Mutiara Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 February 2014

“tidak nduk. Bapak tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi ke kota”, ujar lelaki setengah tua itu sambil menegguk kopinya. Pak Mardi namanya.
“tapi Pak, Sekar ingin sekali memperbaiki perekonomian kita. Di kota, banyak sekali pekerjaan. Disana Sekar bisa mencari pekerjaan yang gajinya lumayan. Sekar tidak ingin lagi bergantung pada bapak dan ibu”, sangkal Sekar anaknya. Tak lama kemudian ibunya datang sambil membawa sekantong plastik yang berisi beras. Ia Nampak bingung atas percakapan apa yang sedang anak dan suaminya bicarakan. Wajah keduanya amat serius.
“bu, tolong bilang sama bapak. Kalau Sekar ingin pergi ke kota”, ujarnya memelas kepada ibunya.
“nduk, apa yang di bilang bapakmu benar. Kehidupan disana begitu keras. Sudahlah lebih baik kamu turuti kemauan bapakmu”, nasehat ibunya.

Karena sudah merasa usahanya gagal, Sekar pergi ke kamar tidurnya. Keinginannya untuk pergi ke kota tak pernah pudar. Semakin orangtuanya melarang, semakin besar keinginnannya untuk pergi ke kota. karena tetap tak mendapatkan restu orangtuanya, Sekar memutuskan untuk pergi dari rumah. Ia menulis sebuah surat, yang menyatakan kepergiannya dari rumah, dan ia berjanji akan kembali saat sukses nanti. Ibunya dan bapaknya hanya bisa pasrah.

Sekar mendatangi tempat kerja mbak Nining tetangganya yang kebetulan kerja di kota. Mbak Nining telah menjanjikan suatu pekerjaan untuk Sekar. Disana Sekar bekerja menjadi tukang cuci baju. Cukuplah untuk sekedar mengganjal perutnya. Lama-lama Sekar mulai bosan, ia jenuh juga. Ia ingin mendapat lebih dari ini. Jika begini terus, kapan dia akan kaya. Baginya tambah air tambah sagu, ia berniat untuk mencari pekerjaan tambahan. Sekar pun bekerja di sebuah toko kelontong di malam hari.

Namun, ambisi Sekar terlalu besar. Ia tak pernah mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Sampai akhirnya ia mengenal Ronald. Seorang saudagar, yang biasanya mampir ke warung dimana Sekar bekerja. Mereka pun saling mengenal, dan lama-kelamaan menjalin kasih. Sekar tak begitu menyukai lelaki itu. Hanya saja, mungkin jika dia bisa menikah dengannya kehidupannya akan jauh lebih baik.

Sebenarnya ia menyukai Joko. Lelaki muslim yang taat beribadah itu hanya berjualan gorengan di dekat tempat Sekar bekerja. Namun jika ia menikah dengan Joko, maka tak akan ada perubahan dalam hidupnya. Biarlah ia merelakan cintanya, ditukar dengan kekayaan.

“Sekar, apakah besok kamu ada acara”, tanya Ronald.
“tidak ada bang. memangnya kenapa?”, Sekar balik bertanya.
“nggak papa. Kalau nggak sibuk, kamu mau nggak ikut abang jalan-jalan naik pick-up sama abang”, Ronald merajuk. Sekar hanya mengangguk.

Sekar di ajak keliling-keliling oleh Ronald. Memutari tugu monas, ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah), ancol dan karaokean. Sekar di paksa meminum alkohol. Gadis lugu itu tak mengetahui apa yang diminumnya itu.
“apa ini bang. Kok pahit”, tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
“oh, itu. Biasa minumannya orang kaya. Kamu belum pernah ya?”, terang Ronald.
“oh, ternyata orang kaya itu aneh juga ya bang. Masa minuman pahit kayak gini diminum”, ujar Sekar. Ronald hanya tersenyum. Sebenarnya Sekar tak mau, ia di paksa terus oleh Ronald. Sampai akhirnya Sekar mabuk berat, karena terlalu banyak minum.

Mentari pagi menyilaukan mata Sekar. Dengan tangannya ia menutupi dahinya. Sekar kebingungan saat mendapati dirinya di sebuah ruangan dengan tubuh tanpa busana. Kepalanya agak sedikit pusing. Bau alkohol masih melekat di tubuhnya. Ternyata Ronald di sampingnya.

Sekar tersadar apa yang telah terjadi pada dirinya. Tak lama kemudian, Ronald terbangun.
“bang, kenapa abang tega melakukan ini kepaaku?”, tanya Sekar sedikit menangis karena mendapati dirinya yang sudah tidak utuh lagi.
“aku melakukan ini semua karena aku sayang sama kamu. Aku akan segera meminangmu”, ujar Ronald. Sekar pun tenang saat mendengar Ronald akan bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat kepada dirinya.

Seperti biasa, Sekar bekerja. Hari-hari terakhir ini, Sekar sering mual dan pusing. Bu Janib pemilik warung membawanya ke Bidan. karena tak mau terjadi apa-apa dengan pekerjanya. Sekar positif hamil. Saat mengetahui hal tersebut, bu Janib shock. karena tidak mau terjadi fitnah bu Janib memberhentikan Sekar.

Sekar kebingungan sendiri, bahkan Ronald tak pernah lagi datang ke warungnya dan menemuinya. Sekar mencari alamat tempat Ronald tinggal. Ia mendatanginya, dan betapa terkejutnya ia ternyata Ronald telah mempunyai istri.
“siapa kamu. Berani-beraninya datang ke rumahku dan mengaku-ngaku anak yang ada dalam kandunganmu itu anakku. Dasar orang gilaa…!! Pergi kamu”, usir Ronald.
“udah bu, mending kita masuk aja. Tidak usah meladeni orang sinting ini”, ujar Ronald kepada istrinya sembari menutup pintu.

Kini hidup Sekar terlunta-lunta. Ia tidur di jalanan. Tubuhnya lusuh, ia teringat ibu dan bapaknya di kampung, ia ingin pulang tapi tak mungkin. Orangtuanya pasti akan kecewa. Ia benar-benar malang. Habis manis sepah di buang, itu lah yang telah dilakukan Ronal kepadanya. Ia seperti mutiara yang tak ada harganya lagi. Turutkan rasa binasa, turutkan hati mati. Ia terlalu menuruti hawa nafsunya. Kini ia menyesali semua perbuatannya. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Ia tak mungkin memutar waktu kembali.

Hingga pada akhirnya, di dekat jembatan ditemukan sesosok mayat, dengan posisi menggantung yang lehernya di ikat seutas tali. Mayat itu perempuan dan sedang mengandung. Setelah di identifikasi, ternyata itu mayat Sekar yang gantung diri. Menurutnya daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah. Dari pada hidup menanggung malu. Lebih baik mati.

Sekar bagaikan mutiara yang dulunya putih bersinar dan banyak dipuja. Sekarang hitam bagaikan arang yang di buang dan ditelantarkan. Itu semua karena ambisinya yang begitu besar, hingga ia menghalalkan segala cara. namun yang di dapatkan adalah sebuah bencana besar, hingga ia harus mengakhiri hidupnya.

Cerpen Karangan: Yuni Maulina
Blog: yuni-maulina.blogspot.com
Facebook: yuni Lindsey

Cerpen Mutiara Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Dan Pertemuan Singkat

Oleh:
Ia melihat senja dengan tatapan kosong, gadis itu seakan berbicara pada senja, ia berada di ambang kesedihan yang amat dalam, kesedihannya terpancar jelas dari raut mukanya. Hatinya seakan berkomunikasi

Kenangan Yang Terakhir

Oleh:
Sinar matahari telah menyinari kamarku dan aku terbangun dari tidur lelapku, ternyata hari sudah pagi waktu menunjukkan pukul 05.25 aku langsung bergegas untuk mandi karena aku akan berangkat ke

Ada Yang Hilang

Oleh:
22 November 2006 Semuanya berakhir hari ini. Penantian buta itu terhempas begitu saja sore tadi, entah keberanian darimana yang membuatku mampu mengucap selamat tinggal dan semua yang kurasakan. Padahal

Bahagia Ku Bersama Mu

Oleh:
Setiap manusia tidak ada yang tahu kapan malaikat maut akan menjemputnya dari kehidupannya. Tidak ada manusia yang abadi dan kekal, kita harus menerima apa yang memang seharusnya kita terima.

Mimpi

Oleh:
Andre adalah seorang pengacara terkenal di kota metropolitan, dia memiliki paras yang rupawan bak aktor bollywod syahru khan, mulai dari wajahnya yang putih bersinar, hidung yang mancung seperti paruh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *