Mutiara dan Sampah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 24 January 2018

Sampah dan mutiara, apakah perbedaan dari keduanya? Sungguh berbedakah? Bagaimana bila ada mutiara yang tanpa sengaja terjatuh pada tumpukan sampah apakah manusia akan melihatnya? Pasti mutiaranya terlihat, sungguh munafik manusia itu. Apabila mutiara adalah lambang bagi orang baik dan sampah adalah lambang orang yang bertingkah laku buruk, bagaimana bila ada seorang manusia bertingkah laku buruk untuk mendapat perhatian meskipun sebenarnya ia adalah orang yang baik, akankah manusia merasa kasihan? Lihat saja apa yang akan terjadi.

Namaku adalah Noel, anak seorang politisi terkenal dan presenter terkenal, tinggal di real estate, pandai dalam semua mata pelajaran, bersekolah di tempat terelite, wajah tampan rupawan tidak ada yang kurang satupun bukan? Tapi kalian salah, aku memiliki semuanya kecuali kasih sayang orangtuaku. Ayahku sibuk dengan kegiatan politiknya di luar kota sedangkan ibuku lebih memilih meninggalkan rumah semenjak aku memakinya karena memergokinya berselingkuh dengan director stasiun televisi tempat ia bekerja.

Aku hancur, tangisanku tiap malam hanya didengar oleh Tuhan dan pembantu di rumahku. Ayahku semakin bekerja dengan keras, mengendalikan sebuah perusahaan furniture dan menjalankan tugas negara. Jujur aku lebih menyukai ayahku menjadi seorang pengusaha saja, kehidupan kami sangat indah dulu, kebahagiaan sebagai keluarga kudapatkan sepanjang waktu. Aku lelah dengan semua ini, ayahku makin jarang pulang dan ke rumah hanya untuk mengambil dokumen dan pergi lagi.

Tak pernah kudengar lagi pertanyaan yang menunjukkan kalau ayahku merindukanku atau ajakan untuk pergi berlibur berdua, tentu saja berdua ibuku sudah pergi dengan lelaki selingkuhanya dan berhenti dari dunia pertelevisian. Aku tahu ayah terluka tapi aku juga terluka, aku mulai melakukan apapun sesukaku membolos, merok*k dan pergi ke bar walaupun aku hanya diam di sana tanpa menyentuh minuman setan itu.

Pagi ini fitnah yang datang padaku begitu besar, bully yang dilakukan teman-temanku makin menjadi. Jangan heran dari dulu aku adalah bahan bulian mereka karena hidupku yang mereka anggap sempurna, ketahuilah mereka hanya iri. “Hei teman-teman! Lihatlah Si Anak Pejabat sekarang menjadi sampah masyarakat yang sering mabuk di bar lo.” Aku membencinya, semua itu kulakukan hanya untuk menarik perhatian orangtuaku hanya itu, aku muak sungguh apa lagi saat mereka melemparkan tatapan jijik padaku bahkan ada yang menyiramku dengan air meneral.

Semua orang tertawa karena penampilanku yang basah kuyup dan terlihat seperti orang yang putus asa. Tanganku mengepal eret, sungguh aku ingin memberi bogem mentah pada muka Rian. Sampai akhirnya aku mendengar sesuatu yang membuat amarahku tersulut, “lihatlah anak pejanbat korup dan ibunya yang seorang perusak rumah tangga orang lain ini.” Ucapnya sambil memegang pundakku, secara refleks aku menghajarnya. “Maki saja aku sampai kau puas, tapi jangan pernah menyebutkan suatu yang buruk tenteng orangtuaku atau kau akan tahu akibatnya!” aku berteriak dengan lantang, terus kulepaskan kejengkelanku selama ini dengan memukulinya. Aku merasa puas, walau setelahnya aku dibawa ke kantor BK oleh beberapa guru dengan wajah yang sama babak belurnya dengan temanku Rian.

“Noel apa yang kamu lakukan, kemarin kamu membolos dan merok*k di area sekolah sekarang berulah lagi!” bentak Bu Budi, “Maaf bu, saya tidak dapat menahanya lagi dia menjelekkan orangtua saya,” sahutku pelan dengan kepala tertunduk. “Tapi ini kenyataan bu!” Rian membela diri, “Bahkan anak sampah ini sekarang pergi minum ke bar bu.” Rian bermaksud memojokkanku, “Diam kamu Rian! Kalian berdua saya skors selama seminggu” Bu Budi menambahkan “Noel, aku akan melaporkan semuanya kepada ayahmu.” Ancam Bu Budi, “Silahkan saja bu, kalau ayah saya mau pulang untuk sekedar menamparpun itu sebuah anugrah.” Noel tersenyum polos, sebenarnya Bu Budi merasa kasihan tapi sebagai seorang guru BK ia harus profesional.

Sore harinya saat aku sampai di rumah, ayah sudah ada di ruang tamu dan menyesap kopi pahit kesukaanya. Mataku berbinar aku bahagia, akhirnya ayah pulang. Aku berusaha menyapa, “Aya-” belum selesai kalimat yang keluar dari mulutku “Plak!” suara tamparan itu menggema, para pelayan terkaget tak percaya. Aku meringis bukan pelukan malah tamparan selamat datang yang aku dapat, “Apa yang kau lakukan hah! Bolos, merok*k, dan sekarang kau pergi ke bar hah! Mau jadi anak macam apa kau, ingin membunuh ayahmu Noel?”
“Tapi yah ak-” aku mencoba untuk menjelaskan,
“Sudahlah pergi ke kamarmu dan renungkan apa yang terjadi hari ini” perintah ayahku. “Baik yah” jawabku, pipiku berdenyut sakit, hatiku serasa bergemuruh. Bahkan ayahku tak mau mendengarkan penjelasanku, hatiku merasa sakit seperti ditikam pisau.

Aku tak tahan lagi, aku akan kabur dari rumah. Mati ataupun hidup orangtuaku pasti tidak peduli, pada tengah malam saat semua orang tertidur aku mengendap-endap keluar lewat gerbang belakang rumah.

Aku kenyang dengan semua masalah ini, ibuku selingkuh, ayahku tidak mempercayaiku lagi, teman pun aku tak punya, skorsing selama satu minggu lengkap sudah. Tinggal sedikit lagi sampai aku bisa kabur dengan cara memanjat gerbang belakang, tiba-tiba terdengar suara tembakan pistol dan teriakan para bodyguard ayah. Deg, jantungku seperti berhenti berdetak. Seketika itu juga aku berlari memasuki rumah lewat pintu belakang, aku takut hal yang buruk akan menimpa ayahku. Aku mohon Tuhan lindungi ayahku, setelah berlari dengan sekuat tenaga aku sampai di depan kamar ayah yang pintunya terbuka. Tanganku gemetar, aku berusaha melihat apa yang terjadi beberapa bodyguard ayah tergeletak bersimbah darah.
Aku menutup mulutku supaya teriakanku tertahan dan tidak diketahui orang yang tengah menodongkan pistol pada ayahku yang tengah mengangkat tangan. Orang di depan ayahku ini samar-samar aku mingingatnya, saingan bisnis dan calon anggota partai yang tidak diterima karena kalah bersaing dengan ayah, Pak Andi. Aku akan mencoba untuk menolong ayah, tanpa pikir panjang aku mencoba merebut pistol yang ditodongkan pada ayah.

“Bocah bodoh apa yang kau lakukan!” bentak Pak Andi padaku, “Beraninya kau, masuk ke rumah orang tanpa izin.” Balasku, “Noel!” ayahku kaget bukan kepalang. Ayahku mencoba untuk membantuku tapi terlambat, suara tembakan itu terdengar lagi. Tapi aku merasa sangat sakit pada daerah perutku ah, aku tertembak, darah segar terus mengalir dari perutku. Aku masih sempat melihat ayah memukul Pak Andi dengan tongkat baseball dan orang itu pingsan seketika, ayahku menghampiriku yang tergeletak lemas di lantai. Ayahku menangis memanggil-manggil namaku sungguh aku bahagia, aku masih sempat mendengar suara sirine mobil polisi dan suara ibuku. Ibuku pulang, aku bahagia Ya Tuhan mati sekarang pun aku tak apa. Semuanya mulai gelap, orangtuaku hanya terlihat seperti bayangan yang blur.

Ah, mungkin usiaku tak panjang hidupku juga penuh dengan cobaan tapi semoga ayah dan ibuku dapat hidup bahagia Amin. Aku seperti tengah berkelana melewati tempat yang aneh banyak kenagan masa kecilku sampai dewasa yang diputar bagaikan sebuah film di bioskop, ayah, ibu, para pembantu di rumah, dan teman yang pernah aku miliki. Tiba-tiba aku mendengar suara “kembalilah nak”, seperti suara ibuku. “Noel, nak ayah di sini ayah mohon bangun nak.” Suara ayah, lalu tiba-tiba cahaya terang itu datang, aku mengerjapkan mata badanku terasa lemas apa yang terjadi? Saat mataku terbuka aku melihat ayah, ibu, beberapa guru dan temanku. Ayah dan ibu memeluku, aku sangat bahagia kami menagis bersama, sungguh sesak yang selama ini kurasakan menghilang bagai kabut di pagi hari.

“Ayah minta maaf nak, apa yang ayah lakukan selama ini salah. Ayah sudah mengundurkan diri dari anggota dewan, ayah akan lebih sering meluangkan waktu denganmu dan ibu.” Ucap ayahku dengan sedikit terisak, “Ibu juga minta maaf nak, akan apa yang sudah ibu perbuat.” Ibuku terisak dengan tetap mendekap erat diriku. “Maafkan Ibu Budi Noel, sudah menyalahkanmu dan tidak menyelidiki masalah apa yang terjadi.” Bu guru BK yang galak itu meminta maaf padaku, “Aku juga minta maaf Noel telah menyebutmu sebagai sampah.” Ucap Rian, aku hanya menganggukan kepalaku pelan karena tenggorokanku terasa kering untuk berkata-kata.

Kejadian yang hampir merenggut nyawaku ini malah menjadi awal yang indah bagi keluargaku lagi, ayah dan ibuku kembali seperti sedia kala, guru-guru di sekolah menjadi lebih hati-hati dan tidak dengan seenaknya menghukum tanpa mengetahui akar dari masalah yang dihadapi oleh siswanya, teman-teman yang dulu meninggalkanku telah kembali seperti sedia kala Tuhan terima kasih atas ujian dan kebahagiaan yang engkau berikan

Masyarakat pada umumnya di negara kita sanatlah rasis dan menggap kenakalan seorang anak akan menjadikanya sampah di masyarakat, walaupun pada dasarnya mereka hanyalah anak-anak yang merasa kesepian dan merindukan kasih sayang dari orangtua dan lingkunganya. Tingkah buruk dari seorang anak dapat diperbaiki, jangan memberikan penilaian buruk dan judge bahwa mereka adalah calon sampah. Karena sebenarnya mereka adalah mutiara yang kusam hanya sedikit sentuhan dan ia akan menampakkan keindahanya.

Sangat penting untuk tidak menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak saja tapi selami lebih dalam lagi, dan menjaga tuturan kita kepada orang lain. Jangan sampai apa yang kita katakan malah menjadi pisau belati yang menyakiti orang lain dan semoga di negeri ini tidak terjadi aksi bulliying sebagai perusak nomor satu mentalitas bangsa.

Cerpen Karangan: Karinda Noza
Facebook: Karinda Fitra

Cerpen Mutiara dan Sampah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Lagu Bunda

Oleh:
Namaku Naya Aqilla. Aku punya Bunda yang sangat pengertian padaku, namanya Bunda Nisa. Namun sayang, bundaku telah tiada. Mau tau ceritanya? Kok bisa bundaku meninggal. Suatu malam, ketika aku

Di Tengah Debu Dunia

Oleh:
“Ah. tanggal 30 September” ujar Andi dalam hati sembari melirik kalender yang berada tepat di samping ibunya, ini berarti ia telah berada di tempat itu selama satu minggu tepat.

Sahabat Penanti Hujan

Oleh:
Hembusan angin mulai terasa di tubuh, perlahan lahan anginnya berhembus dengan kencang hingga meliuk liukkan pohon palma di depan terasku. Terlihat dari kejauhan banyak burung pipit berteduh di bawah

Ibu Apa Aku Anugerah Untukmu?

Oleh:
Pagi, namaku Nina, aku tinggal di Desa sukaraja bersama ibuku. Ibuku bekerja sebagai Desaigner baju, ibu juga sangat sibuk bekerja di sebuah griya butique Melati, karena kesibukan ibuku tersebut

Kucing dan Beruang

Oleh:
Seekor burung pipit terbang rendah. Mengeja kata membentuk kepakan berirama untuk menuju sarang. Di sarang, beberapa anaknya telah membuat sebuah penantian dengan mulut menganga, tanda lapar. Tangis anak pipit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mutiara dan Sampah”

  1. jeje says:

    sedih ceritanya! saya korban bully disekolh dulu namun kini di sekolah saya yang baru, walau saya tak lagi di bully namun saya melihat orang lain di bully :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *