Negeri Sampah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 January 2016

Abidin. Seorang laki-laki bertubuh pendek dibanding tubuh laki-laki seusianya masih duduk di depan pesawat televisi yang ada di ruang tamu rumahnya, oh.. maaf, ruangan dua kali dua meter itu berfungsi juga untuk ruang keluarga, ruang makan, dan terkadang digunakan juga sebagai dapur. Bidin, begitulah dia biasa disapa. Hanya tinggal dengan ibu dan kedua adik perempuaanya di rumah yang hanya memiliki empat ruangan ini, selain ruang yang biasa digunakan untuk nonton tv, ada juga dua kamar, dan dapur.

“Abidiiiiiin!! Sudah dari pagi kau memandangi layar televisi itu, memangnya ada apa di balik layar itu sampai kau melupakan pekerjaanmu?” Suara dari luar rumah itu sudah tidak asing lagi baginya, suara seorang perempuan yang sudah menyekolahkannya sampai lulus SMK meski hanya mengandalkan dari menjual botol-botol plastik bekas. “Pekerjaan? Apa Ibu lupa atau memang tidak tahu? Sejak lulus sekolah dulu aku ini memang tidak bekerja.” Jawab Bidin tanpa sedikit pun menoleh dari layar tv.

“Mencari pekerjaan. Itulah pekerjaan yang seharusnya kau lakukan sekarang. Ibu tidak mau kau meneruskan pekerjaan Ibu ini. Berkeliling mencari sampah, dari pagi hingga sore, dan uangnya pun tidak seberapa. Masih untung kau bisa Ibu sekolahkan sampai SMK, tidak seperti kedua adikmu yang lain, SD saja tidak lulus.” Jawab Ibunda Bidin sambil berjalan ke luar rumah setelah mengambil sesuatu dari dalam dapur, dan segera pergi menuju tumpukan botol bekas yang ada di depan rumah, yang baru saja dia kumpulkan dari pagi hingga sore.

“Sudah sering aku coba. Berkali-kali aku menitipkan lamaran ke sana-sini. Tapi sampai saat ini belum ada juga perusahaan yang memanggilku untuk bekerja, jangankan untuk bekerja, hanya untuk sekedar interview pun tidak ada. Halah.. Mencari pekerjaan di negeri ini, memang seperti mencari jarum di tumpukan jerami.” Ibunda Bidin tidak membalas perkataan anaknya tersebut, melainkan hanya sibuk bergelut dengan tumpukan botol bekas. Lima belas menit kemudian, akhirnya, Bidin pergi meninggalkan televisi dan beranjak pergi meninggalkan rumahnya.

Ibu Bidin sudah tidak terlihat di depan rumah, dia sudah pergi untuk menjual botol-botol miliknya yang akan dibelikan makanan untuk nanti malam, yaitu beras dan sekaleng ikan sarden. Bidin berjalan menjauh dari rumahnya. Bau busuk sampah menyerangnya dari segala arah. Sebenarnya sudah lama sekali Bidin berniat ingin pindah dari pemukiman yang pemandangannya hanya sampah yang sudah menggunung. Dan sudah lama juga Bidin ingin membelikan rumah baru untuk ibu dan kedua adiknya tersebut. Tapi apa mau dibuat, membeli rumah memerlukan uang yang jumlahnya tidak sedikit, sementara, hidupnya pun tidak lebih dari seorang pengangguran.

Bidin pun tiba di tempat favoritnya menghabiskan sore, yaitu di atas bangunan tua yang sudah tidak terurus lagi, Bidin sendiri tidak tahu dulunya bangunan ini fungsinya sebagai apa, dan dia tidak mau tahu, yang jelas di atas bangunan itu dia bisa melihat banyak sekali pemandangan: senja, bangunan yang semakin memenuhi kota, manusia yang terlihat seperti miniatur mainan, kendaraan yang setiap hari berperan sebagai alasan kemacetan kota, burung-burung berterbangan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dan bagi Bidin, menikmati sore hari di atas gedung memiliki nikmat tersendiri, dia selalu berharap sore tidak pernah berganti menjadi malam, tapi dia sadar, tanpa adanya malam, pagi dan siang, maka sore akan sangat membosankan. Dan di atas bangunan itu, Bidin terdiam, memikirkan hidupnya yang setiap hari begitu saja: nonton tv, makan, tidur, begitu terus. Sampai Tofa merasa dirinya seperti berada di atas kapal, sendirian, di tengah laut, dan tidak memiliki tujuan untuk berlabuh. Iya, Bidin merasa dirinya tidak memiliki tujuan hidup, terombang-ambing di tengah laut, hanya tinggal menunggu kapan kapalnya hancur dimakan laut. “Mungkin benar kata Ibu, aku harus mencari pekerjaan,” pikir Bidin.

Bidin kembali ke rumah saat matahari sudah tidak terlihat. Di rumah, kedua adik perempuannya sudah balik dari bekerja di pabrik. Entahlah pabrik apa. yang jelas kedua adiknya tersebut sudah lama bekerja di pabrik itu saat Bidin masih kelas dua SMK. Usia Bidin dan kedua adiknya memang tidak terlalu jauh, adiknya yang pertama berumur delapan belas, sedangkan adiknya yang kedua berusia tujuh belas, Bidin sendiri umurnya hanya lebih tua dua tahun dari adiknya yang pertama. Bidin kembali pergi, dia pergi ke toilet umum dekat rumahnya, setelah mengambil perlengkapan mandi tentunya. Sebenarnya mandi di toilet umum bukan perkara mudah, Bidin harus menunggu bermenit-menit, bahkan bisa sampai setengah jam demi mendapatkan giliran. Tidak jarang Bidin mengurungkan niatnya untuk mandi karena sudah membayangkan lamanya antrean dan sesaknya menahan bau tidak sedap yang dikeluarkan sampah.

Makan malam sudah siap, dia juga melihat ibu beserta kedua adiknya sedang makan di depan tv. Dia menyendok nasi beserta ikan sarden, tapi makan kali ini menjadi beda karena ada tambahan sedikit kerupuk kulit kesukaannya. “Sudah! Film itu saja!” Perintah Bidin sambil berjalan menghampiri tv pada adik pertamanya yang sedang mengganti-ganti channel. Tanpa membantah sedikit pun, adik Bidin menuruti perintah abangnya itu.

“Bagaimana kerjaanmu di pabrik hari ini? Lancar?” Tanya Bidin pada adik pertamanya.
“Lancar, Bang. Abang sendiri gimana? Sudah ada panggilan kerja hari ini?” Kata adik pertama Bidin.
“Belum. Sepertinya semua perusahaan tidak tertarik dengan surat lamaranku.” Jawab Bidin sambil memasukkan makanan ke mulutnya. “Sabar, Bang. Nanti pasti dapat.” Balas adik pertamanya itu yang juga sedang makan.

Malam sudah semakin larut, dua adik perempuan Bidin sudah tidur di kamar mereka berdua. Sementara ibunya masih menonton acara tv kesayangannya berdua dengannya. “Nak.. kapan kau akan pergi mencari kerja lagi?” Tanya ibu Bidin padanya saat acara tv sedang iklan. “Besok, Bu. Besok aku akan cari kerja ke Selatan.” jawab Bidin.
“Oh.. ya sudah. Bagus kalau begitu. Ibu doakan supaya dapat.” Kata ibu Bidin. “Ibu selalu mendukung kau, kau bekerja sebagai apa pun Ibu pasti senang, tapi Ibu tidak mau kau bekerja seperti Ibu ini, Ibu tidak mau melihat anak-anak Ibu mencari sampah sepanjang hari, bukannya tidak baik pekerjaan Ibumu ini, pekerjaan apa pun baik, yang penting halal. Tapi Ibu ingin kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari Ibu dan Adik-adikmu, karena cuma kau lah di keluarga ini yang memiliki ijazah SMK.” lanjut ibu Abidin tersebut.

“Iya.. Bu. Besok aku akan cari kerja.”
“Tapi ingat, Nak. yang penting halal, dan tidak merugikan orang lain. Ibu tidak mau kau bekerja menggunakan jas, dasi, pergi menggunakan mobil, tapi di balik itu semua kau mencuri, mengambil sesuatu yang bukan hakmu. Kalau kau mau tahu, orang seperti itu lebih menjijikkan daripada sampah. Dan kau tahu, sudah banyak orang model begitu di negeri ini.”

“Iya, Bu. Doakan saja aku tidak seperti itu. Aku tidak mau memberikan uang haram pada keluarga!” Jawab Bidin.
“Ya sudah kalau begitu. Ibu mau tidur duluan. Matikan tv! Kau jangan tidur larut malam, agar besok tidak ngantuk.” kata ibunya yang segera bangun dari duduknya untuk pergi ke kamarnya.
“Iya, Bu.” Bidin menuruti perintah ibunya, dia matikan pesawat televisinya, dan segera tidur di depan tv.

Cerpen Karangan: Alan Wafer
Blog: AlanWafer.com

Cerpen Negeri Sampah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manusia Cyber

Oleh:
Udara panas terbiasa menyengat kulitku di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi dan jalan kota yang padat dilalui kendaraan setiap harinya. Namaku Fajri, saat menjadi salah satu accounting di salah

Demi Masa

Oleh:
AWAL KISAH Kini aku berdiri di depan gedung yang tinggi, disini lah nantinya aku akan menyandarkan mimpi ku, ya di sebuah sekolah, kampus namanya. usiaku memang sudah 19 tahun,

Rahasia Kepulauan Seribu (Part 2)

Oleh:
“Nyai Srujo datang.” Teriak salah seorang warga dari luar. Dan datanglah seorang nenek didampingi kedua lelaki suruhan ‘Mpu’ tadi. Beliau terbelalak melihat kami. Namun, dia segera mendekat ke arah

Terimakasih Ibu

Oleh:
“Indi, aku yang jaga, kamu yang ngumpet, ya!” seru Kezia sambil berjalan menuju pohon terdekat untuk mulai menghitung. Dengan gembira, aku berlari mencari tempat persembunyian. Suara Kezia yang menghitung

Warna Warni Pelangi

Oleh:
Pernahkah kalian melihat pelangi? Jika sudah, apa yang kalian katakan? Sangat indah, bukan? Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Penuh dengam warna. Warna-warni yang menghiasi birunya langit,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *