Nenek Pencari Kayu Bakar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Di sebuah desa yang amat terpencil di Malang ada seorang nenek nenek tua renta dengan postur tubuh yang membungkuk dan kulit yang amat sangat kusam berkeriput. Nenek ini mempunyai suami yang sedang sakit keras.
Ya.. Tepatnya sakit TBC (tuberculosis) yang sudah 9 bulan diderita si suami tersebut. Apalah daya untuk sekedar berobat ke rumah sakit pun tidak ada uang sedikitpun.

Mbok Irah, sebut saja begitu orang orang memanggilnya. Beliau yang setiap harinya bekerja sebagai pencari kayu bakar, mencari kesana kemari dan kemudian dijual ke tiap tiap tetangga untuk kemudian uang hasil jualan tersebut dipergunakan untuk biaya makan sehari hari. Beliau hidup berdua bersama sang suami tercinta, dulunya mempunyai 2 orang anak yang pertama meninggal saat masih dalam kandungan dan yang kedua meninggal saat masih berusia 5 tahun karena penyakit leukimia.

Suatu hari mbok Irah sedang mencari kayu bakar di sebuah kebun milik tetangga yang letaknya lumayan jauh dengan rumahnya. Beliau mengumpulkan kayu satu demi satu, dan tanpa disadari ada sebuah dahan pohon yang tumbang akibat hujan lebat semalam. Mbok Irah berpikir bahwa dahan pohon itu bisa ia potong menjadi kecil kecil lalu dijemur dibawanya pulang dan kemudian dijualnya ke tetangga tetangga. Saat mbok Irah sedang memotong tiap tiap dahannya tanpa disadari ada si pemilik kebun yang mengira bahwa mbok Irah lah yang memangkas dahan pohon miliknya itu. Marah sangat marah si pemilik kebun, “apa yang nenek lakukan di sini memangkas dahan pohon milik saya tanpa seizin saya!” Ucap si pemilik kebun.
“Maaf mas, dahan ini dari tadi tergeletak di tanah dan saya berniat membersihkannya dengan memotong kecil kecil lalu saya bawa pulang.” Sahut mbok Irah dengan nada memelas.
“Alah mbok! kalo mau nyari kayu gak harus dengan merusak pohon orang lain!” Sahut si pemilik kebun yang kemudian membuang parang milik mbok Irah karena saking kesalnya.
Mbok Irah pun menangis, beliau yang jujur dan hanya ingin sekedar membersihkan dahan pohon itu tapi apa dikata si pemilik kebun tidak mau tau. Akhirnya mbok Irah pun pergi dan mengambil sisa sisa kayu bakar yang ia kumpulkan tadi sembari menangis.

Ketika di perjalanan pulang menuju rumah sembari membawa kayu bakar dengan punggung bungkuknya, ada sebuah mobil sedan warna hitam memacu kecepatannya dengan sangat kencang, ketika berada di tikungan yang jaraknya sangat dekat dengan mbok Irah mobil itu pun hilang keseimbangan lalu menyerempet kayu bakar dan badan mbok Irah.
“Daaaarrrr…!!!” Bunyi tabrakan dan bunyi rem si pengendara mobil tersebut. Mbok Irah terserempet mobil tersebut sehingga bercucuran darah, tetapi si pengendara tersebut tidak apa apa. Pengendara tersebut langsung keluar dari mobilnya dan langsung membawa mbok Irah menuju rumah sakit terdekat dan langsung dilarikan ke UGD.

Sebut saja pak Burhan, si pengendara yang menabrak mbok Irah tersebut. Beliau yang bertanggung jawab atas semua administrasi sampai pada akhirnya mbok Irah sadar.
“Nak bisa antarkan si mbok pulang?” Nada mbok Irah masih lemas.
“Mbok belum pulih sepenuhnya, lebih baik mbok dirawat dulu sampai benar benar sembuh.” Timpal pak Burhan.
“Tidak apa apa nak, si mbok punya suami di rumah yang sedang sakit keras.” Sahut mbok Irah.
Mendengar suara mbok Irah yang memelas seperti itu pak Burhan pun iba dan mengantarkan mbok Irah pulang menuju rumahnya.

Ketika sampai di rumah, rumah mbok Irah dipenuhi warga setempat yang ternyata selama mbok Irah dirawat di rumah sakit, si suami mbok Irah tidak ada yang merawat sampai pada akhirnya tetangga pun mengetahui bahwa suami mbok Irah meninggal dunia. Mbok Irah pun tergopoh lemas ketika memasuki rumah reotnya tersebut sang suami sudah ditutupi kain kafan.
Sedih sangat sedih, air mata mbok Irah terus menerus bercucuran. Pak Burhan pun berada di belakang mbok Irah sembari memeluk mbok Irah.

“Mbok yang tabah, saya ikut berduka cita atas meninggalnya suami mbok. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT ya mbok.” Ucap pak Burhan.
“Iya nak terima kasih..” Kata mbok Irah.
“(Sambil memeluk mbok Irah) ayo mbok lebih baik kita bacakan surah yasin untuk beliau.” Kata pak Burhan.
Pak Burhan tetap menemani mbok Irah sampai acara pemakaman selesai. Pak Burhan yang sedari tadi berada di samping mbok Irah terus menerus merasa sangat iba, ditambah lagi dengan kejadian saat mbok Irah ditabraknya.
Lalu pak Burhan berbicara dengan mbok Irah, “mbok Irah saya ingin mbok tinggal bersama saya dan keluarga saya. Saya ingin mbok Irah seperti orangtua saya sendiri. Daripada mbok Irah hidup sebatang kara dan tidak ada yang mengurusi mbok Irah jadi saya mohon mbok Irah ikut saya tinggal di rumah saya.” Ucap pak Burhan dengan nada memohon.
Mbok Irah hanya diam sambil menganggukkan kepala.

Dibawanya pulang ke rumah pak Burhan dan ternyata mbok Irah baru mengetahui bahwa pak Burhan ini orang yang sangat kaya. Terlihat dari rumahnya yang sangat megah dan besar. Terpakir beberapa mobil di depan garasi rumah pak Burhan. Pak Burhan menceritakan semuanya kepada istri dan anak anaknya tentang kejadian yang dialami beliau. Dan mereka menerima dengan senang hati kedatangan mbok Irah di rumah pak Burhan, karena memang pak Burhan ini seorang yang kaya namun yatim piatu.

Hari demi hari berganti dan mbok Irah pun hidup layak dilayani layaknya orangtua mereka sendiri.

Tamat

Cerpen Karangan: Anggi Setiawan
Facebook: Albar Alfariski
Nama saya Anggi Setiawan.
Alamat di Jl. Sumber Sari Mandah Kec. Natar Kab. Lampung Selatan.
Umur saya 19th.
Ini beberapa cerpen karya saya, jika kalian menyukai cerpen cerpen hasil karya saya dan ingin memberi saran/kritik atau ingin mengenal saya lebih jauh lagi bisa melalui Fb: albar alfariski / No. Hp: 083890948239
Terima kasih

Cerpen Nenek Pencari Kayu Bakar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


While My Friend

Oleh:
“Mi salam jumpa! Maaf ya aku baru ada kabar. Selama ini aku tinggal di apartmen milik ayahku di Makasar. Dari Tere, sahabat karibmu.” Kubaca secarik surat yang baru dikirim

Ketika Manusia Berhenti Menjadi Manusia

Oleh:
“aku berhenti menulis ” “kenapa? Apa kau bosan padaku, bukankah kau bilang aku satu-satunya?” “kau memang satu-satunya ” “bukankah kita slalu bersama? Lalu mengapa?” “aku takut tuhan marah” “mengapa

Persimpangan

Oleh:
Malam menampakkan kepekatan yang mengerikan dengan langit tanpa sinar rembulan dan bintang. Bergelayut mendung menduduki singgasananya menunggu waktu untuk menumpahkan seluruh isinya. Burung walet beterbangan menyapa hujan yang mulai

Sebuah Jawaban diujung Jurang

Oleh:
“Setiap orang berhak bahagia”. Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang. Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar. Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu. Dulu, aku

Ilalang dan Rumah Laba Laba

Oleh:
Kehidupan yang keras seolah menjadi tantangan dalam hidup Rina dan kakaknya Rani. Tinggal di tengah hutan dan jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kehidupan masyarakat. Kehidupannya hanya bergantung dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *