Orang Dewasa Pembolong Pelipis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 March 2018

Aku heran mengapa mereka sibuk sekali saling tuding menuding. Mereka suka sekali bersikap kasar padaku dan pada teman-temanku. Mereka suka memukul, menendang dan apapun yang mereka lakukan pasti bersifat kekerasan. Aku tidak suka dengan orang dewasa. Bahkan yang paling parah ketika mereka menodongkan senapan yang mereka bawa ke pelipis temanku bernama Ardo. Untung saja ada yang menolong Ardo. Aku langsung membelut pelipisnya yang berdarah dengan kain baju yang kurobek.

Dulu aku pikir orang dewasa itu suka berbuat baik pada anak kecil, ramah dan suka menolong pada sesama. Namun kenyataan yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri berbeda. Mereka tidak seperti itu! Mereka kasar, mereka suka menyakiti teman-temanku. Bahkan dua hari lalu salah satu temanku bernama Arsyad meninggal dunia. Karena mereka melempar sebuah bola sebesar bola kastil. Kemudian tiba-tiba saja meledak di hadapan Arsyad. Aku mendengar kabar itu dua jam setelahnya. Dan mulai saat itu aku percaya bahwa orang dewasa itu bukan orang baik.

Kata Bunda rumahku sudah tidak ada. Sudah rata dengan tanah. Aku tidak percaya. Kemudian Ayah pernah sekali berkunjung ker umah lama bersamaku. Dan aku percaya, ternyata Bunda benar bahwa rumahku sudah rata dengan tanah. Aku bertanya pada Ayah “Ayah, apakah ini semua orang dewasa yang melakukan?” kataku pada Ayah yang berwajah penuh perban
“Orang dewasa itu orang dewasa yang tidak berhati nak…” jawab Ayah pelan
“Mengapa orang dewasa suka melakukan seperti itu? Bukankah lebih baik orang dewasa itu seperti Ayah. Selalu baik padaku dan teman-temanku. Selalu menggendong ketika aku menangis. Selalu menyuapi aku makan jika aku mogok makan. Kenapa orang dewasa tidak dapat seperti itu Yah?” kataku dengan polos
“Tidak semua orang dewasa dapat seperti itu nak. Kau tidak dapat memaksakan mereka. Maka jika kau sudah tahu mereka orang dewasa yang tidak baik. Jangan sekali-kali kau mendekati dan jangan pernah kau meniru mereka. Paham nak?!” kata Ayah menatapku tajam. Sesekali ia memperbaiki perban di wajahnya yang terlilit ala kadarnya.

Apa kubilang! Orang dewasa itu membenci anak kecil. Jika mereka melihat aku dan teman-teman bermain di reruntuhan antara rumah-rumah. Serta debu yang mengepul tebal dan puing-puing bangunan yang berserakan mengerikan. Pemandangan yang tidak biasa untuk disaksikan. Ketika sedang asyiknya main. Tiba-tiba orang dewasa itu datang dengan menodong senapan mereka dan berteriak keras. Sontak saja aku dan teman-teman lari terbirit-birit melarikan diri takut jika nanti pelipis kami menjadi bolong seperti teman kami yang lainnya. Karena dua hari lalu tidak hanya Ardo yang menjadi korban. Namun teman kami Arman juga menjadi korban. Sayangnya ia tidak dapat diselamatkan. Aku lari dengan cepat bersembunyi di dalam bangunan yang rawan runtuh. Melihat aku dan teman-teman lari mereka tertawa lepas menertawakan aku dan teman-temanku.
Aku berkata dalam hati “Mengapa mereka tertawa? Apakah mereka sedang mengerjai aku dan teman-temanku? Aku tidak suka caranya bercanda. Bagiku tidak lucu”

Oh ya bolaku masih ada di sana. Aku ingin mengambilnya namun ragu. Ayah pernah berucap “Jika orang dewasa itu datang, segera lari secepat mungkin dan jangan sampai tertangkap!”. Namun aku menginginkan bolaku itu. Bola itu aku temukan ketika ledakan besar tiba-tiba jatuh dari atas langit. Aku kira kembang api namun ternyata bukan. Jika kembang api pasti orang gembira melihatnya. Namun ketika orang melihatnya, orang menangis berteriak histeris sambil berlari-lari tak karuan. Aku yang sedang tertidur saat itu sambil digendong Ayah hanya mampu bengong saja. Ketika melihat langit, terlihat asap tebal menggumpal. Dan seketika gedung sekolah tempatku belajar dan bermain runtuh menimpa orang-orang di bawahnya. Aku kaget mendengar runtuhan itu terjatuh. Dan karena ledakan dari langit itu, telinga sebelah kiriku mejadi pekak sebelah. Sakit sekali rasanya. Seperti ada jarum yang menusuknya hingga mengakibatkan aku tidak dapat mendengar hingga saat ini.

Bola itu pemberian dari Arman. Arman pernah berpesan, jika aku harus menjaga bola itu dengan baik. Dan sekarang bola itu sedang berada tepat di depan orang dewasa. Aku berfikir keras bagaimana aku dapat mengambilnya dengan selamat namun aku sendiri ragu dan takut. Tinggi orang dewasa itu jauh dariku. Aku hanya sepinggang mereka saja. Jika aku berlari satu langkah mereka dapat berlari tiga langkah sekaligus. Jika aku berteriak minta tolong mereka hanya akan menertawakanku kemudian menedangku. Jika aku melawan maka pelipisku akan bolong. Bagaimana ini? Teman-temanku yang lain sudah kabur entah ke ke mana, yang jelas mereka sedang sembuyi. Mereka takut jika pelipis mereka bolong, atau kaki tangan mereka hilang satu, atau yang paling mengerikan mereka tidak dapat melihat ayah ibu mereka lagi atau teman-teman yang lain.

Aku berusaha mencari mereka di puing-puing gedung ini. Dan beberapa aku temukan. Aku melihat mereka sedang berjongkok sambil menutup mulut mereka, bahkan ada yang menutup hidungnya. Aku bertanya
“Mengapa kau menutup hidung dan mulutmu?” Tanya ku heran
“Agar tidak ketahuan! Kau tahu bahwa orang dewasa itu dapat mendengar ketika kau bersuara walau hanya pelan. Bahkan mereka dapat mendengar suara nafasmu. Maka kau benar-benar harus diam tanpa ada suara sedikit pun” katanya berbicara namun tidak bersuara

Kemudian aku ikut berjongkok mengikuti perintahnya. Aku mengatakan maksudku yang ingin mengambil bolaku yang terjebak tadi. Sebelum aku selesai menjelaskan ia sudah menggelengkan kepala tanda bahwa “Tidak akan bisa”. Aku mendelik tanda “Apa maksudmu?”. Kemudian ia menggeleng tegas “Tidak bisa!”. Aku diam, kesal. Aku hanya ingin mengambil bolaku saja namun mengapa sangat sulit. Kemudian ia menunjuk diriku dan bola di luar sana. Aku menatapnya tidak mengerti. Kemudian ia mengulangi kembali. Baru ku paham, maksudnya pilih nyawa atau bola. Lagi-lagi aku terdiam, tidak tahu mau menjawab apa. Ia menepuk pundakku. Menyuruhku mengikhlaskan saja bola itu, namun aku tidak bisa, itu bola milik Arman temanku yang bolong pelipisnya.

Aku tetap bersikeras, namun tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, karena aku merasa memiliki hak atas bola itu, aku maju ingin mengambilnya. Ia berusaha menghalangiku namun aku menepisnya. Dan berkata dengan mata “Aku akan mengambilnya bagaimanapun juga! Jika tidak bagaimana kita akan bermain!” kataku kemudian melangkah pelan sambil mengendap-endap. Ia terdiam melihatku.

Di balik tembok besar yang runtuh, aku mengamati orang dewasa tadi. Ada tiga orang yang duduk di sana, sambil bercakap-cakap tertawa. Yang dua tadi sudah pergi entah ke mana. Mereka sempat memainkan bolaku dengan gerakan-gerakan pemain sepakbola. Aku bergumam, aku dapat lebih baik dari itu!”. Aku melihat senapan panjang yang mereka tenteng terus di tangan masing-masing. Aku berfikir, mereka dapat dengan mudah melepas pelurunya bahkan ketika aku berlari. Namun aku sedang tidak ingin membuat masalah dengan mereka. Karena sebenarnya merekalah yang sedang berbuat masalah di tempatku ini. Aku dan orang-orangku tidak berbuat apa-apa. Namun tiba-tiba saja mereka datang dan membuat banyak orang di tempatku ini bolong pelipisnya. Putus tangan dan putus kaki. Menjadikan pandangan menjadi gelap selamanya atau pekak sepertiku. Berlumuran darah di wajah. Dan hal lainnya yang aku tidak suka melihatnya. Karena itu tampak meyakitkan, bahkan aku sering merasakannya.

Ketika aku akan melangkah keluar. Satu langkah pertama akan kulakukan. Dari belakang ada yang memegang pundakku.
“Kau! Mengapa kau di sini?” kataku
“kau ingin mengambil bola itu sendiri kemudian main sendiri? Aku juga ingin bermain maka kita harus mengambilnya bersama-sama” katanya
Aku tersenyum. Setidaknya ada yang ingin membantu itu sudah lebih dari cukup. Aku menghitung teman-temanku, ada tujuh orang ternyata. Walaupun sisanya sudah kabur pergi menyelamatkan diri. Aku berfikir kita pasti bisa tujuh lawan tiga, kami pasti menang. “Mereka punya benda panjang itu” tunjukku ke arah senapan. Kemudian aku menunjuk pelipisku dengan gerakan tangan seperti senapan. Dor! Aku tergeletak mati. Aku memberi isyarat seperti itu. Temanku memberi inisiatif sambil menunjuk kayu-kayu yang berserakan di sekitar situ. “Ide bagus!” kataku mengajungkan jempol.

Baiklah kami siap mengambil barang kami yang penting itu. Dengan kayu dan keberanian ini kami akan mengambilnya. Kami sudah mulai melangkah. Hingga kami tiba beberapa langkah di depan mereka. Aku menunjuk bola ku tanda “Itu bolaku, aku hanya ingin mengambilnya tidak membuat masalah”. Mereka menatap kami bertujuh dengan remeh sambil senyum-senyum.
“Kami tidak akan membuat masalah, kami hanya ingin bola kami dikembalikan”, Akhirnya aku bersuara.
“Ambillah!” katanya dengan berlagak.

Aku melangkah maju diikuti teman-temanku yang lainnya. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di bolaku. Aku tinggal meraihnya dengan tanganku dan bola itu selamat. Namun tak kuduga saat aku sudah menyentuhnya di tanah. Orang dewasa itu menhentakan kakinya dengan sangat keras kepada bolaku. Dan tentu saja bolaku tersebut menjadi gepeng tidak berbentuk layaknya bola kembali. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak melihatku bengong dengan bolaku itu. Aku menatap mereka dengan penuh rasa benci. Dan tanpa babibu lagi aku langsung menghempaskan kayuku ke arah mereka. Namun karena tenagaku tidak seberapa, kayu itu tidak terlalu berefek. Ia menatapku dengan tajam. Aku mulai merasa takut. Ia mulai marah dan melangkah maju. Aku dan teman-temanku perlahan mundur dari tempat.

“Beraninya kau!” teriaknya lantang padaku dan teman-teman
Salah satu dari mereka sudah mengacungkan senapan. Dalam hatiku pasti pelipisku akan bolong. Teman-temanku sudah mulai panik dan ketakutan. Lalu orang dewasa yang barusan berteriak tadi mengeluarkan tiga bola kecil dari saku celana kargonya. Ia melemparkan padaku dan teman-temanku. Tanpa diberi isyarat mereka langsung menutup wajah dengan masker dan kacamata pelindung mereka. Aku tidak tahu itu apa. Namun bola kecil itu mengeluarkan asap yang banyak mengarah padaku dan teman-teman. Salah satu temanku berteriak ia berkata perih sekali. Aku pun kemudian berteriak, aku juga merasakan mataku perih sekali. Kami langsung lari berusaha menyelamatkan diri dari asap tersebut. Sampai terjatuh-jatuh kami berlari. Perih sekali rasanya. Kami bersembunyi di puing-puing reruntuhan sambil menahan tangis dan rasa perihnya.

Beberapa menit kemudian rasa perihnya berangsur-angsur hilang. Aku mulai dapat membuka mataku. Aku memastikan teman-temanku baik-baik saja. Aku kesal sekali dengan orang dewasa. Aku hanya ingin mengambil bolaku saja mengapa mereka malah menyakiti mata kami. Aku melihat salah satu teman terluka di lengannya karena terjatuh tadi. Aku tidak suka dengan orang dewasa! Bahkan aku membenci mereka. Kelakukan mereka sangat bengis tidak seperti orang dewasa yang aku kenal. Biasanya orang dewasa itu baik pada anak-anak sepertiku. Namun mereka malah menyakitiku dan teman-temanku. Apa salah kami?

Mulai saat itu aku tidak berharap menjadi orang dewasa. Aku ingin menjadi seperti ini saja. Aku tidak ingin tumbuh menjadi orang dewasa. Buat apa menjadi orang dewasa namun suka menyakiti anak-anak. Aku ingin menjadi anak-anak seperti diriku saat ini, supaya aku tidak menyakiti siapapun. Namun jika aku tetap menjadi orang dewasa, aku ingin menjadi orang dewasa seperti Ayah. Ayah selalu baik padaku dan teman-temanku. Aku pernah melihat ayah ikut berteriak di jalan menentang orang dewasa yang sama dengan kulihat tadi. Ayahku melemparkan batu pada mereka, sedangkan mereka melempar bola-bola kecil berasap kepada ayahku dan yang lainnya. Jika mereka memiliki tameng untuk melindungi dari baru-batu kecil yang dilempar ayahku. Lalu ayahku punya apa untuk melindungi diri dari bola-bola kecil yang mereka lempar. Aku kesal sekali melihatnya. Itu sangat tidak adil! Jika orang dewasa itu memang berani mengapa mereka selalu berlindung di tameng-tameng besi mereka. Sedangkan ayahku berlindung di tameng kulit badannya. Sekali kena, melepuh sudah kulit ayah.

Aku selalu mengaggap mereka semua itu pengecut. Mereka tidak berani melawan seperti Ayahku dan ayah-ayah teman-temanku. Hanya dengan kaos oblong dan batu berani maju. Lantas mereka harus dengan seragam super lengkap. Senapan pembolong pelipis. Bola-bola kecil berbahaya. Tank-tank besi yang merusak aspal. Dan jumlah mereka yang ratusan. Kemudian membentuk pertahanan layaknya ayaku dan dan ayah-ayah yang lainnya adalah makhluk perusak di muka bumi ini. Padahal jelas sekali bahwa mereka lah si perusak!

Dan yang paling aku benci dari kelakukan bengis mereka. Mereka suka sekali dengan anak-anak dan perempuan di tempatku. Mereka suka menangkap bunda-bunda teman-temanku kemudian bolong pelipis mereka. Bahkan adik bayi kecil yang tidak bersalah pun mereka terror. Aku tahu walaupun saat ini aku sudah tidak sekoalh lagi. Karena sekolahku hancur lebur. Namun setidaknya aku masih memiliki otak. Adik bayi yang tidak punya salah saja mereka terror. Apakah mereka tidak sekolah? Aku tahu mereka orang dewasa, namun mengapa mereka kalah denganku dalam hal berfikir.

Mereka suka melakukan itu secara diam-diam dan kemudian Dor! Dor! Dor! Itu tanda bahwa mereka datang. Sontak saja keadaan lagnsung ricuh dan panik. Para Ayah langsung melaukan perlawanan untuk melindungi keluarga. Dan para Bunda berlari melindungi anak-anak. Termasuk Bundaku. Bunda akan langsung memeluk erat dan menutup telingaku. Barangkali bunda tidak ingin telinga sebelah kananku menjadi pekak juga.

“Bunda, apakah orang dewasa datang lagi?” tanyaku malam itu
“Iya nak. Tidak apa ada bunda di sini” kata Bunda lembut
“Aku sebal sekali jika mereka datang. Apa salah kita Bunda?” Tanya ku heran
“Tidak, tidak salah apa-apa nak. Merekalah yang salah datang kemari” kata Bunda

Aku hanya terdiam saja. Ketika derap-derap sepatu mereka datang. Bunda tergesa-gesa membawaku ke ruang bawah tanah untuk berlindung. Dalam keadaan gelap gulita aku dan teman-temanku yang lain berlindung di ruang bawah tanah. Ketika aku merasa terusik dan takut dengan keadaan gelap gulita tersebut. Bunda akan menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang lirih di telinga kananku. Hingga aku terlelap kembali.

Hampir tiap-tiap hari ini terjadi. Orang dewasa tidak pernah bosan datang kemari. Mereka sepertinya ingin sekali tempat ku ini. Namun jika mereka merebutnya, lantas aku dan yang lain akan tinggal di mana. Bukankah mereka juga sudah memiliki tempat tinggal. Mengapa mereka ingin mengambil tempat tinggalku? Jika sudah punya jangan suka mengambil milik orang lain. Bunda selalu mengajarkan itu padaku. Apakah mereka tidak diajarkan oleh Bunda mereka?

Namun sampai kapanku aku tidak akan menyerahkan dengan tempat tinggalku ini. Seberapa lama mereka bertahan akupun juga akan bertahan. Selama apapun mereka di sini entah itu seabad dua abad atau bahkan lebih. Aku tidak akan berhenti untuk bertahan. Meskipun jumlah para Ayah dan Bunda mulai berkurang tiap harinya. Namun kami tidak ingin menyerah begitu saja. Meskipun pelipisku harus berlubang. Namun setidaknya hatiku tidak berlubang. Meskipun kepala akan berdarah. Namun aku tidak akan membuat kepala oranglain berdarah pula. Meskipun mata ku akan sangat perih. Aku tidak akan membuat hati orang lain perih. Meskipun mereka menyakitiku dan teman-temanku serta para Ayah dan Bunda. Aku tidak akan menyakiti mereka seperti apa yang mereka lakukan. Aku tidak akan menjadi orang dewasa seperti mereka. Aku akan menjadi kebalikan dari mereka!

Cerpen Karangan: Sekar Jatiningrum
Blog: sekarjatiningrum.blogspot.com
Seseorang yang baru mencoba menulis

Cerpen Orang Dewasa Pembolong Pelipis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terimakasih Sahabatku

Oleh:
“Nasyaaaa!!!” suara itu setiap hari selalu terdengar di depan rumah. Yup! Itu adalah suara Sasa. Sasa dan Nasya adalah sahabat. Rumah mereka berdekatan, jadi setiap hari selalu berangkat dan

Malaikat Matahariku

Oleh:
Annnisya Putri Ramadhani, itulah namakuku, terlahir dari keluarga yang cukup berada, memiliki kedua orangtua yang sukses, dan memiliki kakak laki-laki yang selalu ada buatku kapanpun itu, dan ku juga

Cahaya Kehidupan

Oleh:
Aku sering duduk menyendiri di pojokan sekolah mencari tempat sepi. Aku lebih senang sendiri dan menjauh dari siapapun itu. Ya, setelah kejadian waktu itu aku lebih sering menyendiri dan

Dia Dan Mimpi

Oleh:
“Hei kamu ngelanjut SMA mana? Kuliah?” Tiba-tiba kamu menanyakan itu padaku. Dengan semangat aku langsung menjawab dengan menyebutkan SMA dan Universitas terbaik dunia. “jangan kebanyakan mimpi, itu yang kamu

Harapan Kecil Untuk Rafi

Oleh:
“BRAK!!!” Suara gebrakan pintu itu mengagetkanku. “Ayo bangun, mau sampai kapan lo tidur terus?! Dasar anak tidak tahu malu. Udah numpang, males-malesan lagi!! Lama-lama gue usir juga lo!!!” bentak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Orang Dewasa Pembolong Pelipis”

  1. Shofa dan marwa says:

    Sedih, aku tahu ini semua menceritakan nasib saudara2 kita

    • Sekar Jatiningrum says:

      Iya benar. Tapi itu belum ada apa-apanya dengan kejadian yang sebenarnya disana.
      Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Mohon saran dan kritiknya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *