Papa Mama Ajari Aku Cara Membenci Tuhan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 July 2018

Dari delapan surat itu. Ternyata tujuh surat lainnya adalah balasan dari surat yang kakek kirimkan kepada kedua orangtuaku. Ternyata tanpa aku ketahui selama ini setiap tahunnya kakek selalu meminta kedua orangtuaku untuk datang pada saat hari ulang tahunku. Aku baru tahu kenapa selama ini kakek tidak pernah mengucapkan selmat ulang tahun kepadaku secara langsung. Itu semua karena ia tidak sampai hati menyakiti perasaanku.
Ini adalah salah satu isi surat balasan dari Mama.

Maafkan aku Paman. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku tidak bisa datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Hujan. Aku tidak ingin mengingat-ingat peristiwa kami. Dengan melihat Hujan aku akan ingat kembali dengan kenangan buruk yang pernah aku lakukan. Biarlah Hujan tumbuh dengan sendirinya bersama Paman. Lagipula sekarang aku sudah punya kehidupan baru. Bersama keluarga baru. Kenangan lama sudah aku hapuskan dari ingatanku.
Masalah Paman yang tidak tega jika harus mengucapan selamat ulang tahun pada Hujan karena takut akan membuatnya sedih harus teringat orangtuanya. Itu semua aku serahkan kepada Paman.

Ini salah satu surat balasan dari Papa. Isinya sangat menyayat hatiku.
Aku sudah lupa akan Hujan, Paman. Sebentar lagi aku akan punya seorang anak. Tidak mungkin bagiku untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Aku harus menata hidup baru Paman. Aku tidak ingin ingat-ingat lagi tentang Hujan. Aku tidak ingin keluarga baruku mengetahui masa laluku. Biarlah Hujan tahunya Pamanlah orangtuanya.

Sungguh aku memang sudah tidak dianggap ada di dunia ini lagi oleh kedua orangtuaku. Apa salahku. Bukankah aku tidak pernah minta kepada mereka untuk dilahirkan ke dunia ini. Bagaimana Tuhan begitu tega membuat semua ini terjadi padaku. Mengapa tidak mereka akhiri saja hidupku sesat setelah aku lahir ke dunia ini. Kenapa aku harus terbuang seperti ini. Hinakah keberadaanku di mata mereka. Begitu aibkah diriku bagi mereka.

Tiga bulan setelah kejadian terbongkarnya rahasia surat-surat dari kedua orangtuaku yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh kakek, seperti disengaja rahasia kedua orangtuaku yang selama ini belum aku ketahuipun akhirnya terbongkar.

Di suatu malam tanpa sengaja aku mendengar percakapan Paman dan Bibi. Dari percakapan itu aku mengetahui ternyata Papa dan Mama dulu saling mencinta. Namun karena perbedaan keyakinan agama, orangtua keduannya lantas menentang rencana pernikahan mereka.

Papa sangat mencintai Mama, begitu juga sebaliknya. Mama bahkan rela jika harus mengikuti keyakinan Papa. Papa beragama Islam dan Mama beragama Kristen.

Papa tetap menikahi Mama meski orangtua Mama dan Papa sangat menentang. Karena begitu cinta, keduanya lantas rela meninggalkan keluarga masing-masing dan hidup di tempat baru. Papa dan Mama pun menikah.

Dua tahun usia pernikahan mereka lahirlah aku yang memulai terjadinya semua masalah yang datang silih berganti pada mereka. Mama yang terbiasa hidup serba ada dan bermewah-mewahan tidak tahan dengan keadaan hidup baru bersama Papa. Belum lagi keharusan merawatku yang menurutnya sangat melelahkan.

Ternyata kedua orangtuaku menikah dengan tetap menjalankan agama masing-masing. Hal ini juga yang menjadi masalah berkepanjangan pertentangan mereka. Awalnya Mama mengatakan akan mengikuti agama Papa sebelum mereka menikah. Tetapi setelah Mama memutuskan pergi bersama Papa, Mama menjadi berubah dan mengatakan kalau ia akan tetap memegang agamanya. Karena saling cinta pada saat itu keduanya tidak mempermasalahkan hal itu. Namun ternyata hal itulah yang menjadi penyebab ketidak-tentramnya rumah tangga mereka.

Orangtua Mama mengetahui hal itu. Dengan berbagai macam cara mereka mencoba mengiming-imingkan Mama dengan kemewahan. Mereka juga mengancam akan menghapus nama Mama dari daftar keluarga dan tidak akan mendapatkan sepeserpun harta jika Mama tidak segera bercerai dengan Papa.
Karena tidak tahan dengan keadaan hidup yang serba sulit bersama Papa dan terlebih ancaman dari pihak keluarga, akhirnya Mama memutuskan untuk bercerai dengan Papa dan kembali kepada keluarganya. Sementara Papa juga terpaksa harus kembali kekeluarganya. Dari situlah bermulanya penderitaan dan nasibku. Menjadi terbuang dan tidak diinginkan oleh orangtua. Sungguh anak yang malang.
Aku semakin membenci Tuhan karena lagi-lagi karenanya sial ini menimpaku. Kalau saja bukan karena masalah agama yang ia ajarkan orangtuaku tidak akan mungkin bercerai. Sial ini tidak akan terjadi padaku. Kenapa juga ia lahirkan aku dari dua orang manusia itu. Sungguh aku membenci Tuhan kala itu. Orangtuaku sukses sekali mengajariku dalam hal ini. Dalam hal membenci Tuhan. Tidak ada yang lebih membenci Tuhan dari pada aku kala itu.

Sejak hari itu aku tumbuh menjadi anak yang memiliki harapan dan cita-cita serta hati yang semakin keras. Aku ingin menunjukan kepada kedua orangtuaku suatu saat nanti bahwa aku ini anak yang mereka buang. Anak yang menjadi aib bagi mereka sehingga mereka malau sekali akannya. Akan sukses dan maju. Akan menjadi orang besar dan hebat. Itulah sumpahku dalam hati waktu itu. Sungguh aku tidak akan pernah berdamai dengan kedua orangtuaku.

Malam ini Minggu, 21 Desember 2015 pukul 00.30. aku hampir menyelesaikan ceritaku ini. Cerita yang telah sekian lama aku pendam dan baru kali ini aku ingin berbagi dengan banyak orang. Hanya istriku yang pernah mendengar ceritaku ini. Cerita yang sama ini aku ceritakan padanya lima belas tahun yang lalu ketika kalimat itu keluar dari mulut mungilnya yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Ceraikan dan biarlah aku kembali kepada orangtuaku Mas. Kalimat pendek itu bak petir yang menggelegar menghantam kepalaku.

Kata “cerai” yang sama sekali tidak pernah ingin aku sebutkan seumur hidupku itu terucap dari mulut mungilnya karena lantaran tidak mampu hidup susah bersamaku. Terlebih orangtuanya yang memang tidak merestui pernikahan kami. Bukan lantaran beda agama. Tetapi lantaran miskinku. Lantaran melaratku. Lantaran aku yang tidak jelas asal-usulnya.

Pada saat itu aku tidak menyangka ia sampai hati mengatakan menyesal telah menikah denganku. Kalau saja aku tidak teringat akan nasib anak kami yang pertama pada waktu itu akan mengalami nasib sama seperti diriku tujuh belas tahun silam. Kata cerai itu mungkin sudah keluar dari lisanku.

Aku memang memutuskan untuk menikah lebih cepat. Aku melamar istriku saat umurku baru menginjak dua puluh dua tahun. Saat itu aku baru selesai menamatkan kuliahku yang setengah mati aku membanting tulang untuk membiayai diri sendiri.

Aku berhasil meraih gelar sarjana teknik sipil termuda di kampusku dengan predikat cumload. Suatu prestasi yang sangat membanggakan. Namun tidak ada yang berbangga selain dia. Istriku tercinta. Karena memang dialah satu-satunya orang terdekatku.

Empat bulan berikutnya istriku berhasil memperoleh gelar sarjana farmasinya. Satu bulan setelah hari kelulusannya aku segera melamar dia kepada kedua orangtuannya. Ternyata lamaranku ditolak mentah-mentah oleh orangtuanya ketika mereka menanyakan perihal keluargaku.
Sungguh langit terasa tumpah dan bumi terasa terbelah pada hari itu. Kehidupanku terasa telah berakhir. Dia adalah penyemangatku selama ini.

Aku bertemu istriku sejak pertama masuk kuliah. Kami pun mengucapan ikrar bahwa kami akan selalu bersama hingga menyelesaian kuliah dan aku akan melamarnya pada saat itu.

Ternyata ikrar istriku tidak main-main. Ia memutuskan untuk meninggalkan kedua orangtuanya demi menikah denganku. Aku sebenarnya tidak setuju dengan keputusannya. Bagaimanapun aku yang sudah terbiasa merasakan bagaimana hidup sebatang kara tanpa ada keluarga tidak ingin hal yang menimpa diriku juga menimpa orang yang aku sayang. Namun rupanya keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Kami pun menikah dan memilih tinggal di tempat yang jauh dari keluarga.

Waktu terus berjalan. Berbagai masalah yang datang silih berganti ternyata membuat istriku menyesali keputusannya. Ia sudah terbiasa hidup senang dengan kemewahan. Hingga suatu hari keluarlah kata-kata yang amat menyakitkan hatiku itu keluar dari mulut mungilnya. Mulut yang pernah berikrar itu kini menyesali ikrarnya.

Aku kehabisan akal dan kata-kata untuk menjelaskan semuanya kepada istriku agar ia tidak terus-terusan meminta aku menceraikannya. Terlebih hatiku terpikirkan akan kata-katanya yang amat menyakiti hatiku. Namun untunglah pelajaran hidupku yang belasan tahun aku lalui karena peristiwa serupa. Dua insan manusia yang kurang bijak hingga akhirnya membuat penderitaan seorang anak kecil yang tidak salah dan berdosa.

Aku akhirnya menceritakan semua kisah masa kecilku kepada istri yang sebenarnya tidak ingin aku bagikan dengan siapapun. Ia menangis mendegar semua ceritaku dan menyesal atas apa yang barusan ia ucapkan. Ternyata sayangnya kepada anak kami melebihi segalanya. Ia pun memutuskan untuk kembali berjuang bersamaku melewati hidup bersama.

Kutatap dalam-dalam wajah istri dan anakku. Kupeluk mereka dan kucium kening istriku. Malam itu aku baru sadar apa rencana dan maksud Tuhan menghadirkan berbagai hal yang aku anggap penderitaan sejak aku kecil hingga sekarang. Ternyata semua itu membawa hikmah dan kebaikan padaku. Seandainya saja aku tidak mengalami hal yang menimpaku sejak kecil. Mungkin malam itu aku akan menceraikan istriku dan anak kami akan mengalami nasib yang sama sepertiku. Aku mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang ini jika Tuhan tidak hadirkan masalah waktu aku kecil dulu.

Malam itu aku baru sadar akan rencana indah Tuhan itu. Malam itulah aku resmi berdamai dengan Tuhan. Malam itu pula aku telah kembali sujud lemah dan menjadi hamba-Nya kembali.

Aku telah menyelesaikan tulisan ceritaku. Berharap siapapun yang membacanya mendapat pelajaran dari padanya. Sungguh aku tidak ingin apa yang telah terjadi padaku terjadi pula pada yang lainnya. Kuakhiri tulisan ceritaku dengan senyum mengembang. Kuucapkan Alhamdulillah, memuji Kebesaran-Nya. Karena kau tahu sekarang aku sudah berdamai dengan Tuhan. Ku matikan laptopku. Beranjak memperhatikan schedule di buku agenda. Aku bergumam “Ah ternyata besok pekerjaan yang berat telah menunggu”. Pembangunan jembatan proyek pemda itu ternyata dimulai besok. Aku berdoa dalam hati meminta selalu dirahmati oleh Tuhan. Kemudian beranjak untuk menuju kamar tidur. Di sana sudah ada bidadari yang terlelap di sampingku. Tengah malam pukul 01.20 dalam lindungan-Nya.

Alhamdulillah, akhirnya cerpen ini berhasil terselesaikan
Sabtu, 22 April 2017
Pukul 02.20 wib
Dalam lindungan-Nya

Cerpen Karangan: Dian Anantara
Blog / Facebook: diananantara.blogspot.com / Dian Anantara
Nama : Dian Anantara
Saat ini selain aktif kuliah juga aktif menulis novel dan cerpen. Karya novelnya yang sudah terbit berjudul Cinta di Lauhul Mahfuzh. Dian Anantara berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Cerpen Papa Mama Ajari Aku Cara Membenci Tuhan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melebur Dengan Tanah Merah

Oleh:
Ibu, yang seharusnya jadi tauladan bagi anak-anaknya yang seharusnya mengajarkan rasa ikhlas. Tetapi malah menampilkan sifat yang membuat aku bingung. Aku tahu mungkin Ibu kecewa terhadap Ayah. Sedangkan Ayah,

Ramadhan Terakhir

Oleh:
“Fajar Ramadhan telah menghampiri dunia, kerinduan pada bulan suci Ramadhan akhirnya terobati, selembar sutra menghapus noda, sebening embun penyejuk kalbu, Marhaban ya Ramadhan.” Ketenangan terasa begitu bergetar di jiwa,

1 Promise

Oleh:
“Felly! Lo nggak pulang?!,” tanya Riska yang tengah asik mengemasi barang-barangnya dari lemari asrama putri. “Liburan ini, gue akan pulang telat.” “Kenapa bisa begitu?! Ada urusan sama produser?!,” tanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *