai air mata dia pergi ke kamar mandi yang berada di pojok rumahnya, lelaki itu setiap kali bersimbah air mata berusaha menutup kesedihan dengan berwudhu, supaya seisi rumah tidak tahu bahwa dia sedang bermuram durja, terutama bunda, dia tak ingin bundanya tahu bahwa perempuan yang sering dia bawa dua tahun terakhir telah meninggalkannya.

Dia tak mau bundanya bersedih, karena bunda telah menitipkan harapan besar kepada perempuan itu, meskipun belum terucapkan. aku tak bisa membayangkan jika bunda tahu “perempuan harapannya itu telah meninggalkan putra jantan satu-satunya ini”.

Dalam hatinya, perempuan itu adalah perempuan terbaik yang pernah aku bawa menghadap bunda, anaknya baik dan pintar: aku ingat sekali ketika pertama kali ku perkenalkan padanya, bunda memanggilnya Eneng dengan penuh getaran suara tak biasa dan mimik bercahaya, sebutan dan prilaku yang biasa bunda berikan kepada perempuan yang dianggapnya baik.

“Kenapa nak?” aku kaget setengah mati, dia telah memperhatikan ku dari tadi, sejak subuh yang lalu: tangan yang mencoba menghapus buyaran air mati ini, jadi tak konsen, “tidak bun”, kataku, “hanya kelilipan saja, tadi semut iseng main di mataku”. aku bergeges melangkah menuju kamar mandi. kemudian dia pun menangis sejadi-jadinya. Prilaku murungku, akhirnya tercium juga oleh bunda: selepas beraktivitas menjelang waktu isya pada pertengahan bulan maret tahun pemilu legislatif kedua secara langsung dilaksanakan di Negara kita, bunda mengagetkanku dengan satu pertanyaan: bunda menanyakan kabar perempuan yang sering aku bawa itu.

“Kenapa sudah dua bulan lebih si eneng tidak main lagi kesini yana? padahal dulu hampir setiap sebulan sering kesini”, aku kaget: kaget setengah mati, pura-pura tak mendengar, aku menata bantal yang setengah merosot dari kepalaku, “mungkin lagi sibuk bun, terakhir dia nelpon minta doa akan mengikuti kegiatan pendidikan, dan bisnis katanya”. “oh, rajin ya? tolong kalau, yana ketemu salam dari bunda ya”, iya bun.

Dalam hati yang penuh kebingungan, aku baca raut tanda Tanya yang besar dari perempuan yang melahirkanku ini: aku harus menjelaskan gimana tentang prinsip yang berbeda yang menjadi dasar kita berpisah. Kita bubar, tak tau arah pulang.

Hari sepertinya lama sekali berganti, suara riuh telpon setiap jam sekali biasanya berisi pesanmu, atau bahkan sesekali menelpon menanyakan kabarku, “jangan lupa makan, sedang dimana, jangan lupa pakai jaket, kaos tangan dan hati-hati di jalan”. Dia setiap harinya seperti ini, sekalipun dia sibuk beraktivitas, dia pasti menyempatkan mengerim pesan padaku.

Aku tak pernah bosan membaca pesan itu, begitu pun dia: mungkin tak pernah bosan untuk mengingatkan aku. Tapi kali ini, setelah kau menyatakan “aku harus pergi dulu”, aku tak lagi mempunyai tenaga untuk beraktivitas, seperti tak ada lagi tujuanku beraktivitas. Dari minggu ke minggu aku hanya dikejar-kejar rutinitas, yang sampai hari ini aku belum sepenuhnya menikmatinya.

Sepenuh hatiku sudah sepenuhnya terisi kehidupannya, wajar saja jika sepeninggalnya dia dari kehidupanku aku hilang bentuk dan arah. Maafkan kata kasar yang telah terucap membabi buta di hatimu waktu itu, aku tak tahu ini bakal sangat membekas di hatimu, sampai kini kau berkesimpulan pergi dari kehidupanku.

Cerpen Karangan: Aam Lusyana
Facebook: https://www.facebook.com/amlus
Penulis adalah seorang pengasuh di salah satu SMP Swasta di Kabupaten Ciamis Jabar.

Cerpen Musim Kemarau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Venus Mars

Oleh:
“tadi malam aku temui malam.” kumulai dengan sapa dan obrolan ringan pagi ini. “untuk apa?” tanyanya. “aku ingin tahu mengapa bulan begitu angkuh.” “angkuh? apa maksudmu?” dengan mimik wajah

Cinta di Atas Awan

Oleh:
Pagi hari yang cerah.. Dengan matahari yang telah menerangi jendela rumah ku… Aku… Riri, aku anak siswa kelas xi ipa 3, dengan kegiatan seperti biasa aku pergi sekolah dengan

Surat Untukmu

Oleh:
Dear kamu, Apakah engkau percaya dengan takdir? Kuasa Tuhan yang tidak dapat ditolak oleh seluruh mahluk-Nya? Begitupun dengan aku. Aku tidak menyangka semua ini terjadi kepadaku, saat aku yakini

Arang

Oleh:
Pagi ini aku sudah mandi dan sudah mengganti baju santai ke baju resmi. Baju yang biasa aku pakai untuk mengajar. Kemeja lengan panjang warna abu-abu polos dan celana kain

Aku Cinta Dia

Oleh:
Desiran ombak bengitu riuh terdengar, gemercik air yang sesekali menghanyutkan butiran-butiran pasir yang berlinang-linag menjadi irama yang selalu menyanyikan lagu merdu menyelinap di lubang telingaku. Seperti biasa aku nikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *