Normala Sang Purnama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 April 2013

Malam masih berayun bersama bintang,
Angin masih meraba pepohonan,
Tanah masih menghisap sisa air hujan,
Dan aku tetap saja bersandar di kursi goyang tua ini,
Di depanku terdapat beberapa helai kertas dan pena
juga sepuntung rokok dan segelas kopi hangat kemarau

Purnama itu hinggap di lintas mataku. Lilin masih menyala di meja, tempat aku merayu lesu dan penat pikiran ku. Semua masih kosong beberapa kertas masih fakum di depan ku, hanya sepuntung rokok yang kunyalakan tuk mengusir gelap petang malam ini. Sebelum semua berakhir. Bulan itu tetap saja memandangiku, aku berharap malam isi cepat kembali normal padam listrik ini sudah keterlaluan memenjarakan desaku. Untung malam ini bulan putnama. Cerita kelam masa kecilku tentang bulan purnama. Aku hanya bisa mendengar tentang kejadian semacam itu, meski dalam hatiku aku bertanya penyakit yang datang pada perempuan.

Memang cerita yang menakutkan bagi anak seusiaku umur delapan tahun aku percaya begitu saja pada ucapan orang tua. Setelah beranjak dewasa aku masih memendam pertanyaanku untuk ku ketahui penyakit bulan purnama bagi perempuan. Kelam sekali rasanya kupandang bersma nafas bau ini. Di sela sabit runcing malam itu ku ketahui jawaban dari pertanyaanku dari peleburan dan ketidak pastian. Aku tau sebab perempuan punya penyakit di bulan purnama, entah ini kenyataan atau hanya sebatas dongeng untuk anak seusia delapan tahun sepertiku. Tapi pastinya begitu! Ukiran jemariku masih lekat di pena putih dengan tutup hitam yang berserakan di meja. Tak henti ku jelajahi kertas ini dengan separuh tulisan mengesankan.

Wanita itu. Maksudku wanita yang di tinggal pergi suaminya; dia tetanggaku, namanya Normala, sedikit mirip dengan wanita ber kerudung merah di film sang pemimpi. Aku saja kasian melihat Normala yang sebatang kara tanpa suami, seperti pohon tanpa daun dan buahnya. Mungkin sudah ke seratus harinya dia di tinggal pergi suaminya. Dari beberapa orang yang ku tanya tentang kepergian lelaki pe-Miras itu, ternyata dia adalah seorang pencuri kelas jantan ”Berani menantang maut”. Sangat menakutkan cerita mereka. Membuat alis mataku jengkel dan bulu-bulu tubuhku merinding. Aku biasa menyebutnya dengan sebutan kang Arif. Iya kang Arif, dia pernah akrab denganku sebelum terhanyut dunia hitam tak berujung itu. Aku memang sudah lama tak berjumpa bahkan sepatah katapun aku dengannya tak pernah terucapkan. Aku tau kalau dia pemiras. Dari aroma mulutnya saja sudah menghadang nafas dan hidungku tuk beradu pembicaraan. Sekarang aku tak tau keberadaannya, dia meninggalkan istri dan anak tercintanya. Mungkin Normala adalah pujaan hatinya tapi sekarang Normala hanya jadi pepatungan saja tak mau ia tampakkan batang hidungnya di tengah keramaian. Kasihan Normala.

“Pena ini masih ku pegangi dengan erat beberapa helay kertas masih banyak yang kosong di depan mataku sepuntung rokok pun masih tetap ku lekatkan di tengah himpit jariku suasana yang tak berubah tetap saja gelap tak bercahaya.

***

Normala. Kini dia hanya bisa pasrah dengan segala yang terjadi meski awalnya dia tak ingin itu semua terjadi. Pernikahannya yang tanpa dasar cinta itu akhirnya pecah bagai telur yang membusuk. Normala sudah mulai belajar mencintai suaminya. Memang budaya yang tak bisa di tentang bawaan leluhur mereka yang melekat permanen di desa ini. Zaman siti norbaya yang tak habis terbuang tetap saja populer di desa ini, aku tau normala sakit hati karna dia tak bisa bersama dengan orang yang ia cintai sebelum akhirnya dia di paksa menikah dengan lelaki pemiras itu.

Normala pernah cerita kepadaku tentang hubungannya dengan ridwan. Ridwan memang tau hubungan keluarga normala yang amburadul namun semua itu ia lakukan demi memusnahkan budaya siti norbaya itu. Namun ridwan kandas di tengah jalan ia hanya merelakan apa yang terjadi pada normala tetanggaku itu. Normala memang wanita cantik di desa ini tak heran jika banyak lelaki yang melirik normala untuk di jadikan istrinya mereka. Dia baik dan sopan saking sopannya orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Mungkin purnama ini normala keluar rumah dan mengindang tubuhnya di bawah sinar purnama ini. Aku tau dia menangisi kepergian kang arif lelaki pemiras sekaligus bajingan jantan. Haruskah aku menghampirinya? Aku takut dia akan marah kepadaku. Bagaimana dengan ridwan kekasih kelamnya. Terakhir aku bertemu dengannya di perjalanan simpang tiga tepat di pinggir lorong beraspal dia memnggiku, dan beberapa pertanyaan ridwan tanyakan padaku tentang normala. Aku katakan semuanya tentang normala yang ditinggal lelaki pemiras itu kepada ridwan. Setelah itu dia beranjak pergi tanpa berucap apapun padaku.

Aku tak pernah berjumpa lagi dengan ridwan setelah pertemuan itu berakhir, mungkin ridwan akan menyunting normala, tetapi kapan? Entahlah ini hanya halusinasiku saja. Normala memang cantik bukan cuma mereka yang terpanah dengan kecantikan normala. Aku pun pernah mengukir rasa padanya namun rasa ini tak pernah ku anggap serius. Namun pada akhirnya rasa yang ku pendam dari sejak aku kelas enam ibtida’ sampai kelas dua Mts terucap dengan kepalsuan belaka aku memberanikan diri megambil taruhan dari temanku. Aku tak begitu berharap tentang semua rasa ini namun nyatanya normala lebih memilihku dari pada temanku yang juga mencintai nya. Aku memang pernah menjadi kekasih normala namun itu tidak lama hanya bisa bertahan dua tahun setengah selebihnya aku memilih untuk sendiri. Aku malu, ternyata dia sudah di jodohkan oleh orang tuanya aku memang bodoh bisa di sebut pengagum tak jelas. Aku sendiri yang mengucapkannya. Normala memang tegar dan dia sopan, aku salut bisa mengenal normala denagan baik.

Setelah hubungan ku berakhir aku dan normala menjadi sahabat saja. Aku tidak tau pasti tapi dia masih mengharapkanku. Bukan maksud tuk berlagak ganteng atau laku. Namun aku tak sengaja dengar pembicaraan teman-temannya normala. Semua teman normala memusuhiku karna aku sudah membiarkan normala sebatang kara. Bisa di bilang normala perempuan sopan yang sangat di segani temannya. Mereka merasa nyaman dekat dengan normala. Aku tau dari normala sendiri tentang semuanya. Dia bercerita padaku waktu aku dan dia masih menyambung hati merangkai cerita indah bersama. Tetapi normala tidak begitu yakin kalau dirinya sudah aku anggap sebagai sahabatnya tapi aku yang meyakinkannya. Aku pernah berjanji padanya, mungkin aku telah berdosa, aku ingat kalau aku akan menikahi normala ini memang ucapan yang tidak ku harapkan aku di buat tak sadar dengan ucapanku ini. Aku telah berdosa pada normala. Aku membiarkan normala terbang bebas tanpa sayap yang utuh di punggungnya, namun sekarang sudah terlambat hati normala sudah bersama kang arif bahkan jika aku ingin menyuntingnya dia harus bercerai atau menjanda dulu. Tidak mungkin semua ini terjadi dengan gampang.

Purnama malam ini masih lekat. Sinarnya masih memenuhi ruang-ruang yang gelap meski tidak semuanya terpancari cahaya. Tangan-tangan ini sudah mulai memanas hingga akhirnya aku lepaskan pena yang melekat di jari-jari tanganku. Kujarah secangkir kopi yang sudah beberapa menit tertinggal diam di meja. Tanpa meminum kopi aku merasa seperti orang gamang tanpa beban. Memang kopi tidak baik untuk ke sehatan tapi aku anggap ini hal yang biasa bagi ku. Merokokpun terkadang aku di marahi oleh keluarga lantaran mereka yang ekonominya pas-pasan. Tetapi aku bisa kerja sendiri untuk merokok.

Tunggu!
Ada apa di purnama malam ini sepertinya ini tidak seperti purnama yang sebelumnya lebih terang dan indah. Kertas, pena, secangkir kopi masih ku taruh di meja. Aku beranjak dari kursi goyang ini meski langkahku penat dan kaku ditambah lagi melesu. Normala. Iya normala mungkin yang ada di benakku. Ini keajaiban, benar-benar keajaiban. Itu normala bertengger di balik pohon. Tapi siapa yang bersamanya itu? Sepertinya dia tidak asing ku pandang kulit coklat berbadan tinggi penuh, dan berisi membuat pandanganku padanya seperti orang bertubuh besi atau kuat. Tapi siapa dia? Beberapa langkah kulihat rasa penasaranku ini. Tapi ini mustahil baagiku ternyata dia kang arif lelaki pemiras yang tangguh. Dia datang di bulan purnama malam ini. Tidak mungkin. Dia masih hidup. Memang lelaki yang hebat. Tapi apa urusanku dengan mereka mengapa aku harus diam-diam di sini. Sudahlah aku sudah tau dia kang arif. Lelaki normala dan lebih baik aku kembali ke rumah saja. Tak ku sangka lelaki pemiras itu datang menemui normala yang kesepian. Sungguh kisah cinta yang lekat dengan budaya memberi mereka arti yang dalam. Namun budaya ini harus ku tumpas agar kelak tak banyak yang jadi korban. Sudah cukup bagiku budaya siti norbaya populer di desa ini. Aku sudah lelah memikirkannya. Normala memang wanita yang cantik. Aku masih mencintainya dan mesih tetap cinta padanya.

Aku lelah dengan semua ini jariku sudah terasa kaku tuk meneruskan tulisan ini kopi dan rokokku sudah habis. Hanya tinggal mata yang mematuhi hatiku sudah selesai
“Sandi wara kelam di kertas ini”

Pemuda, 25 November 2012

Cerpen Karangan: Shafwan Maulidi
Facebook: Uzhumakhi Kanzho

Cerpen Normala Sang Purnama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gerobak Dangdut Cinta

Oleh:
Suasana malam sudah mulai mencekam, lolongan anjing pun menambah kemistikan malam ini. Perkenalkan sebelumnya, nama gue Ricky ini kisah gue dan dua orang teman gue Darko dan Tomy, kita

Never Ending

Oleh:
Sahabat, kata sahabat tak pernah ada sebelumnya di kamus seorang perempuan bernama Jeje Emeli Wijaya. Perempuan yang selalu menganggap tak ada seorangpun yang tulus berteman dengannya. Tapi tidak sebelum

Rasa Risa (Orang Aneh)

Oleh:
Ya, Doni Alamsyah. Seorang siswa SMA yang begitu populer di sekolahnya. dia memiliki paras yang menawan, yang memungkinkan menghipnotis para siswi yang berada di sekitarnya. Karena ini pula lah

Cinta Datang Terlambat (Part 2)

Oleh:
“Ada apa?” tanya Andini yang tiba–tiba datang dan tentu saja tanpa ekspresi di wajahnya. “A.. Andini..” “Nabila bilang kamu ingin mengatakan sesuatu bukan?” tanya Andini lagi. “Aku..” “Maafkan aku..”

Ego

Oleh:
Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *