Namanya Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 3 October 2016

Aku injakkan kakiku di mushalla sekolahku, remang-remang lampu kuning menemani sholat isyaku. Terdengar sayup-sayup sebuah tawa dari orang yang aku kenal.

“Aku mencintaimu, Kayra.” Ucap sesosok bayangan dengan postur tubuh tinggi dan berisi terlihat dari dalam mushalla. Suara itu, aku mengenalnya. Nama itu, aku juga sangat mengenalnya. Aku siapkan mental bajaku, keluar dari mushalla.

“Indah, sejak kapan kau disini?” Kata wanita manis di hadapanku, terselip nada terkejut dari suaranya namun dapat ia kendalikan.
Aku abaikan ucapannya, dan beralih ke sosok pria itu. Aku tatap matanya sekilas. Mata coklat terang itu, aku keluarkan jurus terhebat yang dimiliki wanita. Kukembangkan senyum seakan ikhlas ke arah pria itu.

“Makasih, Roy.” Ucapku kepada pria itu. Ya, Roy sang pujangga hatiku.
Segera aku berlari dari hadapan mereka. Aku merasa bersalah telah merusak drama romantis yang mereka ciptakan.

“Ndah, Indah.” Pekik Kayra. Aku acuhkan, dan terus berlari melewati lorong-lorong gelap sekolah.
Di lapangan sekolah, sudah begitu ramai oleh para alumnus angkatanku. Malam ini, emosiku bercampur menjadi satu. Bahagia bertemu teman seperjuangan yang sudah lima tahun tak berjumpa, dan sedih karena adegan tadi.
“Hai, Ndah. Wajahmu semakin cantik dan aku jamin dimanapun kau berada tetap menjadi primadona seperti lima tahun silam.” Ucap Hendri, salah satu alumnus sekolah ini.

Semakin banyak para alumnus berkumpul di sekitarku, dan pria itu mendekatiku.

“Semuanya, aku cuma mau ngasih tahu dua minggu lagi. Aku dan Kayra bakalan tunangan. Kalian jangan lupa datang, Oke.” Pekik Roy diiringi tepuk tangan. Matanya menatap mataku.
Aku menatap wajahnya tak percaya. Bagaimana bisa dia memutuskan bertunangan dengan Kayra, sedangkan statusnya akan menikahiku dua bulan lagi. Banjir menggenangi pipiku sumbernya berasal dari mata hijauku. Ta`aruf yang dijalani sia-sia. Aku berlari dari keramaian itu, aku abaikan hijabku yang berkibar kesana-kemari. Aku menabrak seseorang.

“Aduh, Maaf.” aku mendongakkan kepalaku. Melihat siapa yang kutabrak. Aku tak siap bertemu orang ini.

“Ndah, kamu kenapa? Kamu nangis?” Kayra mendekatiku dan mengusap air mataku.

“Udah, Kay. Kenapa kamu tega sama aku? Kita sahabatan dari kecil, dan kamu tega sama aku. Aku udah capek, Kay. Udah capek mendam semuanya. Kamu tahu hubungan aku sama Roy selama ini, kan?” Aku berteriak dan meluapkan semua perasaanku.

“Jadi, kamu gak ikhlas sahabatan dengan aku, hah?” Pekik Kayra.

“Udah, Kay. Aku capek. Dengan senang hati aku ngerelain Roy buat kamu.” Kuusap air mataku dengan kain yang menutupi kepalaku.
Aku melanjutkan lagi pelarianku. Lelah, aku pun duduk di bangku taman. Tercium dari indraku, bau yang aku kenal. Saat aku akan menoleh, orang itu segera duduk di sampingku dan menatap wajahku.

“Maaf, aku pernah menghilang. Maaf bukan aku tak bertanggung jawab. Aku melakukan ini, untuk menjadi orang yang bertanggung jawab.” Ucap pria itu, pria yang lima tahun hilang tanpa kabar.

“Kamu Jahat, Ren. Aku… ah, aku lupa mau ngomong apa” Isakku pada Rendi. Pria yang meninggalkan aku tanpa kabar. Katanya, ia ingin belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.

“Maaf, maaf. Kalo Roy, bakalan tunangan sama Layra dua minggu lagi. Maka, Satu bulan lagi kita akan menikah. Kamu mau?” Tawarnya sembari aku mengelap air mataku.
Aku tatap matanya tajam. Aku ragu, sebelum aku lari kesini Kayra memberi tahu alasannya melakukan hal ini, yaitu karena aku pernah mendekati Rendi.

“Sudahlah jangan dengar kata-kata Kayra. Kalau kau terlalu mendengar tiap perkataan orang tak akan ada sesuatu yang dapat kau lakukan. Dan, ingatlah kemarau setahun merusak hujan sehari. Jangan pernah kau tanam hal itu. Cukup, jadi pelajaran.” Nasehat Rendi.
Aku dan dia pergi ke lapangan. Semua orang menatap kami berdua. Ya, kami dua insan yang menjadi primadona lima tahun silam. Sekilas aku menatap pasangan lainnya, pasangan yang pernah mengisi kisah hidupku. Terpancar di wajah mereka kekecewaan.

“Kalian datang ya. Ke acara pernikahan kami satu bulan lagi.” Ucap Rendi dengan tepuk tangan yang sangat meriah.
Hari ini aku disadarkan jika sejauh apapun, sesulit apapun, sesakit apapun, dan ketidakmungkinan yang akan terjadi dalam hidup. Semuanya akan kembali dengan yang namanya takdir.

Selesai

Cerpen Karangan: Sania Sauni
Facebook: Sania Sauni

Cerpen Namanya Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biarkan Waktu Yang Berbicara

Oleh:
Senin pagi, matahari yang baru beberapa waktu membuka matanya menampilkan sinar kuning terang menerobos lobang-lobang tirai jendela kamar kostku, yang aku sendiri pun tidak mengerti kenapa tirai ini berlobang.

Pikaichi

Oleh:
“Jadi benar, nama vas bunga ini fikaichi nona sela?” “Bukan pak! Namanya PIKAICHI! Bukan FIKAICHI!” “Diam! Saya tidak peduli vas ini di sebut apa..! Yang penting sekarang akui kejahatan

Sesal

Oleh:
I miss your tan skin, your sweet smile So good to me, so right And how you held me in your arms that september night The first time you

Kembalilah Seperti Setahun Lalu

Oleh:
Aku rindu tatapannya, aku rindu senyumnya, aku rindu suaranya, aku merindukan semua tentangnya. Dia yang tak akan merindukan ku, dia yang tak mengenalku. Aku hanyalah bagian ingatan yang telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *