Para Pengemudi Liar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Aku kuliah di salah satu universitas swasta di Batam. Lokasinya terletak di Kelurahan Tembesi, Batu Aji. Setiap pagi aku pergi ke kampus dengan motor bututku, berangkat jam 8 pagi. Yah, perjalanan di pagi hari saat matahari belum mendaki terlalu tinggi di langit memang menyenangkan. Suhu udara masih lembab-sejuk-nyaman untuk dihidrup, teduh, dan segar-walau tak begitu di semua wilayah, terutama distrik gersang.
Ya, setidaknya tempatku tinggal tak seburuk tempat gersang. Lokasi yang kulalui dan kutuju juga begitu. Berangkat dari Piayu menembus jalur sibuk Muka Kuning yang penuh pekerja pabrik, lalu lanjut ke Tembesi yang jadi rute satu-satunya untuk pergi ke Batu Aji -paling efektif.

Jam 7 pagi merupakan waktu yang tak menyenangkan jika ingin diambil untuk waktu keberangkatan. “Macet” adalah nama lain dari jam 7. Karena kebanyakan manusia di Batam bergerak untuk bekerja. Karena itu aku memilih untuk berangkat jam 8 saja, saat jalan sudah agak lengang.

Hanya perlu sekitar 20 menit untuk tiba ke tempat tujuanku -kampus- dengan kecepatan 60 km/jam. Jika ngebut bisa lebih cepat lagi. Namun, karena harga bahan bakar beberapa tahun belakang ini tidak stabil, alias mahal, aku lebih memilih untuk berkendara dengan kecepatan standar.
Ya, berkendara dengan aman itu sangat diperlukan. Karena lebih baik begitu.
Hanya saja, beberapa golongan manusia -terutama pengendara motor- tidak menyukai hal itu. Banyak dari pengendara motor di Batam memacu kendaraan mereka dengan kecepatan yang tak seharusnya. Jika sudah pakai Satria FU, Vixion, Ninja, CBR, apalagi Harley, pengendara motor akan mulai berseronok dengan mesin motor mereka.
“Wajar,” kata mereka, “soalnya motorku kencang larinya, gak enak kalo dibawa lambat.”
Begitulah pengakuan seorang teman kuliahku. Motor yang dia pakai -Satria FU 150- memang tak biasa ditampik kecepatannya. Jika motornya sudah melaju, suara knalpotnya akan berdengung keras, memenuhi telinga-telinga pengendara lain dengan kengerian. Orang itu memang suka memacu kendaraannya dengan ganas.

Aku pernah bilang padanya, “Kalau kau bawak laju-laju, nanti yang ada kecelakaan.”
“Aku tak pernah jatuh, tak akan.”
“Yah. Terserahlah. Aku cuma mengingatkan.”
Ajaibnya, beberapa jam kemudian dia pun ditabrak mobil-pick up. Kakinya patah dan harus diopname selama berbulan-bulan di rumah sakit untuk bisa pulih kembali. Akibatnya, dia gagal di semester 2 karena tak mencukupi absen atau ikut ujian. Sekarang dia berada 1 semester di bawahku -masih merengkah untuk berjalan.

Aku sering heran lihat para pengendara motor di Batam ini. Padahal jalan di kota kecil ini tak luas, malahan dengan penduduk sebanyak ini, mereka pasti tahu bahwa jalanan di kota ini akan cukup sempit untuk dilewati. Ugal-ugalan di jalan dengan kondisi jalan ramai akan memicu kecelakaan. Pastinya mereka tahu itu, kan. Tapi mereka mengabaikannya, dan malah bersikap hebat dengan bergoyang-goyang di tengah jalan bersama kendaraannya.

Aku sering dibuat khawatir oleh sikap orang-orang sombong -yang sedikit terbelakang soal hukum lalu-lintas -pecandu kecepatan itu. Karena tak bisa masuk balapan sungguhan di trek, mereka berpacu di jalan raya. Akibatnya, kecelakaan demi kecelakaan pun berlaku.

Entah kapan jalan raya akan kosong oleh pelanggar hukum, aku tak tahu. Semoga saja akan sembuh tak lama lagi-jalan raya penuh bahaya di kota ini. Dan bagi mereka yang tak masuk kategori pelanggar hukum, semoga tidak ikut-ikutan seperti orang-orang itu.

Kebut-kebutan di jalan raya itu tidak baik. Aku sudah membuktikannya, dengan luka besar di batang hidungku, dan tangan kanan patahku.

Cerpen Karangan: Faz Bar
I’m just an ordinary guy, with no talent or awesomeness. I like to write, especially a light novel. My dream is to write a light novel that then being adapted into an anime series (I’m serious about this). I like anime and J-Pop music, and all about Japan. My favourite protagonist is Hikigaya Hachiman, whether the heroine is Yukinoshita Yukino from Oregairu. I’m still an amature. But, I sure can be one of like those great writer whom had made history with their works. I want to be one like that. A famous writer (once again, I’m serious about this).

Cerpen Para Pengemudi Liar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keris

Oleh:
Keris itu telah menjadi obyek sengketa dan pemicu perselisihan dalam keluarga kami, tiga bersaudara ahli waris Joyo Wijoyo. Menurut Mas Bardi, keris itu adalah pusaka turun temurun, karena itu

Salah Persepsi

Oleh:
Malam itu pas ronda yang di adakan di lingkungan untuk mengisi kegiatan warga, seperti biasanya banyak orang berkumpul di pos ronda yang di buat permanen, mereka bercanda serta bercerita

Kado Untuk Mama

Oleh:
Selimutku sedikit terbuka pagi itu, perlahan udara dingin nan menusuk menyentuh pori-pori kulit kakiku. Jelas, aku memilih tidur lagi pagi itu. Jam dinding pun samar-samar ku lihat masih pukul

Ujung Jalan Sunyi

Oleh:
Dedaunan melambai-lambai gemulai di atas ranting-ranting pohon yang demikian kecil. Seirama dengan desiran angin lirih di tengah kesunyian malam. Kutulis kalimat dengan hati-hati, mencoba untuk merangkai deskripsi suasana. Kulemparkan

Hidup Itu

Oleh:
Di sebuah Kecamatan Kedaton tahun 2000, tepatnya di kota kecil “Rejomulyo,” hiduplah seorang anak yang bernama Bedil. Ia merupakan seorang anak pertama yang kerap kali manja dan cukup bandel.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *