Negeri Balita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 19 September 2017

Aku terlempar ke sebuah tempat, entah di mana. Semua yang kutemui anak-anak, termasuk orang yang kukenal selama ini berubah menjadi anak-anak semua. Aku tertegun. Aku mengusap-usap mata. Aku tak percaya dengan penglihatanku. Rasanya aneh sampai seorang anak menyapuku dengan sopan sekali.

“Assalamu’alaikum…, Pak War ya?”
“Wa’alaikumussalam…” jawabku sambil menjabat tangannya. Tanganku diciumnya dengan tawaduknya. Aku memang seorang guru dan hampir semua muridku mencium tanganku bila bertemu dan bersalaman.
“Who are you?” tanyaku pada anak itu. Sengaja aku berbahasa Inggris untuk menghindari sapaan yang bingung aku ucapkan. Mau kusapa njenengan nyatanya ia anak-anak yang kira-kira berumur lima tahun, padahal aku tahu juga bahwa ia sebenarnya adalah tetanggaku di kampungku yang usianya lebih tua dariku. Aku jadi kikuk.

“Anda mirip sekali dengan Prayogo, tetanggaku di kampung.” Kataku akhirnya memberanikan diri berbasa-basi.
“Lho gimana sih Pak War ini. Ya memang saya Prayogo, warga sekampung Bapak. “Masa lupa?” sambungnya lagi.
“Oh maaf, saya sedang tidak enak badan. Saya jadi ragu dengan penglihatan saya sendiri.” Jawabku untuk menyembunyikan ketertegunanku dengan keadaan yang rasanya sangat berbeda dengan dunia nyata.
“Omong-omong, sedang apa di sini?” tanyaku penasaran.
“Jalan-jalan saja. Bosan di rumah terus.” jawabnya sekenanya.
“Pak War sendiri sedang apa?” tanyanya balik.
Aku bingung menjawabnya. Aku merasa berada di negeri reinkarnasi. Orang-orang berubah menjadi balita-balita yang cantik-cantik, ganteng-ganteng dan imut-imut. Aku jadi tahu wajah masa kanak-kanak Prayogo yang innocent banget. Wajahnya putih bersih, matanya bersinar ceria. Aku tak mengerti apakah saat ini aku juga serupa dengan mereka, menjadi kanak-kanak juga? Aku bingung. Ah, aku butuh cermin.

Prayogo tampak kusut sekali hari ini. Genap setengah tahun ia menganggur. Ketika ia memilih dengan suka rela berhenti dengan uang pesangon yang ia sangka besar saat itu, ia yakin ia dapat memulai usaha dengan modal pesangon itu. Dengan pengalaman yang cukup lama sebagai kepala maintenance, ia yakin pula bisa dengan cepat mendapatkan pekerjaaan lagi. Tetapi, kenyataan tak seindah harapan dan rencananya.

Sekarang istrinya mulai uring-uringan karena uang pesangon yang terus berkurang dan menipis tanpa pemasukan sementara biaya hidup terus naik karena BBM naik. Semua barang-barang kebutuhan pokok harganya naik sehingga menguras uang tabungan, yang tak lain adalah uang pesangon, dengan derasnya.

“Gak cari kerja hari ini?”
“Kerja apa?”
“Kerja apa saja pokoknya halal! Tabungan kita akan habis bila kamu terus nganggur”
“Maunya sih kerja. Tapi tak ada lowongan.”
Percakapan itu tak berlanjut karena ponsel Prayogo berdering.

“Halo pak Prayogo ya ini” tanya suara di kejauhan.
“Ya saya sendiri. Siapa ini?”
“Bagas pak, kepala personalia PT Mulia Steel. Saya baca bapak maintenance mesin. Perusahaan kami sedang membutuhkan karyawan dengan kualifikasi yang Bapak tuliskan di blog bapak.
“Ya benar Pak. Kapan saya bisa di-interview?” jawab Prayogo gembira.
“Besok Pak. Silahkan datang ke kantor kami.”
“Oke Pak Bagas. Terima kasih.”

Tanpa persyaratan yang ribet ia diterima bekerja di PT Mulia Steel sebuah pabrik baja itu. Bekerja di pabrik ini sungguh berat. Panasnya luar biasa. Ia kadang tersenyum sendiri ketika teringat kalimat yang diucapkan kabag personalianya, Pak Bagas, yang menginterviewnya dulu bahwa bekerja di sini seperti latihan masuk neraka karena saking panasnya. Ia tertawa waktu itu. Dalam hati tentu ia berharap tidak masuk neraka.

Pekerjaan Prayogo berjalan lancar-lancar saja sampai suatu saat bosnya meminta dirinya memperbaiki mesin yang ditaruh khusus di ruang bosnya. Ia tahu bahwa itu mesin printing. Ia heran untuk apa mesin itu.

“Sudah diperbaiki mesinnya?
“Sudah pak.”
“Sudah dicoba?”
“Belum.”
“Sekarang coba.” Kata bos Prayoga sambil mengutak-atik tombol di mesin itu. Orang itu seperti sedang memprogram sesuatu di mesin yang semikomputer itu. Untuk komputer Prayogo tidak mahir. Maka ia memperhatikan saja apa yang dilakukan bosnya itu.
“Tolong masukkan kertasnya,” perintah bosnya sambil menyambung laptopnya ke mesin itu. Tak lama kemudian terdengar mesin itu menyala, menggeserkan kertas yang dipasang. Prayogo terbelalak matanya demi melihat sesuatu yang keluar dari mesin cetak itu.
Uang. Pecahan seratus ribu, warna merah. Prayogo terdiam. Ia tak berani memandang wajah bosnya. Bosnya tentu mengamatinya. Bosnya tentu tahu keterkejutannya.
“Jadi…”
“Ya. Ini uang aspal. Bapak sudah melihat. Bagi saya melihat berarti bergabung. Jika tidak, Anda akan…” kata orang itu sambil menyilangkan tangannya di leher. Prayogo terdiam. Ia paham ancaman itu. Ia rasakan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Tubuhnya bergetar. Ia ketakutan sekali. Seumur hidupnya ia tidak pernah neko-neko. Ia bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh. Sekarang ia merasa terjebak pada komplotan pengedar uang palsu.

Esoknya, Prayogo merasa tidak enak badan apalagi kemarin ia pulang kerja kehujanan. Pagi ini badannya menggigil. Ia demam.
“Ndak kerja Pak?” tanya istrinya.
Prayogo hanya menggelengkan kepala. Sementara ini istrinya belum ia beritahu tentang tempat kerjanya yang hanya kedok belaka. Ia belum memberitahu bahwa ia terjebak pada sindikat pemalsu uang.
“Baru kerja seminggu kok sudah gak masuk, Nanti tidak dipecat kamu?” kata istrinya seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
“Alhamdulilah kalau aku dipecat, aku malah senang,” jawab Prayogo akhirnya buka mulut. Ia pikir semua perempuan itu sama saja, cerewet dan mata duitan.
“Lho? Kok malah bersyukur?” sanggah istrinya ingin tahu.
“Sudahlah, antar aku ke dokter dulu, nanti aku ceritai kamu.” Potong Prayogo.
“Memangnya ada apa Pak?” istrinya mulai penasaran.
“Ssst! Jangan keras-keras!” seru Prayogo sambil menempelkan jari telunjuknya di mulutnya.

“Dok dok dok…!” terdengar pintu depan diketuk orang. Suami istri itu njingkat, terkejut bukan main. Mereka saling pandang.
“Lihat siapa?” Suruh Prayogo kepada istrinya.
Istrinya beranjak ke ruang tamu. Ia tidak langsung membuka pintu, tapi ia intip dulu dari kaca pengintip di pintu. Ada tiga orang di luar. Mereka berambut gondrong dan bertopi. Hanya yang mengetuk pintu berambut cepak rapi.
Ketika orang itu akan mengetuk pintu lagi, istri Prayogo sudah membuka pintu.

“Permisi Bu, betul ini rumahnya Pak Prayogo?” tanya orang itu.
“Ya. Betul. Bapak siapa ya, ada perlu apa?” jawab istri Prayogo tanpa mempersilahkan orang itu masuk. Pintu rumah terbuka separuh saja.
“Kami dari perusahaan tempat Pak Prayogo bekerja,” jawab orang itu.
“Bapak sedang sakit. Baru saja kami bersiap-siap ke dokter. Mungkin hari ini tidak masuk kerja.
“Bisa kami bertemu bapak sebentar?” kata orang itu.
“Hm… Bapak sedang mandi. Silahkan tunggu di situ.” Jawab istri sambil menunjuk kursi yang ada di teras rumahnya. Istri Prayogo mulai merasa gelagat yang tidak baik pada orang-orang itu. Pintu ia tutup kembali dan ia kunci pelan-pelan. Ia segera menemui suaminya yang sedang ganti baju di kamar.
“Siapa?” tanya Prayogo kepada istrinya dengan pelan sekali.
“Katanya teman kerjamu.” Jawab istrinya memelankan suara.
“Bagaimana orangnya?”
“Yang satu berambut pendek, seperti tentara, yang dua gondrong pakai topi.
“Aduuh.” Kata Prayogo gugup. Istrinya bingung mengapa suaminya gugup dan ketakutan.
“Memangnya ada apa sih Pak?”
“Itulah yang akan aku ceritakan kepadamu. Mungkin mereka intel polisi”
“Lo… kenapa polisi cari kamu?”
Mereka terdiam karena terdengar salah seorang tamu itu batuk-batuk.
“Sudahlah ayo kita temui” kata Prayogo kepada istrinya mencoba menegarkan diri.

Ketika pintu rumah berderit dan terbuka, satu orang segera duduk, dan yang dua orang berdiri saja seperti berjaga-jaga.
“Silahkan duduk!” kata Prayogo ketika sudah berdiri di depan pintu.
“Ya, bapak Prayogo kan?” tanya orang yang berambut pendek tak berbasa-basi.
“Ya betul, maaf Anda siapa?” tanyanya dengan ragu-ragu.
“Saya orangnya Bos bapak di PT Mulia.”
“Kok saya tidak pernah lihat anda di pabrik?”
“Kami bagian lapangan, nggak pernah ngantor.”
“Saya hari ini sebenarnya mau ke dokter dan tidak masuk kerja”
“Kami antar ke dokter, terus ke pabrik!”
“Tidak bisakah besok pagi saja?”
“Tidak!” jawabnya tegas penuh ancaman.

Pukul sembilan mobil yang ditumpangi Prayogo dan tiga orang yang menjemputnya tiba di pabrik. Ketika akan memasuki gerbang pabrik sopir membunyikan klakson, dan terbukalah pintu gerbang yang bercat hitam itu. Tapi betapa terkejutnya Prayogo dan tiga orang di mobil itu karena di depan kantor pabrik itu berjajar mobil polisi dan banyak polisi bersenjata lengkap berkerumun di sana.

“Ada apa Bang?” tanya orang yang di sebelah Prayogo kepada si Cepak.
“Ah, mungkin unjuk rasa saja. Karyawan semua pabrik kan suka unjuk rasa.” jawabnya tenang.
“Tapi kok banyak sekali ya polisinya?”
“Biasa… memang tugasnya polisi.”

Mobil berhenti di depan pos sekuriti dan keempat orang itu keluar dari mobil. Tiba-tiba seregu polisi berpakaian preman menyergapnya.
“Angkat tangan!” kata polisi sambil menodongkan pistol ke orang yang berambut cepak. Polisi yang lain menodongkan pistolnya pada kedua orang yang berambut gondrong. Proyogo ketakutan bukan main ditodong pistol kepalanya. Ia terkencing-kencing di celananya.

Aku tergagap, bukankah Prayogo, tetanggaku yang malang itu sedang dipenjara? Seperti diingatkan oleh semua orang, yang tiba-tiba menjadi kanak-kanak, menjadi balita lagi itu, aku bergegas membeli makanan dan minuman terus membesuk Prayogo di Rutan kotaku.

Cerpen Karangan: Suwarsono
Facebook: Sam Swarson

Cerpen Negeri Balita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Sebuah Mimpi Dipahami

Oleh:
Tidak kusangka, siang yang tadinya ingin kujadikan waktu bersantai untuk melepas lelah. Setelah seharian berolahraga seperti minggu biasanya, malah berubah menjadi momen paling mengasyikan daripada hanya sekedar melepas rasa

18 Tahun Silam

Oleh:
“Wii..!!!” panggilku lantang. Nafasku masih terengah-engah karena berlarian mengejar burung kutilang yang sudah berhasil kutangkap. Aku kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kelas itu. Jemariku

Hari Rabu

Oleh:
Pagi ini aku awali rabuku dengan membuka pintu gerbang kos-kosan ku, karena adzan shubuh sudah memanggil aku untuk segera sholat di rumah allah yang sangat anggun bak istana itu.

Princess Pegasus

Oleh:
Setiap peri di negeri pony pasti memiliki seekor kuda. Mereka akan mendapat kuda mereka sendiri setelah lulus dari Pony Princess Academy School. Aira sekarang duduk di tingkat 3 Pony

Semangkuk Bakso Diskusi

Oleh:
Di siang hari yang terik memang mantab menyantap yang segar-sagar, bakso. Bakso tidak pernah kehabisan untuk dijelajahi dan bakso selalu hadir dengan pesonanya yang pedas dan seksi. Siang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *