Papa Mama Ajari Aku Cara Membenci Tuhan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 July 2018

MALAM INI TEPAT pukul 00.00 tanggal 24 Desember 1986. Aku masih menahan kantuk yang teramat menyerang. Biarlah aku menahan kantuk ini. Malampun tidak peduli dengan apa yang aku lakukan. Ia tetap saja berlalu membawa mimpi menuju pagi.

Mataku menatap kosong selembar potret hitam putih gambar dua orang makhluk Tuhan yang telah menghadiahkan aku untuk melihat indahnya dunia ini. Dalam balutan selimut lusuh aku tengkurap. Dengan hanya ditemani cahaya lilin aku masih terus terjaga memandangi gambar mereka. Gambar yang aku tahu diambil tiga belas tahun silam sebelum aku ada di dunia ini. Gambar satu-satunya yang aku miliki dari mereka berdua. Dua insan yang karena cintanya lahirlah aku di dunia ini.

Aku terlalu malas sebenarnya untuk menceritakan kepada kalian tentang apa yang aku alami. Karena aku sendiripun enggan rasanya untuk berbagi hal ini. Namun karena aku berharap cerita ini bisa menjadi pelajaran berharga biarlah aku menceritakan kepadamu wahai insan Tuhan.

Malam hari ini kenapa aku masih berusaha menahan kantuk. Karena aku berharap akan ada keajaiban yang datang pada malam hari ini. Biarlah aku bermimpi dan berharap. Mengiba kepada Tuhan untuk mengasihani aku. Namun aku terlalu malas untuk mengiba kepada Tuhan. Aku terlalu malas untuk sekedar bertanya dan memohon kepadanya. Aku terlalu malas karena sejak saat itu aku sudah tidak bersahabat dengan Tuhan. Aku sudah tidak percaya dengan adanya Tuhan, Aku terlalu membeci Tuhan.

Malam hari ini menurut yang aku dengar dari orang-orang adalah malam dimana ibuku melahirkan aku ke dunia ini. Sesuatu yang seandainya saja bisa aku menolaknya, maka aku ingin sekali menolaknya. Sesuatu yang sesungguhnya sama sekali tidak aku harapkan.

Malam hari ini tepat aku berumur sembilan tahun. Umur yang masih tergolong anak-anak. Namun bebanku bukanlah beban anak-anak. Lihatlah tubuh kecil nan kurus ini. Sudah harus menanggung beban hidup yang teramat keras. Lahir terbuang dan hidup di rimba orang tak tahu tujuan masa depan. Ah, aku terlalu malas untuk menangis dan meratapi nasib. Mungkin aku ingin menangis tapi rasanya air mata ini terlalu telah banyak terbuang. Biarlah penderitaan ini menemani sampai dimana titik akhir segalanya. Entah berujung bahagia atau sengsara yang tiada berkesudahan aku sudah tidak memikirnya terlalu malas aku.

Hati ini sudah teramat keras karena terus menerus terkikis air mata penderitaan sejak lahir. Sebenarnya aku sudah lupa bahwa aku ada di dunia ini karena ada dua insan yang melahirkan aku ke dunia ini. Namun malam ini aku terpaksa harus mengigat kembali bahwa aku tidak ada dengan sendirinya di dunia ini melainkan karena aku dilahirkan.

Di malam atau hari mereka dilahirkan semua orang mendapati ucapan selamat dan doa terbaik dari orang-orang yang menyayangi. Namun malang dengan diriku sejak lahir hingga umurku menginjak dua belas tahun. Tak ada yang pernah memberikan ucapkan selamat ulang tahun padaku apalagi doa terbaik. Biarlah.

Malam ini aku masih menunggu keajaiban. Setidaknya dua orang yang telah melahirkan aku ke dunia ini bertanggung jawab. Aku tidak minta bertanggung jawab akan hidupku. Tapi cukup bertanggung jawab mengucapkan ucapan selamat ulang tahun kepadaku. Karena merekalah penyebab aku ada di dunia ini. Setidaknya mereka datang meski hanya hitungan detik lalu berlalu lagi. Tak apa tidak memelukku apalagi menciumku. Cukup mengucapkan “selamat ulang tahun Hujan” itu saja cukup untukku. Karena itu yang teramat sangat aku rindu dari mereka berdua.
Andai saja aku bersahabat dengan Tuhan, aku mungkin sudah memohon dan mengiba. Namun aku tidak lagi bersahabat dengannya sejak hari itu. Hingga aku hanya menunggu keajaiban tanpa meminta kepada siapapun untuk mendatangkan keajaiban itu. Tidak juga pada-Nya.

Waktu itu umurku sekitar sembilan tahun dan aku baru tahu bahwa aku berada di sini bukan karena lantaran aku dititipkan untuk sementara waktu melainan karena aku dibuang oleh kedua orangtuaku. Berawal dari surat-surat kakek yang secara tidak sengaja kutemukan yang selama ini tidak kakek beritahukan kepadaku. Dari itulah semuanya bermula.

Hari ini, kamis 21 Desember 1983. Tiga hari sebelum ulang tahunku yang kesembilan. Tepatnya pukul 15.30. Aku akan melaksanaan sholat ashar berjamaah bersama kakek di kamar. Kakek nampak segar bugar dan seperti biasa selalu semangat untuk mengerjakan sholat. Aku mengumandangkan iqomat dan kami mulai melaksanakan sholat.

Hari ini entah mengapa ada yang berbeda aku lihat dari kakek. Sebelum aku jelaskan apa yang berbeda itu, aku ingin memperkenalkan kalian siapa kakekku ini. Sebenarnya beliau bukanlah kakek kandungku (bukan bapaknya Papa ataupun Mama) melainkan hanya saudara jauh dari kakek kandungku (ayahnya Papa). Namun beliau sudah melebihi kakek kandung dalam hatiku. Umurnya hampir mencapai delapan puluh satu tahun. bertitelkan haji dan imam besar masjid di kampung kami. Wajahnya teduh dan menentramkan. Setiap yang keluar dari lisannya selalu indah didengar dan menyejukan hati.

Entah mengapa hari ini beliau mengajakku untuk sholat ashar di rumah. Bisanya kakek selalu sholat di masjid tapi sore ini tidak. Aku tidak banyak berpikir tentang hal itu. Aku berpikir mungkin kakek sedang kecapekan karena memang jarak antara rumah kami dan masjid lumayan jauh.

Hampir kami menyelesaikan sholat ashar sore ini. Di penghujung sujud rakaat terakhir tiba-tiba saja kakek terdiam lama sekali. Aku pun menjadi heran. Kekhusukanku tiba-tiba hilang. Kakek memang agak lama jika di penghujung sujud rakaat terakhir, tapi kali ini jelas berbeda. Sudah terlalu lama.

Jantungku berdegub kencang. Aku beranikan diri untuk mengucapkan subhanallah. Namun hampir tiga kali aku mengucapkan kalimat itu beliau tidak juga merespon apalagi memberikan suara. Jantungku semakin berdegub kencang.

Aku tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang aneh aku lihat pada kakek hari ini. Entah mengapa wajahnya seperti bercahaya. Terasa begitu teduh tatkala memandangnya. Wajah yang sudah keriput itu begitu teduh dan menentramkan hari ini. Aku tidak tahu ternyata itu pertanda. Pertanda bahwa Allah rindu kepada kakek dan ingin segera bertemu.

Aku sudah tidak memikirkan sholatku lagi. Yang ada dalam kepalaku sekarang adalah semoga tidak terjadi sesuatu hal yang amat aku takutkan terjadi pada kakek. Kudongkakkan kepalaku dari sujud. Kusentuh ujung tumit beliau. “Bruk” tubuh kakek rebah ke kanan. Tanpa sadar aku segera bangkit dan berteriak menyebutkan “KAKEK”.

Ternyata benar, beliau telah tiada. Beliau telah pergi untuk selama-selamanya. Meninggalkan kami.
Aku teramat sedih dengan kepergian kakek. Tidak akan ada lagi orang di dunia ini yang menyayangi aku. Tidak akan ada lagi beliau disaat aku membuka mata. Tidak akan ada lagi orang yang menjadi pelindung dan pembelaku.

Kepergian kakek berarti kemenangan bagi Paman dan Bibiku. Tidak akan ada lagi yang akan menghalangi mereka untuk memperbudakku. Tidak akan ada lagi yang menghalangi mereka untuk berbuat semaunya kepadaku. Tidak akan adalagi orang yang membelaku dari kemarahan dan tindak semena-menanya mereka. Hari itu berarti telah dibukanya hari penderitaanku yang baru bersama mereka. Itulah yang aku pikirkan saat itu.

Kakek telah tenang kembali ke sisi-Nya. Nenek pasti telah menunggu kakek dengan senang dan tersenyum bahagia di sana. Seperti janji kakek bahwa ia dan nenek akan selalu sehidup semati dan akan selalu bersama.

Ternyata semua janji itu benar adanya. Kakek meninggal tepat satu tahun setelah nenek. Memang janji tulus atas dasar cinta yang sesungguhnya selalu diridhoi oleh Allah.

Aku amat berduka atas kepergian kakek. Sebelumnya aku sudah tidak terlalu berduka dengan kepergian nenek. Karena masih ada kakek. Namun sekarang kedua orang itu telah pergi selama-lamanya dari sisiku. Tidak ada lagi tempatku untuk mengadu dan berlindung. Jangan tanayakan soal orangtua. Siapa mereka. Aku bahkan tidak terlalu mengenal mereka. Bagiku kakek dan neneklah kedua orangtuaku.

Sebulan kepergian kakek masa-masa sulit dalam hidupku dimulai. Seluruh pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab bibi seperti perkataan kakek seblum meninggal sekarang menjadi tanggung jawabku. Aku harus membersihkan rumah dan melakukan aktivitas lainnya layaknya seorang pembantu. Sementara bibi hanya memasak. Selebihnya aku semua yang melakukan.
Pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh Paman sekarang juga menjadi tanggung jawabku. Mencari rumput untuk makanan ternak. Setiap hari aku harus mencari setidaknya tiga karung rumput. Tapi aku masih bersyukur setidaknya mereka masih mengizinkan aku untuk sekolah. Ya namanya juga menumpang hidup di tempat orang. Itulah yang aku pikirkan saat itu. Meski dalam hatiku protes kepada kedua orangtuaku yang entah kemana tidak peduli padaku.

Setiap hari aku melakukan aktivitas yang sekarang menjadi rutinitasku. Terkadang aku telat datang ke sekolah karena harus mencuci piring dan pakaian sebelum berangkat. Siangnya hampir setiap hari aku tidak pernah lagi sholat di masjid. Sholat di rumah pun mencuri-curi waktu. Sepulang sekolah makan sebentar, menyelesaikan pekerjaan rumah lalu berangkat merumput hingga petang.

Dari pengamatanku, tidak ada anak seusiaku yang melakukan semua pekerjaan demikian. Namun apalah daya, aku tidaklah lebih dari orang yang menumpang hidup di tempat orang. Syukur-syukur masih ditampung.

Aku tidak berani bermimpi seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Suatu ketika pernah Bu Susi, guru bahasa indonesia meminta kami satu persatu untuk maju ke depan kelas dan menceritakan apa cita-cita kami. Semua anak-anak lainnya dengan bangga menceritakan cita-cita mereka. Tiba giliranku. Aku hanya diam dan tidak bisa menceritakan apa-apa tentang cita-citaku. Memang aku tidak memiliki cita-cita. Yang aku inginkan saat ini hanya bertemu kakek dan nenek. Aku ingin Tuhan segera mempertemukan aku dengan mereka.

Walau usiaku masih tergolong anak-anak, namun aku sudah cukup mengerti tentang hidupku. Aku terlalu lelah bermimpi tinggi. Aku takut aku akan jatuh. Karena aku sadar akan diri. Apalah arti cita-cita bagi anak sepertiku. Sudah jelas masa depannya. Paling-paling hanya bisa menamatkan sekolah dasar. Itu pun syukur-syukur. Selebihnya aku akan menjadi apalah. Kalian sudah tahu sendiri.

Dua bulan setelah kepergin kakek masa-masa Aku mulai membenci Tuhan untuk pertama kalinya dalam hidupku dimulai. Semua itu bermula ketika rahasia besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh kakek terbongkar.

Siang itu tepatnya pukul 13.30 Bibi menyuruhku untuk mengemasi seluruh barang peninggalan kakek di kamarnya. Aku pun melakukan perintah itu selayaknya seorang cucu yang amat menyayangi kakeknya. Kurapikan seluruh barangnya dengan amat hati-hati. Kerena memang aku melakukannya dari hati.

Ternyata keikhlasanku membuat Tuhan membuka semua rahasia besar yang selama ini ditutup rapat-rapat oleh kakek. Aku tidak tahu apa maksud Tuhan membuka semua rahasia itu. Mungkin Ia ingin aku membenci-Nya.

Aku tidak sengaja membuka sebuah amplop besar berwarna coklat yang berisi sekitar delapan buah amplop kecil berwarna putih. Seandainya saja rasa penasaranku tidak ada waktu itu, maka semua rahasia besar ini tidak akan terbongkar.

Awalnya aku hanya ingin melihat saja apa isi dari amplop putih itu. langsung saja aku buka salah satu amplop. Ternyata di dalamnya terdapat selembar kertas polio. Setelah aku buka lipatannya ternyata sebuah surat.

Ini Aku Darmanto. Terimakasih Paman telah sudi mengambil Hujan. Terus terang saja, kehadirannya membawa kesulitan bagi aku dan Marnie. Baiknya Hujan bersama Paman saja. Terserah mau diapakan Dia. Aku sepenuhnya menyerahkannya kepada Paman.
Aku dan Marnie akan segera bercerai. Akan sulit bagi kami jika Hujan harus hadir di salah satu dari kami. Kami harus memulai hidup baru. Dengan adanya Hujan akan menghambat hidup baru kami. Karena kami akan memiliki keluarga baru masing-masing.

Begitu singkat dan ringkas surat itu. Sungguh aku tidak percaya. Aku telah dibuang oleh kedua orangtuaku.
Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan kesedihan. Namun kali ini isi surat itu berasa begitu menyayat hatiku. Begitu tega kedua orangtuaku membuang aku. Apa salahku. Aku bahkan tidak minta dilahirkan ke dunia ini. Hari itu untuk kali pertamanya aku meratap dan menangisi akan diriku. Hari itu juga aku berjanji dalam hatiku bahwa aku tidak akan pernah berdamai dengan kedua orangtuaku. Aku tidak akan pernah berpikir tentang mereka lagi. Mereka telah lenyap dari ingatanku. Aku hanya ingat bahwa aku ada di dunia ini dengan sendirinya. Tidak ada orangtua yang melahirkanku. Aku tidak peduli jika surgaku ada pada mereka.

Di luar langit tiba-tiba saja mendung dan mengeluarkan butiran-butiran bening jatuh ke bumi. Membasahi jalanan yang berdebu. Petir bergemuruh di langit dan sesekali menyambar. Bumi tiba-tiba saja gelap dan hujan semakin deras. Aku tidak tahu apa maksud Tuhan menghadirkan semua ini. Aku hanya tahu bahwa hatiku mendung dan gelap sama seperti langit saat ini.

Tidak ada yang bisa aku salahkan. Menyalahkan kedua orangtuaku percuma mereka tidak akan mendengar. Tuhan. Tuhanlah yang salah. Kenapa Ia lahirkan aku ke dunia ini daripada dua orang manusia yang tidak bertanggung jawab. Kenapa? Kenapa Tuhan? Tanpa kedua orangtuaku sadarai mereka telah mengajarkan aku sesuatu yang mungkin tidak akan pernah diajari oleh orangtua manapun. Yaitu mengajari aku membenci Tuhan.

Mulai hari itu, aku tidak hanya membenci kedua orangtuaku. Hari itu aku juga membenci Tuhan. Aku tidak lagi bersahabat dengan-Nya dan aku tidak akan pernah lagi memohon dan mengiba kepada-Nya.
Tidak ada yang lebih hebat lagi dari janji seorang anak kecil yang polos. Janji itu benar-benar aku pegang teguh dan semakin bertambah tatkala semua rahasia kedua orangtuaku terbongkar semuanya.

Cerpen Karangan: Dian Anantara
Blog / Facebook: diananantara.blogspot.com / Dian Anantara
Nama : Dian Anantara
Saat ini selain aktif kuliah juga aktif menulis novel dan cerpen. Karya novelnya yang sudah terbit berjudul Cinta di Lauhul Mahfuzh. Dian Anantara berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Cerpen Papa Mama Ajari Aku Cara Membenci Tuhan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Sebuah Payung

Oleh:
Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuat kulitku hampir terbakar, jemuran pun sekejap kering. Bau asap-asap polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara bising

Planet Adrm

Oleh:
Berpindah planet dari planet bumi ke planet adrm tak membuatku melupakan sosok perempuan yang sangat aku cintai. Dunia yang hancur karena antar negara yang terus berperang, sampai perang dunia

Hidup Robin hood

Oleh:
“Adil.. apakah ini adil..’apakah arti keadilan telah dirubah..” Suara itu terdengar dengan lantangnya, lalu dia meinggalkanku tanpa sepatah kata lagi. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkannya. tapi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *