Pekerjaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 15 August 2017

Uang sebesar tujuh puluh lima ribu hanya tersisa di dalam kantong saku celanannya. Ia harus pandai mengatur jumlah pengeluaran setiap hari. Ia makan sehari satu kali, bayar cicilan hutang sebesar sepuluh ribu setiap hari, membeli obat dua puluh lima ribu, bayar uang listrik dua puluh lima ribu, dan sisanya untuk beli makanan.

Iwas baru 15 tahun sudah bekerja menjadi penjual koran. Lampu merah menjadi tanda waktunya bertransaksi berjualan. Dia harus cekatan bergerak dengan cepat, karena tersisa tiga puluh detik. Targetnya seorang pria pengendara mobil. Jika pengendaranya wanita kemungkinan dibeli sangat kecil, biasanya wanita lebih suka majalah berita Fashion atau infotainment dari pada berita koran olahraga dan politik. Sementara yang dia jual koran berita olahraga dan politik.
Ia biasa menjual koran pada pengendara mobil dibandingkan pengendara motor. Menjual pada pria pengendara mobil ada juga perbandingan usianya, pria umur empat sembilan dan lima puluh lebih mengikuti berita perkembangan politik dalam negeri, terutama berita kenaikan BBM yang sedang ramai dibicarakan. Pria umur dua puluhan lebih meminati berita olahraga namun kadang juga tidak dibeli. Orang berpakaian rapi seperti memakai baju kantor biasa menjadi targetnya, namun yang lebih diutamakan mobil mewah pasti pengusaha kaya raya.

Jam menunjukan sebelas siang, Iwas mengayuh sepedanya menuju rumah kontrakannya membawa sebungkus nasi dan sisa koran yang tidak laku terjual, saat sampai di rumah terlihat seorang wanita yang sedang terbaring di kasur berlubang dengan wajah yang pucat. Sejak ayahnya merantau ke kalimantan, Iwas menjadi tulang punggung keluarga setelah ibunya tidak bisa bekerja karena sakit. Sementara ayahnya yang merantau hingga kini tidak pernah kembali.

Iwas memasukan sepedanya ke rumah, lalu menuju kamar ibunya yang sedang sakit. “Bu, aku pulang!” Kata Iwas. Ibunya hanya diam menatap anaknya yang telah pulang. Iwas dan ibunya tinggal di rumah reot, atap langit-langitnya banyak berlubang seperti akan runtuh, sementara pakaian dan barang-barang tergeletak di sembarang tempat seperti kapal pecah. “Aku bawa makanan… nanti Ibu minum obat setelah makan..” ibunya menerima nasi bungkus yang dibawa Iwas kemudian duduk bersandar pada tembok, lalu ibunya melahap nasi bungkus yang ada di tangannya dengan rakus. Iwas membereskan pakaian dan barang-barang yang tergeletak seperti kapal pecah.

Setelah Iwas membesihkan rumahnya, dia kemudian mengeluarkan koran dalam tasnya, dihitungnya sisa koran yang tidak laku terjual. Setelah dihitung jumlahnya sangat banyak Iwas pun tertunduk. Pendapatan hari ini cuman tiga puluh ribu, tentu Iwas kecewa. Kenapa negeri yang begitu besar Sumber Daya Alamnya Iwas masih mengalami kehidupan seperti ini, putus sekolah meskipun gratis ditambah beban kenaikan BBM membuat kehidupannya semakin sulit. Iwas bingung harus melakukan pekerjaan apa lagi sementara usianya masih 15 tahun. Iwas pun berencana datang menemui Tayib.

“Bu!.. Aku keluar dulu”
“Iya!” jawab ibunya sambil mengganguk lalu melanjutkan kembali makannya.
Iwas kemudian pergi menuju rumah Tayib.
Nama Tayib sudah dikenal orang-orang sebagai penyalur tukang kuli atau buruh angkut di pasar. Setelah Iwas menuju Rumah Tayib ternyata tidak ada, Iwas pun pergi menuju tempat pembuangan sampah karena Tayib bersama teman-temanya sering nongkrong di tempat pembuangan sampah itu.

Pada siang hari ketika Iwas tiba di tempat pembuangan sampah, bau busuk seperti bangkai menyegat di tempat pembuangan sampah, tidak semua orang bisa tahan dengan bau sampah di tempat itu, sementara orang-orang yang tinggal di tempat sampah, bau busuk tidak menjadi halangan untuk mencari rezeki dari tempat itu. Iwas sudah terbiasa berada di tempat pembuangan sampah karena sejak dulu ia sering bermain di tempat itu, saat itu Iwas bertemu Tayib yang sedang duduk nongkrong di atas tumpukan sampah. “Bang! ada kerjaan?” tanya Iwas. Tayib keheranan melihat bocah datang menanyakan pekerjaan. “Ha! Kerjaan?.. Emang mau kerja apa” Tayib dan teman-temannya tertawa. Iwas tidak bergeming. “Kerja apa aja bang.. jadi kuli juga gak apa-apa yang penting dapat uang bang”
“Wah! sayang de sudah penuh” Tayib dan teman-temannya kembali tertawa. Iwas pun tertunduk lesu harus mencari pekerjaan lain, mencari pekerjaan ke toko atau ke tempat lain sangat sulit karena usianya masih anak-anak dan tidak memiliki ijasah, akibat putus sekolah.

Iwas pun memilih menjadi pemulung di tempat sampah memunggut botol-botol plastik bersama puluhan pemulung sampah. Iwas terpaksa menjadi pemulung untuk menambah pendapatannya jika penjualan korannya sedikit, Iwas membawa pulang sejumlah botol plastik ke rumahnya dengan kedua tangannya.

Di perjalanan pulang, Iwas bertemu Cubet Cs nama Cubet Cs dikenal sebagai tukang copet di stasion kereta. Cubet Cs sering ditangkap polisi namun cubet tidak pernah jera mencopet lagi. Cubet sangat malas bekerja, ia ingin mendapatkan uang lebih cepat meskipun jalan yang ditempuh salah. Cubet termasuk anak putus sekolah usianya hampir sama dengan Iwas, namun jalan yang ditempuh mereka berbeda.
“Was, Ngapain?” Tanya Cubet. “Lagi jadi pemulung, butuh tambahan”
“Ayo, ikut aja aku.. dijamin banyak uangnya” Cubet memamerkan selembaran uang ratusan ribu dari kantong celananya. “Nyopet!” kata Iwas. “Iyalah, emang apalagi… dari pada mulung sama jualan koran mending nyopet, uangnya banyak”
“Ibuku lagi sakit, aku gak mau kena masalah” Cubet tampak kesal setelah Iwas menolak ajakannya. “Ya udah! aku pergi aja, ditawari uang banyak gak mau” Cubet langsung pergi meninggalkan Iwas.

Menjelang sore Cubet berjalan sempoyongan memegangi pipinya yang lebam, Iwas yang sedang mencuci botol-botol plastik di luar rumah melihat Cubet berjalan melewati rumahnya dengan memegangi pipinya. “Kenapa?” Tanya Iwas. “Aku kena pukul waktu mencopet, teman-temanku ditangkap.. untungnya aku bisa lolos”

Lingkungan mengubah siapapun termasuk kemiskinan, Iwas bersyukur dengan apa yang dikerjakannya. Setiap kebijakan dari pengatur negara tetap tidak mengubah semuanya, hanya memberi harapan kosong, bahkan tempat tinggal seperti Iwas selalu didatangi para tokoh politik ketika musim pemilu demi pencitraan.

Cerpen Karangan: Irfansyah

Cerpen Pekerjaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)

Oleh:
Rom dan Sam masih menodong supir bus yang malang itu. Karena ditodong, akibatnya supir itu tidak konsentrasi dalam menyetir. Seekor anjing tiba-tiba melintas mendadak. Supir bus terkejut bukan main.

Jembatan

Oleh:
Hampir setiap petang menjelang magrib aku selalu memperhatikan lelaki aneh itu, wajahnya kusut-masai, mengenakan celana hitam, baju hitam, sepatu hitam. Berjalan bolak-balik di atas jembatan, kadang terlihat ia menjambak

Kenapa Harus Mencuri?

Oleh:
“Assalamualaikum Bang Doni! Ini Maul, bang!” Maulana berteriak memanggil Bang Doni, pemilik counter pulsa yang berada di depan Rumah Sakit Harapan Indah. Counter pulsa itu buka 24 jam dan

Jalan Hidup Si Bungsu

Oleh:
Dalam mencari jodoh, orang tua bukan berarti memaksa anaknya untuk cepat-cepat dinikahi hanya karena ingin menggendong seorang cucu, akan tetapi orang tua punya keinginan untuk melihat anaknya dalam kehidupan

Bukan Salah Tuhan

Oleh:
Hujan selalu meresonansikan masa lalu. Dan aku sampai pada sebuah cerita lama, Tentang episode-episode yang ingin kulupakan. Kupandangi laut lepas yang terhampar di kejauhan sana, mengangumi keindahan alam ciptaanNya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *