My Hero

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 27 November 2017

Angin pantai memeluk lembut tubuhku, memutar pasir, dan mengibarkan rambut yang kubiarakan bebas tergerai. Bisikan-bisikan lembut angin seakan menelisik jauh ke dalam diriku, mengucapkan salam rindu dari seseorang yang berada jauh di sana. Dia yang telah lama pergi dari kehidupanku. Dia yang selalu aku anggap sebagai pahlawan sejati. Setiap hembusan angin ini seakan membawaku kembali pada masa bertahun-tahun silam. Saat ia berjanji akan kembali padaku.

Beberapa tahun yang lalu aku pernah memiliki keluarga yang sempurna. Hidup kami memanglah tidak mudah. Kami bukan bagian dari orang terpandang atau kaya yang akan dihormati oleh banyak orang. Kami hanya sekeluarga nelayan yang hidup dengan menghitung hari demi hari. Kami harus bekerja keras agar dapat bertahan hidup. Meskipun hidup kami memang serba kekurangan, tapi aku bersyukur karena setidaknya aku memiliki keluarga yang utuh. Aku memiliki orangtua yang sangat menyayangiku. Ibu yang tidak pernah mengeluh karena kenakalanku dan ayah yang akan melakukan apapun demi kebahagiaanku.

Saat kecil aku sering sekali ikut pergi melaut bersama ayah. Hidup terasa lebih mudah pada saat itu. Aku hanya mengenal tawa dan tangisan manja. Setiap kali aku melihat peluh membanjiri dahi ayah maka aku akan langsung mengusapnya oleh tanganku. Itu adalah pekerjaanku saat ikut melaut dengannya. Ia hanya akan tersenyum dan memberi hadiah ciuman sayang pada pipiku. Sepulang melaut maka ibuku akan memberikan sambutan dangan makanan ikan goreng yang telah kami tangkap sebelumnya.

Setelah melaut biasanya aku juga akan ikut pergi ke pasar dengan ibu untuk menjual ikan yang berhasil kamu tangkap. Entah kenapa aku merasa sangat senang saat melihat begitu banyak orang yang berkumpul di sana. Bau amis langsung tercium saat kami mulai memasuki kawasan pasar. Udara panas terasa dua kali lebih menyengat, tapi aku sama sekali tidak pernah menghiraukannya. Kami akan duduk dan menunggu para pelanggan datang selama seharian penuh atau sampai ikan yang kami bawa terjual habis.

Hari-hari berlalu dan tanpa terasa aku telah duduk di bangku sekolah dasar. Aku menjadi semakin lihai membantu ayahku pergi mencari ikan. Meskipun aku seorang anak perempuan, tapi aku tidak pernah malu untuk ikut menangkap ikan bersama ayah. Setiap sepulang sekolah aku akan setia ikut dengan ayah ke manapun ia pergi. Entah ke laut atau ke tempat lain.

Pernah sekali waktu ayah berkata, “Mira, kamu ini kan perempuan. Sebaiknya kamu diam di rumah dan membantu ibumu saja di sini. Biar ayah yang pergi melaut dan mencari nafkah untuk keluarga kita.”
Aku langsung menggeleng tidak setuju mendengar perkataan ayah. “Aku mau membantu ayah. Meskipun aku perempuan ayah, tapi apa salahnya? Tidak pernah ada yang melarang anak perempuan untuk ikut membantu ayahnya untuk melaut, bukan?”
“Seorang perempuan juga bertugas untuk melayani suaminya jika sudah menikah nanti. Bagaimana tanggapan suamimu nanti jika kamu tidak bisa menjadi istri yang baik?” ucap ayahku masih berusaha untuk membujukku, tapi perkataannya salah untuk diucapkan pada anak SD sepertiku.
Aku tertawa mendengar perkataan ayah. “Ayah, aku bahkan belum lulus Sekolah Dasar dan ayah sudah berbicara soal pernikahan denganku. Aku tidak ingin menikah ayah. Aku tidak akan pernah meninggalkan ayah dan ibu.”

Ayah hanya bisa mendesah pasrah mendengar jawabanku. Salah siapa membicarakan pernikahan pada anak SD. Memang benar, kami memang masih memegang tradisi dimana anak gadis harus didik untuk menjadi istri yang baik sejak kecil. Bahkan beberapa temanku mengaku sudah dijodohkan oleh orangtua mereka. Aku sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu. Semua yang aku miliki sudah sempurna. Dalam kesederhanaan ini aku telah mendapatkan kebahagiaan yang aku butuh. Sungguh, tidak ada lagi yang aku inginkan setelah semua ini.

Setelah lulus dari bangku sekolah dasar aku melanjutkan sekolahku ke bangku SMP. Semakin hari aku menjadi semakin sibuk dengan tugas-tugas yang dibebankan oleh sekolah kepada kami, para murid. Aku semakin giat belajar. Tidak akan pernah aku biarkan peluh yang terjatuh dari kedua orangtuaku terbuang sia-sia. Aku sangat tahu jika hal ini sama sekali tidak mudah. Bahkan, Ayah harus bekerja dua kali lebih keras dari biasanya demi membiayai sekolahku.

“Sepertinya aku juga harus ikut pergi melaut denganmu. Kita pasti bisa membawa lebih banyak ikan saat pulang nanti. Aku akan membawanya ke pasar dan semoga akan ada banyak orang yang membelinya.”
Sayup-sayup aku mendengar percakapan antara ayah dan ibu pada suatu malam. Sejak sore tadi aku sudah jatuh tertidur, mungkin karena kelelahan akibat terlalu lama berada di sekolah. Akibatnya aku terbangun pada tengah malam dan secara tidak sengaja mendengar percakapan antara ayah dan ibuku. Dengan dinding yang terbuat dari bambu ini membuatku lebih mudah mendengar suara mereka.

“Tidak perlu. Aku berjanji akan berusaha lebih keras untuk mengatasi masalah ini. Ibu tidak usah khawatir.” Terdengar suara ayah yang menjawab perkataan ibu.
“Tapi, yah. Bagaimanan caranya?”
“Kita akan menemukan solusinya. Mira akan tetap bersekolah. Dia akan melanjutkan pendidikannya sampai setinggi mungkin. Untuk tujuan itu ayah akan berusaha sebaik mungkin.”
Terdengar ibu terisak pelan. “Mira pasti akan mendapatkan masa depannya. Hidupnya akan lebih baik dari kita.”
“Pasti. Mira anak yang kuat. Dia yang akan mengangkat derajat keluarga kita suatu hari nanti.”

Aku mendengar seseorang membuka pintu kamarku dan aku langsung menutup mataku, pura-pura tertidur. Aku merasa seseorang mencium keningku dan bibirnya agak basah, pasti ibuku. Aku tetap bergeming dan tanpa sadar kembali memasuki alam mimpi yang telah aku masuki sebelumnya.

Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Nilai yang akan membuatku diterima di sekolah manapun yang aku mau. Aku girang bukan main saat diumumkan sebagai anak dengan nilai terbaik di sekolahku. Aku pulang dengan perasaan bahagia yang menyala-nyala. Aku harus segera memberitahu ayah dan ibu. Mereka pasti akan sangat senang.

Sesampainya di rumah aku mendengar ayahku berbicara dengan seseorang. Aku tahu jika menguping itu tidak baik, tapi aku benar-benar penasaran. Jadi, aku menghentikan langkahnya dan berdiri diam di dekat pintu untuk mendengar percakapan mereka.
“Aku sangat senang kau mau bergabung bersama kami,” ujar seseorang yang sedang duduk di ruang tamu bersama ayah.

Aku tahu suara itu. Itu adalah suara dari Pak Imran. Beliau adalah salah satu orang terkaya di desa. Ia memiliki banyak kapal laut yang biasa ia sewakan pada orang-orang. Selain itu, ia juga sering pergi berlayar selama berbulan-bulan dan baru kembali. Ada apa Pak Imran bertemu dengan ayah?

“Yah, aku membutuhkan uang untuk membiayai sekolah anakku. Tidak ada cara lain. Aku hanya ingin dia tetap bersekolah.”
“Aku tahu, aku tahu. Apapun alasannya bergabungnya nelayan ulung seperti dirimu bersama kami pantas untuk kami sambut.”
“Terima kasih karena sudah mau menerimaku bersama kalian. Berapa lama kita akan berlayar?”
Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan ayah pada Pak Imran. Tanpa berpikir panjang aku langsung berjalan ke dalam rumah dan bertanya, “Ayah akan pergi berlayar?”
Terlihat ayah terkejut melihat kedatanganku. Pak Imran melihatku, tapi aku mengabaikannya. Tatapanku hanya aku tujukan pada ayah. Hilang sudah semua rasa gembiraku.

“Ini untuk kebaikan Mira sendiri,” ucap ayah berusaha menenangkanku.
Air mataku terjatuh. “Jadi, ayah benar-benar akan pergi?”
“Mira…”
Aku mengangkat tanganku. “Asal ayah tahu. Aku tidak akan pernah mengizinkan ayah untuk pergi berlayar. Tidak masalah aku putus sekolah, tapi aku tidak akan pernah membiarkan ayah pergi. Tidak akan pernah.”
Aku langsung berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan dari ayahku.

Aku terduduk di pasir dan menundukkan kepalaku di kedua lutut. Aku terus menangis.
Aku merasa jika ada seseorang yang menanggung bahuku. Aku tidak bergerak dan membiarkan orang itu duduk di sebelahku.

“Ayah tahu Mira marah sama ayah. Ayah juga tahu kalau Mira kecewa sama ayah. Asal Mira tahu, ayah melakukan ini buat Mira. Supaya Mira jadi anak yang sukses dan ayah nggak perlu buat ninggalin Mira lagi,” ucap ayah lembut.
Aku mengangkat kepalaku. “Tapi Mira nggak mau ayah pergi. Mira ayah nggak mau niggalin Mira sama ibu sendiri di sini,” ucapku sesenggukan.
Ayah merangkul bahuku. “Kalian nggak akan pernah sendiri. Kan ayah yang pergi sendiri, Mira kan sama ibu. Jadi, Mira nggak usah takut sendiri.”
“Gimana kalau sesuatu terjadi sama ayah waktu berlayar? Gimana kalau seandainya ada sesuatu yang buruk terjadi? Mira nggak bisa hidup tanpa ayah,” isakku.
“Shtt… jangan ngomong kayak gitu ah. Kita serahkan semuanya sama Yang di Atas. Apapun yang akan terjadi di masa depan cukup Allah yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan jangan sampai kebanyakan kata gimana seandainya. Allah nggak suka sama kata-kata seandainya.”
Ayah memelukku dan aku membalas pelukannya. Aku menumpahkan semua emosiku di dadanya. “Mira sayang ayah.”
“Ayah juga sayang Mira.”

Satu minggu kemudian ayah pergi berlayar. Aku hanya bisa tersenyum sambil melambaikan tangan padanya. Air mataku langsung merebak saat melihat kapalnya menjauh. Aku teringat pada janji yang pernah ia berikan padaku beberpa saat yang lalu. Janji yang memastikan akan kepulangannya meskipun hanya dangan sebuah salam kecil. Air mataku kembali turun. “Selamat jalan, Ayah.”

Berbulan-bulan aku menunggu kedatangan ayah. Aku sudah tidak pernah lagi pergi melaut karena perahu yang kami punya sudah dijual untuk biaya masuk sekolah. Sekarang ibu juga bekerja sebagai buruh pengupas rajungan. Hari-hariku mulai terasa sepi, rumah tidak lagi seperti rumah.

Enam bulan setelah kepergian kapal yang membawa ayah berlayar, aku masih tidak tahu kapan mereka akan kembali. Hingga aku mendengar jika kapal Pak Imran itu akan segera datang aku langsung berlari menuju pantai. Di sana aku melihat ibuku. Aku segera menghampirinya.

Kapal itu semakin mendekat. Jantungku berdetak kencang, tidak sabar menanti kedatangan ayah. Aku menggenggam jemari ibu kuat.

Aku melihat orang-orang segera turun dari kapal begitu badan kapal menyentuh dermaga. Banyak terdengar tangis haru karena bertemu anggota keluarga yang telah lama berpisah kini kembali dipertemukan. Di tengah keramaian aku berusaha menemukan ayahku, tapi aku tidak menemukannya sama sekali.

Kulihat Pak Imran tengah berdiri menatap aku dan ibuku di dekat kapal. Aku segera berlari menghampirinya.

“Pak, di mana ayah?” tanyaku pada Pak Imran begitu aku tiba di hadapannya.
Pak Imran tidak langsung menjawab. “Ayahmu meninggal saat mencoba menyelamatkan nelayan lain di tengah badai. Maaf.”
Aku seperti tersambar petir. Tangisku pecah begitu saja.

“Aku minta maaf,” ujar Pak Imran lirih. “Sekarang aku yang akan meneruskan perjuangan ayahmu. Seluruh biaya hidup dan sekolahmu akan saya tanggung. Ayahmu juga menitipkan salam padamu, dia minta maaf karena tidak bisa kembali seperti keinginanmu. Dia sangat menyayagimu.”

Tangisku semakin kencang mendengar penuturan dari Pak Imran. Ayah telah pergi. Ayah telah pergi untuk selamanya. Ayah.

Sudah lima tahun semenjak kepergian ayah dan aku telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya. Setelah berusaha dengan keras akhirnya aku berhasil mendapatkan gelar dokter dalam namaku.

Bagiku ayah adalah kata terindah kedua setelah ibu. Perjuangannya lebih dari cukup untuk dikatakan sebagai seorang pahlawan. Bagiku ayah adalah bukan pahlawan dari masa lalu ataupun masa kini, ia adalah pahlawan sepanjang masa. Karena tanpa dirinya tidak akan ada aku dan tanpa perjuangannya tidak akan ada kata keluarga. Terima kasih ayah. Untuk semua perjuganmu terhadap diriku.

Cerpen Karangan: Ayu Sekarningsih
Facebook: Aiyu Sekar N

Cerpen My Hero merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Harapan Gadis Lorong Kota

Oleh:
Hai perkenalkan namaku nana, aku adalah seorang gadis yang tinggal di desa terpencil dari sebuah kota. Perbedaan yang sangat mencolok di masyarakat. Dimana yang kaya diperlakukan bak seorang raja,

Lampion tanggal 4 Februari

Oleh:
“1, 2, 3!” Bang Hanif memberi aba-aba dan kami mulai berlari. Ya, setiap akhir pekan keluarga kami selalu menyempatkan waktu untuk jogging bersama. Kali ini pantai adalah destinasi kami

Gitar Ayah

Oleh:
Masih ku ingat saat Ayah menggendongku yang terlelap di pangkuannya dan meletakkanku di ranjangku yang hangat. Sebuah melodi selalu mengalun dari dirinya diiringi gitar kesayangannya. Lagu favoritku adalah Shalawat

Senyum Manis di Balik Air Mata

Oleh:
Sudah sekian lama aku bersamanya. Menjalani berbagai kisah yang yang tak mungkin bisa kulewati bersama siapapun. Suka dan duka kita lewati bersama. Senyumnya adalah semangat bagiku. Kesedihannya adalah kesedihanku.

Perjuangan Seorang Ibu

Oleh:
Siang dengan panasnya terik matahari tak mampu mencegah Ibu tua itu untuk tetap bekerja. Dia terus bekerja tanpa menghiraukan panas teriknya matahari siang demi mendapatkan nafkah. Dari jauh terlihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *