Paradigma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 26 September 2017

Satu tambah satu sama dengan dua, ya, itu memang benar. Dua tambah dua sama dengan empat, ya sekali lagi, benar. Dua tambah tiga sama dengan lima, benar sekali. Bagaimana dengan tiga tambah dua sama dengan lima? Salah!! Kalau satu tambah empat sama dengan lima? Juga Salah!! Tujuh dikurangi dua sama dengan lima!! Tetap Salah!! Bumi itu bulat? Dasar pemberontak!!.

Dengan wajah lesu dan lemas, keringat membentuk embun di dahi di jam pertengahan hari. Ingin kuceritakan pada bapak bahwa hari ini sudah tepat 7 bulan lebih aku menginjak usia 17 tahun. Waktu bagi para pemuda yang seumuran denganku untuk segera mengurus kartu yang katanya “Penunjuk Warga Negara,”. Saat kutanya Bapak untuk yang ke 100 kalinya, Kapan aku ngurus KTPnya?, ia menjawab dengan alasan yang sama untuk ke 100 kalinya. “Lihatlah tetanggamu itu!! Dia saja baru ngurus KTP saat sudah lulus!!” ya begitulah jawabnya. Itulah sebabnya aku sedikit muak dengan kata katanya yang terlalu naif bagiku. Saat teman teman kelasku yang baru saja menginjak 17 tahun lebih 1 jam saja sudah bangga bangganya memamerkan KTP sementara, sementara aku?? Yang usianya sudah menginjak 17 tahun lebih berbulan bulan, belum seperti itu. Jangankan KTP sementara, pengurusannya saja juga masih belum. Saat kuceritakan tentang kesombongan teman temanku yang memamerkan kartu yang mereka anggap “Sangat Sangar” itu pada Bapak untuk yang ke 101 kalinya, lagi lagi jawaban yang sama yang mengetuk gendang telinga dan pintu emosiku,
“Lihatlah Neni itu!! Dia saja baru ngurus KTP setelah lulus!!”
“Pak, aku Lignanto!! Bukan Neni!!”
“Kalau tidak mau nurut, jangan panggil aku bapak lagi! Paham!?” matanya yang melotot membuat emosiku tertahan di kedua kepalan tanganku. AH!! Bilang saja, “Kamu harus meniru Neni!!” tidak perlu diputar ruwetkan dengan kalimat yang kolot itu,
“Dasar orang tua,” ucapku dalam hati.

Saat itu, suhu di luar kelas sangat mendidih. Begitu juga dengan yang di dalam kelas, pelajaran Matematika Peminatan dengan guru berwajah tanpa welas asih dan rumus yang membuat otak harus bekerja lebih gigih.
“Kalau mau ngerjakan, harus pakai rumus yang sama dengan di papan!” begitulah yang setiap hari Bu Atik ucapkan sebelum para murid melumat soal soal yang ia berikan.

Ah!! Rumus simpangan rata rata di papan itu sangat rumit. Titik jelasnya sama seperti lingkaran, tak mempunyai ujung yang jelas. Setelah ku terdiam dan saling bertatapan dengan rumus di papan. Aku sadar, bahwa rumus itu mempunyai perbandingan sebelas dua belas dengan rumus yang ada di Matematika Wajib. Daripada aku tersesat di rumus labirin ini, aku mencoba mencari jalan keluar dan caraku sendiri.

“Akhirnya, sama!” itulah yang aku teriakkan di dalam batin setelah mencocokkan hasilku dengan teman bangku sebelah. Sekarang tinggal melumat soal itu dan mengukir tanda “plus” di absenku.
Setelah pekerjaanku mencapai tahap hasil akhir, kukira aku akan mendapat pujian dari Bu Atik,
“Lignanto!! Kenapa kamu pakai cara itu? Salah!!” aku seketika terhenyak diam, semua siswa saling berbisik. Ada yang membenarkan jawaban dan caraku, ada yang menyalahkan, ada juga yang masih bertanya tanya “Kenapa salah ya?”
“Tapi bu, jawabannya benar,” aku mencoba membela diri sendiri walau aku tahu kesempatan untuk benar melawan guru yang penuh ego seperti Bu Atik sangat kecil,
“Salah!! Karena kamu tidak pakai cara yang saya tulis di papan!!”
Apa!? hanya gara gara itu saja salah? padahalkan hasilnya sama persis, tidak ada selisih 0,0001 sekalipun. Setelah itu, aku mengambil kesimpulan, bahwa jelas jelas Bu Atik melanggar peribahasa “Banyak Jalan Menuju Roma,” dan membuat peribahasanya sendiri “Hanya Jalur Pantura Saja yang Bisa ke Jakarta,”. Dia mengakarkan monotonisme pada murid murid yang diajarnya. Bila ia bilang “A”, semua harus bilang “A”, selain yang bilang “A”, dia menganggapnya sebagai musuh.

Suatu malam, dimana hari Senin itu tinggal berumur 4 jam lagi. Aku membertiahu ibu tentang aku yang diterima dalam pembinaan olimpiade astronomi, ia berkata
“Kok iku Astronomi sih?? Gak matematika saja seperti sepupumu, Linda!” kukira mendapat pujian atau apa, malah mendapat kalimat yang hampir sama seperti “Ibu gak suka kamu ikut astronomi,”
“Tapi bu, astronomi dan matematika sama sama diolimpiadekan, juga sama sama mengukir prestasi!”
“Banyak alasan kamu!! Berani melawan ibu ya sekarang?” kata kata itu semakin mengundang setan untuk membisikkan “Marahlah.. Marahlah…” dan benar saja. Aku benar benar meluapkan emosiku pada secangkir kopi Bapak dan melemparkannya ke halaman depan. Ibu juga tak mau kalah, ia juga membentakku tak karu karuan bagaikan seekor macan yang mengaum. Pertengkaran kami sampai mengundang rasa penasaran tetangga sebelah. Ku sadar banyak yang menonton pertengkaran antara anak dan ibu itu, aku berhenti dan diam.
“Pokoknya ibu gak mau tahu, kamu harus ikut pembinaan matematika biar sama seperti Linda!! Lihatlah Linda!! Dia punya segudang prestasi di matematika!!”
“Aku ini Lignanto, Bu!! Bukan Linda!! Dari nama saja sudah beda!!” aku pun langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di kamar.

Esoknya, hubunganku dengan ibu saling membisu dan membuang muka ketika bertemu, bahkan tak bisa dianggap lagi Ibu dan Anak, dan aku memutuskan berhenti dari pembinaan astronomi dan berdusta pada ibu bahwa aku sudah ikut pembinaaan matematika sama seperti Linda. Tetapi ia tetap tak acuh dan tak mau membuang suaranya separtikel pun padaku.

2 hari setelah itu, aku memutuskan untuk melihat lihat pameran lukisan di balai kota, guna melepaskan semua persoalan yang memaksa untuk SAMA dengan orang lain. Saat aku ingin keluar, Bapak menghadang di pintu depan,
“Mau ke mana kamu?” tanyanya dengan muka penuh kecurigaan,
“Mau ke pameran lukisan, memang kenapa?” mendengar jawabanku itu, muka 50 tahunannya itu semakin kecut kulihat, mungkin ada sesuatu yang buruk bakal terjadi,
“Kenapa kamu tidak belajar kelompok seperti Linda? Dia lagi belajar sama teman temannya, kenapa kamu gak ikut?” kan, sudah kuduga. Aku ingin marah, tapi aku takut Bapak sama seperti ibu setelah pertengkaran itu. Aku memutuskan pergi.
“Monoton sekali dia,”

Di balai kota, ada sebuah lukisan abstrak yang menarik rasa penasaranku. Sebuah lukisan bola merah yang di bawahnya terdapat garis garis dengan pola yang berbeda beda. Ada yang berupa garis lurus saja, ada yang dengan satu lekukan, sampai ada yang berbentuk sampai ratusan spiral. Tetapi semua garis itu mempunyai akhir yang sama, yaitu berakhir di bola merah itu.
“Lukisan itu menggambarkan hidup kita ini,” suara itu membuatku kaget, saat kulihat, seorang bapak tua dengan baret merah di kepalanya berada di sampingku dan memandang lukisan yang sama.
Hidup ini seperti lukisan itu? apa maksudnya ya? aku menilik lukisan itu lebih detail dan lebih dalam lagi. Dan aku masih tak tahu dengan kata kata bapak itu.
“Banyak jalan yang ditempuh, untuk mencapai tujuan yang sama,” lanjutnya.
Oh, ternyata begitu. Memang benar apa yang bapak itu katakan. Semua orang di dunia ini hampir memliki tujuan yang sama. Di samping itu, mereka juga memiliki jalan dan cara masing masing yang menurut mereka terbaik baginya untuk menggapai tujuan itu. Tapi, banyak juga orang yang memiliki ego lebih tinggi dibandingkan otaknya, sehingga merasa jalan mereka sendirilah yang paling baik di antara yang lain, dan memaksa orang lain untuk mengikutinya. Selain jalan mereka, mereka menganggapnya salah bahkan sesat. Mereka yang seperti itulah yang tidak percaya rencana Tuhan. Tuhan telah mengatur alur kehidupan semua hamba hamba-Nya di dunia, tetapi dengan satu tujuan mutlak yaitu beribadah kepada-Nya dan berbuat baik.

Itulah mengapa, di dunia ini terjadi banyak perselisihan dari antar keluarga sampai antara hidup dan mati (Perang), hanya gara gara pemaksaan paradigma kaum besar dan mayoritas. Dimana yang menolak paradigma mereka dianggap sebagai pemberontak. Tapi mereka juga belum tahu apa jalan mereka sendiri juga paling baik di mata Tuhan.

Malam sudah larut, suasana mulai berganti adegan menjadi sepi. Banyak orang yang sudah mulai larut dan kantuk, ingin segera pulang dan menghempaskan diri di dalam kasur yang empuk, sama halnya denganku dan Bapak tua itu.
“Bapak pulang dulu ya? sudah ngantuk,” ia pun pergi.
Inikah pelajaran yang kudapat setelah semua kemonotonan ini? Mungkin saja iya. Aku melangkahkan kakiku yang sudah mencapai titik terlelahnya ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku melihat 2 sosok berdiri di depan gerbang rumah. Rupanya, Bapak dan Ibu. Mereka menatapku dengan penuh kecurigaan dan kebencian, itu dapat kulihat dari sorotan mata merka yang memecah kegelapan malam. Semenjak saat itu, hidupku dikekang, yang membuatnya lebih buruk dan lebih parah dari burung yang dikurung di sangkar. Setiap hari dipaksa meniru orang ini orang itu yang mereka anggap jalan hidupnya paling benar. Ah!! Hidupku dipenuhi oleh paradigma yang klise.

Cerpen Karangan: Lignanto Sanjaya
Facebook: Mak Jomblang
Seorang penulis gelandangan

Cerpen Paradigma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matahari Di Balik Awan

Oleh:
Aku kembali terpuruk, dengan sejuta kegundahan hati dan kelemahan untuk menerima keadaan. Aku lemah, dengan setiap perkataan yang membuatku tak ingin berada di dunia ini lebih lama, aku lelah

Antara Aku, Tukang Cukur dan Tuhan

Oleh:
Sudah panjang. Aku harus memotongnya. Aku langsung mengambil motorku dan pergi ke tukang cukur terdekat. Kuhentikan motorku di depan toko itu. Tokonya sederhana, menggabung dengan rumah si tukang cukur.

Hujan di Medan Senja

Oleh:
Hujan di Medan Senja, Satu persatu air dari awan kelabu yang menggantung di atas langit mulai menjatuhkan diri, terhempas kedalam peluk bumi. Membuat jalanan becek, genangan air beriak-riak teriak.

Maafkan Aku Ayah

Oleh:
Di suatu hari, di hari yang cerah ada satu orang ayah yang sudah tua, rambut rambutnya yang semula berwarna hitam telah berubah menjadi putih, kulitnya pun sudah berkerut, ia

Mak Ijah dan Perempuan Malam

Oleh:
Mak Ijah menghela nafas lagi, dan selalu saja, desah itu kian gelisah dari yang sudah-sudah. Kini kekhawatirannya menumpuk dan mulai menyesakkan dadanya dengan bongkahan rasa sedih. Dia mendongak ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *