Nepotisme Tingkat Fasik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Pertanyaan itu sulit untuk dijawab pasti. Biarpun sudah ditemukan jumlah spesifiknya, kebenaran tentang total dari suku bangsa di negeri kepulauan raksasa ini masihlah menjadi misteri besar yang belum bisa dipecahkan. Jika ingin dihitung dengan cara blak-blakan, mungkin kita hanya punya enam suku bangsa saja. Di antaranya: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara. Itulah jumlah kasar dari bangsa-bangsa di Indonesia.
Namun, tentu saja tidak spesifik. Sekarang, coba kita lihat seperti apa sebenarnya bangsa Indonesia itu. Bangsa Indonesia ialah bangsa yang kuat keterikatannya dengan budaya. Mereka -kita maksudku- merupakan bangsa multikultur yang memiliki subkultur beragam yang dipenuhi dengan perbedaan-perbedaan mendasar. Saking banyaknya, bahkan di Jawa saja, ada lebih dari ratusan suku-suku turunan dari suku besarnya -Jawa. Contoh: Sunda, Madura, Jogja, dan sebagainya. Karena keberagaman itu, bangsa-bangsa di Indonesia ini memiliki banyak sekali variasi lingua yang berbeda jenis dialek dan aksennya. Perbedaan bahasa memperlihatkan jenis sub-kultur yang dimiliki suatu kelompok atau individu, bahwa mereka berasal dari kelompok kultur besarnya. Jarang sekali hanya ada satu sub-kultur di satu provinsi -bahkan mungkin tidak ada.
Letak satu contoh, di kepulauan tempatku lahir. Kampungku berada di sebuah titik kecil dalam provinsi Kepulauan Riau. Distrik pemerintahannya ada di bawah Kota Batam, dan lokasi otoritas Kelurahan Pulau Terong. Ya, nama pulau yang cukup lezat.

Di kawasan Pulau Terong ada tujuh pulau yang terpisah dengan garis-garis bernama ‘kampung’. Beberapa di antaranya ialah: Pulau Terong, Teluk Kangkung, Teluk Sunti, Teluk Bakau, Pekasih, Geranting, dan Tumbar. Tiap-tiap desa/kampung ini memiliki perbedaan dalam keseharian dan norma yang diterapkan dengan perbedaan-perbedaan mencolok. Bahasa dan sistem penerapan kehidupannya juga sangat berbeda antara satu dan yang lain.
Contoh…?
Jika di desaku -Teluk Kangkung- perempuan-perempuannya lebih tertutup dan konservatif. Ada larangan untuk menutup aurat di desaku. Jadi, jika ada gadis atau ibu-ibu yang tidak menutup auratnya sedang berjalan di kawasan desa, jika dia orang desa kami, maka ada kebiasaan untuk menegurnya untuk menutup auratnya. Sikap itu sudah ditanamkan sejak lama, bahkan hingga sekarang.
Kami juga bicara dengan nada yang lebih halus, tidak seperti orang Melayu Batam yang suka ngerocos dengan intonasi suara tinggi dan ritme cepat. Pemuda-pemudanya tidak ada yang berhubungan -pacaran- dengan gadis di desa sendiri, kecuali jika ingin menikah. Dan, dalam desaku, barang haram seperti alkohol dilarang keras untuk dijual. Jika kedapatan menyimpan barang itu maka akan disidang, dan bisa jadi diusir dari desa. Pernah ada seorang warga pernah kedapatan menjual obat-obatan aditif (nark*ba) secara sembunyi-sembunyi, kemudian dilaporkan istrinya pada kepala desa. Si pria malang itu pun dikecam oleh kesalahannya sendiri, lalu dibuang dari desa. Kampungku tegas. Tidak ada yang lebih berharga dari kebenaran dan ketaatan pada Tuhan dan negara. Begitulah peraturan kampungku.

Berbeda dengan kampung lain, kebiasaan sosial mereka terlihat lebih terbuka dan bebas -namun masih masuk dalam ketentuan tertentu. Perbedaan dalam penggunaan juga berbeda. Di Pulau Terong, mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan kami memakai bahasa Melayu utuh -dengan sedikit mixing bahasa Inggris. Norma… Jika membicarakan hal semacam itu, rasanya aku tak bisa menilai mana yang lebih baik.

Semua wilayah dan kebudayaan memiliki pandangan masing-masing tentang norma. Di pandangan kami, norma orang-orang Pulau Terong itu sebenarnya kurang baik. Mereka suka sekali menggunakan kata-kata kasar dan mentah jika salah. Pakaian mereka -terutama para perempuan- banyak yang tidak mencerminkan sikap seorang Melayu. Jarang bisa melihat ada orang Pulau Terong yang biasa bersikap baik. Mereka adalah kaum keras, baik di hati maupun kepala. Bagi kami, sikap itu benar-benar menjengkelkan…
Ya, tapi, untuk kaum mereka, mungkin hal-hal negatif yang mereka miliki dalam society costom mereka bukanlah suatu keanehan. Karena itu kaum mereka, makannya mereka bicara begitu. Jika saja mereka merasa sikap mereka melenceng dari kata demoralitas, lalu merubah kebiasaan buruk mereka agar menjadi lebih baik lagi.
Hal yang biasa, sudah tertanam sejak lama dalam jiwa bangsa ini. Sikap nepotis, hanya melihat positif pada kaum sendiri, namun anarkis pada yang lain.

Sebenarnya, kenapa bangsa Indonesia senang menyirami sifat membanggakan kaum sendiri itu setiap hari…? Tidak di mana pun dan dalam urusan apa pun, nepotis adalah hadangan utama. Orang Jawa hanya dengan orang Jawa, Padang dengan Padang, Batak dengan Batak, Sulawesi dengan Sulawesi, dan Melayu dengan Melayu. Sebuah hierarki yang tak sepatutnya diikuti.
Aku punya beberapa pengalaman buruk soal nepotisme. Saat aku baru lulus SMA, aku menunda setahun untuk mencari kerja sebelum masuk kuliah. Rencanaku, aku ingin kuliah sambil bekerja untuk menambah uang saku.
Aku mulai menyusuri kawasan industri demi kawasan industri untuk mencari kertas legendaris yang mengatakan “Dibutuhkan, minimal lulusan SMA atau sederajat,” di depan pagar PT-PT di Batam. Setiap pagi aku berangkat awal hari, berkendara dalam sesaknya jalanan kota kecil dengan tingkat kependudukan tinggi. Setidaknya, sekitar sebulan aku mencari pekerjaan di kawasan industri. Namun, tidak dapat hasil apa-apa.
Karena lelah dengan kehampaan dengan metode on location survey aku pun memutuskan untuk beralih media pencarianku. Aku berpindah pada iklan di koran. Pas, di koran pertama yang kubeli, ada tercantum sebuah iklan yang menyatakan bahwa mereka perlu bantuan. Sebuah perusahaan makro yang menyajikan jasa reparasi motor. Kebetulan karena aku pernah belajar banyak tantang cara mengotak-atik sepeda otomatis itu, aku pun segera bergegas ke lokasi tersebut, mengirimkan lamaranku.
Dengan perasaan senang campur tawakal, aku menjumpai perwakilan dari pemilik perusahaan tersebut, memasukkan lamaranku…

Itu adalah pengalaman pertamaku melamar pekerjaan. Salah satu hari paling menegangkan, membanggakan, dan menyenangkan dalam hidupku. Saat itu, untuk pertama kali, aku merasa bahwa aku sudah setapak mulai berjalan naik ke tingkat kedewasaan, masuk dalam dunia realita. Dunia sesungguhnya. Ya, hari pertama itu sangat berbekas dalam hatiku, bahkan sampai sekarang -in this present time. Aku hanya memikirkan hasil baik, positif pada keputusan yang akan kudapat.
Tapi, kenyataan tak selalu bisa terwujud hanya dengan sebuah harapan dan doa. Fakta yang terjadi akan berakhir sesuai dengan pilihan si pemilik tempat kerja. Dan faktanya, aku dibohongi…

Di iklan, dikatakan bahwa, “CV. ******** membutuhkan montir motor. Lulusan minimal SMA dan tahu soal motor. Jika belum ahli, akan diajarkan.”
Iklan itu tertulis jelas, tanpa ada satupun unsur pragmatis yang menyembunyikan informasi lain di dalamnya. Aku paham benar maksud dari iklan itu.
Hanya saja, ketika diwawancarai, semuanya berubah total.
Ini kalimat pertama yang diucapkan sang pewawancara padaku waktu itu: “Kamu orang Padang bukan?”
Karena masih polos dan berpikir jernih, aku hanya menjawab dengan jawaban jujurku, tanpa memikirkan apa sebab ia bertanya begitu.
“Bukan. Saya asli Batam,” balasku, sesopan mungkin.
Lalu, sontak, wajah si pewawancara -yang sejak pertama tidak menunjukkan ketertarikan- menjadi sangat kecewa, seolah baru menyaksikan kekalahan tim sepak bola taruhannya.
Dia hanya membalas, “Ooh…” tanpa ketertarikan.
Seperti awal, aku juga tidak mengasumsikan apapun tentang respons orang itu, hanya tersenyum dan bersikap baik -selayaknya pelamar kerja pada umumnya.
Lalu, dengan spontan, sang peng-interview pun berkata, “Baik, nanti kami hubungi lagi, sekarang Anda bisa pulang.”
Mendengarnya, aku pun segera mengiyakan, “Baik, Pak.” lalu beranjak dari kursiku. Setelah itu pulang. Tentu saja, untuk seorang yang merasa baik, aku berpikir bahwa hasil yang akan kudapat juga baik. Aku tidak pergi dari sana dengan kecurigaan ataupun kegusaran. Aku memandang semua hal dengan polar positif saja…

Menunggu dan menunggu, aku tetap sabar dalam menanti kabar diterima atau tidaknya diriku. Pemikiranku, aku punya 80% kesempatan untuk diterima, karena perusahaan tersebut sedang memerlukan anggota secepatnya, tidak peduli siapa mereka. Namun, setelah satu bulan menunggu, tidak ada satupun kabar yang datang.
Merasa dilupakan, aku pun beranjak menuju ke perusahaan tersebut untuk mengecek situasinya. Secara mengejutkan, bengkel yang sebelumnya hanya memiliki dua montir, sekarang diisi empat montir. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa jangan-jangan mereka merekrut orang lain karena diriku tidak masuk kualifikasi…? Jika ingin mengasumsikannya seperti itu, sebenarnya jawabannya tidak cocok dengan masalah yang berlaku. Karena mereka belum mengetesku sama sekali.
Di saat itu, aku merasa ada pemikiran yang mulai menggelap dalam kepalaku.
Aku pun menghampiri bengkel tersebut, berpura-pura untuk mengencangkan rantai motor dan isi angin ban. Di sana, ada, aku melihat orang yang meng-interview-ku di bengkel itu. Dia sedang asik ngobrol dengan seorang montir -yang kurasa paling tua di sana- tanpa menghiraukanku. Aku bicara begitu karena sebelumnya dia melihatku, namun tidak merespons apa-apa, seolah tidak pernah mengenal atau bicara padaku sama sekali. Dengan perasaan terabaikan, aku mulai merasa garau.

Sebenarnya, semua ini sudah tidak mungkin sejak awal… Aku baru menyadarinya saat itu; ketika semua kru bengkel tersebut bicara dengan bahasa Padang; ketika orang-orang tersebut berinteraksi dengan kasualnya pada sesama tapi tidak ramah pada pelanggan; ketika montir muda yang bahkan kesulitan mengatur axis roda belakangku dengan benar; dan ketika beberapa montir di sekitarku ini kelihatan tidak berpengalaman -sepertiku. Aku baru sadar, bahwa aku tidak akan diterima di bengkel ini…

“Orang-orang itu keluarga dia semua,” kata salah satu dari penjual gado-gado di dekat bengkel itu saat kutanyai tentang bengkel tersebut.
“Padang semua di situ, ndak ada orang lain,” lanjutnya sembari memberikan pesananku.
Tidak salah lagi. Itu adalah nepotisme tingkat fasik. Sikap mendahulukan keluarga tanpa mempedulikan perintah Tuhan-nya.
Memangnya ada nepotisme seperti itu?
Ah, tidak ada sih. Itu cuma klasifikasi yang kuciptakan sendiri.
Penjelasannya sederhana.
Mereka memberikan pengumuman pencarian pekerjaan pada publik, mengatakan hal yang sangat manis dan penuh harapan. Namun, pada kenyataannya mereka -atau lebih tepat, si pemilik bengkel- telah menipu semua pembaca mentah-mentah tanpa mempedulikan perasaan mereka sama sekali. Dia menyakiti perasaan para pelamar, membohongi kami. Dia bilang dia membutuhkan pekerja, lalu akan menghubungi kami nanti jika kami bisa dipakai di perusahaannya yang tak seberapa itu. Tapi sebenarnya alasan dia bilang begitu adalah, karena setiap pelamar bukanlah orang-orang yang berasal dari suku ataupun keluarganya. Sebenarnya, sejak awal jika kami sudah menjawab “Bukan.” pada pertanyaan “Kamu orang Padang?” maka di saat itu jugalah kami akan ditolak.
Dia memberikan harapan palsu, menahan kami karena berharap, lalu menipu kami secara senyap. Jika dia tidak ingin menerima kami, setidaknya, kenapa tidak jujur saja dan katakan bahwa kami ditolak. Tentu saja, rasanya akan menyakitkan. Tapi itu jauh lebih baik jika harus menunggu dan mendapati kenyataan yang lebih pahit lagi. Seolah minum kopi panas yang dicampur garam bersodium tinggi.
Jika pun dia tidak membutuhkan pekerja selain orang dari tanah kelahirannya, sebaiknya dia tak membuat iklan lamaran pekerjaan itu. Dengan itu, maka dia tak akan menyakiti perasaan siapa pun, dan tidak ada dendam yang tercipta.
“Sudah lima orang ngelamar, tapi semua ndak diterima. Semuanya bukan orang Padang soalnya,” ujar si pedagang bakso lagi.
Sepertinya, sekarang si pemilik bengkel tersebut sudah mendapat perjanjian khusus dengan lima orang di akhirat nanti -yang mungkin aku termasuk di dalamnya.
Dia telah membuat lima orang membencinya, membuat dirinya terjerumus dalam kasus pelecehan suku bangsa, hal yang paling rawan di ranah tropis-kering ini.
Dia membeda-bedakan suku yang ingin diterima dan ditolaknya. Sebuah sikap yang tak mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kelakuan buruk yang lahir dari hati penakut, hati yang memegang kuat tekad membenci bangsa lain, yang sebenarnya bukanlah musuhnya.

Orang itu, apa patut masih bisa disebut Warga Negara Indonesia…?
Menerima keluarga dan membuang orang lain. Sungguh miris. Jika semua perusahaan di Batam melakukan tindakan yang sama, apa yang akan terjadi degan bangsa ini…? Bisa kalian meramalkannya? Tidak, sebaiknya jangan. Karena pikiran dan perkataan adalah doa. Sebaiknya pikirkan dan katakan hal-hal positif saja ya…

Pesan moral pada cerita ini…?
Ah, ya, tentu saja ada. Pesannya: “Nepotisme adalah mesin pembunuh persatuan, dan hal itu akan merebut kebebasan juga hak banyak orang. Tidak peduli dari mana kita, keluarga atau bukan, kita tetap hidup, lahir, berasal, dan tinggal di tanah merah putih ini. Siapa pun kita, suku apa pun, bukanlah masalah untuk berteman dan dipercayai sebagai karyawan atau partner kerja. Jika kita sesama manusia, sesama warga Indonesia, dengan kepercayaan Pancasila yang teguh, maka kita adalah keluarga. Dan hal itu tak akan berubah selamanya. Karena kita sudah disatukan oleh ayah-ayah dan ibu-ibu kita yang berjuang dulunya. Yang sebenarnya berasal dari suku-suku dan keluarga-keluarga berbeda. Karena itu kita semuanya keluarga.”

Jadi, nepotisme bukanlah sebuah pilihan yang patut digunakan, bahkan berbahaya untuk didekati. Jika ada yang menerapkannya, maka ingatkanlah mereka, bahwa kita merupakan satu bangsa yang sama, Indonesia Merah Putih yang sama.
Aku tidak menaruh dendam ataupun kebencian pada pemilik bengkel itu. Sejujurnya, dia bukanlah orang jahat. Hanya tersesat pada jalannya saja. Aku tidak membedakan dia dari bangsa lain, atau mengutuknya karena nepotis. Walau sungguh, perasaan sakit itu memang menderaku cukup lama. Tapi syukurlah, aku tidak berakhir sepertinya.
Aku berteman, mempercayai siapa pun dari suku mana pun: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, sebagai sahabat dan keluargaku. Aku tidak nepotis, tidak ingin.

Jika kita berakhir menjadi orang nepotis, maka kita akan memasuki ranah baru dalam kehidupan gagal. Gagal sebagai manusia yang harusnya luhur dan baik pada semua orang -tidak peduli dari bangsa apa atau agama apa. Gagal sebagai seorang WNI yang seharusnya mempererat kekuatan kebangsaan dengan membangun persahabatan antar sesama. Dan gagal sebagai hamba Tuhan yang selalu menyakiti bangsa lain, dan men-zalimi diri sendiri karena sinis pada bangsa lain. Padahal Tuhan sudah menyebutkan dalam firman-Nya, “Jangan pernah menebar kebencian terhadap sesamamu.”

Jika nepotis adalah makanan pokok bangsa ini, maka apa yang kita asupi pada generasi muda keturunan kita bukanlah hal lain melainkan kebencian dan sifat konservatif. Tidak mempercayai orang lain, dan terus-terus saja mengalihkan mata dari manusia lain -apatis.
Hanya memikirkan diri sendiri.

Kuharap, fenomena di dunia kontemporer yang sudah menjadi jamur raksasa ini, bisa segera berakhir. Kapan berakhirnya, semoga lebih cepat dari perkiraanku…

Cerpen Karangan: Faz Bar
Profile I’m just an ordinary guy, with no talent or awesomeness. I like to write, especially a light novel. My dream is to write a light novel that then being adapted into an anime series (I’m serious about this). I like anime and J-Pop music, and all about Japan. My favourite protagonist is Hikigaya Hachiman, whether the heroine is Yukinoshita Yukino from Oregairu. I’m still an amature. But, I sure can be one of like those great writer whom had made history with their works. I want to be one like that. A famous writer (once again, I’m serious about this).

Cerpen Nepotisme Tingkat Fasik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meluluh Dosa

Oleh:
Aku dan Albert sudah tinggal bersama sejak kecil. Itu tentu saja, karena kami adalah sepasang saudara. Kakakku, wajahnya tampan, tubuhnya ideal, senyumnya mengoda. Bicara soal sifat, ia sangat sabar

Bocah Lak Laki dan Ibunya

Oleh:
Comment ça va? bukan hanya ucapan basa-basi. Ia telah sedikit mengisi harapan seorang bocah laki-laki. Itu adalah kalimat bahasa Perancis pertama yang diingatnya. Hampir setiap jam diucapkannya. Ia ucapkan

Jangan Putus Asa

Oleh:
Nama saya Syahrul Nursapni Gading, saya berasal dari kabupaten Rokan Hulu, saya sekolah di SMAN Plus Prov Riau. Saya mempunyai sebuah cerita saat sebelum saya masuk dan terpilih untuk

Bolong

Oleh:
Pada Hari Minggu, seperti biasanya, saya selalu meluangkan waktu untuk brkumpul dengan teman-teman saya. Saya dan teman-teman saya berkumpul di sebuah Taman yang dekat dengan komplek dengan mengendarai motor

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *