Naungan Sang Pecandu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 August 2015

Cerita ini dimulai saat aku mulai berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Firman. Aku berkenalan dengannya melalui seorang temanku, Geo. Siang itu Geo memberikan nomor teleponku kepada Firman. Ternyata malam itu juga Firman mengirimkan SMS kepadaku. Seperti layaknya teman-teman Geo yang diperkenalkan kepadaku, aku tetap membalas pesannya dengan akrab tetapi tidak genit. Aku memperkenalkan diriku sebagai Rina yang baik dan lugu.

Dua hari setelah itu Firman mengenalkanku dengan temannya yang bernama Andhika atau yang lebih sering kupanggil Dhika. Mereka berasal dari sekolah yang sama. Sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal dengan siswa-siswanya yang sangat bandel. Kami cukup mudah akrab. Dhika lebih tua 1 tahun dari aku, sehingga seiring berjalannya waktu aku memanggilnya Kak Dhika. Aku sudah menganggap Kak Dhika sebagai Kakakku sendiri. Aku memang tidak memiliki Kakak laki-laki.

Malam Minggu ini Kak Agung mengajakku pergi ke daerah pegunungan yang memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Kak Dhika melarangku mengendarai motor sendiri. Larangan ini dikarenakan jalan menuju pegunungan yang sangat curam. Kami berhenti di sebuah tempat yang sangat indah. Tempat ini cukup terkenal tetapi aku belum pernah ke sini. Aku jarang keluar rumah.

Kak Dhika meminjam teleponku. Aku juga meminjam telepon milik Kak Dhika. Telepon itu berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk. Aku memberikannya kepada Kak Dhika, tetapi Kak Dhika menyuruhku untuk membukanya saja. Aku membukanya, dari nomor yang belum tersimpan. Dan terkejut saat melihat isi pesannya. Pesan itu berbunyi, “Dhik, ayo ikut kesini. Kami membeli banyak botol hari ini.” Dari kalimat itu aku tahu bahwa yang dimaksud adalah mir*s -minuman keras.

Aku mendongak menatap Kak Dhika, dan Kak Dhika mengetahuinya dan melihatku. Kak Dhika sepertinya tidak tahu apa yang aku maksud dalam tatapan mataku. Dia malah menatapku bingung. Kak Dhika bertanya berulang kali apa yang terjadi. Aku mengambil telepon-ku dari tangan Kak Dhika dan menyalin nomor pengirim pesan tadi. Kak Dhika terlihat lebih bingung dan aku pun mulai buka mulut.

“Kakak minum?” Tanyaku perlahan.
“Minum apa?” Tanyanya kembali dengan nada kebingungan. Aku mengulurkan telepon-nya dan bertanya, “Itu siapa Kak?” Kak Dhika mengambil telepon itu dan membacanya. Yang lebih mengejutkan ia malah bertanya, “Itu siapa dek? adik nggak mabuk-mabukan kan?”
“Itu kan handphone kakak.”
“Tapi kakak nggak pernah kok minum itu.”
“Terus itu siapa kak? Jelas-jelas dia panggil nama kakak di situ. Bukan adik.”
“Tapi kakak nggak kenal.”
“Iya kak. adik percaya. Tapi adik pengen pulang aja.” Kak Dhika mengantarku pulang dan tetap meyakinkanku bahwa ia memang tidak pernah mengkonsumsi barang seperti itu. Aku memang sudah mempercayainya 100 persen. Aku percaya karena aku tahu Kak Dhika bahkan belum pernah menghisap rok*k apalagi alkohol.

Aku berganti baju dan melihat jam. Sudah menunjukkan pukul 8. Aku tidak mungkin menginterogasi pemilik nomor itu dalam waktu 1 jam. Aku harus tidur pukul 9 agar besok pagi tetap bisa bangun pagi untuk kegiatan bersih-bersih halaman pada hari Minggu yang sudah paten -oleh ayahku- dilakukan pada Minggu pagi saat tidak hujan. Aku memutuskan untuk beristirahat saja dan melakukannya esok siang.

Hari selanjutnya setelah bersih-bersih telah selesai, aku mengirim pesan pertama ke nomor semalam. Pesan itu hanya sebuah pesan kosong. Aku tahu ini membahayakan diriku sendiri. Tetapi rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku. Tidak ada yang tahu akan hal ini, termasuk Kak Dhika. Ada sebuah pesan masuk. Dari nomor itu. Cukup lama akhirnya kami berbalas pesan. Antara lain seperti ini:

“Siapa ya?”
“Adik Kak Dhika. Semalam apa maksud kamu SMS Kak Dhika kayak gitu?”
“Oh Rina ya? Hai Rina, aku Pras. Aku semalem cuma bercanda aja. Kakak kamu itu terlalu lemah buat ikut kita pesta.”
“Enak aja kamu bilang. Kakakku bukan lemah tapi patuh.”

Sejak itu kami mulai berkirim pesan seperti dua orang teman. Aku bahkan melupakan Kak Dhika. Berkali-kali Kak Dhika mengirim SMS tetapi aku membalasnya dengan acuh. Hingga akhirnya Kak Dhika bosan dan jarang mengirim SMS lagi. Aku mulai bertambah dekat dengan Pras. Dan pada akhirnya Pras menggantikan posisi Kak Dhika. Kak Pras bukan hanya penggemar alkohol. Tetapi Kak Pras juga pecandu nark*ba tingkat menengah. Info itu mendorongku untuk membujuknya menjadi lebih baik. Meninggalkan nark*banya dan berubah menjadi Pras yang sehat tanpa obat-obatan. Tetapi aku baru tahu kalau ternyata orang terdekatnya pun telah berusaha untuk menyadarkannya.

Dua bulan berlalu, Kak Pras bukan semakin membaik. Tetapi semakin kecanduan dan semakin berubah. Dia lebih kasar dan terlalu mengatur hidupku. Waktuku makan, balajar, keluar rumah, bahkan mandi pun di tentukan Kak Pras. Kak Pras sangat egois dalam hidupnya sekarang. Dia mengharuskan aku menceritakan kegiatan sehari-hariku. Terutama hubungan percintaanku. Tetapi Kak Pras justru menutup diri tentang urusannya. Dia tidak menginginkan orang lain mengetahui kehidupan pribadinya, bahkan adiknya sekalipun. Aku tidak pernah lelah membujuknya untuk menghindari minuman dan obat berbahaya itu. Aku sering membuang barang haram itu jika menemukannya di kolong meja atau di dalam jaketnya. Tetapi entah mengapa sepertinya Kak Pras selalu memilikinya lagi.

Sampai pada suatu hari, aku telah lelah membujuk tanpa ada hasilnya. Siang itu aku mendekati Kak Pras yang sedang duduk mengutak-atik teleponnya di ruang tamu rumahnya. Aku mencoba mencari waktu yang baik untuk menyampaikan maksudku. Aku menemukannya setelah sekitar 30 menit duduk dan bersandar di bahu Kak Pras. Aku mengambil telepon Kak Pras dan meletakkannya di meja. Itu membuat Kak Pras menoleh dan berniat mengambil teleponnya di meja. Tetapi aku menghentikannya sambil memperlihatkan wajah termanis yang aku bisa.

“Apa?” Kata Kak Pras lembut seperti dua bulan yang lalu. Sepertinya Kak Pras mengetahui aku menginginkan sesuatu.
“Kak, Rina mau kasih Kakak tawaran.”
“Apa? Kakak harus dengerin ya?”
“Ya iyalah kak. Dengerin ya!”
“Iya.”

Kak Pras mengangguk dan memperbaiki posisi tubuhnya menjadi menghadapku. Aku menarik napas, menyiapkan mental dan mulai berbicara.

“Kak, kakak mau Rina bawa ke kantor polisi atau di tempat rehabilitasi?” Kak Pras mulai melebarkan matanya dan menatapku dengan tajam. “Apa maksud kamu?”
“Rina pengen Kak Pras sembuh. Tapi Rina udah nggak sanggup lagi bujuk Kak Pras. Kak Pras nggak pernah dengerin Rina.”
“Aku mau ngapain aja, itu bukan urusan kamu!” Bentak Kak Pras kepadaku.

Dan tak ku sangka sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kananku. Itu adalah hadiah dari tangan Kak Pras untuk pipiku. Kak Pras memungut teleponnya dan berjalan menuju pintu. Tepat sebelum dia keluar, aku merasa Kak Pras menatapku dan berkata, “Terserah kalau kamu mau laporin aku. Tapi lihat sendiri apa balasan dari temen-temen Kak Pras!” Kalimat itu singkat, tajam dan dingin. Menyiratkan kamarahan pengucapnya.

Sejak saat itu Kak Pras tidak hanya sering memarahi. Tetapi juga kadang memukulku dan Kak Cecil, pacar Kak Pras. Kami sering mengunjungi Kak Pras. Begitu juga kalimat dan perbuatan kasar Kak Pras. Mereka selalu mengunjungi telinga dan pipi kami.

Tiga minggu telah berlalu. Malam ini aku merasa sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Aku teringat ancaman Kak Pras 3 minggu yang lalu. Aku bergegas menuju rumah Kak Pras. Biasanya aku tidak terkejut bila Kak Pras sedang tidak ada di rumah. Karena hampir setiap malam mereka berpesta barang haram. Apalagi ini malam minggu. Tetapi tidak malam ini, aku sangat terkejut saat hanya menemukan Kak Eka, kakak perempuan Kak Pras dan Kak Eka malah bingung melihat aku ternganga di depan pintu.

“Kenapa Rin? Ayo masuk! Temenin aku. Damar pergi sejak jam 5 sore. Tapi kamu nggak tahu kan, hari ini dia salat wajib. Subuh, duhur, sama asar”

Aku melihat jam dinding dan telah menunjukkan pukul 9. Aku masuk dan merasakan jantungku berdetak sangat cepat. Kak Pras tidak pernah meninggalkan rumah sebelum pukul 7. Kecuali untuk menjemputku atau Kak Cecil, atau saat dia sedang marah dengan Kak Eka. Tetapi aku tahu Kak Pras tidak sedang marah. Ekspresi Kak Eka tidak menunjukkan ekspresi setelah bertengkar dengan Kak Pras seperti saat-saat sebelumnya.

Pukul 11 aku belum beranjak pulang. Sebenarnya aku sudah bilang kepada Kak Eka bahwa aku ingin menginap. Tetapi aku bilang aku menginap jika Kak Pras tidak pulang malam ini. Kami mendengar pintu diketuk dan Kak Eka membukanya. Ada seorang laki-laki berdiri di sana. Mungkin dia salah satu teman Kak Pras. aku lebih memilih menyingkir ke kamar. Tetapi baru sampai di depan pintu kamar aku mendengar sebuah benda besar yang jatuh. Benda besar itu adalah Kak Eka. Lelaki itu membawa kabar bahwa Kak Pras sedang dirawat di rumah sakit.

Setelah Kak Eka cukup sadar, kami bergegas menuju ruang ICU. Kami datang saat dokter yang memeriksa keadaan Kak Pras keluar ruangan. Dari dokter, kami tahu bahwa Kak Pras mengalami koma akibat overdosis obat. Dari keterangan temannya, saat itu mereka sedang mengadakan pesta besar-besaran. Malam itu kami menginap di Rumah Sakit. Aku terjaga semalaman. Aku tidak ingin meninggalkan Kak Pras sedetikpun. Aku menggenggam tangan Kak Pras sangat erat hingga aku merasakan tanganku berkeringat. Aku mempunyai firasat akan ada sesuatu yang lebih buruk lagi.

Pagi itu Kak Pras tidak ada yang menunggui. Aku dan Kak Eka harus ke sekolah. Aku pulang lebih sore dari biasanya dikarenakan ada rapat pengurus OSIS mendadak. Sampai di Rumah Sakit aku sangat terkejut melihat semua keluarga Kak Pras ada di sana dan berlinang air mata. Setahuku mereka tidak pernah mempedulikan Kak Pras. Dan aku lebih terkejut lagi saat mengetahui bahwa Kak Pras telah dijemput yang di atas.

Dua minggu kemudian.

Di pemakaman yang memang selalu sepi, aku berlutut di makam dengan nisan bertuliskan nama “Anandya Prasidik”. Aku menaburkan bunga yang aku bawa dan memanjatkan doa kepada Tuhan. Aku memandang gundukan tanah yang telah mengering itu.

“Kak Pras sih Rina bilangin ngeyel. Sekarang Rina nggak bisa lihat Kak Pras yang katanya ganteng lagi. Kak Pras jangan ngeyel ya di sana. Rina sayang Kakak!” Aku menitikkan air mata dan hampir jatuh dikarenakan tubuhku yang mendadak lemas. Tetapi ada sepasang tangan yang menangkapku dengan kokohnya. Itu adalah tangan teman Kak Pras yang menjemput aku dan Kak Eka saat Kak Pras masuk rumah sakit. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Cerpen Karangan: Lala
Facebook: Fiana Faraina

Cerpen Naungan Sang Pecandu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakit Tuhan, Sakit!

Oleh:
Hai, Nama ku Salsa. Aku akan menceritakan kisah yang paling menyedihkan dan mengharukan. Oh Tuhan perih… sakit sekali… Aku pun menangis dalam diam. Aku menutup muka ku dengan bantal,

Selamat Ulang Tahun, Kanaya!

Oleh:
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan!” “Selamat panjang umur, kita kan doakan!” “Selamat sejahtera, sehat sentosa!” “Selamat panjang umur dan bahagia!” Tepuk tangan meriah terdengar menyambut kata terakhir dari lagu

Kesedihan, Rasa Sakit, Persahabatan

Oleh:
Mentari pagi bersinar cerah hari ini menyilaukan mataku seakan memaksaku untuk bangun dan melakukan aktivitas yang paling kubenci, apalagi kalau bukan sekolah. Aku menarik selimut dengan malas dan segera

Rinay Sahabat Ku

Oleh:
Pagi ini aku berjalan pelan menuju kelasku. Oh ya, namaku Dinda Syahira. Aku punya sahabat. Sahabatku bernama Rinay. “Dinda! Cepat sini!! Ini penting!!” teriak Rinay saat aku sudah berada

1 Hati 2 Cinta

Oleh:
Perjalanan cinta memang tidak bisa pernah ditebak. Cinta itu datang dengan tiba-tiba dan tanpa disadari. Terkadang kita sudah terbuai dn teracuni didalamnya. Seperti Adila yang terjerat sebuah cinta ketika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *