Padang Pasir yang Menjadi Saksi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

Matahari bersinar dengan begitu teriknya di hamparan pasir yang begitu luas. Tak ada satu pun mata air yang dapat diminum untuk menghilangkan dahaga. Apalagi pohon yang dapat dimakan buahnya untuk menghilangkan lapar. Sekali pun ada adalah pohon kurma yang belum berbuah. Tak jarang pula dilihatnya sebuah kawasan dengan pepohonan yang subur lengkap dengan danaunya yang cukup luas. Tetapi hanya tipuan belaka. Yaitu fatamorgana.

Unta yang ditumpanginya terus melangkah dengan tenang. Terlihatlah tapak kaki bekas injakannya yang memanjang di pasir. Tampak pula seorang pemuda yang duduk di atas punuk unta itu. Sangat jelas bahwa wajahnya yang putih itu pucat pasi yang menambah wajahnya semakin putih. Tetapi kini wajahnya telah berwarna kecoklatan oleh badai pasir yang terjadi beberapa saat lalu sehingga tersamarkan oleh butiran-butiran pasir yang menempel di pori-pori wajahnya. Tubuhnya sangat lemas. Entah telah beberapa hari tak makan. Lantas mau ke mana dia? Entahlah. Apa tujuannya? Entahlah.

Rasanya Gurun Sahara itu tak ada ujungnya. Seperti terus saja berputas-putar dan menuju tempat semula, seperti bola. Gundukan pasir yang dijumpainya pun tampak sama. Tak ada bedanya. Perut pemuda itu terus menggerutu minta makan. Sebagai makhluk hidup pasti membutuhkan makan untuk mengisi energi. Tak seperti unta yang dapat menahan lapar dan haus. Matahari bersinar lebih terik saja, yang membuatnya semakin kepanasan. Berbanding terbalik dengan pada saat malam yang sangat dingin sampai menusuk tulang.

Begitulah yang dirasakan Ahmed Thaleb, seorang pemuda Arab yang tampan. Dia adalah narapidana yang kabur. Bukan tanpa sebab dia dipenjara. Dia adalah seorang pengedar nark*ba. Keberadaanya diketahui oleh polisi yang menyamar menjadi orang biasa. Polisi itu berpura-pura ingin membeli sejumlah pil ek*tasi dan s*bu-s*bu. Pemuda Arab itu tak bisa berkutik saat polisi menodongkan pistol ke arah jidatnya. Seketika itu juga dia ditangkap dan harus dibui selama seumur hidup. Pada saat itu rasanya dia tak berguna lagi. Dia berharap kedua orangtuanya tidak mengetahui keberadaanya. Pasti mereka sangat kecewa jika mengetahui bahwa anak kesayangannya adalah pelaku kriminal.

Waktu terus beredar. Sudah berbulan-bulan dia terkurung dalam jeruji besi. Dia juga harus merasakan dinginnya lantai penjara. Bahkan dia harus satu sel dengan seorang preman yang divonis hukuman dikurung seumur hidup juga. Preman itu ditangkap karena tak sengaja membunuh seseorang yang tengah dipalaknya, tetapi tidak dibayar. Tetapi hukum tetaplah hukum. Tak memandang sengaja atau tidak. Tak jarang pula preman itu memperolok-olokkannya. Makan pun sehari sekali. Sangat putus asa rasanya. Tapi ya begitu nasibnya. Tak bisa dielaknya. Hidup harus tetap dijalaninya.

Hari terus berganti sehingga menjadi minggu. Minggu pun dikumpul-kumpulkan sehingga menjadi bulan dan seterusnya. Tak terasa sudah dua tahun dia terkurung dalam sel. Terkadang merasa sabar dan tabah, terkadang pula merasa kesal dan bosan. Pernah pada suatu saat dia ingin bunuh diri saking tidak kuasanya menerima kenyataan. Padahal tak secuil pun dia pernah mencoba barang haram tersebut. Ingin sekali bunuh diri. Tapi rasanya tak mungkin. Karena dia juga adalah orang muda yang ingin menjadi orang yang lebih baik. Ingin sekali waktu diulanginya. Untuk menuju kehidupan… yang lebih baik tentunya! Tetapi bagaimana caranya? Dengan mesin waktu? Tapi tak mungkin. Itu mustahil. Terus? Ya, jalani saja hidup seadanya.

Kemudian entah bagaimana caranya, dia dapat meloloskan diri dari rumah tahanan. Dia langsung pergi ke mana saja asal selamat. Pergilah dia ke Mesir menuju Gurun Sahara dengan mengenakan thawb, pakaian khas Arab. Di sana, dia menemukan seekor unta yang diikat pada sebatang kayu yang ditancapkan ke dalam pasir. Dia pun menunggainya dan pergi ke mana saja kaki unta ingin melangkah. Dan sampailah hingga sekarang.

Terus dia menyusuri hamparan pasir yang sangat kering itu. Tak ada setetes pun air yang dia temukan. Padahal katanya, dahulu tempat ini adalah sebuah danau yang sangat luas. Tetapi entah bagaimana bisa menjadi seperti ini. Menjadi sangat panas. Rasanya lebih baik merasakan dinginnya lantai di rumah tahanan.

Karena sangat lelah, dia memilih untuk beristirahat. Dia menemukan pohon kurma yang lebat daunnya dan duduk di bawahnya untuk berteduh. Untanya pun ikut duduk di sampingnya. Pemuda itu meluruskan kakinya yang terasa sangat pegal sambil punggungnya bersandar pada batang pohon kurma di belakangnya. Otaknya jadi teringat akan kehidupan keluarganya.

Ahmed Thaleb adalah seorang anak sulung dari dua bersaudara yang terlahir dalam keluarga yang tidak mampu. Dia dan adiknya termasuk anak baik dan selalu hidup rukun yang hidupnya disertai dengan kebutuhan finansial. Dulunya, ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses. Bertepatan dengan kelahirannya, usaha ayahnya gulung tikar. Rumahnya pun dijual dan pindah ke rumah yang sangat sederhana. Uang hasil penjualan rumah pertamanya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Tetapi semakin lama habis juga. Sekolah adiknya pun juga harus dihentikan entah sampai kapan. Apalagi orangtuanya pun belum juga mendapatkan pekerjaan. Jelas saja hidup semakin sulit. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Sedangkan ayahnya selalu pergi pagi pulang malam setiap harinya, tanpa jelas apa pekerjaanya. Ibunya pun sering memarahi ayahnya. Dengan demkian seisi rumah dipenuhi antara dua suara yang keras dan nyaring yang saling bertimbal balik. Yaitu suara ayah dan ibunya. Pertengkaran tak bisa dihindari. Hampir setiap hari terjadi percecokan.

Semua itu membuatnya semakin tertekan. Dia tak diperhatikan lagi oleh kedua orangtuanya. Walaupun dia tahu semua itu dilakukan untuknya juga. Mereka bekerja tak lain untuk anaknya. Tetapi hidupnya begitu tertekan dalam kekurangan seperti itu. Kemudian dia menemukan seorang teman lamanya yang merupakan bandar nark*ba. Diceritakannya semua kesulitan hidupnya. Teman lamanya itu mengajak dia untuk menjadi pengedar atau kurir nark*ba. Dengan terpaksa dia mengiyakannya. Kemudian diedarkannya itu pada orang-orang muda dengan sembunyi-sembunyi. Ada yang datang langsung ke tempat persembunyiannya, yaitu di rumah teman lamanya itu. Ada yang yang memesannya lewat telepon atau sms.

Dengan menjadi pengedar narkoba, kehidupannya semakin membaik. Dia juga membantu menafkahi keluarganya. Dengan begitu adiknya pun bisa kembali sekolah. Dia bilang pada orangtuanya bahwa dia bekerja di salah satu toko. Sebenarnya dia merasa sangat bersalah. Tetapi dia harus melakukannya juga karena tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat.

Tadinya, jika hasil uangnya sudah terkumpul, dia akan membayar balas budi pada teman lamanya itu dan akan membuka usaha sendiri. Tetapi tidak sempat tercapai. Karena ketika ada dua orang yang datang ke tempatnya untuk menikmati barang haram tersebut. Tetapi betapa terkejutnya dia saat dua orang itu menodongkang pistol ke jidatnya. Dia baru sadar bahwa mereka adalah polisi yang menyamar.

Di bawah pohon kurma itu, dia terus memikirkan kejadian di masa lalunya. Air menetes dari matanya. Teringat olehnya pada orangtuanya yang pasti kebingungan mencarinya. Bahkan mungkin mereka terus menanantikan kehadirannya dengan berharap-harap cemas. Atau juga selalu berdo’a untuknya agar selalu sehat dan selamat. Dia juga sangat rindu pada kedua orangtuanya. Tak terbayang lagi olehnya tentang kedua orang yang sangat sayang padanya itu. Dan tahu tahu juga kabar tentang adiknya yang masih sekolah atau tidak. Tetapi dia harap adiknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripadanya. Dia ingin sekali meminta maaf pada orangtua dan adiknya. Terutama sekali pada Tuhan atas kesalahannya. Rasa menyesal membumbung dalam dadanya, jika dia masih mampu, dia akan menyerahkannya lagi pada polisi. Tetapi tak bisa. Tubuhnya sangat lemas. Tak lama setelah itu, tubuhnya tak lagi bergerak. Napas dari hidungnya pun tak lagi mengeluarkan udara. Hanya pakaiannya saja yang bergerak-gerak ditiup angin. Dan padang pasir yang tandus telah menjadi saksi penyesalannya.

Cerpen Karangan: Wisna Romdona
Facebook: Wisna Romdona
Wisna Romdona
Kelas VIII E
SMPN 1 Subang

Cerpen Padang Pasir yang Menjadi Saksi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cangkir Tindih Merah Putih

Oleh:
Subuh buta belum tersentuh matahari dinginpun masih menusuk. Tapi, anak-anak di desaku termasuk aku. Akan segera berangkat ke sekolah yang jauh seberang desa ini dan kami harus melewati sungai

Curahan Hati Ayah

Oleh:
Apa arti kata ayah? Seberapa berartikah kehadiran seorang ayah? Adakah batasan waktu untuk mengingat ayah? Andaikata ada seorang ayah kandung yang mempunyai anak perempuan. Apakah si ayah akan cemburu

Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi

Oleh:
Seperti sebuah jantung dalam tubuh yang bertugas memompa darah dan mngalirkannya ke seluruh tubuh. Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan Jakarta saat ini. Sebuah kota metropolitan yang tak pernah

Payung Merah (Part 1)

Oleh:
Kamis sore disambut dengan rintik hujan yang cukup deras. Awan gelap bergulung-gulung dengan petir yang sekali-kali menyambar lemah. Jutaan rintik-rintik air mengguyur daerah kecamatan, termasuk tempat sekolahku. Rintik-rintik air

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *