Past, Present, Future

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 21 October 2015

“Siapa kamu?”

Hanya seorang manusia dari masa depan yang datang ke masa lalu untuk melihat kejadian kejadian yang merubah dunia ini. Yang membuat dunia ini seperti yang sekarang dan masa depan.
“Seperti apa?”
Perjanjian antar negara. Perang besar maupun perang saudara yang menumpahkan banyak nyawa dan menghilangkan banyak nyawa. Menciptakan banyak orang penting berwibawa, bijaksana, tegas dan melakukan apapun demi negaranya.

“Tidakkah menyakitkan melihat banyak perang?”
“Menyakitkan? Tentu. Dalam kehidupan tidak ada yang namanya jalan menuju kemerdekaan tanpa rasa pahit yang terasa sakit di dada. Alam yang memutuskan seperti itu. Namun mari kita lihat sisi positifnya, kita berada di sini dengan aman, tenteram, sejahtera karena tumpah darah mereka, mungkin harus kita renungkan bukan kita lihat, tapi dengan melihat kejadian tersebut bukankah kalian semakin menghormati mereka? Banyak pahlawan-pahlawan yang tidak diketahui, tanpa nama.”

“Kamu bisa saja merubah sejarah ini, kenapa tidak kamu lakukan? Kami tahu bahwa dari kejadian di masa tersebut timbul banyak kerugian, dari perang maupun perjanjian”
Terdiam. “Bagaimana jika aku beritahu bahwa aku berasal dari negara ini, jika kamu mengetahui bahwa pada masa depan kamu akan menjadi seperti ini. Apakah kamu ingin kembali ke masa lalu dan merubahnya, jika kamu merubahnya maka apakah masa depan apakah akan sukses seperti ini? Atau lebih sukses? Apakah kamu masih berani untuk merubahnya? Itulah logikanya. Saya tahu bahwa beberapa dari kejadian tersebut merugikan kita tapi, bukankah kita merasakan manisnya kemenangan walaupun tidak terasa seperti dulu kita memenangkan perang.”

Terdiam sejenak. “Tahu pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian?”
“Ya…”
“Nah negara kita pun mengalami hal seperti itu. Dengan mengalami perang pahit itu kita mendapatkan sebuah kesenangan dalam bentuk kemerdekaan, koalisi.”
“jika kamu tidak ingin merubah masa lalu kenapa tidak merubah masa ini? Bukankah itu akan membuat masa depan lebih baik?”

“Masa yang kalian anggap “Present” adalah “past” untukku, oleh karena itu walaupun ingin, aku pun tidak akan kuat menanggung tanggung jawab tersebut.”
“Lalu kamu sendiri, bisakah, beranikah mencoba merubah ‘masamu’ ini? Walau masa lalu tidak dapat berubah, masa depan dapat dirubah, dimulai dari masamu.”

“Sebagai warga negara saya akan berusaha untuk membantu memajukan negara dengan semampu saya. Menyarankan berbagai saran untuk berkoalisi dan mecoba untuk meningkatkan kesatuan kita dari berbagai negara.”
“Kamu mengetahui banyak hal yang terjadi di masa depan. Nah kamu pun harusnya tahu dengan kerja sama-kerja sama kami dengan beberapa negara lain? Tidakkah akan membawa keberuntungan ataupun kerugian?”

“Keuntungan dalam sebuah perjanjian ditentukan oleh seberapa hebat bernegosiasi. Namun jangan sampai kalian berpikir untuk tidak melakukan sebuah perjanjian antar negara dan bersikap egois seakan batas laut adalah milik anda sendiri, kenapa? Sama seperti manusia, negara tidak dapat hidup sendiri karena negara tidak memiliki segala sumber daya itulah asal usul mereka melakukan sebuah koalisi. Nah sekarang sudah saatnya saya untuk kembali ke tempat dan waktu yang seharusnya.”

“Tunggu!!! Sebelum kamu pergi, apakah ada yang ingin kamu sampaikan pada kami semua? Akan apa yang harusnya kami lakukan untuk kedepannya?”
“Mungkin hanya satu yang bisa ku katakan, ‘Never give up never surrender’ janganlah kalian menyerah dalam membuat negara ini lebih baik, dan jangan lupa untuk membantu negara negara yang dibutuhkan, sometimes being generous is good for the community”

‘Good for The World’

Cerpen Karangan: Arif R.K
Facebook: Arif Rahmany Kurniahadi

Cerpen Past, Present, Future merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Padang Pasir yang Menjadi Saksi

Oleh:
Matahari bersinar dengan begitu teriknya di hamparan pasir yang begitu luas. Tak ada satu pun mata air yang dapat diminum untuk menghilangkan dahaga. Apalagi pohon yang dapat dimakan buahnya

Menembus Kelabu

Oleh:
Xenia hitam yang sedang ku tumpangi menerobos pagi buta bergelayut embun. Keadaan di sekitar jalan belum menampakkan hiruk pikuk aktivitas manusia atau deru mesin kendaraan yang memekakkan telinga. Mata

Membunuh Rindu

Oleh:
Ia datang dari desa. Pergi dan berlayar menuju sebuah negeri yang disebut Selatan. Bibir yang dilumuri gincu hitam pekat dengan alis yang sedikit disulam, mengubahnya menjadi seorang pel*cur. Sesal?

Bagaikan Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Sore hari, ketika aku pulang dari mengajar les, aku melihat sebuah perjuangan hidup seorang bapak tua yang mendorong gerobak dagangannya yang berisi jagung rebus. Aku terus melihat bapak itu

Dibalik Kabut

Oleh:
Sudah tiga hari Ari tinggal di kampung halamannya sejak kepergiannya ke kota tempat ia menekuni ilmu. Baru kali ini Ari pernah pulang ke tempat kelahirannya setelah setahun ia berada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *