Para Penghuni Atap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 28 September 2020

Sesuatu yang indah pasti akan terjadi. Begitulah pikiran dari seorang wanita dewasa berumur hampir 23 tahun yang berjalan diantara panasnya surya dan ombang-ambing manusia di kota itu. Raut wajahnya bersemangat dengan segala hal yang menjadi beban dalam hidupnya. Menenteng beberapa lembar kertas untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Ya, tanpa lelah ia berjalan. Ia percaya bahwa masih ada Allah yang menyayanginya tanpa harus mendapatkan perhatian dari siapapun.

Di dalam beberapa kertas yang ia bawa tertera nama KINAN MAHESWARI PUTRI. Ya, itu dia. Biasanya dipanggil Kinan. Seseorang yang sangat anti-social, yang sangat serius dalam memilih pertemanan. Ia berjalan menyusuri koridor-koridor stasiun kereta api. Di kota itu transportasi yang paling cepat untuk orang-orang yang bekerja di kantor adalah Kereta Api.

Kinan sedang mengecek tasnya sambil berjalan dan BRUK! Seseorang menabraknya. Kertas yang dipegang Kinan berhampuran kemana-mana. “Maaf, maaf.. saya tidak sengaja. Maafkan saya, mbak.” Kata seseorang yang menabrak Kinan. Kinan mengumpulkan semua kertas yang berhamburan itu. Kinan mendongak dan melihat bahwa yang menabraknya itu adalah seorang laki-laki. “Tidak apa-apa,” Jawab Kinan tak acuh. Kinan langsung pergi setelah mengumpulkan semuanya dan tanpa memandang laki-laki yang ia tabrak tadi.

Si laki-laki sangat bingung karena hanya mendengar jawaban yang sebenarnya tak acuh itu. Ingin ia berjalan, tapi terhentikan saat ia melihat salah satu kertas Kinan yang mungkin belum ia ambil. Ia ingin tidak mengambilnya, seakan tak acuh seperti jawaban Kinan tadi. Tapi, sebagai orang yang baik pikirnya, ia harus mengembalikannya. Laki-laki itu ingin memanggil Kinan, tapi Kinan sudah masuk dalam kereta api. “Mungkin nanti saja aku mengembalikannya, kantornya sama denganku.” Kata laki-laki itu. Lalu sedikit berlari keluar dari stasiun kereta api.

Kinan merasa sedikit kesal karena tertabrak oleh seseorang yang tidak ia kenal. Akibatnya, kertas-kertas yang sudah disusunnya saat di rumah, malah menjadi tidak beraturan seperti ini. Ia melihat-lihat lagi kertas-kertas itu. Sepertinya surat yang penting. “Sepertinya ada yang hilang,” Kata Kinan dalam hati. “Astaga! Formulir pendaftaranku.” Kinan refleks teriak sendiri. Semua mata orang-orang di dalam kereta tertuju padanya. “Ah, bagaimana ini.” Kinan bingung ditambah kekesalannya itu. Ya, Kinan ingin mencari kerja setelah ia lulus di universitas ternama di kota itu. Tapi, malangnya ia telah menghilangkan formulir pendaftarannya itu. Sungguh kasihan.

“Formulir pendaftaran kamu dimana?!” seseorang meneriaki Kinan. Kinan sudah berada di kantor tempat ia ingin bekerja. “Maaf, pak.” Hanya itu yang bisa dijawab oleh Kinan. “Bapak beri kamu kesempatan satu kali lagi, cari formulirmu sampai dapat. Kalau tidak kamu dapatkan, saya tidak akan memasukkan kamu kesini lagi,” Bapak itu melanjutkan “Untungnya kamu pintar,” dengan nada rendah. “Iya, pak. Maafkan saya.” Kata Kinan lesu.

Tiba-tiba datanglah seseorang, mungkin ia ingin melamar kerja juga. Kinan sepertinya mengenali orang itu. OH, DIA YANG MENABRAKKU TADI! “Maaf pak, saya terlambat. Soalnya saya ke rumah dulu sebentar, hehe.” Kata laki-laki itu. Kinan tetap mengamati laki-laki itu. Kinan refleks memukul bahu laki-laki itu “Kembalikan Formulir Pendaftaran saya,” Kata Kinan marah. Laki-laki itu menoleh ke samping, ia mengenali Kinan. “Iya, mbak. Biasa aja kali. Saya juga kan bakal kerja disini.” Laki-laki itu mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. Dan itu milik Kinan. Kinan langsung saja mengambilnya. Bapak di depan mereka marah, “Jadi saya dikacangin nih?!” “Enggak kok, pak.” Kata laki-laki itu. “baiklah, kalian tunggu diluar. Saya akan memeriksa dulu berkas-berkas kalian.” Kinan dan laki-laki itu hanya mengangguk.

Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan. Canggung. Laki-laki itu membuka percakapan, “Nama kamu Kinan, kan?” Tanya laki-laki itu. “Iya, Kamu?” Tanya Kinan. Kinan mungkin merasa bahwa laki-laki ini baik. Dilihat dari wajahnya dan sikapnya. “nama saya, Fahmi.” “Oh,” jawab Kinan. “kamu tinggal dimana?” Tanya Fahmi. “aku tinggal di rumah susun kompleks 3 di atapnya.” “Sama, aku juga tinggal disitu. Kok aku gak pernah lihat kamu ya, paling atas rumah pertama.” “aku tinggalnya di sebelah rumah kamu kalau gitu.” Kata Kinan. Mereka bercakap-cakap tanpa merasa bahwa waktu sudah berjalan 30 menit dan Kinan pun merasa bahwa Fahmi akan menjadi sahabatnya.

Mereka sudah diterima si kantor itu. Banyak sekali canda tawa yang mereka lakukan. Mereka akhirnya pulang. Saat berada di tangga depan rumah masing-masing mereka berpamitan. Sungguh melelahkan, batin mereka berdua. Sepertnya ada telepati diantara mereka. Mereka berdua akhirnya terlelap dan tertidur bersama kenangan-kenangan indah di dalam mimpi mereka.

Sudah 1 tahun lebih mereka bersama, ke kantor bersama, makan bersama. Hingga salah satu di antara mereka punya perasaan. Perasaan cinta. Pagi hari telah datang, membawa kesejukkan nan bunga mawar. Fahmi terbangun dan memasak beberapa makanan. Ia teringat bahwa ia punya tetangga yang ia temui kemarin.

Tiba-tiba Fahmi mendengar seseorang yang menangis. Sepertinya ia mengenal suara itu. Fahmi langsung berlari keluar kamarnya dan menuju rumah milik Kinan. Fahmi sangat khawatir “Kinan! Kinan! Buka pintunya! Kinan!” Fahmi langsung mendobrak pintu kamar Kinan. Gelas kaca yang sudah pecah berserakan dimana-mana. Kinan mengambil salah satunya dan ingin melukai tangannya. Fahmi langsung memegang tangan Kinan. “Jangan, Kinan!” Kinan berusaha melepaskan dirinya. “Aku sudah tidak mau hidup lagi!” Kinan masih berusaha melepaskan genggaman Kinan. Dan akhirnya tidak ada usaha lagi, Fahmi langsung memeluk Kinan. Fahmi memeluk Kinan sangat erat. Dan kinan pun merasakan hangatnya pelukan dari seorang Fahmi. Ia tak pernah punya Ayah, karena ditinggalkan sejak ia belum lahir. “Tidak apa-apa,” fahmi mengelus rambut Kinan. “Semua orang punya masalah, aku, kamu, dan kita semua yang berada di sini. Di rumah susun ini pasti punya masalah. Hadapi dengan sabar. Aku kabur dari rumah karena apa? Karena aku tidak tahan dengan perlakuan ibu tiriku. Jadi hadapi dengan sabar. Jangan gegabah.” Jelas Fahmi panjang. Kinan sedikit mendongak kearah Fahmi dan membalas memeluk Fahmi lebih erat.

Suasana sudah membaik sekarang. Kaca-kaca gelas yang berhamburan tadi sudah dibersihkan oleh Fahmi. Kinan tertidur sekarang. Sudah 2 jam Kinan tidur dan Fahmi masih disini, di rumah Kinan. Fahmi menuju kearah kamar Kinan dan duduk di sebelah Kamar kinan. Kinan terlelap. “Jangan terlalu gegabah.” Fahmi mengelus rambut Kinan. Akhirnya karena lelah, Fahmi tidur dengan posisi duduk disamping kasur kinan dan memegang tangan Kinan erat.

Mata kinan perlahan mulai terbuka. Jam menunjukkan jam 11.30, masih tengah malam. Ia melihat Fahmi disampingnya dan mengelus rambut Fahmi lembut. “Terimakasih,” ucap Kinan. Fahmi terbangun. “Kamu sudah bangun, aku buatkan makanan dulu,” Kinan menarik tangan Fahmi. “Eh, kenapa tarik-tarik? Mau main tarik tambang?” Celoteh Fahmi. Kinan tertawa lesu. Dan beranjak duduk di kasurnya. “Aku mau cerita soal tadi.” Kinan ingin bercerita. Fahmi kembali beranjak duduk. “Ibuku meninggal,” Air mata Kinan terjatuh. “Ibuku meninggal karena dibunuh oleh Ayah, memang ayahku seperti itu dari dulu. Aku disuruh ibuku untuk pergi jauh dari kehidupan keluarga itu. Sebenarnya aku tidak mau, tapi karena dipaksa, aku langsung pergi dari rumah itu 4 tahun yang lalu.” Jelas Kinan sambil terisak. “aku hanya bisa berduka cita,” Kata Fahmi sambil memeluk Kinan yang terisak. “Besok kita ke rumah mendiang ibumu.” Kata Fahmi

Besoknya mereka pergi ke rumah Mendiang ibu Kinan. Dengan perasaan luka, Kinan melepas kepergian ibunya. Fahmi hanya bisa memeluk Kinan, karena Kinan adalah sahabatnya. Fahmi tidak bisa melakukan apa-apa. Para penghuni atap hanya bisa berbela sungkawa atas kematian ibunya Kinan. Bapaknya Kinan pun sudah masuk penjara karena kasus pembunuhan, Kinan menyayangi bapaknya, tapi ada banyak luka yang membuat Kinan membenci ayahnya sendiri.

1 tahun berjalan dan para penghuni atap selalu ada yang pergi, datang dan selalu seperti itu. Fahmi punya tetangga baru yaitu sepasang suami istri yang sangat bahagia tanpa kehadiran keturunannya. Yang pergi, yang datang, itu sudah biasa bagi Kinan dan Fahmi. Mereka berdua punya perasaan satu sama lain. Tapi tidak ada yang menyatakan perasaannya satu sama lain. Bercanda tawa, suka dan duka mereka hadapi bersama.

Fahmi terbangun dari tidurnya yang pulas hari ini sambil menatap foto perempuan, ya itu Kinan. Dia hanya punya waktu 2 tahun untuk kabur dari rumah. Dan 2 hari lagi adalah hari dimana Fahmi harus pergi. “Aku harus menyatakan perasaanku kepada Kinan.” Kata Fahmi. Ia akan menitipkan surat kepada tetangganya untuk diberikan kepada Kinan. Tapi sebelum itu, ia harus menyatakan perasaannya.

Kinan di dalam kamarnya sedang mengerjakan tugas kantornya. Tok! Tok! Tok! Suara pintu rumah Kinan, “Kinan.” Itu suara Fahmi. Kinan sangat bahagia. Kinan berlari menuju pintu dan segera membukanya. “Bersiap-siaplah. Kita akan pergi jalan-jalan. sekaligus refreshing, kamu kan punya banyak pekerjaan.” “Siap, Bos!” kata Kinan bersemangat.

Mereka berdua sudah bersiap-siap dan akhirnya berangkat. Mereka ke Mall, ke pantai, duduk di taman. Dan Fahmi mengajak Kinan ke stasiun kereta api. “Sepertinya aku kenal stasiun ini, Oh, aku ingat disini kan kamu menabrak aku 2 tahun lalu.” Kinan bersemangat. Fahmi tidak membalas. Tatapannya serius. “Kinan,” panggil Fahmi. “Iya, kamu kenapa?” Tanya Kinan. “Kinan, aku mau ngomong sama kamu tentang perasaanku.” Fahmi melanjutkan “Sebenarnya, aku suka sama kamu dari dulu dan perasaan suka itu tumbuh menjadi perasaan cinta.” Jelas Fahmi. Kinan tidak bisa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata. “Aku juga,” Kata Kinan. Fahmi sedikit terkejut. Dan Fahmi langsung memeluk Kinan di antara orang-orang yang berlalu lalang disitu. Iya, air mata Kinan adalah air mata bahagia.

2 hari ini adalah 2 hari yang sangat membahagiakan Fahmi. Fahmi harus ke Amerika hari ini untuk tinggal bersama ibu kandungnya disana dan harus merelakan Kinan. Fahmi menulis surat untuk Kinan. Sudah menulis suratmu, Tanya seseorang, seseorang itu adalah tetangga Fahmi. Fahmi menghembuskan nafas dan menjawab “Sudah, tolong berikan setelah aku tidak ada disini, mbak.” “Iya, pasti mbak berikan.”. Fahmi akhirnya pamit dan melihat sejenak kamar tidur milik Kinan. Fahmi pergi dulu.

Kinan di kantor kebingungan, kemana Fahmi. “Aku harus menelepon Fahmi” “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.” “Kok dimatiin sih, Aku harus pulang sekarang. Kinan akhirnya pulang menuju rumahnya. Kinan mengetok pintu rumah Fahmi, mbak Sri tetangga fahmi keluar dari rumahnya. “Mbak Kinan bukan?” “Iya saya Kinan, kenapa Mbak?” “Ini surat dari nak Fahmi. Tolong dibaca” Kinan menerima surat itu dan membukanya.

“Kinan Maheswari Putri, seseorang yang membuatku berubah menjadi lebih baik dan selalu sabar menghadapi masalah. Kita berdua bertemu di stasiun kereta api tanpa sengaja. Sepertinya aku mulai menyukaimu ketika kita duduk di depan ruangan kantor itu. Sampai sekarang akupun masih suka denganmu. Aku cinta kamu. sekarang aku harus pergi. Bukan pergi dari hatimu bukan. Tapi aku harus pergi menemui ibuku di Amerika dan sepertinya tak bisa kembali lagi. tapi aku akan selalu ingat pesanmu, JANGAN LUPA BAHAGIA. Itu yang selalu kamu katakan. Jangan pernah menangis, jangan pernah terluka. Tersenyumlah. Sampai kamu mendapat yang lebih baik dariku. Tolong, jangan pernah terluka. Your Love, Fahmi Putra Dirgantara.”

Air mata Kinan jatuh berderai. Dua hari lalu mereka berdua menyatakan perasaannya dan sekarang Fahmi meninggalkan Kinan. Begitulah batin Kinan.

Kinan langsung terduduk saat selesai membaca surat dari Fahmi. “Tenang mbak Kinan, tenanglah” Mbak Sri mencoba membuat Kinan sedikit bersabar. “Kenapa mbak, kenapa Fahmi meninggalkan aku? Apa salahku mbak?” Kata Kinan terisak “Itu keputusan nak Fahmi, Mbak Kinan. Dia pasti akan kembali. Dan nak Fahmi mengirim pesan kepada Mbak Sri yang tidak ia tulis di surat, katanya MENUNGGU ADALAH BAKAT. KAMU HARUS MEMPELAJARINYA. Kinan masih terisak. Tak bisa melepaskan Fahmi begitu saja. Ia tidak mau kehilangan Fahmi setelah ia kehilangan ibunya.

2 tahun berlalu, Kinan tetap saja menangis dalam tidurnya tanpa kehadiran seseorang yang ia cintai. Fahmi di Amerika yang disetiap sudutnya hidupnya dipenuhi oleh Kinan seseorang yang ia cintai. Ingin ia kembali, tapi ia kasihan terhadap ibunya yang depresi karena kehilangan suami yang diambil oleh sahabatnya sendiri.. Tapi, Kinan harus tetap bersabar karena ia percaya bahwa Fahmi bisa kembali dan menemuinya. Begitu pula sebaliknya. Cinta bukan untuk membuatmu merasa istimewa. Cinta membuatmu merasa berani. “Fahmi, dengan cintamu kamu telah menumbuhkan perempuan berani, seperti aku. Kinan.” Kata Kinan di atas Rumah para penghuni atap.

Memang benar kata Fahmi, semua orang punya masalah khususnya para penghuni atap diatas sini. Suami istri tetangga Fahmi yang tidak mempunyai anak, perempuan paruh baya yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan, perempuan yang kehilangan suaminya semua punya masalah. Kita semua punya Tuhan, jadi kita harus bersabar atas semua cobaan. Hingga akhirnya, kita mampu melihat ada harapan di depan sana.

Cerpen Karangan: Mayang Putri
Blog / Facebook: Mayang Putri

Cerpen Para Penghuni Atap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jika Benci

Oleh:
Ranu adalah pegawai baru disebuah perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan jasa. Ia diterima sebagai salah satu staff keuangan. Bidang yang sangat baru baginya. Meskipun ia kuliah jurusan yang sama

The End of My Life

Oleh:
2856 hours 1440 minutes maybe the rest of my time in this world.. I actually sincere God even I remain grateful for all of this, but there is not

Jerrot Makin Melorot (Part 2)

Oleh:
WANITA JAHAT Matahari yang menyorot begitu panas suasana saat aku baru saja sampai di rumah sehabis pulang sekolah di hari sabtu. Kejadian 2 hari yang lalu yaitu saat aku

Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *